bc

BITTERSWEET MARRIAGE

book_age16+
2.9K
IKUTI
11.4K
BACA
revenge
love after marriage
self-improved
confident
CEO
boss
drama
sweet
city
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Kisah tentang seorang chef bernama Lunaria, wanita mapan dengan latar belakang keluarga broken home. Ia trauma akan pernikahan dan satu-satunya pria yang dapat meluluhkan hatinya adalah Pedro, seorang seniman. Namun, kedua orang tua Lunaria tak memberi restu karena menganggap Pedro tak punya masa depan.

Suatu malam, Lunaria bertemu dengan Leonard, seorang pengusaha muda yang menawarkan pernikahan padanya. Leonard ingin segera menikah untuk menghilangkan gosip skandal kedekatan dirinya dengan seorang model terkenal bernama Helen. Demi menutupi hubungannya dengan Pedro, Lunaria pun akhirnya menerima tawaran Leonard untuk menikah.

Akankah cinta bersemi di hati Leonard dan Lunaria ketika berbagai problematika hidup bergantian menerpa rumah tangga mereka? Mampukah mereka menjaga pernikahan agar tetap utuh dan bermakna? Atau memilih untuk membiarkan cinta mereka luruh dalam bencana?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. My Story
Seperti malam-malam biasanya, malam itu kembali kudengar mama dan papa bertengkar. Mereka terdengar saling menghardik, menghina, dan memaki. Lalu suara barang-barang yang terlempar. Entah sudah pertengkaran yang ke berapa. Aku tak menghitung. Mereka tak peduli bahwa aku yang waktu itu masih beranjak remaja—sedang butuh perhatian mereka. Aku yang kala itu tengah semangat belajar—sangat butuh ketenangan. Dengan langkah berjingkat, perlahan aku keluar dari kamar. Berjalan pelan-pelan agar tak menimbulkan suara. Mencoba melihat pertengkaran mama dan papa di ruang tamu lantai bawah. Aku berdiri di dekat tangga dan menyaksikan pertengkaran mereka yang hebat itu. Mereka tak sadar bahwa aku tengah memperhatikan mereka sambil menahan tangis. “Dasar kamu! Sudah punya suami, sudah punya anak, tapi masih selingkuh dengan lelaki lain!” tuding papa. “Seenaknya saja kamu menuduh! Sudah berapa kali kubilang bahwa dia hanya rekan bisnisku!” Mama membela diri. “Rekan bisnis tapi tidur bersama?!” “Jangan asal menuduh! Bukannya kamu juga suka pergi ke pub bermain wanita?!” balas mama lagi. “Sudah tak mengaku salah, malah balik menuduh!” Suara papa semakin meninggi. “Akui saja bahwa kamu memang berselingkuh dengan rekanmu itu!” Mama menghela napas. “Aku mendekatinya untuk urusan bisnis, agar karirku semakin melesat dan aku menghasilkan banyak uang untuk keluarga kita. Kamu lihat sendiri bagaimana penghasilanmu selama ini. Tidak akan cukup untuk kebutuhan keluarga kalau hanya mengandalkan gajimu.” Sambil tertawa, mama menyilangkan lengannya. “Sebenarnya cukup saja kalau gaya hidupmu tidak berlebihan dan tidak suka berfoya-foya. Lagi pula karirku juga akan menanjak. Kamu yang tidak sabar!” Papa memandang nanar wajah mama. “Itu urusanku, yang penting aku bisa membiayai kebutuhanku sendiri dan juga keluarga ini.” Mama menantang mata papa. “Bilang saja itu alasanmu agar kamu bisa bermain lelaki!” hardik papa. “Terserahlah! Katakan saja apa yang kamu mau!” Mama menunjuk wajah papa. “Apa kamu bilang?!” Papa mencengkeram lengan mama. Mama menepisnya lalu melempar vas bunga ke lantai. Papa baru saja akan membalas mama, namun terhenti ketika aku berteriak. Aku terduduk lemas sambil menangis. Mereka terdiam sebentar namun kembali saling menyalahkan. Dengan langkah tertatih, aku berjalan ke kamarku kembali dan menangis semalaman. Begitu seterusnya sampai beberapa tahun kemudian mereka bercerai, baru aku merasa tenang. Aku menghela napas dalam, berusaha menghapus kenangan pahit masa lalu itu. Kini aku telah tumbuh menjadi wanita dewasa meski dengan asuhan orang tua secara terpisah. Saat ini aku sudah tinggal sendiri di apartemen. Aku telah menjadi seorang chef profesional yang bekerja di sebuah hotel bintang lima yang cukup terkenal di Jakarta, The Bright Moon Hotel. Aku juga mengisi acara kuliner di sebuah saluran televisi swasta. Meski hidupku sudah baik-baik saja, tapi aku masih ragu untuk urusan asmara. Bahkan aku sempat takut menjalin hubungan dengan seorang pria sampai aku bertemu dengan Pedro. Pedro adalah seorang seniman yang memiliki hati lembut. Dia begitu menyayangiku dan menerimaku apa adanya. Mendengarkan semua keluh kesahku. Namun sayangnya hubunganku dengan Pedro ditentang oleh kedua orang tuaku, baik mama maupun papa. Mereka menganggap bahwa Pedro adalah pria yang tak punya masa depan. Tak menghasilkan apa-apa dari pekerjaannya sebagai seorang seniman. Mereka menuduh Pedro hanya mau memanfaatkan aku secara finansial, bukan karena tulus mencintaiku. Aku benci tuduhan mereka itu. Memang benar bahwa aku sering memberi Pedro uang karena penghasilannya sebagai seorang seniman jalanan tak seberapa, bahkan tak cukup untuk biaya hidupnya. Tapi aku tak masalah membiayai hidupnya karena aku mampu. Dan yang paling penting dia mencintaiku. Lagi pula, apa hak mama dan papa mengaturku? Tentang pendamping hidup, sudah seharusnya menjadi urusanku karena aku sudah dewasa. Mereka saja gagal membina rumah tangga, untuk apa mereka menasihatiku? Bagaimanapun, aku tak bisa melawan karena mereka adalah orang tuaku. Akhirnya aku dan Pedro memilih diam-diam dalam menjalani hubungan asmara kami. Biarlah. Aku juga tak ingin banyak orang tahu tentang kisah cintaku. *** “Pagi, Chef.” Para commis dan cook helper menyapaku ketika aku memasuki dapur hotel pagi itu. Aku mengangguk tersenyum menjawab sapaan mereka. Sebenarnya aku lebih suka dipanggil nama saja. Tapi para bawahanku itu lebih suka memanggilku Chef, maka aku tak mempermasalahkan. Hal terpenting adalah bagaimana kami bisa bekerja sama sebagai tim dan menghasilkan kinerja yang baik. Sebagai seorang station chef yang memimpin hot kitchen, aku harus menjadi pemimpin yang baik bagi tim agar setiap hari kami selalu menghasilkan masakan-masakan lezat sesuai dengan standar hotel. Selain menyiapkan makanan untuk para tamu hotel yang menginap, kami juga harus siap sedia untuk bekerja ekstra jika sedang ada event di hotel. Seperti saat ini, ada acara pernikahan di ballroom hotel dan kami harus menyiapkan 500 porsi masakan untuk para tamu undangan yang hadir hari itu. Suasana dapur sering kali menjadi hectic dan panas jika sedang sangat sibuk. Apalagi jika ada hal-hal di luar rencana seperti penambahan tamu undangan. Tapi aku berusaha bersikap tenang dan memimpin tim dengan baik. Rutinitas yang sama setiap hari harus dilakukan. Menyediakan bahan, mengolahnya, hingga melakukan plating. Semua harus sempurna dan tepat waktu. Sejauh ini, aku tak memiliki masalah berarti meski aku sudah pernah bekerja di beberapa hotel. Disiplin dan melakukan yang terbaik adalah prinsipku. Dengan kedua hal itu, namaku kini sudah sangat dikenal dan kerap direkomendasikan oleh para kolega yang pernah bekerja denganku. “Finally done for today.” Aku menghela napas lega. “Good job!” seruku kepada tim hot kitchen yang terlihat sangat lelah hari itu. Selesai di dapur, aku beranjak menuju ruang executive chef untuk melaporkan pekerjaanku dan tim hari itu. Setelahnya aku bergegas memasuki lift untuk turun ke basement, tempat aku memarkirkan mobil. Segera aku melajukan mobilku membelah jalanan ibu kota. Rasanya aku ingin secepat kilat sampai ke apartemenku. Badanku terasa sangat lelah dan ingin beristirahat. “Halo, Pedro,” ucapku mengangkat telepon setelah aku tiba di apartemen dan selesai mandi. “Halo, Sayang.” Suara Pedro terdengar di seberang sana. Aku tersenyum meski ia tak melihat. “Ada apa?” “Hanya ingin meneleponmu. Apakah tidak boleh?” Ia terdengar merajuk. “Tentu saja boleh,” jawabku tertawa. “Sebenarnya aku ingin mengajakmu bertemu besok. Bukankah sudah dua minggu ini kita tidak bertemu? Aku merindukanmu, Luna.” Pedro merayuku. “Baiklah. Kebetulan besok aku libur. Di mana kita akan bertemu?” tanyaku. Pedro berdehem. “Kamu datang saja dulu ke rumahku. Setelah itu baru kita pergi bersama.” Setelah menyetujui dan mengobrol sedikit dengannya, aku menutup telepon. Tak lama ponselku bergetar kembali. Kali ini bukan Pedro, melainkan papa. Kenapa papa meneleponku malam-malam begini? Sangat jarang papa menelepon kalau tidak ada keperluan. Dengan malas, aku pun menggeser tombol di layar ponsel untuk mengangkat panggilan. “Ada apa, Pa?” tanyaku langsung. “Lunaria, besok kamu libur?” Papa balas bertanya. “Ya. Kenapa, Pa?” “Tolong gantikan papa ke acara pesta rekan bisnis papa besok. Papa tidak bisa hadir karena papa akan berada di luar kota selama dua hari ini,” jelas papa. Aku berdehem. “Kalau begitu tidak usah hadir saja, Pa. Kenapa harus digantikan?” “Dia adalah rekan bisnis papa yang sangat penting. Besok juga adalah acara penyambutan bisnis barunya. Tidak enak kalau papa tidak datang tanpa ada yang menggantikan. Tolong gantikan papa, Luna.” Papa lalu menyebutkan nama gedung tempat acara pesta rekan bisnis papa itu dan menegaskan sekali lagi bahwa aku harus datang. Aku menghela napas. Mau tak mau aku menuruti keinginan papa dan membatalkan janjiku dengan Pedro besok. Untungnya Pedro tak mengeluh saat aku membatalkan janji. Andai saja mama dan papa tahu bahwa Pedro sebaik itu. Kulemparkan ponselku ke ranjang, lalu merebahkan diri. Aku benar-benar malas kalau harus mendatangi pesta rekan bisnis seperti itu. Memuakkan karena aku sendiri pun kerap menghadiri acara serupa demi tuntutan pekerjaan. Tapi ini rekan bisnis papa, tampaknya yang akan datang besok juga kebanyakan para pria dan wanita paruh baya. Pasti akan sangat membosankan! ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
202.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
9.6K
bc

Kali kedua

read
222.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook