Sedetik saat Jack menjauhkan bibirnya dari depan bibir Evelyn, Evelyn merasa jantungnya nyaris meledak. Dadanya makin berdebar saat tangan Evelyn dirantai oleh kedua orang yang berdiri kaku di belakangnya kini, sementara Jack sudah berdiri menjulang di depan Evelyn, wajahnya yang dingin benar-benar membuat Evelyn ketakutan.
"Tuan ... ku ... kumohon."
Evelyn mengiba, menjatuhkan tubuhnya hingga dahinya menyentuh karpet hitam di bawahnya.
"Kalian berdua keluar dari ruanganku!" perintah Jack pada bodyguard yang berdiri tepat di samping Evelyn. Tanpa diminta dua kali kedua bodyguard itu membungkuk dan berlalu meninggalkan Jack dan Evelyn di ruang kerja Jack.
"Berdiri!" perintah Jack pada Evelyn yang masih berlutut dengan dahi yang menyentuh karpet. Evelyn tersentak. Tidak ingin membuat pria pucat di depannya lebih marah lagi, Evelyn buru-buru berdiri bersamaan dengan bunyi gemerincing rantai yang mengikat tangannya di belakang punggungnya. Dia berdiri dengan goyah, kepala menunduk dan bahu Evelyn mulai bergetar, pertanda dia mulai menangis.
"Aku hanya menyentuh dagu dan rambutmu. Tapi kau sudah menangis," ejek Jack.
"Bagaimana kalau aku menyentuh seluruh tubuhmu? Kau akan bunuh diri?"
Jack berdiri tepat di depan Evelyn, matanya dengan liar menjelajah ke seluruh tubuh Evelyn yang hanya dilapisi kaos putih polos dan celana jeans hitam. Evelyn menelan ludahnya susah payah, bulu kuduknya merinding mendengar suara berat penuh intimidasi di depannya. Kalau saja bisa, Evelyn ingin mengulang waktu dan tidak akan mau berurusan dengan orang macam Jack.
"Ceritakan padaku, apa saja yang kau ketahui setelah membuntuti jalang kecil itu?"
Jack menggulirkan jari telunjuk dan jari tengahnya di tubuh Evelyn, mulai dari kepala, telinga, leher, tangan dan berakhir di pinggul Evelyn.
"A- aku ...."
Evelyn merinding, sentuhan kecil dari Jack membuatnya ketakutan dan penasaran. Lebih dari itu, Evelyn benar-benar ingin Jack langsung membunuhnya saja daripada diinterogasi seperti ini.
"Katakan!"
Jack menggulirkan jarinya kembali ke dagu Evelyn, memaksa Evelyn untuk menunjukkan wajahnya di depan wajah penuh arogansinya.
"A- aku ... Tuan ... ini ...."
"Katakan dengan jelas atau kau harus membayar ini semua dengan harga yang mahal!"
Jack berucap Santai di depan wajah Evelyn, tapi Evelyn sadar ancaman nyata sudah berada di depan matanya.
"Dan di mana kameramu kau sembunyikan?"
"Tuan ... aku ... aku hanya mengikuti Nona Sandria selama 2 minggu dan aku ... aku tidak bermaksud mengikutimu. Hanya saja ... ini ...."
Evelyn menjelaskan dengan seluruh sisa keberanian yang dia punya. Cara bicaranya bahkan berantakan. Jack menunggu Evelyn selesai bicara dengan matanya sibuk menjelajah wajah Evelyn dan berhenti tepat di bibir penuh Evelyn yang sedang mencoba menjelaskan semuanya padanya.
"Ini ... aku ...."
Evelyn tersentak, matanya membola saat Jack menarik dagu dan pinggangnya bersamaan, membuat badannya dan badan Jack menempel. Belum selesai keterkejutan Evelyn, ia makin dibuat merinding saat jempol Jack mengelus bibir bawahnya. Matanya terlihat penuh minat menatap bibir Evelyn yang sedikit terbuka.
"Bagaimana rasanya?"
Jack bertanya pelan, matanya masih saja menatap bibir Evelyn tanpa memikirkan kepanikan yang sedang melanda Evelyn. Evelyn benar-benar takut sekarang.
"Tuan ... apa yang Anda lakukan le- lepaskan aku!"
Evelyn mencoba melepaskan tangan Jack yang berada di pinggangnya dengan susah payah karena tangan Evelyn yang masih terikat di belakang punggungnya. Matanya bahkan mulai berair lagi. Pria di depannya ini benar-benar pengintimidasi yang handal.
"Tadinya aku ingin langsung membunuhmu, tapi sepertinya kekacauan yang kau buat tidak akan bisa terselesaikan walaupun aku membunuhmu sekarang. Bagaimana kalau sebagai ganti dari kekacauan yang kau buat, izinkan aku mengacaukan pakaianmu di sini?"
Jack menaikkan satu alisnya, matanya memandang mata Evelyn yang benar-benar panik sekarang.
"Ti- tidak Tuan! Ku- kumohon!"
Evelyn menggeleng kuat, tangannya kembali mencoba melepaskan pelukan Jack di pinggangnya dengan putus asa.
"Aku akan pelan-pelan."
Jack menyeringai, benar-benar menikmati wajah ketakutan Evelyn di hadapannya. Jack mendorong Evelyn secara tiba-tiba ke sofa panjang di ruang kerjanya, membuat Evelyn terpental dan nyaris jatuh dari atas sofa berwarna hitam itu. Evelyn terkejut bukan main saat Jack mengambil gunting yang berada di meja kerjanya dan berjalan lagi ke arah Evelyn. Evelyn ingin lari tapi kakinya seperti tidak memiliki tulang lagi. Dia ingin menjerit tapi suaranya seolah hilang tertelan di tenggorokan, takut.
Jack sudah menaungi Evelyn yang tergeletak ketakutan dengan posisi miring di sofa. Tangan Jack digunakannya untuk menopang berat badannya agar tidak menimpa Evelyn. Sementara Evelyn meneteskan air matanya tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Aku pikir kau adalah anak yang pemberani. Ternyata nyalimu hanya segini?"
Jack menyeringai, lidahnya menjulur menyentuh daun telinga Evelyn. Saat Evelyn tersentak, Jack terkekeh pelan di telinganya.
"Wah masih perawan?" ejek Jack.
"Tu- Tuuan ... kumohon lepaskan aku ...."
Evelyn menutup matanya saat merasa bibir Jack mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di telinganya. Evelyn bahkan menggigit bibirnya agar isak tangisnya tidak terdengar.
"Kenapa kau jadi sepengecut ini? Harusnya sifat pengecut mu ini muncul sebelum kau berani mengambil fotoku diam-diam, Evelyn," bisik Jack. Evelyn terdiam, dia menyesali semuanya sekarang. Semuanya, tanpa terkecuali.
Evelyn hanya bisa menangis dalam diam saat Jack mulai menggunting bajunya, membuat bagian tubuh depan Evelyn terpampang jelas untuk Jack lihat.
"Berhentilah menangis kucing kecil!"
Jack mengusap air mata Evelyn yang mengalir dari mata Evelyn yang terpejam erat. Jack tidak lagi berbicara, bibirnya mulai menjelajah. Bibirnya meraup rakus bibir Evelyn yang sejak tadi sudah membuatnya geram. Puas dengan bibir Evelyn, Jack menurunkan ciumannya ke leher wanita itu. Tangan besarnya dengan lihai membuka pengait yang melindungi pandangan matanya dari sepasang gundukan kenyal yang sejak tadi menarik perhatiannya, selain bibir Evelyn. Seringai Jack semakin lebar saat mendengar desahan yang tanpa sengaja keluar dari bibir Evelyn saat tangan kanan Jack mengganggu gundukan itu.
"Benar, lakukan seperti itu kucing kecil!" bisiknya. Ciumannya berpindah kembali ke telinga Evelyn.
"Tuan ... ku mohon lepaskan aku!" cicit Evelyn putus asa, tapi Jack seolah tuli. Tidak ada lagi hal yang bisa Evelyn lakukan selain membiarkan Jack melakukan apapun keinginannya pada tubuhnya. Evelyn seolah tak berhak lagi atas tubuhnya sendiri. Ia merasa benar-benar kalah total di hadapan pria pucat yang sedang menaunginya. Tubuhnya melemah saat Jack berhasil menarik seluruh jalinan benang yang menutupi tubuhnya. Ia hanya bisa pasrah sekarang, ia menjerit saat tubuhnya terasa terkoyak menjadi dua.
Jack benar-benar mengacaukan Evelyn sesuai ucapannya. Seluruhnya, seluruh tubuh Evelyn sudah tidak ada yang tersisa. Semuanya sudah Jack miliki. Semua sudah Jack tandai sebagai miliknya.