Bab 5

1334 Kata
"Dia pingsan di kamar mandi, Tuan," jelas Chris saat para maid di rumah Jack menemukan Evelyn pingsan di kamar mandi. "Dia juga demam tinggi," sambung Chris lagi. "Panggil dokter ke sini untuk memeriksanya! Selesai diperiksa, antar dia ke flatnya," perintah Jack. "Apa tidak sebaiknya menunggu dia sadar dulu, Tuan?" Chris bertanya dengan sopan. "Tidak perlu. Siapa yang memakaikan dia piyama?" tanya Jack penasaran. "Bibi Martinez, Tuan." "Siapa yang mengangkatnya ke tempat tidur?" "Saya yang melakukannya. Tapi saat itu Bibi Martinez sudah menutup tubuhnya dengan handuk," jelas Chris. "Bagian mana dari tubuhnya yang sudah kau lihat?" Jack bertanya santai, tapi Chris merasa terintimidasi. Dia seolah sudah melakukan kesalahan dengan menggendong Evelyn ke tempat tidur. "Saya melihat kaki dan bahunya, Tuan," jawab Chris jujur. "Saat mengangkatnya, saya hanya menyentuh punggung dan belakang dengkulnya saja," sambungnya. Jack mendengus tertawa melihat Chris. "Kenapa kau seperti ketakutan?" Jack menepuk bahu Chris dua kali. "Maafkan saya, Tuan." Chris membungkuk sopan. "Saya undur diri dulu, saya akan menghubungi dokter sekarang dan saya juga sudah mengirim uang kepada Tuan Edward sesuai perintah Tuan subuh tadi." Jack hanya mengangguk, membiarkan Chris berlalu dari hadapannya. Setelah mendengar pintu tertutup dari luar, Jack menyeringai dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Matanya memperhatikan Evelyn yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur. Perlahan kaki Jack berjalan menuju tempat tidur agar bisa melihat Evelyn lebih jelas. Mata Evelyn terlihat bengkak seperti habis menangis, pergelangan tangannya memerah dan sedikit lecet karena rantai besi yang terikat di tangannya, keningnya tertempel sebuah kompres kain. Jack menyeringai lebar saat matanya tidak sengaja melihat tanda merah keunguan yang memanjang dengan bentuk tak beraturan di leher Evelyn. Jack mendudukkan dirinya di ujung ranjang. Kepalanya mengelus rambut Evelyn dan sedikit menunduk. "Aku akan ada di ingatanmu selamanya, Evelyn," bisiknya di telinga Evelyn. *** Evelyn bangun dengan panik dan waspada. Matanya melirik liar dan saat menyadari ruangan itu adalah flat miliknya, Evelyn tidak bisa untuk tidak bernafas sangat-sangat lega. "Apa aku mimpi buruk?" Evelyn mengerjab beberapa kali. "Ah, mimpi yang buruk sekali!" Evelyn menggaruk pipinya, merasa yakin kalau apa yang sudah dialaminya hanyalah mimpi buruk. "Aku haus." Evelyn menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan kemudian mengernyit. Ada rasa perih di bagian bawah tubuhnya, terlebih pinggangnya terasa sakit. Evelyn mengerjab beberapa kali sampai dia menyadari dengan sesadar-sadarnya kalau yang terjadi padanya bukanlah mimpi. Di meja belajar Evelyn terletak bungkusan plastik bening berisi obat-obatan, keningnya ditempel kompres dan yang membuat Evelyn makin sadar kalau ini bukanlah mimpi adalah piama yang dikenakannya bukanlah miliknya. Dadanya berdebar hebat saat dia harus menerima kenyataan kalau yang terjadi bukanlah mimpi. Dia benar-benar diculik dan dilecehkan dan dia dipulangkan begitu saja setelah dipakai. Evelyn merasa dunianya sudah tamat sekarang. Saat masih sibuk dengan isi kepalanya yang berantakan, Evelyn terkejut saat mendengar pintu flatnya terbuka dan Rose berdiri berkacak pinggang di depan pintu kamarnya. "Hebat sekali Evelyn, kau bahkan baru bangun sekarang? Apa kau pikir karena kau baru saja menghantam jackpot, kau boleh malas-malasan dan tidak masuk kantor?" omel Rose. "Rose ...." Evelyn bergumam lirih. "Berikan alasan masuk akal agar aku bisa menerima kalau kau bolos kerja hari ini." Rose yang sibuk mengomel tidak terlalu memperhatikan Evelyn dan dengan santai menarik kursi belajar Evelyn untuk ia duduki. "Rose ...," lirih Evelyn lagi. Saat suara lemah Evelyn terdengar, barulah Rose menyadari ada yang salah pada Evelyn. Badan Evelyn bergetar dan air matanya turun perlahan dari matanya. "Astaga drama apalagi ini?" Rose memutar bola matanya dan mendudukkan diri di tempat tidur Evelyn, kemudian menarik Evelyn ke dalam pelukannya. "Rose, aku takut." Evelyn memeluk erat tubuh Rose dan menangis hebat dipelukan Rose. "Ada apa?" Mendengar tangisan Evelyn yang begitu hebat, Rose mulai melunakkan egonya dan mencoba untuk bersikap lebih lembut pada Evelyn. Tangannya mengelus punggung Evelyn untuk menenangkan tangisnya. "Rose ... dia dia melecehkan ku," ucap Evelyn di antara isakannya. "Siapa yang kau maksud?" Rose mengurai pelukannya pada Evelyn dan matanya membola saat melihat tangan Evelyn yang lecet dan lebam. "Apa yang terjadi?" Rose berubah panik. "Jack ... Jack William melakukannya, dia ...." Evelyn tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat mengingat Jack. Ingatan itu datang lagi padanya dan membuatnya takut. "Dia ...." Rose menutup mulutnya dengan tangan saat melihat tanda merah keunguan panjang tak beraturan yang ada di leher Evelyn. Tandanya terlihat sangat jelas dan terang. "Ganas," batin Rose antara takjub dan kasihan. "Evelyn, maafkan aku! Sial! Kau pasti ketakutan. Maafkan aku." Rose kembali memeluk Evelyn. Evelyn pasti benar-benar takut sekarang. Selama mengenal Evelyn, Rose tahu kalau Evelyn adalah anak yang baik dan sedikit naif. Ia tidak pernah terlibat masalah besar sebelumnya. Jelas ia pasti terguncang sekarang, seperti dirinya dulu. Setengah jam menangis dipelukan Rose, akhirnya Evelyn merasa lelah. Perutnya lapar, keadaannya sedikit lebih baik karena sudah menceritakan semua yang terjadi padanya kepada Rose. Terkadang kau membutuhkan teman untuk berbagi cerita. "Untuk menghadapi dunia seperti ini, kau hanya diberi dua pilihan, lawan atau mati," ucap Rose saat mereka makan di ruang tamu flat milik Evelyn sambil menonton TV. "Tidak ada yang akan menolongmu, kecuali kau sendiri. Kalau kau terguncang hari ini, itu wajar. Tapi kalau kau terguncang selamanya, kau bisa bunuh dirimu daripada jadi sampah di keluargamu," ucap Rose santai. "Itu kejam," komentar Evelyn. "Aku bicara fakta, Evelyn." "Aku masih takut untuk keluar, apa direktur bisa memberiku cuti?" Evelyn memandang kosong pada TV yang menyala di depannya. "Aku akan bicara pada direktur nanti. Lagi pula mana mungkin kau pergi ke kantor dengan keadaan seperti itu." Rose menunjuk dengan dagunya tanda merah keunguan di leher Evelyn. "Ini benar-benar kacau, tapi aku bukan wanita lemah. Aku tidak akan terguncang lama-lama." Evelyn berucap semangat. "Itu bagus. Kalau perlu aku bisa memberimu alamat psikiater yang pernah ku kunjungi." Rose memberi penawaran. Evelyn terdiam, wajahnya memandang Rose dengan iba. Apa yang Evelyn alami saat ini memang merupakan kekacauan besar, tapi daripada dirinya Rose sudah pernah mengalami yang jauh lebih berat dari ini, sendirian, tanpa teman yang mendukungnya dulu. "Rose," panggil Evelyn pelan. "Ya?" "Bagaimana rasanya membesarkan anak sendirian?" Evelyn bertanya hati-hati. Rose terdiam beberapa detik, meletakkan mangkuk mie yang berada di pangkuannya di atas meja, mengambil minum dan menghela nafas lelah. "Daripada saat membesarkan, aku lebih merasa ingin mati saat masih mengandung Rex," mulai Rose. "Aku masih belasan tahun saat itu dan aku hanya punya ibu dan nenekku bersamaku. Rasanya aku ingin mati saja bersama anakku karena aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana membereskan kekacauan yang terjadi padaku. Tapi saat Rex lahir, hidupku benar-benar berubah." Rose tersenyum. "Kalau kau bertanya bagaimana rasanya membesarkan anak sendirian, tentu saja sulit. Ibu dan nenek yang selalu membantuku menjaga Rex saat dulu aku pergi kuliah dan kerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan Rex. Ah, aku jadi merindukan anakku." Rose meregangkan ototnya yang kaku. "Bagaimana rasanya menjadi orang tua tunggal?" tanya Evelyn lagi. "Aku merasa baik-baik saja sekarang." Rose tersenyum hangat. "Mungkin dulu sangat sulit untukku menjadi orang tua tunggal. Saat anakku demam, aku hanya bisa menangis sambil memeluknya. Saat anakku menangis tanpa aku tahu sebabnya, aku juga menangis bersamanya. Ya aku masih sangat muda dan tidak tahu harus apa dan hal itu membuatku harus sering berkunjung ke psikiater," cerita Rose. "Kau frustasi?" tanya Evelyn terkejut. "Memangnya kau bisa apa saat kau punya anak di umur 19 tahun? Mengurus dirimu sendiri saja belum becus, ditambah harus mengurus bayi. Jelas saja aku butuh pertolongan medis atau aku akan menjadi orang tua terburuk untuk anakku sendiri." "Berapa lama kau menjalani pengobatan?" tanya Evelyn makin penasaran. "Hanya 6 bulan dan aku bisa mengendalikan emosi dan juga rasa cemas yang berlebihan yang ku alami demi Rex." Rose berucap bangga. "Rose ... kau tahu? Aku sudah mengenalmu semenjak aku masuk ke kantor sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Kau boleh memukulku kalau pertanyaanku selanjutnya ini menyinggung perasaanmu. Tapi tolong jangan pernah mendiamkan aku, oke?" "Kau membuatku ketakutan," ucap Rose sambil mengernyit bingung. "Katakan apa yang ingin kau tanyakan! Aku tidak akan mendiamkanmu, aku janji." Evelyn melihat serius ke arah Rose yang juga menatapnya menimbang-nimbang. Apakah dia ingin menanyakan pertanyaan yang sudah lama membuatnya penasaran atau tidak. "Hei, cepat katakan! jangan membuatku penasaran!" desak Rose. "Siapa ... ayah Rex?" tanya Evelyn hati-hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN