Bab 9

1126 Kata
"Oke penjelasannya ...." Rose menatap tajam pada Evelyn yang duduk tidak nyaman di sebelahnya. "Mulai dari mana ...," cicit Evelyn pelan. "Bagaimana bisa kau kenal dengan Jack ... astaga! Apa karena berita itu?" Jasmine menegakkan tubuhnya mencondong kearah meja di depan Evelyn dan Rose. Evelyn mengangguk. "Dia mengancam membunuhmu?" tanya Jasmine lagi. Evelyn kembali mengangguk. "Holly crap!" Jasmine menatap horror pada Evelyn. "Apa dia mengancam sesuatu lagi?" "Jangan bilang tuan yang barusan itu yang kemarin melecehkanmu?" tebak Rose Evelyn mengangguk. "Eve, kata-kata terakhir?" Rose bermimik sedih. "Aku membencimu, Rose," geram Evelyn. Secara tak langsung. Rose seperti sedang menyumpah Evelyn tidak panjang umur "Lalu, bagaimana sekarang?" Evelyn menatap putus asa pada Jasmine. "Aku akan minta Sebastian agar dia memberitahu Dylan untuk menyudahi semuanya. Maksudku, kau sudah membayarnya dengan ... ya ... seperti yang kau katakan, Eve. Ditambah dengan berita yang akan kita keluarkan, aku rasa namanya sudah aman dan dia tidak perlu muncul lagi," ucap Jasmine tak yakin. "Jadi, semalam kau kemana? Tidur lagi bersama mafia itu?" tanya Rose tanpa basa-basi. Evelyn membolakan matanya, ingin sekali memberi cabai pada bibir Rose yang selalu berucap pedas. "Kau tidur lagi dengannya? Itu sih namanya tidak pemaksaan. Itu artinya kau menikmatinya," tuding Jasmine. "Direktur, kau menuduhku?" Evelyn membolakan matanya kearah Jasmine. Diam-diam mengelak perihal fakta yang sebenarnya terjadi semalam dan tadi pagi. "Oh, sorry," ucap Jasmine sambil terkekeh. "Jadi, kau semalam kemana?" Tanya Rose lagi. "Aku ...." "Sudahlah, sudah jelas-jelas tadi tuan Smithiam bilang sendiri kalau kau tidur bersamanya. Jangan bohong padaku, aku bisa lihat tanda cintanya di balik kemejamu," ucap Rose sambil tersenyum jahat. "Aku sudah bilang kalau aku membencimu, belum?" Evelyn menggeram. "Barusan saja," Rose tak peduli. "Well, kau sudah dewasa ngomong-ngomong, melakukannya dengan seseorang aku rasa tidak perlu dibesar-besarkan." Jasmine menaikkan bahunya tak peduli. "Itu masalah pribadi kalian. Aku rasa dengan keluarnya berita ini dia akan menghilang," ucap Jasmine sambil menjalankan jarinya di atas keyboard computer. "Ayo kita selesaikan," Rose berucap semangat. *** "Rex, jangan lari-lari, nanti jatuh!" Rose memperingatkan anaknya yang sedang berlari mengejar gelembung sabunyang ditiupnya. Kebiasaan setiap sore jika Rose sudah pulang kerja adalah, dia akan membawa Rex bermain ketaman kota untuk menghabiskan waktu bersama sebelum jam mandi sore tiba. "Mama, lagi ...." Rex berucap ceria di antara gelembung busa yang mengelilinginya. "Tapi tidak boleh lari-lari. Gelembungnya jangan dikejar, nanti Mama akan meniup yang lebih banyak kalau Rex tetap dibdekat Mama," ucap Rose. "iya, Mama." Rex menurut, kembali sibuk dengan gelembung busanya yang berterbangan ditiup oleh Rose. "Rex, lima menit lagi kita selesai bermain. Langit sudah mulai gelap, kita harus pulang dan mandi sore." "Kenapa cepat sekali? Ini masih terang, Mama," Rex protes. "Kita sudah bermain setengah jam disini, sayang." Rose mendudukan diri didepan Rex yang sedang berkacak pinggang. "Kenapa setengah jam cepat sekali? Biasanya lama." Bocah berumur lima tahun itu masih saja protes dan melupakan gelembung busanya yang mulai pecah satu persatu. "Rex terlalu senang bermain, jadi lupa waktu." Rose menggusak rambut anaknya dengan senyum kotak miliknya. Meskipun anaknya sedang mengajukan protes, Rose bukannya kesal malah gemas sendiri melihat anaknya. "Apa besok kita bermain lagi kesini, Mama?" "Mama akan mengajak Rex ke taman yang lain besok, jadi Rex bisa punya teman baru yang lain lagi nanti." Rose berdiri, menggendong Rex ditangannya. "Ayo, kita harus mandi." Rose berjalan dengan Rex yang selalu berceloteh tentang temannya di sekolah, tentang guru-gurunya dan tentang hal-hal yang dilakukan Rex selama di sekolah. Rose mendengarnya dengan antusias. Dia selalu senang setiap anaknya bercerita, seperti mendapatkan hiburan yang hanya bisa Rose nikmati sendiri. "Mama, teman Rex di sekolah sudah ada yang punya pacar, lho," pamer Rex, membuat Rose sakit jantung. Bagaimana bisa anak umur lima tahun bisa mengerti arti dari pacaran? "Dari mana Rex mendengar kata pacaran?" Rose mengernyit bingung. "Teman Rex di sekolah, Mama. Namanya Zee, dia bilang pacarnya artis," cerita Rex. Rose sedikit lega dan terkekeh karena 'pacar' yang dimaksud temannya adalah artis. Bisa Rose simpulkan kalau anak itu hanya fans yang mengaku-ngaku, tapi, darimana anak sekecil itu tau soal pacaran? "Oh ya?" "iya, Zee bahkan menunjukan fotonya dan pacarnya," adu Rex. "Besok, katakan pada Zee, kalau Zee terlalu kecil untuk punya pacar," ucap Rose. "Pacaran itu apa, Mama?" tanya Rex polos dan membuat Rose tertawa. Sedikit bersyukur karena anaknya tak paham soal arti kata pacar. "Rex juga masih kecil, jadi Rex tidak perlu tau arti pacaran itu apa. Nanti, kalau Rex sudah besar, Mama akan memberitahu Rex," jelas Rose. "Jadi, pacaran itu untuk orang besar ya Mama?" "iya, itu hanya untuk orang besar. Anak kecil belum boleh." "Begitu ya ... besok Rex akan ingatkan pada Zee, kalau, Kak Smithi!" Rex berucap heboh, badannya bergerak minta turun dari gendongan Rose. "Mama, itu dia pacarnya Zee, namanya Smithi." Rex menunjuk-nunjuk pada pemuda yang sedang berdiri didekat parkiran, sedang melirikkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari seseorang yang memanggil namanya. Rose membatu, kakinya seperti tertanam ditanah. Di depannya, berdiri pria yang paling Rose hindari tengah menatapnya. Keduanya sama terkejutnya. Saat Rex kembali minta diturunkan, barulah Rose sadar dan buru-buru mengeratkan gendongannya pada Rex dan berlari dengan panik, tanpa sadar, Rose seperti sengaja menutupi wajah Rex yang memberontak di gendongannya. "Rose ... Rose!" Justine berlari mengejar, tapi Rose sudah menghilang diantara pepohonan. "b******k!" Justine memaki dan meninju udara sangkin kesalnya. Nyaris sedikit lagi dia akan bisa berbicara dengan Rose. "Justine!" Sang manager ikut berlari, memperingatkan Justine kalau mereka sedang berada di ruang public dan Justine harus menjaga sikap dan kata-katanya. "Apa kau sudah gila?" geram Managernya. "Lepaskan!" Justine menepis kasar tangan managernya dan kembali ke mobil. Justine tahu, social media sedang gempar karena berita yang baru saja dirilis oleh media online yang bekerja sama dengan agensinya dan managernya hanya ingin melindungi reputasi Justine. Tidak ada yang salah, hanya saja kemunculan Rose akhir-akhir ini membuat Justine nyaris gila. Dua tahun terakhir Justine mencari, tapi Rose seperti hilang ditelan bumi. Justine tahu, setelah putus dari Rose, Justine berubah arogan. Harta dan popularitas menggelapkan matanya. Demi uang dia bahkan mencampakkan Rose yang mendukungnya sejak dia masih bukan apa-apa. Beberapa tahun berikutnya adalah tahun paling menjijikan bagi Justine untuk diingat. Dia seperti bukan dirinya, segalanya diatur oleh agensi, sikapnya, cara bicara, dengan siapa dia boleh berkencan, bahkan kata-kata yang akan Justine ucapkan pun sudah diatur di scenario. Dia muak. Dia ingin kembali menjadi Justine yang berada disisi Rose. Rose yang mencintainya dengan tulus. "Justine! Kalau ada yang melihat atau merekammu sedang memaki seperti itu, kau pikir kau akan baik-baik saja? Kau pikir karirmu akan berjalan mulus? Kau sudah gila?" Manager Justine mencecar Justine yang sedang duduk sambil memijat pangkal hidungnya di dalam mobil. "Diamlah. Aku hanya melakukan kesalahan kecil dan itu di luar kendali emosiku. Kenapa harus dibesar-besarkan?" Justine mengernyit tak suka. "Aku memikirkan reputasimu!" "Reputasi ...." Justine mendengus. "Berhenti bertingkah, Justine Smith. Kau semakin aneh sekarang." Managernya menatap garang. "Hentikan, oke? Biarkan aku tidur!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN