Bab 13

1908 Kata
Jack tertawa puas saat mendapati laporan baru dari Chris. Seperti yang sudah Jack duga sebelumnya, anak kecil bernama Rex tidak ada sangkut pautnya dengan Evelyn. Atau singkatnya, Evelyn bukan Ibu Rex. Jack menatap pada hasil test DNA yang dilakukannya diam-diam dengan mengambil rambut Evelyn dan Rex. Jangan tanya dari mana Jack mendapatkannya, Jack bahkan bisa mendapatkan jantung Evelyn jika dia mau. "Kakak ipar dan anak ya?" Jack terkekeh. "Kau itu milikku, Evelyn ...," guman Jack sambil tersenyum jahat. *** Rose terdiam memandangi wajah Rex yang sedang terlelap di atas tempat tidur, sesekali tangannya mengelus halus rambut anaknya dan mengecupi kening Rex yang masih demam. Ingatan Rose berlari pada kejadian tiga hari yang lalu, dimana Justine yang tiba-tiba saja ikut masuk ke dalam ruangan periksa, berdiri dalam diam sambil memperhatikan Rex yang sedang di periksa dokter. Justine bahkan mengabaikan sapaan suster yang mengenalinya karena sibuk menatap Rex. Selesai diperiksa, Justine langsung mengambil Rex yang masih berbaring di atas tempat tidur, dengan sigap menggendong Rex dalam tangannya. Rose ingin protes, tapi tidak berani karena tidak ingin terjadi keributan. Rose bahkan membiarkan Justine menggendong Rex sampai ke parkiran, sesekali Rose bisa melihat Justine yang dengan sengaja menyenggol bahu Evelyn seolah ingin mengajak Evelyn berkelahi, hal itu membuat Evelyn nyaris jatuh berkali-kali dan bersiap ingin menghajar Justine jika saja tidak mengingat ada Rex di gendongan Justine. Rose berhasil pergi dengan damai dari Justine berkat manager Justine yang sudah mengomeli Justine, menarik tangan Justine setelah memberikan Rex pada Rose lagi. Rose kembali memandangi wajah Rex yang tertidur pulas, matanya menatap sendu dan lagi-lagi mengecup dahi Rex yang tidur sambil memeluknya. "Mama takut, Rex. Mama takut orang itu menyadarinya ...." Rose memeluk anaknya. *** "Eve, ke ruanganku sekarang!" Jasmine memanggil Evelyn sambil berjalan masuk lebih dulu ke ruangannya. "Ada apa?" Anna yang sejak tadi sibuk menjelaskan pekerjaan baru Evelyn, menatap Evelyn penasaran. "Tidak tahu." Evelyn mengangkat bahunya. "Aku kedalam dulu." Evelyn menepuk bahu Anna dan berjalan ke ruangan Jasmine. "Iya, Direktur?" Evelyn yang sudah dudukcmanis di depan Jasmine bertanya penasaran. "Jangan cari gara-gara dengan Justine Smith," Jasmine memperingatkan. "Aku?" Evelyn menunjuk dirinya sendiri tak percaya. "Iya. Managernya bilang kau seperti sedang terlibat masalah dengan Justine. Managernya bilang saat di rumah sakit kau dan Justine nyaris bertengkar." Jasmine memijat batang hidungnya. "Dia yang mulai," Evelyn membela diri. "Apapun masalahnya, lebih baik kau tidak usah ikut campur. Ini demi kebaikanmu. Kau harus sadar kalau si Justine Smith itu artis dengan jumlah fans yang tidak sedikit, kalau mereka tahu kau bermasalah dengannya, kau bisa bunuh diri karena mereka akan membully mu di sosial media tanpa ampun." "Aku paham," Evelyn memilih menurut. Karena dia cukup sadar, fans Justine itu seperti fans militan. Sangat menyeramkan jika bersinggungan dengan mereka. Cukup membaca komentar yang mereka tinggalkann di berita yang mereka terbitkan, Evelyn bisa tahu fans Justine itu mengerikan. "Ini demi kebaikanmu ...." "Baik, Direktur," Evelyn mengangguk. "Oh ya. Ini, dari Jack William." Jasmine meletakkan amplop putih panjang di depan Evelyn. Evelyn menatap bingung pada amplop yang disodorkan Jasmine, dengan ragu, Evelyn mengambil amplop itu dan tersenyum canggung. Evelyn membuka dengan perasaan berdebar. Saat melihat isi dari amplop itu adalah test DNA, Evelyn membeku. Sesuatu menarik perhatian Evelyn, ada tulisan tangan di kertas di paling bawah. "Lebih baik kau jadi istri dan memberikan ku anak saja kalau kau memang ingin punya keluarga" - Jack William. Evelyn memerah malu. Dia sudah ketahuan berbohong. Habislah dia. "Eve? Kau oke?" Jasmine bertanya penasaran. "Oh, iya Direktur. Aku permisi," Evelyn berlalu cepat dari ruangan Jasmine. Wajahnya terasa panas karena malu. Evelyn rasanya ingin pergi saja dari New York sangkin malunya. Evelyn berjalan terburu, tanpa mengetuk dan menunggu persetujuan Rose, Evelyn menerobos dan duduk di depan Rose yang sudah siap melontarkan kata-kata tak senonoh pada Evelyn, sampai Evelyn meletakkan kertas di depan Rose dan membuat Rose menutup mulut. "Apa ini?" Rose mengernyit, mengambil kertas itu dan membacanya, dan makin kebingungan. Kenapa ada nama Evelyn dan anaknya di kertas hasil tes DNA ini? "Rose, aku kan resign, oprasi plastik, berganti nama dan pindah kewarganegaraan," Evelyn meracau. "Kau mabuk?" "Aku ketahuan ...," ucap Evelyn dengan pandangan kosong. "Apa maksudmu?" Rose kebingungan. "Jack William sudah tahu ...," cicit Evelyn. "Hei! kau ini bicara apa?" Rose memukul kepala Evelyn dengan kertas hasil tes DNA. "Dan kenapa ada nama anakku di sini?" "Rose, kali ini maafkan aku ...." Evelyn memegang tangan Rose. "Aku ... aku berbohong pada Jack William," mulai Evelyn. "Soal?" "A- aku bilang kalau aku sudah punya suami dan anak serta kakak ipar yang sangat dekat denganku. Sekarang suamiku bekerja di luar negeri dan anakku lebih dekat dengan bibinya," cicit Evelyn pelan. "Seingatku kau jomblo?" jawab Rose santai. "b******k!" Evelyn menghempas tangan Rose dengan kesal. "Ini juga menyangkut padamu!" Evelyn menatap jengkel. "Kenapa aku?" Rose menaikan alisnya. "Sialan kau! Jangan bilang kau mengaku-ngaku menjadi istri adikku?" Rose menatap horror pada Evelyn. Evelyn mengangguk. "Evelyn b******k!" Rose memukuli tangan Evelyn dengan kesal. "Tapi sudah ketahuan!" Evelyn melindungi tubuhnya dengan memundurkan kursinya. "Sama saja! Kau sudah melibatkanku dengan mafia! Bagaimana kalau dia mencelakakan Rex?" Rose berucap geram. "Tidak akan, aku jamin! Aku tidak akan membiarkannya menyentuh Rex," ucap Evelyn pasti. "Iya benar, kau berucap seperti kau juga bisa melindungi dirimu sendiri dari Jack William!" Rose berucap sarkas. Evelyn terdiam. "Eve, demi Tuhan, dari semua kebohongan yang bisa kau lakukan kenapa berbohong soal itu?" Rose menatap takjup pada Evelyn. "Aku reflex ...." Evelyn menunduk, menyesal. "Sudahlah, aku akan menjelaskan ini pada Direktur, aku akan minta bantuannya saja. Setidaknya suami Direktur itu berteman dengan Jack William." Putus Rose. "Maaf kan aku," sesal Evelyn. "Kau, selesaikan masalahmu sendiri, karena aku hanya akan menjelaskan yang sejujurnya tentang aku dan Rex." Rose berdiri dan memukul kepala Evelyn lagi dengan kertas tes DNA di tangannya. "Kau tidak ingin membelaku?" Evelyn ikut berdiri, mengekori Rose. "Bela saja dirimu sendiri di depan Jack William," Rose berucap tak peduli. *** Evelyn pulang ke flat miliknya saat jam sudah menunjukan tengah dua belas malam. Dia menghabiskan malamnya bersama teman-teman kantornya setelah pulang dari kerja. Saat akan membuka pintu, Evelyn mengernyit melihat seseorang yang muncul dari arah tangga. Postur tubuhnya jelas laki-laki, mengenakan coat hitam dan sedang menatap Evelyn. Evelyn menajamkan matanya dan membola saat tahu kalau Jack-lah yang ada di sana. Evelyn panik dan buru-buru membuka kunci flat dan terlambat. Jack sudah ada di belakangnya. "Lepaskan tanganmu dari pintuku!" guman Evelyn pelan. "Aku menunggumu," Jack terkekeh, tangannya masih saja menahan pintu flat Evelyn agar tidak bisa dibuka. "Apa maumu?" Evelyn berbalik dan mengumpat, Jack berada terlalu dekat dengannya. "Tidak ingin menjelaskan sesuatu, Evelyn?" Jack memiringkan kepalanya untuk bisa melihat Evelyn yang sudah menunduk takut. "T- tidak ada yang ingin ku jelaskan," ucap Evelyn gugup. Saat Evelyn merasa wajah Jack semakin dekat, Evelyn reflex mendorong perut Jack dengan kuat agar menjauh. Saat mendengar pekikan kesakitan dari Jack, Evelyn berubah panik. Jack tersungkur ke lantai sambil memegangi perutnya yang tadi Evelyn tolak dengan keras. Diantara remangnya lampu koridor flat miliknya, Evelyn bisa melihat ada sesuatu yang merembes di kemeja Jack yang terlapis coat. Sesuatu berwarna merah, seperti.... Darah. Evelyn menutup mulutnya dengan tangan saat menyadari bahwa sesuatu yang merembes keluar dari kemeja Jack memanglah darah. Matanya menatap syok pada Jack yang memegangi perutnya. Evelyn tersadar saat Jack memundurkan tubuhnya kedinding koridor, dengan terburu Evelyn mendekati Jack yang kesakitan dan menaruh tangan Jack dibahunya, membantu pria pucat itu untuk berdiri. "Ma-maafkan aku..." ucap Evelyn panik, sedikit kesulitan untuk mengangkat Jack berdiri dengan benar. "Ini sakit," ucap Jack sambil berusaha berdiri. "Aku tidak sengaja, maafkan aku," Evelyn berucap penuh sesal."Kau harus tanggung jawab," ucap Jack terdengar kesal. "Akan ku obat... akan ku obati!" ucap Evelyn ketakutan dan membawa Jack yang sudah berdiri tegak sambil berjalan kedalam flat milik Evelyn. Evelyn hanya tidak tahu, Jack tidak benar-benar kesakitan, Jack bahkan menyeringai sekarang. Evelyn meletakkan Jack diatas tempat tidurnya dan berlari kedapur untuk mengambil lap dan air hangat untuk membasuh luka Jack juga peralakan P3K miliknya. Selama Evelyn pergi, Jack duduk dengan tenang, hilang sudah wajah pura-pura kesakitan yang ditunjukkan pada Evelyn. Jack memperhatikan kamar Evelyn yang terlihat sempit, bahkan kamar mandi milik Jack lebih lebar dari kamar Evelyn ini. Saat pintu terbuka, Jack memasang lagi wajah pura-pura menderitanya. Jack mendesis seoalah akan mati sedetik lagi dan memegang perutnya yang mengeluarkan darah. Evelyn dengan gemetaran melepas coat yang Jack pakai, semakin gemetaran saat Evelyn harus membuka kancing kemeja Jack satu persatu. Jujur saja, Evelyn sangat malu sekarang. "Jangan pegang lukanya." Evelyn menahan tangan Jack saat pria pucat itu akan menyentuh perban yang sudah berdarah diperutnya. "Sakit." Jack mendesis lagi. Saat Evelyn tak melihatnya, Jack menyeringai dan nyaris ingin tertawa melihat Evelyn yang panik. "Tahan sebentar..." Evelyn merebahkan Jack diatas tempat tidurnya. Evelyn terkesiap saat memperhatikan badan Jack, wajahnya terasa panas, tapi saat melihat perban berdarah diperut Jack, Evelyn menggelengkan kepalanya. Bukan saatnya untuk berpikiran kotor. Dengan perlahan Evelyn membuka perban yang sudah berdarah diperut Jack, membuang perban itu begitu saja dan membersihkan lukanya. Ada bekas jahitan disana, Evelyn merinding melihatnya. "Tidak sengaja tertusuk," ucap Jack tiba-tiba seperti ingin menjelaskan asal usul luka diperutnya. "A-aku akan membersihkan darahnya lebih dulu," ucap Evelyn gentar. Selesai mengurus luka Jack dan kembali memberikan perban baru dilukanya, Evelyn berjalan kelemari dan mengambilkan bajunya untuk Jack kenakan. Jack yang masih berbaring diatas tempat tidur hanya memandang Evelyn seolah minta penjelasan. "Kemejamu berdarah... ganti dengan punyaku saja. Ini oversize, jadi mungkin akan muat denganmu." Evelyn mengulurkan bajunya pada Jack. "Oh.." Jack mengambil baju yang Evelyn berikan dan menatap Evelyn dalam-dalam. "Apa?" Evelyn bertanya bingung. "Perutku sakit jika aku terlalu berlebihan bergerak. Bukakan kemejaku!" perintah Jack. Atas dasar rasa bersalah, Evelyn membantu membuka kemeja Jack yang memang sudah tidak terkancing pelan-pelan. "Pakaikan!" Jack mengulurkan lagi baju piyama yang Evelyn pinjamkan untuknya. Lagi-lagi Evelyn hanya menurut dan membantu Jack memakai piyama. "Sudah," ucap Evelyn setelah mengancing piyama untuk Jack. "Ya sudah, aku akan tidur." Jack menyusun bantal, menepuknya dan menyamankan kepalanya disana, Evelyn melongo dibuatnya. "Ke-kenapa kau tidak pulang?" Evelyn bertanya kebingungan. "Huh? Kau sudah membuat lukaku berdarah lagi, membuatku kesakitan, lalu kau menyuruhku pulang? Bahkan sakitnya saja masih terasa!" Jack melancarkan protesnya, tanpa sadar bertingkah kekanakan. "Tapi..." "Agh... perutku..." Jack memegang perutnya,lagi-lagi memasang wajah menderita. "Kenapa? Kenapa?" Evelyn bertanya, panik. "Sakit..." Jack memegang perutnya dengan dramatis. "A-apa kau butuh obat pengurang rasa sakit?" Evelyn menatap Jack ketakutan. "Tidak, biarkan aku istirahat." Evelyn hanya mengangguk dan membiarkan Jack tidur diatas tempat tidurnya. Evelyn memilih keluar kamar dan tidur disofa ruang tamunya sambil menonton TV hingga jatuh tertidur. Saat jam menunjukkan pukul tiga pagi, Jack terbagun dan mendapati Evelyn sedang meringkuk diatas sofa. Jack terkekeh pelan. Jack berjalan kearah sofa, menyeret selimut yang ada ditangannya dan ikut tidur disofa bersama Evelyn. Jack menyelipkan tangannya dikepala Evelyn sebagai bantal, menyelimuti mereka berdua dan tertidur memeluk Evelyn dari belakang. Evelyn terbangun pagi-pagi sekali dan mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menyadari ada tangan yang memeluk perutnya. Pelan-pelan Evelyn berbalik dan melihat wajah Jack yang tertidur pulas didepannya. Evelyn hanya diam sambil memperhatikan. Wajahnya saat tidur sangat berbeda jika dibandingkan saat Jack yang sedang bangun. Baru kali ini Evelyn berani terang-terangan memperhatikan Jack. Jika diperhatikan lebih dekat, Jack terlihat sangat tampan dan terlihat seperti anak baik, jangan bandingkan dengan Jack yang sedang menyeringai seperti iblis. Jack yang biasa selalu tampak berbahaya dan seksi disaat bersamaan. Puas memandangi wajah Jack, Evelyn merasa geram dan menyentuhkan hidungnya pada Jack, hanya menempel saja, sebelum akhirnya Evelyn bangun dan berjalan pelan menuju kamar. Dia harus mandi dan bekerja. Setelah Evelyn bangkit dari sofa, Jack membuka matanya dan menyeringai lagi. Iya, Jack sudah bangun dari tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN