Rose berlari tanpa arah, menyembunyikan diri sampai dia berada di pintu gerbang sebelah utara taman, jauh dari parkiran mobilnya berada. Nafas Rose nyaris putus, tapi dia tidak peduli. Dia ingin lari. Dia takut.
"Mama?" Rex berkedip-kedip saat Rose berhenti di depan jalan, menunggu lampu merah untuk menyebrang. "Mama, tidak apa, jangan takut." Rex memeluk leher Rose dengan erat.
Rose tersentak. Pelukan Rex pada tubuhnya seperti menyadarkan semua kegilaan yang sedang berlangsung di otaknya. Rose berkedip dan terdiam di badan jalan, mengeratkan pelukan pada tubuh kecil anaknya yang mulai bergetar. Rex menangis.
"Maaf sayang ... maaf, Mama tak apa. Maafkan Mama ...." Rose mengecupi kepala anaknya berkali-kali, meyakinkan anaknya bahwa tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.
"Rose?" bunyi suara klarkson menyadarkan Rose. Seseorang memanggilnya dari dalam mobil.
"Evelyn ...," guman Rose dan dengan buru-buru membuka pintu mobil Evelyn dan masuk ke dalam mobil.
"Hey, ada apa?" Evelyn mengernyit heran, menjalankan mobilnya pelan. "Kau pucat," komentar Evelyn melihat penampilan Rose.
"Eve, tolong antar aku pulang," gumam Rose.
Evelyn bisa melihat eratnya Rose memeluk Rex yang berada dalam gendongannya. Satu hal yang bisa Evelyn tangkap, Rose ketakutan.
"Dia menjemput seseorang di taman, seorang wanita dengan seorang anak laki-laki dalam gendongan," lapor Chris.
Jack menaikan alisnya, penasaran.
"Mereka berada di apartemen di daerah Brooklyn, Tuan," lanjut Chris.
"Cari tahu apa yang dilakukan kucing kecilku di sana," Jack mendengus dan tersenyum miring
"iya, Tuan." Chris membungkuk dan berlalu dari ruang kerja Jack.
***
"Jadi, ada apa?" Evelyn meletakan coklat panas di atas meja di depan Rose yang sudah terlihat baik-baik saja, sementara Rex tertidur dalam gendongan Rose.
"Kau seperti bertemu hantu di taman," sambung Evelyn saat melihat Rose hanya diam.
"Ya, kau benar, aku melihat hantu," gumam Rose.
"The hell. Hantu macam apa yang kau lihat? Apa dia mengikuti kita sampai apartemenmu?" Evelyn melirik liar kesekelilingnya.
"Aku bertemu dia ...," mulai Rose.
"Dia? Hantu bernama dia? Siapa itu? Hei, Rose, jangan membuatku takut!" cecar Evelyn.
"Ayah Rex." Rose menghela nafas. Dia sedikit tak ikhlas saat menyebut Justine adalah ayah Rex, tapi cuma itu penjelasan paling singkat agar Evelyn mengerti.
"Dia muncul?" Evelyn bertanya antusias.
"Dua kali," jawab Rose sambil membelai rambut Rex.
"Dua kali?"
"iya. pertama di club, yang kedua di taman."
"Sebentar, siapa sebenarnya ayah Rex? Kenapa dia ada di club dan taman?" Evelyn bertanya penasaran.
"Kau tak akan percaya, tapi Justine Smith, ayahnya Rex."
"Smith ... WHAT?" Evelyn memekik histeris dan buru-buru menutup mulutnya saat Rex bergerak di pangkuan Rose, terganggu karena suara Evelyn. "Maaf," cicit Evelyn.
"Tak apa, Rex memang perlu bangun, dia harus mandi," ucap Rose santai.
"Oke, kembali ke Justine Smith, apa kita sedang membicarakan artis yang baru saja kita buatkan skandal palsu?"
Rose mengangguk lemah. "Jujur saja, hal itu yang membuat aku tidak ingin terlibat di proyek ini. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi ataupun terlibat dalam hal sekecil apapun yang berhubungan dengannya."
"Bagaimana bisa Justine Smith menjadi ayah Rex?" Evelyn bertanya tak percaya.
"Well, dia membuka bajuku, meniduriku berkali-kali dan taraa ... jadilah Rex," ucap Rose sarkastik.
"b******k. Ingat kalau kau sedang berada di dekat anak mu," maki Evelyn.
"Sudahlah, aku sudah bersyukur bisa kabur darinya. Aku juga beharap dia tidak akan pernah muncul lagi dihadapanku." Rose mengangkat bahunya.
"Kenapa kau kabur?" tanya Evelyn tiba-tiba.
Rose merasa terkejut dengan pertanyaan Evelyn. Benar, kenapa dia kabur? Apa yang sebenarnya Rose takutkan saat bertemu Justine sampai dia harus kabur?
***
"Rose, mobilmu diparkir di mana?" Evelyn melirik ke kiri dan kanan parkiran taman, mencari-cari mobil Rose yang katanya diparkir dekat pintu masuk taman.
"Di gerbang yang terhubung antara taman dan parkiran. Tak jauh dari situ," jelas Rose melalui sambungan telepon.
Rose memang meminta Evelyn untuk mengambilkan mobilnya di taman karena dia tidak bisa meninggalkan Rex, Membawa Rex keluar di malam seperti ini juga bukan ide yang baik. Jadilah Evelyn yang mengambil mobil Rose.
"Oke, aku menemukannya," ucap Evelyn dan mematikan sambungn teleponnya dan Rose.
"Nona Evelyn."
Evelyn melirik kearah belakang, mendapati Justine yang berlari ke arahnya.
"Iya?" Tanya Evelyn ragu, masih tak percaya jika ada artis yang mau mengajaknya bicara.
"Maaf mengganggu waktumu, aku perlu bicara."
Evelyn melirik ke belakang Justine dan melihat ada keramaian di sana. Pasti sedang syuting, batin Evelyn.
"Ya? Ada apa?" Evelyn bertanya penasaran.
"Aku yakin kau mengenal Rose," tembak Justine tanpa basa-basi.
Evelyn membolakan matanya panik. Kalau saja Evelyn belum mendengar fakta yang dipaparkan Rose padanya, mungkin Evelyn tidak akan bertindak seperti ini.
"Lalu?" Evelyn memundurkan badannya sampai bertabrakan dengan badan mobil Rose, diam-diam menekan tombol unlock pada kunci mobil dan bersiap kabur.
"Berikan nomor ponselnya," ucap Justine sambil mengulurkan ponselnya.
Evelyn mendengus kesal. Semua artis memang sama saja. Arogan, sok penting, sok berkuasa.
"Mati pun tidak akan kuberi tahu," geram Evelyn.
Evelyn sudah bersiap membuka pintu saat tangan Justine menyekal siku Evelyn dan memaksa Evelyn berbalik ke arahnya.
"Lepaskan, b******k!" Evelyn menghempas tangan Justine keras.
"Apa masalahmu!" Justine berteriak.
"Kenapa semua orang seperti menghalang-halangi aku untuk bertemu dengan Rose! Ada apa dengan kalian semua!" teriak Justine lagi.
Evelyn terdiam mematung. Dia yakin Justine sudah gila.
"Berikan nomor ponselnya!" Justine mencengkaram tangan Evelyn kuat. Memaksa.
"Lepaskan! Ini sakit!" Evelyn memberontak. "Nomor ponselnya, Evelyn!" paksa Justine.
"Rose tak pantas untukmu. Pria b******k sepertimu tak layak untuk Rose," Evelyn berucap sinis.
"Kau pikir aku peduli dengan ucapanmu? Kau bukan siapa-siapa untukku ataupun Rose."
"Percaya diri sekali, Tuan Smith" Evelyn tersulut emosi. Menatap tajam kearah mata Justine yang berkilat marah menantangnya.
"Jangan membuang-buang waktuku, Evelyn," geram Justine.
"Well, Tuan terkenal. Kaulah yang membuang-buang waktuku di sini. Lepaskan tanganku!"
"Justine Smith ...."
Suara berat itu.
Evelyn dan Justine sama-sama terperanjat. Seseorang di balik punggung Justine sedang bertepuk tangan dan tersenyum remeh pada Justine dan Evelyn yang berdiri mematung saat mendengar suara berat dengan nada sinis itu.
"Ku pikir kau sedang bekerja?" Jack berjalan, menepuk bahu Justine dan memandang tajam padanya.
"Kami sedang break," jawab Justine sambil memundurkan tubuhnya, menjaga jarak.
"Syuting akan mulai, tapi artisnya menghilang. Edward membuang-buang uangku untuk artis yang tidak professional, sepertinya?" sindir Jack.
"Maaf Tuan, saya permisi." Justine membungkuk hormat pada Jack dan memberikan tatapan sinis pada Evelyn.
"Apa salahku?" guman Evelyn tak terima dipandang seperti itu.
Evelyn sudah bersiap untuk balik badan dan meninggalkan Jack. Evelyn merasa tak ada urusan lagi dan juga tidak ingin punya urusan dengan orang yang sedang berdiri menatap punggung Justine yang berlalu.
"Tidak ada yang mengizinkanmu pergi, kucing kecil Jack William ...." Jack menutup kembali pintu mobil yang sudah dibuka Evelyn dan memerangkap Evelyn di antara tangannya.
Senyum jahat itu lagi. Evelyn membencinya.
"Kita tidak ada urusan lagi, Tuan," Evelyn menatap tajam pada Jack. Emosinya masih menyala.
"Tolong jangan lupakan siapa orang yang mengantarkan kamera milikmu ke kantor." Jack menaikan alisnya. Tangannya yang berada di badan mobil mencengkram erat. Membuat Evelyn tak bisa lari kemana-mana.
"Kau orang yang pamrih," ejek Evelyn.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini." Jack memandangi bibir Evelyn yang sudah siap untuk melawan ucapannya lagi. Jack selalu suka melihat bibir Evelyn yang sedang bergerak. Entah sejak kapan dia punya obsesi tersendiri pada bibir Evelyn.
"Tolong menyingkir, Tuan. Aku harus pergi." Evelyn memilih mengalah. Berdebat dengan dua orang b******k dalam satu hari, tidak baik untuk jantungnya.
"Kalau aku tidak mau?" Jack memiringkan kepalanya, wajah menyebalkannya terpampang jelas didepan wajah Evelyn.
"Ini sudah malam, kakak ipar dan anakku menunggu," Evelyn berbohong.
Jack membatu, hilang sudah kilat jahil di matanya. Sesuatu dari ucapan Evelyn membuat emosinya memuncak.
"Kakak ipar?"
"Ya, kau tahu? Sebenarnya aku sudah menikah dan bahkan sudah punya anak. Suamiku sedang bertugas di luar negeri sekarang. Jadi aku tinggal dengan anakku. Itu sebabnya aku sering berkunjung ke rumah kakak iparku, dia orang yang baik, dia bersedia membantuku merawat anakku karna aku sering pergi ke luar untuk mencari berita para artis."
Jack merampas kunci mobil di tangan Evelyn, membuka pintu belakang mobil dan mendorong Evelyn masuk kedalam mobil.
Evelyn terhempas ke kursi belakang, dengan siku untuk menahan tubuhnya. Evelyn berubah panik saat Jack masuk, membuka kaki Evelyn dan menutup pintu dengan keras.
"Persetan dengan anak dan kakak iparmu aku bahkan tidak perduli pada suamimu, Evelyn," mata Jack berkilat marah.
Evelyn bisa melihat Jack yang berada di atasnya seperti hewan buas yang sedang mengukung mangsanya. Evelyn gemetar.
"A- apa maumu?" Evelyn menahan tubuh Jack dengan tangannya yang berada di depan d**a.
Evelyn tersentak saat Jack makin mendekat padanya, Evelyn berubah panik dan mendorong d**a Jack agar menjauh darinya.
"Pergi!" Evelyn mendorong Jack berkali-kali.
"Kau tidak menolakku tadi pagi, jangan bertindak seolah kita tak pernah melakukannya sebelumnya Evelyn," ucap Jack sinis. Jack menarik tangan Evelyn, menahan tangan Evelyn di atas kepala Evelyn dan mencium Evelyn dengan kasar.
Evelyn berusaha berontak di antara akal sehatnya yang sudah mulai hilang. Sesuatu dari Jack William membuatnya gerah. Saat Jack memasukkan lidahnya kedalam mulut Evelyn, Evelyn menyerah dan membalas ciuman Jack.
Saat Jack merasa Evelyn sudah tidak lagi melawan dan menolaknya, Jack melepas ciumannya dan berdiri, membuat Evelyn kebingungan. Demi Tuhan, Evelyn sudah kepanasan, kalau sampai Jack meninggalkannya di saat dia sedang tinggi, seumur hidup Evelyn tidak akan sudi membuka kakinya pada Jack lagi.
Evelyn makin bingung saat Jack keluar dari mobil dan kembali membuka pintu kemudi, menyalakan mesin dan Evelyn bisa merasakan dinginnya udara yang keluar dari AC mobil menyapa kulitnya.
"Aku tidak ingin mati konyol," ucap Jack saat kembali masuk ke bangku belakang di mana Evelyn sudah terengah dengan bibir basah dan mata sayu, menunggu Jack.
"Katakan pada anak dan kakak iparmu kalau kau harus melayani selingkuhanmu dulu ...," bisik Jack di telinga Evelyn yang sudah pasrah di bawahnya dengan seluruh pakaian yang tergeletak menyedihkan di bawah kursi.
***
"Evelyn ...." Rose menggeram karena Evelyn tak juga mengangkat teleponnya.
"Awas saja kalau mobilku kenapa-kenapa!"