Seminggu berlalu dan Evelyn sudah menghabiskan masa cutinya untuk pergi berobat, menghilangkan rasa trauma yang dialaminya. Dia wanita kuat, tidak boleh cengeng dan lemah. Jika dibandingkan dengan Rose, kekacauan yang dialami Evelyn masih belum ada apa-apanya. Jadi Evelyn bertekad memulihkan kembali keadaan mentalnya perlahan saat dia mendudukkan diri di meja kerjanya.
Mata Evelyn melirik sekilas ke ruang yang seluruhnya dilapisi kaca di mana ada Rose sedang sibuk dengan komputernya dan Evelyn tersenyum hangat saat melihat Rex juga berada di sana, sibuk sendiri dengan puzzle-nya di atas meja.
"Evelyn, tugas baru!" Anna menepuk bahu Evelyn pelan dan mendudukkan diri di mejanya.
"Aku bahkan baru masuk kerja hari ini." Evelyn berucap sinis.
"Kau sudah libur seminggu ngomong-ngomong. Oh ya, tugas. Direktur minta kau mengambil foto pura-pura candid Justine Smith dan Sandria," jelas Anna. Evelyn mengernyit heran.
"Pura-pura candid? Apa maksudnya itu?"
"Aku lupa bilang, minggu lalu kita sudah mengirim umpan ke publik soal Sandria yang berkencan dengan seorang Idol sekaligus aktor," jelas Anna.
"Bukannya minggu lalu berita Sandria yang berkencan dengan mafia b******k itu baru saja tersebar?" Evelyn meninggikan suaranya.
"Maaf."
"Ya, b******k nama yang bagus." Anna tertawa.
"Dan tepat sehari setelahnya, agensinya meminta kita membuat umpan untuk membersihkan nama Sandria dengan cara melakukan penipuan publik. Yang kudengar uang yang mereka berikan ke kantor untuk membuat berita ini merupakan jumlah yang fantastis."
"Media play? Kasihan sekali fansnya dibodohi oleh gadis sepertinya. Penampilan polos tapi bermain bersama om-om, menggelikan!"
Evelyn mencibir.
"Kau terlalu lama bermain dengan Rose ku rasa. Perkataan yang kalian ucapkan sama-sama pedas."
Anna tertawa lagi.
"Terima kasih. Semoga nasibku juga bisa sama sepertinya, mempunyai jabatan yang bagus saat masih muda."
"Oh ya, malam ini kau harus melakukan pekerjaan itu. Kau bisa langsung menjumpai manajer Justine Smith untuk menanyai detail pengambilan gambar pura-pura candid itu. Ini kartu namanya," Anna meletakkan sebuah kartu nama berwarna silver di atas keyboard komputer Evelyn.
"Kenapa harus malam hari?" Evelyn mengernyit heran.
"Supaya lebih meyakinkan saja, dan lokasinya di klub Atlantis, tempat yang sama saat kau memergoki Sandria dan si mafia b******k," jelas Anna. Evelyn terdiam.
***
"Kau akan pergi bersama Rose malam ini," jelas Jasmine.
Evelyn dan Rose yang sedang berada diruangan Jasmine saling bertatapan satu sama lain. Ini memang bukan proyek kerjasama mereka yang pertama, tapi pergi ke club malam dan kemungkinan besar bertemu dengan orang yang tidak diinginkan, jelas bukan ide yang baik dan menguntungkan.
"Aku meminta waktu lebih kalian yang seharusnya kalian gunakan untuk bertemu dengan keluarga dengan harga yang setimpal. Agensi mereka memberikan sejumlah uang dengan total menggiurkan agar kita mau membuat pemberitaan soal ini," jelas Jasmine saat melihat wajah keberatan di wajah Evelyn dan Rose.
"200 ribu dolar untuk masing-masing kalian," sambung Jasmine.
Evelyn dan Rose membolakan matanya takjub dengan nominal uang yang disebut, itu terlalu banyak.
"Dengan catatan, semua foto Jack William dan Sandria yang kalian simpan, harus dimusnahkan, tanpa terkecuali. Termasuk berita yang kau buat, Rose." Jasmine tersenyum saat melihat wajah Evelyn dan Rose seperti sedang menimbang-nimbang keputusan.
"Kami setuju!" ucap Evelyn dan Rose kompak.
"Bagus!" Jasmine tersenyum puas.
***
Rose dan Evelyn masuk kedalam club malam itu dengan langsung didampingi seorang bodyguard yang entah suruhan siapa, mengantar mereka langsung bertemu dengan manager Justine Smith di sebuah ruangan tertutup.
Rose terlihat panik saat tepat berada di depan pintu ruangan yang tertutup itu. Dia ingin pergi tapi uang sudah masuk ke rekening Rose. Rose melirik pada Evelyn yang sudah bersiap mendorong pintu di depannya, dengan sigap Rose menarik kembali tangan Evelyn dan menyeret Evelyn ke sudut ruangan dekat kamar mandi.
"Kenapa?" tanya Evelyn kebingungan.
"Ku- kurasa aku perlu ke kamar mandi dan agak lama ...." Rose beralasan.
"Kau kenapa?" tanya Evelyn penasaran.
"Tidak perlu ku jelaskan, kan? Begini saja, beritahu aku saat kau akan memotret mereka kalau misalnya aku masih di kamar mandi. Kalau sudah selesai dengan urusan kamar mandi, aku akan langsung menyusulmu dan menemui manager itu untuk bertanya, berita seperti apa yang mereka inginkan, setelahnya kita bisa pulang." Rose berucap gugup.
"Kau menyembunyikan sesuatu" Evelyn menatap tajam pada Rose.
"Aku yakin kau sedang tidak ingin ke kamar mandi, tapi kau hanya ingin menghindari seseorang," tembak Evelyn.
Rose tanpa sadar merasa punggungnya basah oleh keringat. Evelyn didepannya benar-benar seperti cenayang.
"Ke- kenapa aku harus menghindar? Jangan mengada-ada. Aku hanya perlu ke kamar mandi!" elak Rose.
"Pembohong" tekan Evelyn.
"Ah, sudahlah. Kau masuk saja duluan, aku akan segera menyusulmu." Rose berjalan terburu-buru masuk ke kamar mandi, meninggalkan Evelyn di lorong sendirian.
Evelyn mencibir pelan saat punggung Rose sudah tak terlihat dan kemudian tertawa sendiri melihat tingkah Rose, tanpa menyadari ada kamera yang bergerak memfokuskan lensa kepadanya dengan seseorang tengah menyeringai memantaunya.
***
Evelyn sudah selesai dengan pekerjaan foto 'pura-pura candid'-nya dan dia sedang menunggu Rose menyelesaikan pekerjaannya dengan Manager Justine Smith di dalam ruangan. Menanyai manager itu tentang berita seperti apa yang mereka inginkan.
Evelyn memandang sinis pada Sandria yang sedang sibuk menghisap rokok di tangannya, kemudian pandangannya teralih pada Justine yang sepertinya sedang berdebat dengan seseorang, sepertinya itu asisten pribadinya.
Saat Evelyn hendak meninggalkan bar itu dan ingin berjalan ke ruangan di mana Rose berada, Evelyn merasa merinding, Seseorang seperti sedang memandanginya dan mengikuti Evelyn naik ke lantai atas di mana Rose berada.
Evelyn berjalan cepat, saat sudah sampai didepan pintu ruangan yang dia tuju, Evelyn berbalik dan terkejut melihat Jack William tengah berjalan santai kearahnya. Tangannya berada didalam kantong coat hitam miliknya, senyum jahatnya tersampir dengan jelas di bibirnya, Evelyn merasa kakinya melemas dan dia ingin kabur saat itu juga.
"Kau kembali ...." Jack berdiri tepat di hadapan Evelyn yang sudah membuang wajahnya. Menolak melihat kearah Jack.
"Pe- pergi ...," usir Evelyn. Tangannya mendorong d**a Jack yang mulai mendekat padanya. Membuat Evelyn terhimpit di antara dinding dan badan Jack.
"Ini tempatku, aku harus kemana?" Jack berdiri dengan jarak yang Evelyn buat dengan tangannya.
"Aku ... aku tidak ada urusan lagi denganmu." Evelyn menahan tangannya di d**a Jack untuk memberi jarak antara dirinya dan Jack.
"Apa demam mu sudah sembuh?" Jack melayangkan tangannya ingin menyentuh dahi Evelyn, yang langsung ditepis kasar oleh Evelyn.
"Jangan berani-berani menyentuhku!" Evelyn berujar marah.
"Aku hanya khawatir." Jack tersenyum miring. Matanya terus menatap pada mata Evelyn, sama sekali tidak bergeming meskipun Evelyn seolah menantangnya.
"f**k You! Pergi dariku!" usir Evelyn lagi.
"f**k you?" Jack tertawa, tangannya beralih mengelus kepala Evelyn " With my pleasure ...."
Mata Evelyn membola tak percaya. Dia sudah ingin lari tapi tangan Jack lebih cepat menangkap tangannya dan Evelyn memberontak makin hebat saat Jack mendorongnya ke dinding.
"Lepaskan! Apa maumu?!" Evelyn memberontak.
"Apa yang kau gunakan pada tubuhmu? Sepertinya aku kecanduan ...," bisik Jack.
Evelyn merinding luar biasa.