Bab 11

1342 Kata
"Astaga Roseanne Anderson, aku sudah bilang tidak terjadi apa-apa. Semalam aku hanya mendadak sakit perut dan langsung pulang ke flat milikku. Aku sudah di loby kantor dan mobilmu sudah ku parkir di tempat biasa. Tidak ada yang lecet, bahkan aku sudah mencucinya. Sudahlah, sampai jumpa beberapa menit lagi, aku akan naik lift." Evelyn memutus sambungan teleponnya sepihak. Masih pagi dan Evelyn sudah menerima omelan Rose di pagi hari yang cerah ini karena semalam tidak mengantarkan mobil Rose ke apartemennya. Evelyn mendengus kesal, memencet tombol lift dengan tak sabar. "Dia pasti sudah menyiapkan serentetan pertanyaan dan bersiap mengintrogasiku." Evelyn makin mendegus, hilang sudah semangatnya untuk pergi ke kantor hari ini. *** "Ini kuncimu," Evelyn meletakkan kunci mobil Rose di atas meja kerja Rose, sementara Rose sudah memandnag Evelyn dengan tajam bahkan sejak Evelyn berada di depan pintu ruangannya yang dikelilingi kaca transparan. "Jangan pikir kau bisa hidup dengan tenang kalau mobilku sampai lecet," ancam Rose. "Mobilmu bahkan ku cuci." Evelyn memutar bola matanya kesal. "Baguslah, pastikan juga minyak mobilku masih sama seperti terakhir kali aku memakainya." "Mana kunci mobilku?" Evelyn mengalihka pertanyaan, enggan menanggapi manusia paling sinis yang sedang menatap tajam padanya. "Ini." Rose meletakkan kunci mobil Evelyn di atas meja. Evelyn merampas kunci mobil di meja dan segera berbalik, tidak berniat melanjutkan 'perang dingin' nya dengan Rose sampai sesuatu terlintas di otaknya dan Evelyn berbalik lagi ketempat Rose, bahkan mendudukan diri di kursi tamu Rose. "Apa?" Rose menaikan alisnya, bingung dengan sikap Evelyn yang terlihat ragu-ragu. Seperti ingin bicara, tapi juga tidak ingin. "Eum ... aku tahu ini masih pagi dan mood mu sedang jelek, tapi aku harus menyampaikan ini. Aku rasa ini cukup penting." Evelyn berucap ragu. Rose mengernyitkan alisnya. "Justine Smith," ucap Evelyn. Saat nama Justine terdengar, Rose tersentak sedetik dan matanya terlihat gusar. "Aku bertemu dengannya di taman ...," mulai Evelyn, matanya menatap awas pada sikap Rose, takut wanita sinis itu meledak. "Tidak ada urusannya denganku!" ketus Rose. "Ya, kalau saja dia tidak marah dan berteriak seperti orang gila di hadapanku karena aku menolak memberikan nomor ponselmu." Evelyn berucap sinis. "Dia ... apa?" Rose membolakan matanya. "Dia berteriak seperti orang gila karena aku tidak memberikan nomor ponselmu," ulang Evelyn kesal. "K-kenapa dia tahu kita saling kenal?" Mata Rose terlihat gusar, terpancar jelas kekhawatiran dari sirat mata Rose dan Evelyn bisa menangkapnya dengan baik. "Kau bertanya seolah aku tahu segalanya, Rose ...." "Eve, bagaimana sekarang? Bagaimana kalau dia tahu aku bekerja di sini dan mendatangiku?" Rose berdiri, kedua tangannya saling meremas untuk mengurangi rasa paniknya. "Hadapi saja," ucap Evelyn santai. "Sebenarnya apa yang kau takutkan jika bertemu dengan si Smith b******k itu? Kau membencinya tapi kau juga takut padanya, bukanya itu aineh?" Rose terdiam. Semalaman ia sibuk berpikir soal ini, Evelyn benar, kenapa dia ketakutan? "Aku hanya ...." "Kau masih mencintainya?" potong Evelyn. "Jangan sembarangan bicara!" "Well, aku tidak tahu apa yang menjadi alasanmu begitu takut saat bertemu dengannya. Harusnya, kalau kau memang sudah move on, saat bertemu dengannya kau bisa bersikap biasa saja kan?" Evelyn merasa di atas angin. Sudah lama dia ingin menekan Rose tapi baru kali ini malaikat berpihak padanya. "Atau sebenarnya di balik rasa bencimu, kau ingin Smith b******k itu kembali?" sambung Evelyn. Rose terdiam kaku. Tidak membantah ataupun mengiyakan ucapan Evelyn. Rose hanya bingung. *** "Apa urusanmu dengan Evelyn?" Jack menatap tajam pada Justine yang duduk di depannya. Jack sengaja datang ke agensi milik Edward dan memakai ruangan Edward hanya untuk mengintrogasi Justine yang notabenenya adalah artis yang bernaung di agensi milik Edward. "Tidak ada." Justine menjawab pelan, wajahnya tertunduk murung. "Lihat lawan bicaramu saat bicara, artis terkenal," sindir Jack tajam. "Dan kenapa kau bisa bertingkah seperti itu semalam?" "Itu masalah pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan agensi. Dan aku juga bisa memastikan tidak ada orang di sana yang merekam atau apapun yang bisa menimbulkan gossip dan merugikan agensi," jawab Justine pelan. "f**k that ... aku bertanya soal Evelyn, bukan agensi. Apa hubunganmu dengannya?" tekan Jack. "Tidak ada," jawab Justine dan membuat Jack marah. "Jangan berpikir karena kau artis terkenal maka aku tidak akan berani melenyapkanmu, Smith. Kau jelas tahu kalau aku bukan orang yang penyabar dan murah hati." Jack menatap tajam Justine. Saat Justine mendengar suara pelatuk senjata api berbunyi, Justine menaikkan pandangannya dan tersentak kaget saat melihat ujung pistol sudah mengintip dan mengarah padanya di balik meja, mengarah tepat di ulu hati Justine jika Jack menembakkan senjata apinya. "T- Tuan ...." Justine tergugup dan bergerak gelisah di atas bangku yang didudukinya. Belum sempat Justine bicara lebih lanjut, satu tembakan Jack lepaskan dan merobek lengan jaket tebal yang Justine kenakan, sedikit menggores lengannya dan menimbulkan darah di jaketnya juga sebuah bolong kecil di dinding ruangan Edward. Justine membatu. Nyawanya nyaris hilang. "Ck, Meleset ...." Jack berucap santai. Nafas Justine menderu keras, dia sudah tahu Jack itu 'gila' tapi tidak pernah tahu kalau Jack se'gila' ini. Justine nyaris mati di tangannya. "Ah, Kali ini tidak akan meleset. Biar ku coba sekali lagi." Jack menyeringai. Justine kembali pada kesadarannya saat itu juga. Justine buru-buru berdiri dan memohon pada Jack untuk meletakkan senjata apinya. Wajah Justine pucat pasi dan tangannya bergetar hebat saat memohon pada Jack. "T- Tuan, aku mengajak Nona Evelyn bicara karena dia mengenal seseorang dari masalaluku." Justine berucap cepat, takut pada Jack yang bisa saja semakin gila dan berakhir menghilangkan nyawanya. "Oh ya? Siapa?" Jack menaikkan alisnya penasaran. "Duduk. Kau membuatku kesal!" Jack memerintah dan meletakkan kembali senjata apinya di saku coat hitam milikya. "Rose ...." Justine yang masih gemetar, menatap waspada pada gerakan tangan Jack di atas meja. "Kau kenal Rose?" Jack makin penasaran. "Dia mantan pacarku," aku Justine. "Dan?" "A- aku ingin meminta nomor ponsel Rose pada nona Evelyn semalam, tapi dia tidak memberitahuku dan membuatku sedikit terbawa emosi dan membentaknya." Justine berucap takut-takut. Setelah mendengar pengakuan Justine, Jack terlihat berpikir. Tadi pagi, Chris baru saja mengabarinya kalau wanita yang bersama Evelyn sore kemarin adalah Rose, menggendong seorang anak bernama Rex Anderson. Ini seperti benang merah untuk Jack. Semalam Evelyn mengaku punya suami dan anak serta sering berkunjung ke apartemen kakak iparnya, kemudian Rose ternyata mantan pacar Justine, semalam Evelyn bertengkar dengan Justine karena Evelyn tidak mau memberitahu nomor ponsel Rose, bukankah itu bisa diartikan Evelyn dan Rose memiliki hubungan khusus? Dan semalaman mobil Evelyn terparkir di apartemen Rose. Jack melirik Justine, alisnya mengerut pertanda dia sedang berpikir keras. Keterdiaman Jack membuat Justine nyaris mati ketakutan. "Apa kau punya anak dengan Rose?" Jack bertanya penasaran. Ada yang sedikit aneh dari hubungan Evelyn-Rose menurut Jack. "T-tidak, Tuan." Justine menatap waspada, lengah sedikit, bisa saja Jack benar-benar membunuhnya. Jack terdiam lagi. Lalu siapa anak kecil bernama Rex Anderson itu? Jack sudah mencari tahu tentang Rose dan memang benar kalau ia punya adik laki-laki. Tapi adiknya itu masih kuliah, itu pun di luar kota bukan luar negeri. Dan Jack yakin seyakin-yakinnya, dia adalah orang yang pertama kali meniduri Evelyn, jadi anak itu mustahil anaknya. Kalau begitu, anak itu anak siapa? lalu apa Rose itu bagi Evelyn? "Kau yakin tidak punya anak?" Jack bertanya lagi. "Yakin, Tuan," jawab Justine tanpa ragu. "Apa anak adopsi ya ...," guman Jack. "Iya?" Justine melirik pada Jack yang berguman sendiri. "Oh ya, Kenapa kau mencari Rose lagi?" Jack bertanya lagi. "A- aku hanya ingin menjalin hubungan baik lagi saja dengannya." "Hubungan baik?" Jack tertawa. "Kau menginginkan yang lebih dari sekedar hubungan baik, Justine Smith, matamu tidak bisa berbohong. Kau menginginkannya," ejek Jack. "Kalau ternyata Rose sudah menikah dan mempunyai anak? Bagaimana?" pertanyaan Jack membuat Justine teringat pada anak kecil yang berada di gendongan Rose. Mata Justine menerawang, benar kata Jack, bagaimana jika Rose sudah menikah dengan orang lain? Satu hal yang Justine rasakan naik ke permukaan, dia tidak rela. "Rose itu milikku," ucap Justine pelan. Jack tertawa puas. "Kau akan menghilangkan harga dirimu dan mengganggu rumah tangga orang lain?" Justine terdiam, tawa Jack terdengar seperti ejekan ditelinganya. "Ya ...," jawab Justine terdengar ragu. "Bagus. Karena aku juga akan melakukan hal yang sama. Evelyn itu property pribadiku. Catat itu." Jack berdiri, meninggalkan Justine yang mematung di dalam ruangan. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari tahu anak siapa anak itu sebenarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN