Sinar mentari menerobos masuk melalui dinding kaca ruangan kantor Leonard. Sang direktur muda itu terlihat fokus menatap layar laptopnya. Ia tersentak ketika tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dengan keras. Belum sempat Leonard mempersilakan masuk, seorang pria paruh baya muncul dan berjalan ke arahnya dengan raut wajah penuh amarah. Leonard mendesah. Tamu yang datang itu adalah Handoyo Tanadi, ayahnya.
Seperti biasa, pria paruh baya itu langsung masuk ke ruangan Leonard, tak menggubris sekretaris Leonard yang menanyakan keperluan kedatangannya. Sudah pasti Handoyo akan membicarakan perihal skandal-skandal Leonard atau tentang pernikahan untuk anaknya itu. Kedua hal tersebut seolah tak henti menjadi perdebatan mereka beberapa tahun belakangan ini.
“Apa lagi ini?!” Handoyo membanting ponselnya sendiri ke atas meja kerja Leonard.
Layar ponsel itu tengah menampilkan halaman sebuah portal berita online. Isinya apalagi kalau bukan skandal asmara antara Leonard dan Helen. Helen si model terkenal sekaligus mantan kekasih Leonard itu masih sangat terobsesi dan menginginkan Leonard. Itulah sebabnya wanita itu tak henti menyebarkan gosip bahwa ia masih berhubungan dengan Leonard, si pengusaha muda yang tampan dan mapan.
“Sudah berapa kali ayah bilang jangan berhubungan dengannya lagi atau para wanita yang tak jelas!” tukas Handoyo.
“Aku juga sudah bilang berulang kali bahwa aku tidak pernah berhubungan dengannya lagi. Kalaupun bertemu, itu kadang hanya kebetulan.” Leonard membela diri.
Lagi pula, apa yang dikatakannya benar. Leonard sudah menegaskan pada Helen agar wanita itu berhenti mendekatinya ataupun menyebarkan gosip tentang mereka karena hubungan mereka telah lama berakhir. Namun Helen tetap mendekatinya, seperti tak tahu malu. Obsesinya pada Leonard seperti sudah mendarah daging. Di mana pun Leonard, Helen seperti bisa menemukan pria itu, terutama saat Leonard menghabiskan waktu di bar atau klub malam.
“Pokoknya ayah tidak mau tahu. Gosip-gosip murahan tentangmu di infotainment itu sampai ke telinga para rekan bisnis ayah. Dan itu sangat memalukan!” sergah Handoyo masih dengan raut wajah penuh kekesalan.
Leonard berdecak. “Aku juga muak dengan gosip-gosip itu. Tapi Ayah tahu bahwa itu adalah ulah Helen, wanita yang terobsesi padaku."
“Kalau begitu, kenapa tidak kamu laporkan saja dia pada polisi? Bukankah itu sudah termasuk pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan?” Handoyo menyilangkan lengannya.
“Aku rasa terlalu jauh kalau melaporkannya kepada polisi,” gumam Leonard sambil mengalihkan pandangannya.
Handoyo menggelengkan kepalanya. “Bilang saja kalau kamu tak tega karena dia adalah mantan pacarmu.”
Leonard tak menjawab. Meskipun ia tak menyukai Helen lagi, tapi wanita itu pernah menjadi bagian hidupnya. Ia meninggalkan Helen karena wanita itu terlalu mengekangnya dan suka cemburu tak jelas. Kini Leonard sudah tak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Helen. Akan tetapi, ia tak mau melaporkan wanita itu kepada polisi. Selain tak tega, ia juga malas menghadapi proses hukum.
“Kalau kamu tidak mau melaporkan Helen ke polisi, maka jalan satu-satunya untuk menghentikan gosip-gosip itu adalah dengan cara kamu harus menikah. Jika melihatmu bahagia bersama istrimu, orang-orang juga akan yakin bahwa semua gosip itu tak benar,” ujar Handoyo.
Leonard mengangguk. “Sedang aku pikirkan. Ayah tenang saja.”
Handoyo menghela napas kasar. “Baiklah. Ayah harap kamu sudah akan memperkenalkan calon istrimu dalam beberapa bulan ini. Kalau tidak, ayah akan menjodohkanmu dengan anak rekan bisnis ayah.”
Masih tak menjawab, Leonard membiarkan saja Handoyo keluar dari ruangannya. Ayahnya itu bahkan tak sempat duduk. Setelah Handoyo berlalu, Leonard menyandarkan tubuhnya ke kursi. Perlahan ia mengetuk-ngetuk keningnya. Apa yang harus dilakukannya? Haruskah dia mencari kontak Lunaria dan menawarkan pernikahan pada wanita itu lagi?
***
Tak perlu waktu lama bagi Leonard untuk menemukan kontak Lunaria. Perusahaannya adalah perusahaan IT, tentu saja mudah baginya untuk menelusuri kontak Lunaria, apalagi dia sudah mengetahui hotel tempat wanita itu bekerja. Meski awalnya ragu, akhirnya Leonard menelepon Lunaria. Sungguh tak ada bayangan wanita lain di benaknya selain Lunaria yang ingin ia jadikan istri.
“Dari mana kamu mendapat nomor ponsel saya? Dasar stalker!" tukas Lunaria saat Leonard meneleponnya.
Mendapat hardikan seperti itu, cukup membuat Leonard tak ingin lagi menghubungi Lunaria. Ia bukannya menyerah, hanya saja ia punya harga diri. Lebih baik dia mencari wanita lain saja untuk dijadikannya istri. Masih banyak wanita lain yang menyukainya dan tentu saja dengan senang hati akan menerima tawaran menikah darinya. Seorang pria seperti Leonard tak pantas mengemis kepada seorang wanita.
Dengan langkah malas, Leonard memasuki sebuah bar and lounge di dekat kantornya malam itu. Ia hanya ingin sedikit menghilangkan rasa jenuh dan mengalihkan pikirannya dari Lunaria. Seharusnya ia membenci dan segera melupakan wanita itu, namun bayangan wajah Lunaria terus bermain di benaknya. Leonard meneguk minumannya dengan mata menerawang.
Seperti namanya yang indah, Lunaria memiliki paras yang juga sangat elok dipandang. Begitu pun tubuhnya. Tak terlalu tinggi, namun memiliki lekuk yang tampaknya bisa memesona mata pria mana saja. Namun tak hanya fisik, dari segi karir pun Lunaria terbilang mapan. Tentu saja Leonard mengenal banyak wanita cantik dan mapan lainnya, namun entah kenapa Lunaria begitu istimewa di matanya meski hanya sekali bertemu.
“Halo, Leonard sayang.”
Suara seorang wanita membuat Leonard tersentak. Ia menoleh dan mendapati Helen sudah berdiri di belakangnya dengan menaruh jemari lentiknya di bahu Leonard. Helen seperti hantu yang terus mengikutinya dan bisa muncul tiba-tiba. Bagaimana ia mengetahui bahwa Leonard ada di sini? Apakah dia meminta semua bar dan pub untuk melaporkan padanya setiap kali Leonard datang?
Leonard menggelengkan kepala tak habis pikir. Tanpa menyahuti sapaan Helen, ia mengalihkan pandangannya lagi. Melihat itu, Helen duduk di sebuah bar stool tepat di samping mantan kekasihnya itu. Lalu ia meminta kepada bartender agar membuatkannya minuman. Ia kembali menatap Leonard sambil tersenyum. Namun pria itu bergeming, seolah tak ingin melihatnya.
“Kenapa kamu selalu menghindariku, Leo?” tanya Helen.
“Karena kamu selalu menyebarkan gosip-gosip memuakkan itu di televisi!” tukas Leonard.
Helen tersenyum lalu mengelus pundak pria itu. “Aku hanya ingin kamu melihatku.”
Leonard menoleh dan menepis tangan Helen. “Aku mohon, Helen. Berhentilah menggangguku lagi. Di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Hentikan semua gosip itu! Hentikan obsesimu terhadapku!”
“Aku tidak mau!” Helen mencebik. “Aku masih mencintaimu, Leo.”
“Hubungan kita sudah lama berakhir, Helen. Please, move on. Mari kita jalani hidup kita masing-masing,” pinta Leonard dengan wajah memelas.
Helen menggeleng. Ia memasang raut sendu agar Leonard mengasihaninya. Leonard mengusap wajahnya, lalu bergegas meninggalkan bar itu. Tak memedulikan Helen yang berulang kali memanggil namanya. Ia bahkan menepis ketika kemudian wanita itu meraih lengannya, berusaha menghalangi kepergiannya. Helen yang kesal, akhirnya membiarkan Leonard pergi.
Namun dalam diam Helen mengulum senyum sambil memandangi punggung mantan kekasihnya itu hingga berlalu. Ia tahu bahwa Leonard tak benar-benar bisa melupakannya. Pria itu akan jatuh ke pelukannya lagi suatu saat, hanya tinggal tunggu tanggal mainnya. Perlahan Helen meneguk minumannya. Meski banyak pria yang dikencaninya, hanya Leonard satu-satunya pria yang ia cintai. Maka ia tak akan melepaskannya.
***