2. Unforgettable First Meet

1202 Kata
Leonard mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru gedung. Mengamati para tamu dan suasana malam itu. Pesta ini benar-benar membosankan. Hampir semua yang hadir adalah para wanita dan pria paruh baya, hanya beberapa saja yang terlihat masih muda termasuk dirinya. Ia menghadiri acara pesta itu adalah untuk menggantikan ayahnya yang tak bisa hadir. Pengusaha yang sedang mengadakan pesta penyambutan bisnis baru itu memiliki pengaruh yang sangat besar, sehingga Leonard diminta oleh ayahnya untuk menggantikan. Sebenarnya Leonard merasa tak masalah, karena toh sebagian dari rekan ayahnya adalah juga kolega bisnisnya. Namun Leonard kadang merasa jenuh dengan obrolan apalagi lelucon mereka yang buruk itu. Dengan masih pura-pura bersikap hangat dan tertawa dengan para rekan bisnis ayahnya, Leonard kembali mengedarkan pandangan. Kali ini tatapannya terhenti pada seorang wanita yang tengah berdiri dekat sebuah meja panjang yang di atasnya terdapat banyak minuman dan kudapan. Wanita cantik itu terlihat hanya seorang diri saja. Leonard pun berpamitan sebentar kepada para rekan bisnis ayahnya dan berjalan mendekati wanita tersebut. Leonard berdehem. Wanita yang mengenakan dress panjang berwarna maroon itu menoleh. Sebelah tangannya memegang segelas minuman berwarna cerah. Ia memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat apakah ia mengenali pria yang menyapanya itu atau tidak. “Selamat malam, Nona—” Leonard tak menyambung ucapannya. Sebagai gantinya, ia mengulurkan tangannya pada wanita itu untuk berkenalan. “Lunaria,” jawab wanita itu membalas uluran tangan Leonard. “Oh, perkenalkan nama saya Leonard.” Lunaria hanya tersenyum tipis sambil menarik tangannya kembali setelah mereka bersalaman. Perlahan ia meneguk minumannya. Leonard pun melakukan hal yang sama. Mengambil segelas minuman, lantas meneguknya. Tatapannya tak lepas dari wajah Lunaria yang terlihat berbias indah karena pantulan cahaya lampu. Wanita ini benar-benar cantik, puji Leonard dalam hati. “Pesta ini benar-benar membosankan, bukan?” Leonard membuka obrolan. “Sepertinya kita tersesat datang ke sini.” Lunaria tertawa mendengarnya. “Ya, sangat membosankan. Saya datang ke sini hanya karena menggantikan papa saya.” “Really?” Leonard menautkan alisnya. “It sounds ridiculous but we have the same reason. Saya juga menggantikan ayah saya yang tidak bisa hadir ke acara ini.” Sambil mengangguk-angguk, Lunaria kemudian meneguk minumannya kembali. Ia lalu menatap wajah Leonard, sepertinya pria di hadapannya itu tak asing. “To be honest, sepertinya saya pernah melihat kamu sebelumnya. Tapi entah di mana,” ujar Lunaria jujur. “Di televisi mungkin?” “Mungkin.” Lunaria mengedikkan bahu dan bertanya, “Kamu sering tampil di televisi?” “Tidak juga. Hanya saja saya sering masuk infotainment karena gosip skandal saya bersama mantan pacar saya yang seorang model terkenal,” jawab Leonard. Kembali Lunaria tertawa geli mendengar penuturan pria yang baru dikenalnya itu. “Mantan pacar saya itu belum bisa melupakan saya, sehingga dia terus membuat gosip skandal seolah-olah saya masih mencintai dia,” jelas Leonard lagi. “Kamu tidak perlu menceritakannya pada saya.” Lunaria masih mengulum senyum. Leonard menghela napas. “Ya, entah kenapa saya menceritakannya padamu.” Sambil masih memegang gelasnya, Lunaria bertanya, “Lalu pekerjaanmu yang sebenarnya apa?” “Saya pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan data, Leonard Com. Kalau kamu pernah mendengarnya.” “Oh, Leonard Com. Tentu saja saya pernah mendengarnya. Ternyata pemiliknya adalah seorang pria muda sepertimu,” komentar Lunaria. Leonard tersenyum tipis, lalu menilik wajah Lunaria dengan saksama. “Sepertinya saya pun pernah melihatmu di televisi.” Lunaria menangguk. “Saya mengisi sebuah acara kuliner yang ditayangkan seminggu sekali di salah satu saluran televisi swasta. Tapi pekerjaan utama saya adalah seorang chef di The Bright Moon Hotel, kalau kamu pernah mendengarnya.” “Oh, The Bright Moon Hotel. Salah satu hotel bintang lima terbaik di ibu kota,” sahut Leonard. Kembali Lunaria mengembangkan senyuman mendengar komentar Leonard tentang hotel tempatnya bekerja. The Bright Moon Hotel memang terkenal sebagai salah satu hotel yang kredibel dan selalu memberikan pelayanan yang baik. “Maaf, Lunaria.” Leonard berdehem. “Bolehkah saya bertanya?" Kening Lunaria berkerut, tapi kemudian ia mengangguk. Ia memandangi wajah Leonard yang terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu. Apa yang ingin ditanyakan oleh pria ini? “Apakah kamu sudah menikah?” tanya Leonard kemudian. “Kalau kamu belum menikah, saya ingin memberikan sebuah penawaran.” Lunaria menggeleng. “Saya belum menikah. Penawaran apa yang kamu maksud?” Setelah terdiam sejenak, Leonard berucap, “Saya ingin mengajakmu menikah.” Mendengar ucapan Leonard, Lunaria pun mengernyit dan membulatkan matanya merasa heran. Setelah meredakan batuk dan rasa terkejutnya, ia menengadah menatap Leonard. Ada raut marah di wajah wanita itu. “Apa maksudmu mengajak saya menikah?!” tukas Lunaria. “Kita bahkan baru berkenalan.” Leonard tersenyum melihat perubahan sikap Lunaria yang mendadak itu. “Tenang, Nona. Jangan salah paham. Saya tidak bermaksud merayumu, sama sekali tidak. Bukankah tadi saya bilang bahwa ini adalah semua penawaran?” “Mengajak seorang wanita yang baru pertama kali kamu temui, itu yang kamu sebut penawaran?!” Masih mengulum senyum, Leonard mengangguk membenarkan. “Karena saya bilang penawaran, maka ada imbalannya. Kalau kita menikah, saya akan memberikan 40% dari total saham perusahaan saya kepada kamu.” Lunaria tertawa sinis. “Saya tidak butuh saham-saham itu, karena saya pun sudah hidup berkecukupan.” Keheningan menguasai mereka untuk beberapa saat. “Baiklah.” Suara Leonard kembali terdengar. “Kalau tawaran menikah dari saya dengan imbalan materi terdengar tak nyaman, bagaimana kalau kamu anggap saja bahwa pernikahan ini sebagai sebuah perjanjian yang menguntungkan satu sama lain?" “Saling menguntungkan? Apa yang menguntungkan dari sebuah pernikahan seperti yang kamu tawarkan itu? Saya benar-benar tidak mengerti cara berpikir seorang direktur sepertimu.” Lunaria menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meletakkan gelasnya ke atas meja. “Begini, Lunaria. Saya membutuhkan bantuanmu untuk menikah dengan saya karena saya ingin menghilangkan skandal-skandal menyebalkan itu. Jika saya sudah menikah, tentu gosip-gosip memuakkan itu akan berkurang.” Leonard berusaha menjelaskan maksudnya. “Itu urusanmu! Kenapa tidak kamu cari saja wanita lain? Tentu banyak yang menyukai seorang pria muda pemilik perusahaan sepertimu,” sindir Lunaria. Leonard masih menatap Lunaria. “Tapi saya tidak mau sembarang pilih. I choose you because you’re a high-quality woman.” “Dasar pria gila!” gerutu Lunaria seraya beranjak meninggalkan Leonard begitu saja. Setelah berpamitan kepada beberapa rekan bisnis papanya, Lunaria meninggalkan gedung tersebut. Bergegas ia memasuki mobil dan melajukannya menuju apartemennya. Hari itu benar-benar sial. Sudahlah menghadiri acara pesta bisnis yang membosankan, dia juga harus menemui seorang pria gila yang melamarnya di hari pertama mereka bertemu. Menyesal ia meladeni pria bernama Leonard itu. Ia juga menyesal telah menghadiri pesta tersebut. Lebih baik ia menghabiskan waktunya bersama Pedro, kekasihnya yang romantis dan perhatian. Lunaria menghela napas kasar begitu mobilnya tiba di parkiran gedung apartemennya. Bergegas ia menaiki lift untuk menuju unit apartemennya. Ingin segera beristirahat. Sedangkan Leonard masih berada di pesta itu. Dia hanya mengedikkan bahu melihat kemarahan Lunaria. Ia mungkin terdengar sedikit tak sopan tadi, tapi reaksi wanita itu juga terlalu berlebihan. Padahal Lunaria bisa menolak baik-baik, pikirnya. Leonard mendesah. Ia belum akan menyerah. Pasti wanita itu akan mau menerima tawarannya nanti. Ia menyungging senyuman sambil meletakkan gelasnya. Bukan Leonard namanya kalau mudah menyerah. Ia tidak peduli cinta dalam pernikahan, tapi ia juga menginginkan wanita yang sepadan dan menarik. Banyak wanita yang menginginkannya namun tak pernah ada yang bisa menggugah hatinya. Dan begitu melihat Lunaria malam ini, Leonard tahu bahwa ia menginginkan wanita itu. Lunaria terlihat sempurna baginya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN