Bab 12

1265 Kata
"Mau kemana?" Evelyn melirik Rose yang sedang mengunci ruangannya dan membawa sebuah tas di bahunya. "Menjemput Rex." "Jam segini?" Evelyn melihat jamnya yang masih menunjukkan pukul dua siang. "Rex demam. Gurunya baru saja meneleponku." Rose berjalan terburu dan Evelyn mengikuti. "Kau tampak tak baik, aku tidak ada pekerjaan, biar aku saja yang menyetir. Mana kuncimu?" Evelyn mengulurkan tangannya meminta kunci mobil Rose. Evelyn bisa dengan sangat jelas melihat kekalutan yang berusaha ditutupi Rose dari seluruh penghuni kantor. "Tidak apa, mungkin Rex hanya demam karena cuaca sedang tidak baik," hibur Evelyn. Saat keduanya sampai di taman kanak-kanak tempat Rex sekolah yang juga berfungsi sebagai tempat penitipan anak, Rose langsung berlari ke kelas Rex, meninggalkan Evelyn yang sedang mencari parkir. Rose merasa nelangsa saat melihat kompres demam tertempel di dahi anaknya, bibir Rex terlihat lebih merah dari biasanya dan wajahnya terlihat seperti habis menangis, pasti Rex merasa tak nyaman dengan tubuhnya. "Tadi pagi saat Anda antar, Rex memang terlihat sudah lemas, Nyonya," jelas guru Kate, wali kelas Rex. "Maaf merepotkan Anda." Rose membungkuk dan menggendong anaknya yang tertidur dengan hati-hati. "Bukan masalah, Nyonya. Kami harap, besok Rex sudah lebih baik," Kate tersenyum ramah. "Terimakasih," Rose membungkuk dan membawa Rex keluar kelas. "Sini ku bantu." Evelyn yang baru saja datang, mengambil alih tas milik Rose yang terlihat melorot dari bahunya. "Terimakasih. Eve, tolong antarkan aku ke rumah sakit." "Iya." *** "Sudah ku bilang hati-hati! Bisa-bisanya kau tergores seperti ini!" manager Justine kembali berucap kesal. "Jangan dibesar-besarkan. Ini Cuma luka kecil." Justine memutar bola matanya. "Kalau Tuan Edward tahu, kau bisa habis kena marah," omel managernya lagi. Justine terdiam, enggan menanggapi ocehan managernya. Saat Justine berjalan menuju lift, mata Justine tanpa sengaja menangkap sosok Evelyn yang terduduk di ruang tunggu dokter anak dan seorang anak laki-laki berada di pangkuannya. Justine sudah siap gencatan senjata saat managernya menarik kerah lehernya dari belakang, membuat Justine mendelik tak suka. "Ini tempat umum, jangan banyak tingkah!" Justine kembali diomeli. "Aku ada urusan, sebentar saja!" kesal Justine dan melepas paksa tarikan tangan managernya di kerah belakang bajunya. Justine berjalan lebar-lebar, tak sabar ingin mendamprat Evelyn habis-habisan. Di saat yang sama, Rose juga muncul dengan selembar kertas di tangannya, sama-sama menuju Evelyn yang sedang menimang anak kecil yang sedang tidur dengan nyaman. Rose sampai lebih dulu, kemudian Justine berdiri di belakang Rose, mematung. "Jangan khawatir, aku rasa demam anakmu sudah mulai turun," hibur Evelyn. "Aku ... sepertinya aku hanya terlalu berlebihan ... iya kan?" Rose menatap sedih anaknya yang berada dalam gendongan Evelyn. "Semua orangtua pasti akan khawatir jika anaknya sakit, Rose. Itu wajar." Evelyn tersenyum. "Rose" Rose tersentak, saat berbalik, Justine sudah berdiri di depannya. Mata Justine melirik Evelyn dengan penuh permusuhan. "Kita butuh bicara!" Justine menarik paksa tangan Rose yang kemudian dihempas kasar begitu saja oleh pemiliknya. "Rose!" Justine mengernyit kesal. "Pergi ...," geram Rose. "Ku bilang, pergi. Justine Smith!" "Kau tidak bisa mengusirku begitu saja, kita ...." "Mama ...." Ucapan Justine terhenti saat anak dalam gendongan Evelyn terbangun. Evelyn sama paniknya dengan Rose. Dia bingung harus seperti apa bertindak dalam situasi seperti ini. "Berikan padaku, Eve!" Rose mengambil tubuh kecil Rex dalam gendongannya dan menepuk pelan punggung Rex agar anaknya kembali tertidur. "Mama ... itu Smithi, pacar Zee ...." Mata Rex menatap sayu dan penuh minat pada Justine yang berdiri kaku di antara mereka. "Sayang, tidurlah lagi ...." Rose ketakutan, dari semua hal di dunia ini, interaksi antara Justine dan Rex lah yang paling dia hindari. "Mama, itu Smithi ...." Gumanan lemah itu membuat Rose menutup rapat matanya, seolah dengan begitu, Rose bisa mengemis sedikit kekuatan. "Mama?" Justine tersadar dari keterkejutannya, menatap penuh tuntutan pada Evelyn yang hanya terdiam seperti kehilangan nyawa di bangku yang didudukinya. "Oh, matilah aku!" batin Evelyn. "Rose ...." Desisan geram itu terdengar begitu dingin di telinga Evelyn dan Rose. Justine terlihat sangat marah. Benar-benar marah. "Sepertinya aku ketinggalan sesuatu," suara berat penuh nada ceria itu membuat Evelyn menelan ludahnya dengan susah. "Rest in peace, Evelyn!" batin Evelyn. Tanpa perlu dilihatpun, Evelyn sudah tahu siapa yang sedang berdiri di belakangnya sekarang. "Bagus sekali. Semakin ramai semakin menarik," batin Evelyn. "Kita bertemu lagi, eum ... Rose?" Jack menatap tajam pada Rose dan anak yang berada di gendongannya. "I- iya Tuan ...." Rose menunduk, menatap Evelyn yang sudah seperti batu di tempat duduknya. "Ada apa? Anakmu sakit?" Jack menatap pada Rex yang sedang menatapnya kebingungan. Rose mengangguk ragu. "Mau permen?" Jack mengulurkan permen dengan tangkai putih pada Rex. Rex melirik Rose, meminta izin dan Rose hanya mengangguk. "Terimakasih ...," cicit Rex. "Anak yang lucu," Jack sedikit menunduk "sama seperti Mamanya," bisik Jack ditelinga Evelyn. Evelyn meremang dan buru-buru berdiri membuat seringaian di bibir Jack makin terlihat jelas. "Jadi, siapa namanya?" Jack menaikkan alisnya, pertanyaannya jelas tertuju pada Evelyn yang berdiri dengan tidak santai di samping bangku. "Rex," Evelyn menjawab sambil melirik pada Rose dan dalam hati diam-diam berdoa supaya Jack cepat-cepat menghilang dari sini. Jack menatap Rose lamat-lamat dan berusaha mengingat di mana dia pernah melihat Rose sebelumnya. Wajahnya seperti pernah Jack lihat sebelum Chris memberikan foto dan laporan soal siapa Rose diatas mejanya. "Pasien atas nama Rex." Rose diam-diam bernafas lega mendengar suara suster yang memanggil nama anaknya. Dengan sedikit terburu, Rose berlalu begitu saja, masuk kedalam ruangan dokter dan tanpa Rose sadari, Justine ikut masuk kedalam. "Jadi, hanya tinggal kita berdua?" Jack menatap tajam pada Evelyn. "Sepertinya aku harus menemani anakku dan kakak iparku" Evelyn hendak berlalu, tapi Jack lebih cepat. Tangan Evelyn dicekal dan Evelyn mengumpat dalam hati. "Anak dan kakak iparmu?" Jack terkekeh. "Bullshit!" Oke, ini sudah pasti Jack sudah tahu yang sebenarnya. Jelas saja dia tahu, Rex memanggil Rose Mama di hadapannya. Orang paling bodoh di dunia pun akan mengerti kalau Evelyn sudah berbohong. "Tolong lepaskan, Tuan. Atau aku akan teriak!" ancam Evelyn. "Lihat, betapa pengecutnya Mama Rex ini," ejek Jack. Evelyn terdiam. "Evelyn, tidak peduli siapa Rose itu untukmu, tapi aku bisa memastikan sesuatu, Rex Anderson bukan anakmu," tegas Jack. Evelyn merasa kakinya sudah lemas. Kalau boleh, Evelyn ingin ditelan saja oleh lantai rumah sakit ini. "Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya Justine adalah ayahnya," ucap Jack. Evelyn terperanjat, matanya membola dan gusar menatap lantai rumah sakit. "Kau bisa diam untuk sekarang. Tapi aku akan mencari fakta soal 'anak, suami dan kakak ipar' mu. Kalau anak itu memang milik Justine, ucapkan selamat tinggal pada Rose, adik dan anaknya," sinis Jack. "Apa maumu?" Evelyn menatap nyalang pada Jack. Egonya tidak ingin kalah dari laki-laki arogan yang masih saja mencekal tangannya. "Berikan Rose pada Justine dan jadilah kucing kecilku yang manis seperti semalam." "Dalam mimpimu saja!" geram Evelyn. "Wow, ternyata saat siang kucing kecil ini terbiasa mengaum ...." Jack tertawa. "Kau menarik untuk dijinakkan." "Kau pikir aku binatang?" geram Evelyn. Jack tertawa. "Kita lihat saja nanti sampai mana kau bisa lari, Kucing kecil. Oh ... ngomong-ngomong, aku sudah merindukan suaramu saat mendesahkan namaku ...." "b******k!" Evelyn menghempaskan tangannya dengan kasar. "Semakin menarik jika melawan." "Kau!" tunjuk Evelyn "Apa?" "Kau sakit jiwa!" geram Evelyn. "Sepertinya aku lebih suka dengan kepribadianmu di malam hari ...." Jack tersenyum. "Enyahlah dari hadapanku!" geram Evelyn. "Baiklah." Jack tersenyum lagi dan tiba-tiba menarik Evelyn dengan sekali hentakan. "Lain kali aku akan menemuimu di malam hari saja," bisik Jack di depan bibir Evelyn. Tanpa aba-aba, Jack menyatukan bibir Evelyn dengan miliknya, membuat Evelyn membatu di tempatnya berdiri. "Sampaikan salamku pada 'anak dan kakak iparmu," ejek Jack. Evelyn terdiam kaku. "Akan ku pastikan kau berada di bawahku lagi secepatnya, Evelyn." Jack menyeringai. "Persiapkan dirimu ... dan ... ah, aku suka wangi parfummu." Jack mengecup bibir Evelyn sekali lagi dan berlalu, membiarkan Evelyn menjadi bahan tontonan orang yang berada di sekitar mereka begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN