Bab 8

1684 Kata
"Jadi, di mana Evelyn?" Jasmine memijit pangkal hidungnya, kepalanya pusing saat Rose mengatakan kalau Evelyn belum datang ke kantor. Jam sudah menunjukan pukul delapan lewat lima belas pagi, tapi Evelyn belum juga muncul di ruangannya, seperti seharusnya. "Aku tidak tahu, Direktur." Rose berucap tak enak hati. "Lalu bagaimana kita bisa membuat beritanya kalau foto-foto itu ada pada Evelyn?" Jasmine melirik tajam pada Rose yang duduk dengan sangat tidak nyaman di kursinya. "Mungkin Evelyn terkena macet, Direktur," ucap Rose mencoba menenangkan Jasmine. Jasmine mendengus kesal, menyalakan computer dan kembali memijat pangkal hidungnya. "Oh ya, Rose, kau kenal Justine Smith?" Rose menegakkan tubuhnya saat pertanyaan Jasmine terdengar di telinganya. Rose berpikir keras, apakah dia harus jujur atau tidak pada Jasmine. Rose melirik takut-takut pada Jasmine beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerita. Demi Rex. "Tak apa kalau kau tidak mau bercerita. Apapun itu, semoga semua baik-baik saja," ucap Jasmine saat Rose tak juga menjawab pertanyaannya. "Entah Direktur akan percaya atau tidak dengan ceritaku, tapi tolong berjanji satu hal padaku, Direktur," mulai Rose. "Janji apa?" Jasmine menegakkan tubuhnya. "Jika Justine Smith mencariku, tolong katakan kalau aku tidak bekerja untukmu. Ku mohon berjanjilah ...," pinta Rose. "Oke, aku akan berjanji, tapi aku butuh penjelasan dari semua ini." Jasmine mengernyit penasaran. "Justine Smith, dia ... ayah biologis anakku, Rex," cerita Rose. Dia mempercayai Jasmine sebagaimana Jasmine mempercayai Rose untuk bekerja di kantornya saat masih berumur belasan tahun bahkan tanpa pengalaman sama sekali. "Oke, lalu ....?" Jasmine jelas terkejut dengan fakta yang baru saja Rose beberkan, tapi Jasmine sangat pandai memanipulasi sikapnya, sehingga keterkejutannya tak dapat Rose baca. "Aku butuh bantuan Direktur untuk menyembunyikan keberadaanku dan juga Rex." "Kenapa harus sembunyi?" Jasmine terdengar tidak setuju dengan sikap Rose. "Kami sudah baik-baik saja, Direktur. Biarkan seperti ini selamanya. Dia dengan karirnya dan aku dengan Rex," ucap Rose. "Tapi yang kulihat semalam, tidak seperti itu. Kau sangat tidak baik-baik saja, begitupun Justine Smith. Apa yang terjadi? Kenapa kalian berpisah?" "Direktur, semalam aku hanya panic saat bertemu dengannya. Tapi aku bersumpah sudah baik-baik saja" Rose berusaha meyakinkan. "Luka di mata mu sangat nyata, Rose. Kau tidak baik-baik saja. Justine Smith tidak baik-baik saja dan Rex Anderson juga tidak baik-baik saja jika kedua orangtuanya sekarat seperti ini." Jasmine berucap tegas. "Aku tidak tahu ada apa, tapi kalian jelas-jelas sama-sama terluka. Aku bisa melihat mata sedih Justine Smith saat kau menolaknya, Rose." "Kau hanya salah mengartikan tatapannya saja, Direktur." Rose mengelak. "Apa yang terjadi dengan kalian berdua? Kenapa kalian berpisah? Kenapa kau memilih diam saat orang-orang bertanya siapa ayah Rex? Kita sudah kenal cukup lama, apa kau tidak bisa mempercayaiku walaupun hanya untuk sekedar mendengar cerita masa lalu mu?" Jasmine menggusak kepala Rose yang tertunduk di depannya. "Maaf aku cerewet," sesalnya. "Kau benar Direktur, aku tidak baik-baik saja. Aku hanya takut dia tahu yang sebenarnya, tentangku, tentang Rex dan semua yang terjadi." Dalam tunduknya. Rose menangis. "Aku bahkan tak berani menatap ke matanya. Aku tidak baik-baik saja." "Apa yang terjadi?" Jasmine melunak. "Kami masih belasan tahun saat kami menjalin hubungan, hubungan kami baik-baik saja sampai saat Justine diterima di salah satu agensi besar dan dijanjikan akan debut setelah tiga bulan menjalani Trainee," mulai Rose. "Aku sangat bangga padanya dan membuat pesta kecil-kecilan untuknya di rumahku, hanya kami berdua yang ada di sana. Saat itu kami terbawa suasana dan melakukan yang tidak seharusnya dan hal itu tidak terjadi hanya sekali." Rose terdiam cukup lama saat mengatakannya. Seperti tidak ingin melanjutkan ceritanya tapi Rose sadar Jasmine menunggunya. "Dan saat Justine debut, managernya tau kalau aku dan Justine memiliki hubungan. Kata Justine, managernya memaksa agar kami memutuskan hubungan demi karir Justine." Rose mengangkat kepalanya. Tangannya dengan kasar menghapus air mata yang turun di pipinya dan memberikan senyum paling menyedihkan yang pernah Jasmine lihat. "Tadinya aku berkeras untuk menyembunyikan hubunganku dan Justine, aku bahkan memohon padanya, tapi Justine juga berkeras ingin mengakhirinya. Dan saat hubungan kami berakhir, seminggu kemudian, Justine diberitakan sedang menjalin hubungan dengan artis lain yang ada di agensinya." Rose mendengus dan tersenyum sinis. "Apa dia sudah tahu kalau kau sudah ... hamil?" tanya Jasmine hati-hati. "Aku sendiri juga belum tau kalau saat itu aku sedang hamil, Direktur. " "Saat kau sudah tahu kalau kau sedang hamil, kenapa tidak meminta pertanggung jawabannya saja?" Jasmine terlihat kesal. "Bagaimana aku bisa semudah itu bertemu dengan artis yang sedang naik daun, Direktur? Aku mendatanginya kemana-mana, tapi aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Aku akhirnya menyerah saat salah satu media memunculkan foto Justine yang sedang berkencan dengan artis yang sempat digosipkan dengannya, mereka bahagia, bagaimana bisa aku merusak hidupnya dengan muncul di depannya dan mengatakan aku sedang hamil anaknya?" kenang Rose. "Kenapa kau tidak muncul saja?" Jasmine merasa emosinya mulai mendidih. "Aku sangat menyayanginya waktu itu. Justine terlihat bahagia dan aku pikir, aku juga bisa bahagia jika melihat Justine bahagia," ungkap Rose. "Bullshit!" maki Jasmine. "Benar, itu bullshit. Harusnya aku muncul saja dan merusak hidupnya, sama seperti dia merusak hidupku." Rose terkekeh. "Ingat, aku masih 18 tahun waktu itu, Direktur. Pemikiranku masih terlalu naif." "Kenapa tidak kau lakukan sekarang saja?"Jasmine bertanya lagi. "Dari pada merusak hidupnya, aku lebih mencintai keadaanku yang sekarang. Aku dan Rex saling memiliki dan kami akan baik-baik saja. Selama ini juga kami baik-baik saja tanpanya." "Bukannya ini tak adil untukmu? Justine bebas dari tanggung jawabnya, sementara kau? Kau harus kerja banting tulang untuk keperluan hidup Rex." "Gaji yang Direktur berikan sudah lebih dari cukup, Direktur." Rose tersenyum. "Kami sudah punya apartemen yang bagus, mobil yang bagus, Rex mendapatkan sekolah yang terbaik di New York, bukannya itu lebih dari cukup?" "Jadi, kalau Rex bertanya di mana Ayahnya? Apa yang akan kau jawab?" Jasmine bertanya seolah menantang. "Aku sudah bilang kalau ayahnya sudah meninggal." Rose berucap santai. Jasmine terperangah. *** Evelyn buru-buru berlari meninggalkan Jack yang masih tertidur di atas tempat tidur saat menyadari dia benar-benar sudah terlambat untuk ke kantor. Saat sudah sampai di luar gedung, Evelyn langsung menyetop taksi yang lewat dan berdoa dalam hati agar ada sebuah keajaiban yang membuat jam berhenti berdetik. "Direktur benar-benar akan membunuhku kalau aku berani tidak datang ke kantor." Evelyn duduk dengan gelisah di dalam taksi. Tangannya saling meremat dan matanya dengan liar melirik pada jalanan kota yang padat. Saat sampai didepan gedung kantornya, Evelyn dengan kesusahan mencoba berlari lagi sekencangnya dan menerobos kerumunan karyawan yang sedang menunggu lift, membuat Evelyn dibanjiri ujaran kekesalan karena ulahnya. Saat sampai di depan ruangan Jasmine, Evelyn merapikan penampilannya yang terlihat berantakan. "Maaf aku terlambat ...," cicit Evelyn saat suara Jasmine yang menyuruhnya masuk terdengar. "Bisa jelaskan kenapa kau terlambat kali ini, Evelyn?" Jasmine menatap tajam pada Evelyn. "Be- begini Direktur, aku ...." "Ah, sudahlah, di mana kameramu? Kita butuh foto-foto itu untuk membuat berita," potong Jasmine. Evelyn membolakan matanya. Ini hebat sekali. Sudah terlambat, badan capek, sekarang barang yang paling penting tertinggal di ruangan itu. Evelyn mengutuk dirinya dalam hati. "D- Direktur...," cicit Evelyn. "Jangan bilang kau meninggalkannya di rumahmu?!" potong Jasmine lagi. "Ma- maaf ...,"cicit Evelyn. "Holly Lucifer! Astaga Evelyn ...,” kesal Jasmine. "Eve. kau kemana saja?" Rose melirik tajam pada pakaian Evelyn yang terlihat sama seperti semalam. "Rose, nanti kita bicara." Evelyn berbisik pelan. Jasmine mendesah putus asa, matanya menatap lelah pada Evelyn. "Duduk!" perintah Jasmine. "Iya Direktur ...." Evelyn mendudukan diri di samping Rose yang sudah memberinya tatapan penuh intimidasi. "Minum dulu," Jasmine memberikan Evelyn sebotol minuman dingin. "Terimakasih, Direktur!" ucap Evelyn tak enak hati. "Istirahatlah dulu, setelahnya kau harus kembali untuk mengambil kameramu," ucap Jasmine merasa iba melihat penampilan Evelyn yang berantakan. "I- iya Direktur. Maafkan aku ...," cicit Evelyn. *** Ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Jasmine yang sibuk berpikir soal Rose, Rose yang merasa sedikit lega setelah bercerita dan Evelyn yang merasa neraka benar-benar sudah membukakan pintunya lebar lebar untuk Evelyn tinggali. Saat sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing, sekertaris Jasmine mengetuk pintu dan memunculkan sedikit kepalanya dicelah pintu dan memberi cengiran pada Jasmine. "Anna? Kenapa?" Jasmine melirik di antara celah tubuh Evelyn dan Rose yang duduk dihadapannya. "Ada tamu, Direktur," ucapnya tersenyum lebar. "Siapa? Sepertinya aku tidak punya jadwal bertemu orang hari ini," Jasmine mengernyit. "Aku." Suara berat itu terdengar tegas di telinga keempatnya. Pintu ruangan Jasmine didorong pelan, membuat Anna menyingkir dari celah pintu dan kembali ke mejanya. "Jack William?" Jasmine berdiri, menyambut tamu luar biasa yang mendatangi kantornya. "Lama tidak bertemu," ucap Jack dan berjalan masuk. "Eve, tolong berikan kursi milikmu!" Jasmine memerintah. Evelyn tersentak saat namanya disebut dan terburu berdiri. Saat berbalik, Evelyn menunduk dalam, karena tanpa harus melihat ataupun mendengar namanya, Evelyn sudah tau suara berat itu milik siapa. "Silahkan duduk, Tuan Jack! " Jasmine mempersilahkan Jack duduk tapi Jack malah tetap berdiri didepan Evelyn yang tidak bisa bergerak kemana-mana. "Aku tidak akan lama, aku kesini untuk mengantarkan ini." Jack meletakkan kamera milik Evelyn di atas meja Jasmine. Evelyn melirik sekilas pada kamera yang terletak di atas meja, diam-diam Evelyn bersyukur karena Jack sudah mengantarkannya ke kantor. "Maaf karena kucing kecilku meninggalkannya di kamar kami," Jack berucap santai, tangannya menarik pinggang Evelyn mendekat dan membuat tubuh keduanya bersisian. "Bukan salahnya, aku membuatnya kelelahan, jadi día lupa pergi ke kantor dan bahkan meninggalkan kameranya." Jack menyeringai saat merasa badan Evelyn terasa kaku di pelukannya. "O- oh ...." Terlalu terkejut, Jasmine bahkan tidak bisa mengucapkan kata lain selain kata 'oh' yang entah apa artinya. "Datanya masih aman, Jasmine. jangan khawatir," jelas Jack membuat Evelyn mendesah lega disamping Jack. "Oh, ya ...." Jasmine menganggukkan kepalanya salah tingkah. Rose yang sedari tadi hanya duduk bahkan tidak bisa mengontrol mimic wajahnya. Matanya membola dan bahkan bibirnya sedikit terbuka. Ini terlalu ... berlebihan dan spektakuler untuk pemandangan di pagi hari yang tak cukup cerah ini. "Baiklah, aku hanya mampir sebentar. Aku harus pergi sekarang." Jack berpamitan tapi tangannya tidak juga melepas pinggang Evelyn. Jari tangannya bahkan dengan aktif mengelus pinggang Evelyn sejak tadi. "Ini tidak gratis, Daddy akan meminta imbalannya nanti," bisik Jack ditelinga Evelyn, membuat badan Evelyn menegang. "Aku permisi, Jasmine. Sampaikan salamku pada suamimu!" Jack melepaskan tangannya di pinggang Evelyn dan mengecup kepala Evelyn sebelum pergi dari ruangan Jasmine. Saat pintu tertutup dari luar, Evelyn bisa merasakan tatapan penuh tuntutan penjelasan dari Rose dan Jasmine yang mengarah padanya. "Aku butuh penjelasan masuk akal soal ini, Evelyn!" tuntut Jasmine.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN