Gerimis turun saat aku masih berada di rumah Pedro. Kami masih duduk bersisian di sofa, berpelukan sambil menatap rintik hujan dari balik jendela kaca. Suhu ruangan menjadi sejuk karena angin masuk dari celah jendela yang sedikit terbuka. Pedro mengeratkan pelukannya padaku. Ketika aku menoleh, Pedro sudah mendekatkan wajahnya. Bibirnya sudah akan mendarat ke bibirku, namun aku menahannya. Bukan aku bermaksud menolak ciuman Pedro. Hanya saja tiba-tiba aku teringat akan mimpiku tadi malam, di mana dalam mimpi itu Leonard menciumku. Hal itu membuatku jadi enggan mencium Pedro karena bisa saja aku membayangkan Leonard nanti. Pedro menautkan alis melihatku menjauhkan wajah darinya. Ia menatapku beberapa saat seperti merasa heran. Kualihkan pandangan darinya dan kembali menatap ke luar jendel

