Selimut

1861 Kata

    Senu melepas jaket kulitnya dan melemparnya ke atas kursi penumpang, lalu turun dari mobil jeepnya. Ia mengedarkan pandangannya, sejauh mata memandang pohon jeruk yang tumbuh berjejer rapi.     Buah terlihat begitu lebatnya di setiap pohon, Senu menyusuri jalan setapak menuju bagian belakang perkebunan. Seorang wanita sebaya dengan Senu muncul dengan pakaian khas perkantoran. Tampak tak cocok berada ditengah perkebunan seperti ini. Tapi Senu tak terkejut ataupun heran, karena Senu sendiri yang memanggil wanita tersebut.         Wanita itu membungkuk hormat dan menyapa Senu dengan sopan. "Mari saya tunjukkan beberapa pohon yang telah benar-benar siap untuk dipanen buahnya."     Senu mengangguk dan mengikuti langkah wanita tersebut. Hingga mereka tiba didepan pohon-pohon berbuah lebat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN