Evelyn sudah selesai mandi dan berpakaian saat melihat Jack baru keluar dari kamar mandi dan terlihat segar. Evelyn memang memberikan handuk dan baju ganti untuk Jack mandi. Bagaimana pun Evelyn merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan Jack malam tadi.
"Kau masih hutang penjelasan, Evelyn..." Jack mendudukan diri di kursi makan sambil melihat Evelyn menyiapkan roti panggang untuk sarapan.
Evelyn melirik ke belakang dan wajah menyebalkan Jack sudah terpampang seperti biasa.
"Penjelasan apa?" Evelyn berucap cuek.
"Rex. Aku tahu dia bukan anakmu." Jack menaikkan salah satu alisnya.
"Lalu kenapa bertanya?" Evelyn meletakkan roti dan s**u di depan Jack dan duduk berhadapan di meja makan.
"Kenapa kau berbohong? Kau tahu, Justine sempat berharap bisa kembali padanya dan semua harapan itu hilang saat tahu anak itu ternyata adalah anak Rose, dia bahkan ingin memberimu perhitungan. Sekarang dia berpikir Rose sudah menikah dengan orang lain dan kau menutupinya." Jack tertawa pelan, seperti dia mengizinkan saja Justine macam-macam pada Evelyn.
"Aku tidak takut padanya, aku juga perlu memberi anak itu pelajaran. Aku ingin sekali meninju wajahnya." Evelyn berucap kesal.
"Memangnya kau berani?" Jack mengejek.
"Tentu saja aku berani!" ucap Evelyn berapi-api. "Orang seperti Justine Smith itu lebih baik di bumihanguskan saja. Sudah tidak bertanggung jawab, b******k pula!" omel Evelyn.
"Memangnya Justine harus bertanggung jawab pada siapa?" pancing Jack.
"Tentu saja pada Rose dan Rex! Rex itu anaknya Justine!" Evelyn membolakan matanya. Tangannya buru-buru menutup bibirnya, dia keceplosan.
"Ohh jadi Rex itu anak Justine," Jack membeo.
Evelyn menelan ludahnya susah payah.
"Kau.. kau salah dengar.." Evelyn berucap panik.
"Telingaku masih berfungsi dengan baik." Jack mengigit rotinya dengan santai.
"Tolong jangan beritahukan pada Justine," pinta Evelyn.
"Apa imbalannya kalau aku tutup mulut?" Jack menaikkan alisnya sebelah, seolah menantang Evelyn.
Evelyn terdiam. Jack si iblis ini memang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Manusia paling pamrih yang pernah Evelyn temui.
"Justine akan segera tahu kalau dia punya anak." Jack berdiri dan berjalan ke kamar Evelyn, ingin mengambil coat miliknya.
Evelyn bergegas menyusul Jack ke kamar dan menahan pria pucat itu agar tidak pergi sebelum berjanji untuk tutup mulut.
"Bukan hak mu untuk memberitahunya." Evelyn menatap tajam pada Jack.
"Bukan hakmu juga untuk menyembunyikannya. Justine berhak tahu, dia ayahnya," balas Jack santai.
"Aku hanya berbohong soal Justine," ucap Evelyn lagi.
"Kalau begitu biarkan Justine tahu kebohongan yang kau buat," Jack menyeringai saat Evelyn tidak lagi bersuara.
"Aku tidak akan membiarkan Rose disakiti lagi oleh pria b******k sepertinya! Kau tidak-"
Evelyn tersentak saat Jack menarik tangannya dan membuat Evelyn membentur badan Jack. Evelyn bisa melihat kilat marah di mata pria pucat itu. Evelyn merinding.
"Kau ingin aku tutup mulut, kan?" Jack berucap berbahaya, melemparkan coatnya dan mendorong Evelyn hingga terjatuh di tempat tidur.
"I- iya..." jawab Evelyn gentar.
"Aku tidak akan buka mulut, tapi dengan syarat, kau harus membuka kakimu untukku." Jack menyeringai. Dia benar-benar marah saat Evelyn membela Rose sampai sebegitunya. Sempat terlintas pemikiran bahwa mungkin saja benar kalau Evelyn memiliki hubungan dengan adik wanita itu.
"T- tidak masalah, asal kau bersumpah untuk tutup mulut." Evelyn gemetar. Meskipun ucapannya seolah menantang, tapi pelan-pelan Evelyn memundurkan tubuhnya menjauhi Jack, tanpa Evelyn sadari, ucapannya membuat Jack semakin marah.
Jack menggeram, tangannya menarik lengan atas Evelyn sampai Evelyn terduduk di atas tempat tidur. "Kau bahkan merelakan tubuhmu hanya untuk melindunginya?"
"Y- ya.. asal Rose tidak terluka lagi. Dia sudah menderita. Keluarganya juga."
Evelyn memberanikan diri menantang Jack. Bagaimanapun, kalau Justine sampai tahu, Rose pasti terkena masalah lagi. Sudah cukup Evelyn mendengar dan melihat Rose menderita, Evelyn tidak ingin menambahinya lagi karena dia kelepasan bicara.
Tangan Jack mengepal erat mendengar ucapan Evelyn. Evelyn seolah menantangnya demi dapat melindungi Rose dan itu membuat sesuatu dalam diri Jack berteriak marah.
"Aku tetap akan mengatakan hal ini pada Justine," putus Jack dan melepaskan tangannya dari Evelyn kemudian pergi menuju pintu.
Evelyn tidak ingin tinggal diam dan berlari mengejar Jack, memeluk pria pucat itu dari belakang dengan erat.
"Jack, kumohon... kumohon jangan beritahu Justine," pinta Evelyn kalut.
"Kenapa aku harus tutup mulut? Ini berita bagus untuk Justine, dia berhak tahu soal anaknya." Jack melepas pelukan Evelyn.
"Biarkan Rose, jangan ganggu dia. Dia sudah banyak menderita karena Justine. Jangan tambahi lagi" Evelyn memohon.
"Apa peduliku, Evelyn?" Jack berucap sinis.
Tanpa Jack duga, Evelyn menarik tengkuknya dan mencium bibir Jack. Yang Evelyn lupa, Jack sering susah mengendalikan diri jika sudah dipancing seperti ini.
Jack mengalungkan tangannya di pinggang Evelyn, balas mencium Evelyn dengan rakus. Tangan nakalnya bahkan sudah berada di balik baju Evelyn, mengelus kulit Evelyn kemana saja tangannya bisa mencapai.
Evelyn melenguh pelan saat tangan Jack sudah menjalar menuju dadanya, nafasnya memburu dan matanya berubah sayu saat Jack melepas ciumannya. Evelyn hanya pasrah saat Jack membawanya ke kamar, menutup pintu dan mengukung Evelyn di antara tangannya.
"Jack William, kumohon... jangan beritahu Justine," Evelyn berucap kesusahan karena Jack sedang sibuk bermain di sekitar lehernya. Evelyn meremas rambut Jack saat Evelyn merasakan gigitan kecil di daerah lehernya.
"Mnn... Jack..." ucap Evelyn susah payah. Tangannya terulur untuk menarik wajah Jack dari lehernya.
"Berjanji..." ucap Evelyn parau.
Jack menatap Evelyn dengan tajam. Di saat-saat seperti ini Evelyn bahkan masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain. Yang benar saja!
"Panggil aku Daddy dan aku akan meluluskan permintaanmu." Jack menyeringai, menantang Evelyn.
"D-daddy..." desah Evelyn pelan.
Ah, sial! Jack mengumpat dalam hati. Suara Evelyn membakar sesuatu dalam dirinya dan membuatnya gerah. Belum lagi mata sayu Evelyn dan bibirnya yang memerah, Jack mengeram pelan.
"Benar, lalukan seperti itu maka aku akan memenuhi permintaanmu," Jack berusaha mengendalikan sisi liar yang sudah akan memunculkan wajahnya di tubuh Jack dengan susah payah. Nafas Jack bahkan sudah memberat hanya karena Evelyn mendesahkan namanya. b******k.
Evelyn yang lebih dulu memulai, Evelyn menarik kepala Jack mendekat dan mengecup hidung Jack pelan, kemudian tersenyum dan Jack tidak akan puas hanya dengan kecupan di hidung.
Jack menunduk dan kembali mencium Evelyn, tangannya dengan lihai melepaskan baju Evelyn dan membuang baju itu sembarangan. Jack hilang akal saat Evelyn mendesah malu-malu. Sudah tidak ada jalan kembali. Jack juga sudah tidak peduli dengan Justine dan Rose lagi. Ada sesuatu yang lebih penting untuk 'dilakukan' daripada mengurusi mereka. Membuat Evelyn mendesahkan namanya dengan segara, misalnya.
***
"Aku ingin bertemu Rose," ucap Justine saat sampai di kantor Jasmine pagi-pagi.
"Belum datang," jawab Jasmine mencoba bersabar menghadapi Justine yang terlihat arogan.
"Kalau begitu, tunjukan aku ruangannya."
"Ini kantor milikku, kalau kau lupa. Kau datang ke sini sebagai tamu, harusnya kau punya sedikit sopan santun," ucap Jasmine kalem.
Justine melengos.
"Aku menghargaimu karena suamiku sendiri yang memintaku untuk menemuimu. Jadi, sopanlah sedikit!"
Justine melirik Jasmine sekilas dan mengehela napas. "Maaf aku tak sopan."
"Kali ini kau ku izinkan ke sini, tapi tidak untuk kedua kali. Berterimakasihlah pada suamiku," ucap Jasmine telak.
"Maaf sudah tak sopan," Justine menunjukan sisi lemahnya.
"Aku hanya kalut," cicitnya pelan.
"Kenapa kau mencari-cari Rose? Kau tahu sendiri Rose benar-benar tidak ingin melihatmu," mulai Jasmine.
"Aku tahu."
"Dia sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang, kenapa kau mengusiknya?"
"Aku hanya ... entahlah, aku merasa, aku tidak ingin kehilangan dia lagi." Tanpa sadar, Justine membuka diri.
"Dia sudah bahagia dengan anaknya dan ..."
"Dia tidak bahagia, dia hanya menjadikan pria lain sebagai persinggahan sementara," Justine menyela.
Jasmine membolakan matanya. Kenapa orang lain dibawa-bawa?
Saat Jasmine ingin bicara, pintunya diketuk dari luar. Saat pintu terbuka, Rose yang berdiri di depan pintu, membeku saat melihat Justine juga ada di sana.
"Selesaikan masalah kalian berdua, di sini, sekarang!" perintah Jasmine telak.