Bab 7

1284 Kata
Rose sudah menelepon Evelyn berkali-kali dan Evelyn tidak mengangkat teleponnya. Dia ingin pulang, tapi tidak mungkin dia pulang sendiri tanpa Evelyn. "Aku benar-benar akan meninggalkanmu sendiri disini kalau sekali lagi kau berani tidak mengangkat teleponku, Evelyn!" gumam Rose kesal. Rose berjalan mondar-mandir didepan pintu ruangan VVIP yang baru saja ditinggalkannya. Saat sedang sibuk berguman kesal, Rose mendadak berhenti dan membeku. Di depannya, orang yang paling tidak ingin Rose temui lagi, berdiri tak jauh darinya. "My Rose?" Rose membeku saat mendengar panggilan yang sudah lama tidak dia dengar. Marah, hanya itu rasa yang tertinggal saat mendengar panggilan itu lagi setelah lima tahun tahun lebih tak mendengarnya dari orang yang sedang berdiri di depannya. "My Rose?" panggil orang itu lagi. "Kau salah orang," ucap Rose dingin dan berjalan melewati orang itu. Tepat saat Rose berselisih dengan orang itu, tangannya dijegat dan membuat Rose makin marah. Rose menghempas tangan orang itu dan menatap tajam padanya karena genggaman tangan itu sangat kuat dan tidak bisa terlepas meskipun sudah dihempas. "Rose?" "Lepaskan!" Rose berteriak. "Rose, Ini aku, Justine ...." Justine menatap bingung pada Rose. "Aku tidak peduli siapa namamu! Lepaskan aku!" Rose berucap geram. "Apa kau marah?" Justine ikut tersulut karena Rose menolak genggaman tangannya. "Aku bahkan tidak mengenalmu, kenapa aku harus marah dengan orang yang tidak ku kenal sama sekali?" Rose berucap lantang. "Bercanda ...." Justine mendengus marah. "Jangan pura-pura tidak mengenaliku, Rose!" Justine menghentak tangan Rose, membuat Rose tersentak dan menabrak tubuh Justine. "Lepaskan, atau aku akan berteriak" ancam Rose. "Silahkan berteriak semaumu!" tantang Justine. "Jangan menantangku, b******k!" Rose menarik kuat tangannya dari cengkraman Justine. "Lepaskan! Ini sakit!" teriak Rose saat tangannya gagal terlepas dari cengkram Justine. "Ada apa ini?" Jasmine muncul bersama Sebastian. "Maaf, tapi tolong lepaskan tangan Anda," Sebastian berucap tegas pada Justine. "Direktur, tolong aku." Rose memohon pada Jasmine dan Sebastian. "Anda bisa kami laporkan ke pihak berwajib atas tuntuan perlakuan tidak menyenangkan." Jasmine berucap dingin. "Pikirkan karir Anda, Justine Smith." Justine melirik tajam pada Jasmine dan Sebastian. Dengan tidak ikhlas, Justine melepaskan tangannya dari Rose. "Rose, kau kenapa?" Justine melunak. Matanya menatap penuh harap agar Rose mau melihatnya, tapi Rose memilih pergi dengan berlari, meninggalkan Justine, Sebastian dan Jasmine di sana. "Saya harap Anda bisa menjaga sikap Anda, tuan Smith," ucap Jasmine dingin dan meninggalkan Justine. Rose berlari sekencang yang dia bisa. Dadanya berdebar menyakitkan tapi Rose tidak peduli. Dia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya dari orang itu. Dia tidak ingin kembali. *** Evelyn terbangun dan terduduk di atas tempat tidur yang lagi-lagi bukan miliknya. Evelyn melirik ke sekitar dan tidak menemukan siapapun di sana. Hanya bajunya yang berserakan di lantai. "Dua kali?" Evelyn terperangah sendiri di atas tempat tidur. Bagaimana dia bisa berakhir telanjang untuk kedua kalinya diatas tempat tidur karena orang yang sama? Evelyn rasa dirinya mulai gila. "Kamera!" Evelyn terperanjat saat menyadari tak ada kamera di sekitarnya. Evelyn menarik selimut untuk menutupi bagian pingang ke bawah dan turun dari atas tempat tidur dengan panik. Tangan Evelyn sibuk memungut bajunya yang berserakan dilantai dan Evelyn merasa lega luar biasa saat melihat kamera miliknya berada di atas meja tak jauh dari tempat tidur. Evelyn menyeret langkahnya ke arah meja dan buru-buru menyalakan kamera miliknya dan hasilnya benar-benar membuat Evelyn ingin menangis. Memorinya hilang. "Dia pasti mengambilnya saat aku tidur! Dasar mafia b******k!" Evelyn berteriak melepaskan rasa frustasinya. Bagaimana dia harus menjelaskan ini pada Jasmine? Jasmine pasti akan membunuhnya kalau tahu memori kamera Evelyn hilang. Yang artinya foto 'pura-pura candid' yang diambilnya musnah sudah. "Apa yang kau lakukan Evelyn?!" Evelyn meremas rambutnya putus asa. Harusnya dia tidak perlu marah saat Jack meremehkannya karena tidak meminum minuman keras. Harusnya Evelyn tidak perlu terpancing emosi dan berakhir menghabiskan segelas minuman keras yang membuatnya mabuk, harusnya Evelyn lari saja saat Jack menguncinya di ruangan ini, harusnya Evelyn tidak berakhir seperti ini kalau saja egonya tidak tinggi. Kenapa hanya ada kekacauan yang terjadi setiap Evelyn bertemu dengan mafia arogan b******k itu? Evelyn berjalan kearah pintu dan mengernyit heran saat pintu itu tidak bisa dibuka. Evelyn mencoba berbagai macam cara untuk .membuka pintu itu tapi tetap tidak terbuka dan Evelyn memilih menyerah. Dengan kesal, Evelyn menendang pintu tak bersalah itu dan kembali memungut bajunya dan berlalu ke kamar mandi. Sepertinya dia perlu menenangkan isi kepalanya untuk bisa berpikir jernih. Evelyn sudah selesai berpakaian dan keluar dari kamar mandi. Segala cara sudah Evelyn pikirkan untuk bisa keluar dari ruangan ini, mulai dari menggedor-gedor pintu sampai cara paling ekstrim keluar dari jendela sudah Evelyn pikirkan selama mandi. "Selamat pagi." Evelyn terperanjat dari lamunannya saat suara Jack terdengar di telinganya. Di sofa, tak jauh dari meja tempat kamera Evelyn berada, Jack sudah duduk manis, tangannya terentang di sandaran sofa, dan wajahnya benar-benar terlihat segar dengan senyum paling b******k yang pernah Evelyn lihat. "Kembalikan memoriku!" Evelyn berjalan menuju Jack seperti siap untuk menghajar pria pucat itu kapan saja. Jack mendengus dan tertawa. "Ingin kopi? Atau teh?" "Kembalikan saja memoriku, Tuan!" Evelyn mencoba bersabar. "Aku tidak menyangka kau seliar itu saat mabuk. Benar benar menantang." Jack menyeringal. Evelyn terdiam di depan Jack. "Mau ku ceritakan soal tanda merah di leherku ini?" Jack memandang tajam pada Evelyn. Wajahnya jelas-jelas sedang menikmati kegugupan Evelyn di depannya. "Jangan bicarakan hal yang tidak masuk akal! Kembalikan ...." "Kau benar-benar tidak sabaran, semalam," potong Jack. "Hentikan! Di mana memori kameraku, Tuan?" Evelyn memerah. Matanya diam-diam melihat pada tanda merah di leher Jack. "Kau bahkan memohon padaku ...." "Hentikan, Tuan!" Evelyn meledak. Marah, malu, kesal, bingung, semua bercampur di sana. "Oke, jadi, teh atau kopi?" Jack tersenyum miring dan merasa menang. "Kembalikan saja memori kamera ku dan biarkan aku pergi dari sini. Kita sudah tidak ada urusan." "Tidak ada urusan?" Jack menaikan alisnya dan tersenyum miring. Saat Jack berdiri dari duduknya, Evelyn tanpa diperintah berjalan mundur. Tingkat kewaspadaannya menjadi berkali-kali lipat saat Jack berada terlalu dekat dengannya. Aura penuh d******i dan intimidasi yang Jack keluarkan benar-benar membuat nyali Evelyn menciut. Evelyn jatuh terduduk di atas tempat tidur saat betisnya terbentur pinggiran tempat tidur, sementara Jack sudah berdiri menjulang tepat di depannya. Evelyn ingin memundurkan tubuhnya lagi, tapi Jack sudah menahan bahunya, membuat Evelyn tidak bisa pergi kemana-mana. "Urusan kita belum selesai, Evelyn." Jack menjalankan salah satu jarinya mulai dari bahu menuju leher dan berakhir di dagu Evelyn. "Kau jatuh tertidur saat aku bahkan belum keluar." Evelyn menelan ludahnya susah payah. Matanya terkunci di mata Jack yang juga menatap tajam dengan seduktif padanya. "Aku rasa kita bisa menyelesaikan urusan kita selagi memori kameramu diperiksa, bagaimana?" Jack mendekatkan wajahnya pada Evelyn dan berhenti tepat di depan bibir Evelyn. Evelyn membatu. Badannya terasa panas dan isi kepalanya yang mulai menggila ingin mencoba bagaimana rasanya melakukan itu dengan pria b******k ini tanpa dipaksa apalagi dalam keadaan mabuk. "Kembalikan memoriku ...," gumam Evelyn pelan di antara kewarasannya yang mulai hilang. Evelyn sadar, sedikit lagi saja dia memajukan bibirnya, bibirnya dan Jack akan bersentuhan. "Aku tau kau juga menginginkannya, Evelyn ...," bisik Jack. Tepat saat bisikan Jack terdengar di telinga Evelyn, kewarasan Evelyn seolah lenyap. Evelyn bahkan hanya diam saat Jack mulai memagut bibirnya, kembali menidurkan Evelyn di atas tempat tidur. Bahkan saat Jack membuka seluruh pakaiaanya, Evelyn hanya menurut dan tidak ada perlawanan sama sekali. "Ini yang terakhir... ini yang terakhir," batin Evelyn. Kata-kata itu bak mantra yang membuat Evelyn berani untuk melakukan hal yang sama pada Jack. Evelyn tidak merasa takut ataupun segan lagi untuk membalas ciuman, sentuhan, dan bahkan menyanyikan nama Jack di antara desahannya saat Jack mulai berkuasa didalam tubuh Evelyn. "Hanya namaku yang boleh kau desahkan seperti ini seumur hidupmu, Evelyn." Ucapan Jack terdengar seperti perintah di telinga Evelyn. Bahkan saat kata-kata yang Jack ucapakan terdengar seperti perintah yang tidak bisa dibantah, Evelyn merasa baik-baik saja. Evelyn mulai menyadari sesuatu, Pria di atasnya ini benar-benar tidak bisa Evelyn tolak lagi keberadaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN