Bab 4

1034 Kata
"Di mana Evelyn?" Jasmine melongokkan kepalanya di ruangan Rose. "Berburu?" jawab Rose tak yakin Evelyn sudah pergi. "Kupikir dia sedang bersantai karena baru saja mendapatkan berita heboh?" Jasmine akhirnya masuk ke dalam ruangan yang seluruhnya memiliki sekat kaca bening. "Ngomong-ngomong, ini bonus untuk kalian. Karena berita itu, portal berita kita kebanjiran pengunjung." Jasmine meletakkan dua buah paper bag merk terkenal di atas meja Rose. "Apa ini?" Rose bertanya penuh minat. "Sweater." Jasmine menumpukan kakinya di atas kaki yang satunya. Matanya berkeliling memperhatikan ruangan Rose. "Ada pekerjaan lain untukmu," mulai Jasmine. "Hah?" "Salah satu agensi besar ingin kita membuat pemberitaan palsu soal artisnya. Bukan pekerjaan yang berat kan?" Jasmine menatap Rose dengan tajam. "Pemberitaan soal apa?" "Seperti biasa, skandal kencan." Jasmine menaikkan kedua bahunya, terlihat jengah dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya. "Media play lagi?" Rose mengernyit. "Kau tahu? Mereka membutuhkan itu untuk menutupi skandal yang lain agar perhatian publik sedikit beralih dari masalah besar yang sedang terjadi," jelas Jasmine. "Ya, aku paham." Rose mengangguk mengerti. "Apa ini dari agensi Sandria?" tebak Rose. "Benar sekali, mereka meminta kita untuk mengeluarkan berita itu besok. Berita heboh dalam dua hari berturut-turut dengan gadis yang sama dan pria yang berbeda? Wow! Sepertinya agensinya membencinya." Rose tertawa sinis. "Pemberitaan skandal kencan dalam 2 hari dengan 2 pria yang berbeda? Itu gila? Pembunuhan karakter namanya!" "Yah, begitulah bisnis, Rose." Jasmine tertawa. "Jadi dengan siapa gadis itu akan membuat skandal palsu?" Rose bertanya penasaran. "Justine Smith." Detik saat nama itu terdengar, d**a Rose berdebar. Nama itu seperti mantra yang terlarang untuk didengar di telinganya. Apalagi diucapkan dari bibirnya. Rose membeku. *** "Tumben sekali kau menerima tamu di sini? Kenapa tidak di ruang kerjamu saja?" Edward Jones melipat kakinya di atas kaki yang satunya, memandang penasaran ke arah Jack yang tidak biasa menerima tamu di ruang tamunya sendiri. "Ada apa kau ke sini subuh begini?" Jack mengabaikan pertanyaan Edward. "Aku butuh uang." "Apa ponselmu sudah tidak berguna? Kenapa kau datang ke rumahku hanya untuk minta uang? Kau bisa minta melalui Chris kan?" Jack berucap tidak senang. "Kau mengganggu tidurku!" "Ya ... untuk ukuran orang yang baru bangun tidur kau masih terlihat terlalu segar?" Edward menajamkan matanya ke arah Jack. "Kau habis bercinta?" tebak Edward. "Apa pedulimu Bocah? Cepat katakan berapa uang yang kau butuhkan!" Jack mengernyit. "Ngomong-ngomong ibu menanyakanmu. Sudah lama kau tidak mengunjungi ibu." Edward memulai. "Katakan pada ibu aku baik-baik saja. Berapa yang kau perlukan?" "Ck, kenapa kau dingin sekali pada ibu? Meskipun kita berbeda Ayah kau tidak pernah sinis padaku. Kenapa pada ibu kau dingin sekali?" Edward mengeluarkan protesnya. "Dasar bodoh! Dari dulu juga aku sudah begini. Cepat katakan berapa uang yang kau perlukan!" Jack memutar bola matanya kesal. "Dasar keras kepala!" ejek Edward. "satu juta dolar." "Ya sudah pulang sana! Nanti aku akan minta Chris mengirimnya ke rekeningmu," usir Jack. "Kau tidak ingin bertanya aku menggunakan uang itu untuk apa?" "Ck, aku tidak secerewet dirimu!" Usai menyelesaikan ucapannya, Jack berdiri dari sofa yang sejak tadi didudukinya, menaiki tangga dan menuju ke atas tangga yang berbentuk huruf Y dengan ukiran rumit di pinggirannya. Terus Edward perhatikan sampai Edward sadar sesuatu. Jack tidak berjalan ke kanan, di mana kamarnya berada. Tapi menuju sayap kiri tangga, di mana ruang kerjanya berada. Diam-diam Edward mencibir pada Jack yang sudah hilang dari pandangannya. "Tetap saja begitu. Ibu lama-lama akan menyumpahimu jadi batu karena tidak pernah mengunjungi Ibu!" Edward berdiri dari duduknya, matanya melirik pada rak wine milik Jack yang berjajar di lemari dekat dinding. Setelah melirik ke kiri dan ke kanan, Edward berjalan santai ke arah rak wine milik Jack dan mengambil wine yang paling tua yang ada di sana. "Rasakan pembalasanku! Ini akibatnya karena sudah durhaka kepada ibu!" Edward menyeringai karena berhasil menculik wine yang paling mahal yang ada di sana. *** Evelyn menggeliat di antara tidurnya karena udara dingin yang berasal dari pendingin ruangan mulai terasa menggigit tulangnya. Matanya berkedip-kedip untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Saat kesadarannya sudah terkumpul, Evelyn mulai sadar kalau dia tidak mengenakan apapun di tubuhnya. Panik, Evelyn langsung mendudukkan tubuhnya dan jelas itu merupakan kesalahan besar. Pinggangnya sakit. Setelah mengumpat pelan, Evelyn mulai menyadari di mana dia berada. Dia berada di sebuah kamar di atas tempat tidur dengan 4 pilar kayu di tiap sudut ranjang. Menyadari tidak adanya pakaian menempel di tubuhnya, Evelyn buru-buru menarik selimut hitam yang berada di ujung jari kaki untuk menutupi tubuhnya sampai sebatas dagu. "Ini ... di mana?" Evelyn bertanya pada dirinya sendiri, matanya dengan liar melirik kesana kemari dan dia menemukan jendela kaca besar di samping kanan tempat tidur. Perlahan Evelyn menggerakkan badannya agar bisa turun dari tempat tidur. Begitu kakinya menapak pada lantai yang dingin, Evelyn merasa sesuatu mengalir dari pahanya, seperti cairan. Saat menyadari apa yang sudah terjadi padanya, wajah Evelyn pucat pasi. Dia ingat sekarang. Dia baru saja dilecehkan. Evelyn menelan ludah dengan gugup. Dengan ketakutan dia menurunkan sedikit selimut yang membungkus tubuhnya dan mengintip keadaan tubuh bagian depannya. Evelyn terperangah, dadanya penuh dengan noda merah keunguan. Saat matanya bergulir ke arah perutnya, Evelyn makin membolakan matanya. Banyak sekali noda merah keunguan yang sama berserakan di tubuhnya. Evelyn mulai gemetar, sekelebat bayangan saat Jack mulai melakukan hal itu padanya membuat Evelyn merinding bukan main. Di tengah kepanikan yang sedang melandanya, Evelyn melirik pintu yang berada dekat dengan jendela dan berjalan terseok ke sana. Kamar mandi, itulah yang Evelyn butuhkan sekarang dan bersyukurlah Evelyn karena tebakannya benar. Karena pintu itu terhubung ke kamar mandi. Evelyn melepas selimut yang menutupi tubuhnya dan berjalan dengan kesulitan ke arah shower. Saat tangannya menyentuh keran shower dan air mulai membasahi seluruh tubuh Evelyn, ia mulai menangis. Ia sekali lagi menyesali perbuatannya. "Ini benar-benar kekacauan yang besar, Evelyn!" Evelyn menggosok keras-keras tubuhnya sambil menangis, berharap tanda merah keunguan itu bisa hilang dari tubuhnya. Kulitnya bahkan memerah karena ia terlalu keras menggosokkan telapak tangannya ke tubuhnya. "Hilang! Hiks ... ku mohon hilang!" Evelyn terisak putus asa. "Mama! aku menyesal." Evelyn terisak makin keras, tubuhnya terduduk lemas di lantai kamar mandi. Ia meraung-raung menangisi hidupnya dan apa yang sudah dia lakukan sebelum kejadian ini terjadi padanya. "Mama aku mau pulang!" isaknya putus asa. "Mama, tolong ... tolong aku!" Ia terisak lagi, seketika rasa pusing luar biasa menghantam kepalanya. Evelyn pingsan begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN