Ghuan Ditolak

2684 Kata
    Semburat sinar matahari yang menembus gorden, mengusik tidur nyenyak Affa. Gadis mungil itu mengerang dan mengucek matanya yang terasa sakit serta membengkak karena efek menangis terlalu lama. Butuh perjuangan yang tak singkat baginya, hingga Affa bisa membuka matanya.Affa berkali-kali mengedipkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Yang pertama kali ia lihat, tak lain adalah gorden berwarna hijau daun yang melambai tertiup angin pagi. Sinar matahari tampak berlomba-lomba menembus gorden tersebut.     Tunggu, gorden? Sinar matahari? Affa bisa melihat kembali? Affa menutup bibirnya tak percaya. Apa selama ini Affa hanya tengah bermimpi buruk? Jadi, selama ini Affa tidak pernah kehilangan penglihatan ataupun disekap oleh pria asing?     Tapi pemikiran Affa segera buyar saat merasakan pelukan dari belakang punggungnya. Pelukan yang langsung menyentuh kulit perut telanjangnya. Lalu hembusan napas hangat terasa menerpa tengkuknya. "Selamat pagi sayang, pagi yang cerah bukan? Hm bagaimana, penglihatanmu sudah kembali kan?"     Affa tidak menjawab. Ia takut. Bahkan lebih takut dari pada saat dirinya dalam kondisi tak bisa melihat. Tubuh Affa yang kaku, di rubah posisinya oleh Senu. Affa dibuat berbaring miring, menghadap pada Senu. Saat itu pula, Affa segera menutup matanya dengan erat. Banyak alasannya, pertama Affa takut jika ia akan menjerit histeris karena kemungkinan Senu memiliki rupa yang sangat buruk.     Bisa juga Senu adalah makhluk astral yang mati penasaran, dan menjadi penghuni rumah tua ini. Itu bukan hal yang tidak mungkin, karena Senu memang bisa muncul tiba-tiba dan bisa bersembunyi dari pandangan siapa pun. Dan alasan yang paling kuat mengapa Affa tidak mau melihat Senu, karena dirinya teringat kejadian tadi malam. Wajah Affa pucat seketika.     "Hei kenapa? Apa kau sakit, kenapa wajahmu pucat seperti ini?" Affa merasakan kedua pipinya dibelai lembut disusul sebuah kecupan manis tepat di bibirnya. "Buka matamu sayang, atau kita lanjutkan kegiatan panas tadi malam?"     Seketika Affa membuka matanya. Dan mulutnya terbuka karena takjub. Wajah di hadapannya ini, adalah wajah tertampan yang pernah ia liat. Guntur, Ghuan, bahkan Ing yang sempat ia akui sebagai pria-pria denga wajah tertampan, ternyata kalah tampan dengan Senu. Wajah Senu dipahat dengan begitu sempurna. Alis dan bulu mata yang tebal. Sepasang mata tajam. Hidung yang tinggi. Bibir tipis. Serta rahangnya yang kokoh. Semuanya tampak sempurna.     Affa terpesona dengan sepasang manik mata yang kini tengah menatapnya lekat. Senu yang memahami perasaan Affa, diam-diam tersenyum dalam hatinya. Reaksi Affa hampir sama dengan perkiraan dirinya. Kedua tangan Senu yang masih memeluk Affa, kini mengusap-ngusap punggung polos Affa dengan lembut. Keduanya masih terbaring di dalam lindungan selimut tebal.     "Cukup untuk mengagumi rupaku. Kau harus segera bersiap, hari ini kau harus kembali bersekolah."     Dan Affa harus menahan tangisnya saat Senu mengangkat tubuh polos dirinya yang hanya tertutupi sebuah celana dalam tipis yang memang sengaja tak Senu lepas dari tubuh Affa. Wajah Affa secara bertahap memerah hingga lehernya.     Lagi-lagi, Affa bagaikan sebuah boneka. Diperlakukan dengan begitu lembut, namun dirinya tak merasa sebagai manusia. Sama halnya seperti boneka, dirinya bak makhluk tak bernyawa dan berperasaan. Senu memperlakukan dirinya sesuka hati, dan tak pernah memperhatikan perasaannya.   ***       Langit tampak mendung, tinggal menunggu waktu awan tak lagi kuat menahan muatannya. Dan segera menjatuhkan tetesan air yang akan menyejukkan setiap makhluk hidup. Namun, bukan hanya cuaca yang terlihat mendung. Wajah Ghuan tak kalah mendungnya. Ing yang sejak kemarin senantiasa menemani Ghuan hanya bisa menghela napasnya. Ia telah kehabisan cara, untuk membuat Ghuan kembali bersemangat. Sebenarnya Ing juga tengah memikirkan sesuatu. Ada masalah mengenai Affa yang baru-baru ini ia ketahui. Dan itu adalah masalah yang cukup besar, kini ia tengah mempertimbangkan apakah lebih baik Ghuan tahu atau tidak.     Tapi, melihat kondisi Ghuan yang berubah seperti ini. Ing memutuskan untuk menyimpan informasi itu untuk beberapa waktu lagi. Kini Ing merangkul Ghuan dengan ekspresi tengilnya. Keduanya memasuki gerbang sekolah, dan sukses menjadi perhatian semua siswi yang juga tengah berjalan masuk ke dalam area sekolah.     "Ma bro, jangan sedih mulu. Nanti ujan lagi nih hari ini. Lo kan pawang ujan, lo kesel langsung jedar-jeder tuh langit. Belom angin pada goyang Inul. Intinya, lo jangan bad mood. Atau kita semua jadi ketiban sial."     Ghuan melirik sinis pada Ing. Ia memang tengah bad mood. Affa hingga detik ini tetap tak membalas pesan atau mengangkat telepon darinya. Ghuan sempat ingin mengecek ke rumah Affa, ingin memastikan jika benar bahwa Affa tengah berada di rumahnya. Ghuan tak peduli alasan mengapa Affa berbohong, yang ia ingin pastikan adalah kondisi Affa baik-baik saja. Hanya itu. Namun, semua rencana tak bisa terlaksana karena berbagai alasan.     Penghalang terbesarnya adalah keikut sertaan Ibunya yang  menghukum Ghuan dengan cara mengurungnya di kamar. Jangan tanyakan mengapa Ghuan dihukum, itu tak terlepas dari ulah si Kumis, yang ternyata melaporkan rencana membolosnya kepada Ibu Ghuan. Dan akhirnya, Ghuan tak bisa berkutik. Ia hanya bisa menghabiskan malam bersama Ing yang ikut dikurung di kamarnya. Jangan tanyakan alasannya!! Ghuan sendiri malas untuk menjelaskan hal tak penting itu.         "Ih Ghuan sama kak Ing emang beneran keren ya?"     "Apalagi Ghuan, gue suka banget kalo dia udah pake seragam taekwondo. Keren gila."     "Kyaaa jadi pen dibanting sama dia!!!"     "Ah Ing!!! Ganteng banget si!! Ih itu tahi lalat cakep banget!!!"         Ing tersenyum dan mengerling pada siswi yang baru saja memuji tahi lalat yang memang berada di pipi kiri Ing. Tahi lalat tersebut ada tiga buah dan membentuk formasi segitiga. Dan Ing sungguh bangga akan tahi lalatnya itu. Ia percaya jika keberadaan tiga buah tahi lalat tersebut, menambah kadar ketampanannya hingga berkali-kali lipat.     Sontak semua siswi bertambah histeris karena kedipan mata Ing. Namun beberapa percakapan dari siswi-siswi, membuat Ghuan seakan mendapatkan semangatnya yang telah hilang beberapa hari ini.         "Dua-duanya keren. Tapi sayangnya, Ghuan bakalan cepet sold out."     "What gila-gila!!! Serius?"     "Iyups, dan parahnya katanya dia bakalan jadian sama cewe pembawa sial itu loh!!"     "Huh dan cewe itu udah balik hari ini. Gue kira dia bakalan pergi selamanya dari sini."         Ghuan tersenyum. Senyum pertama yang dilihat oleh penghuni SMA Biru. Ing sendiri terkaget karena perubahan suasana hati Ghuan. Tapi sedetik kemudian ia sudah paham. Ia membiarkan Ghuan yang telah berlari membelah kerumunan di lorong sekolah, dan Ing paham kemana tujuan Ghuan berlari.   ***       Affa menunduk. Ia tampak gelisah. Hari ini, ia telah kembali sekolah. Namun hatinya tak tenang. Apalagi, sebelum berangkat ke sekolah, Senu membuat dirinya menandatangi sebuah kertas yang kosong. Affa ingin menolak, namun ancaman dari Senu membuatnya tak berkutik. Alhasil, Affa hanya bisa menurut untuk menandatangi kertas kosong tersebut.Sebelum berangkat pun, Affa harus berkali-kali mendengarkan larangan Senu.     "Ingat jangan macam-macam. Aku tahu apa pun yang kau lakukan. Satu kesalahan, berarti satu hukuman untuk dirimu. Ah juga, satu hukuman untuk Kakak tersayangmu. Selalu jaga jarak dengan para lelaki, terutama bocah bernama Ghuan itu. Kau tak akan menyangka apa yang akan bisa aku lakukan padanya, jika ia menyentuh dirimu."     Bulu kuduk Affa meremang saat mengingat ancama Senu itu. Tangannya bergetar pelan. Tidak, ia tidak boleh bersikap aneh dan menarik perhatian. Maka Affa mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berulang kali melatih pernapasannya. Dan berhasil. Kini Affa mulai tenang.     Ia mengangkat wajahnya dan membuka bukunya di atas meja. Affa telah izin beberapa hari, dan itu artinya Affa tertinggal banyak materi. Saatnya Affa untuk mengejar ketertinggalan dirinya. Affa mencoba berkonsentrasi dan mengabaikan tatapan jijik serta menghina dari seluruh teman sekelasnya.     Namun saat Affa berhasil berkonsentrasi. Ternyata ada gangguan yang datang ke kelasnya. Ghuan membuka pintu kelas dengan suara bedebum keras, mengagetkan seluruh penghuni kelas, termasuk Affa yang pagi ini berpenampilan sangat manis. Kedua rambutnya yang panjangnya sebahu di kuncir rendah menjadi dua bagian. Poninya juga disisir rapi menutupi keningnya yang putih.     "Affa!!! Kapan pulang?! Kenapa semua sms, chat, sama telepon aku gak kamu tanggepin?! Dan kenapa kamu berangkat sendiri? Kenapa kamu gak nelpon dulu, minta jemput sama aku? Kalo kamu digodain di tengah jalan gimana? Aku gak rela kalo kamu digodain begitu. Tak rela sungguh ku tak rela~~"     Beberapa siswi tampak tak bisa menahan tawanya. Kenapa? Karena dalam situasi tegang seperti itu, Ghuan masih saja berbuat konyol dengan menyanyi diakhir pertanyaan panjangnya untuk Affa. Dan sebenarnya mereka juga heran, mengapa Ghuan bisa bersikap berbeda pada Affa? Apa benar jika keduanya memiliki hubungan spesial?     Pertanyaan Ghuan menggantung diudara. Ghuan akan melangkah menuju Affa, sebelum suara Dhan menginterupsi niatnya. "Ghuan, kenapa kamu masih ada di sini? Bel sudah berbunyi tiga menit yang lalu."     Ghuan menoleh dan menjawab, "Maaf Pak, saya ada urusan penting sama calon bini saya."     Senyum Dhan yang selalu terlihat ramah dan bersahaja, tampak surut dari wajahnya yang rupawan. Matanya menyipit lembut, lalu kekehan pelannya terdengar. "Cukup untuk banyolan pagimu Ghuan. Kembali ke kelas kamu sekarang!" perintah Dhan tegas.     "Tapi Pak, sebentar aja ya--"     "Kembali ke kelas kamu sekarang, atau Bapak seret kamu untuk mengisi buku kendali?" Ghuan segera diam. Ia tak bisa melawan ancaman tersebut. Ia yakin jika Dhan tak main-main. Ghuan juga paham dengan sifat gurunya yang satu ini. Dan Ghuan tak bisa lagi berurusan dengan buku kendali pembawa petaka tersebut, atau hari ini Ghuan juga harus menghabiskan malam dikurung di kamarnya.     Maka Ghuan berbalik, dan menatap Affa yang masih menunduk. Ia melangkah cepat dan berdiri di samping Affa. Tangannya terangkat dan mengusap puncak kepala Affa, ia sendiri menunduk dan menyejajarkan wajahnya dengan wajah Affa, ia berbisik pelan, "Nanti istirahat, kita perlu bicara. Jangan kemana-mana. Tunggu aku di sini!" Lalu Ghuan beranjak pergi setelah mengecup punggung tangan Dhan.     "Selamat datang kembali Affa, Bapak dengar kamu mengunjungi Guntur di Swiss ya? Ah Bapak sudah lama tak bertemu dengan Guntur. Tapi, sekarang mari fokus untuk belajar, kamu sudah terlalu banyak tertinggal materi. Dan Bapak harap, kau bisa berkonsentrasi."     Affa mengerutkan keningnya, jadi selama ini dirinya dikabarkan izin ke Swiss? Tapi siapa yang mengatakan hal itu? Apa Senu? Affa juga baru tahu jika Dhan dan Guntur saling mengenal. Berarti ada kemungkinan dirinya bisa menghubungi Guntur dengan aman melalui Dhan?     Mata Affa membulat saat gagasan tersebut melintas di kepalanya. Jika begitu, Affa harus mendekati wali kelasnya tersebut dan meminta bantuannya. Tapi, untuk saat ini Affa hanya perlu fokus dalam pelajaran. Ia tak bisa mengabaikan sekolahnya. Tanpa terasa jam pelajaran telah berakhir dan tiba saatnya waktu untuk istirahat. Affa masih ingat bisikan Ghuan tadi pagi. Tapi Affa tak berniat untuk melakukan apa yang diminta oleh Ghuan. Ia lebih memilih mengikuti perintah Senu. Jauhi Ghuan dan semuanya akan aman.     Affa bangkit dari duduknya dengan kotak bekal dan sebuah botol air minum yang telah disiapkan oleh Senu tadi pagi. Ia berniat untuk menuju tempat tersembunyi untuk menghabiskan makan siangnya ini. Tepat saat Affa melangkah kakinya di luar kelas, Affa dikagetkan oleh Stella yang melambaikan tangannya dengan riang. "Hai Affa, kamu udah balik sekolah ya? Hm kamu mau makan siang ya? Mau bareng aja gak? Soalnya aku ada beberapa hal yang harus dibicarakan."     Affa hanya mengangguk dan melangkah bersisian. Selama perjalanan menuju taman samping sekolah, Affa dan Stella terlibat perbincangan ringan. Affa juga yakin, jika di taman ini Ghuan pasti sulit menemukannya. Karena taman samping sekolah, memang selalu ramai jika pada waktu istirahat.Setelah duduk di bawah pohon berdaun rindang. Stella segera membuka pembicaraan. Affa mendengarkan secara serius. Ternyata Stella membicarakan mengenai masalah club renang. Affa juga mendengarkan dengan serius.     "Oke segitu aja, aku kayaknya harus ke kantin. Aku belom beli makanan soalnya hehe."     Affa menunduk melihat kotak bekalnya, "Mending kamu makan sama aku aja. Aku bawa bekal banyak soalnya."     "Eh, boleh?"     "Boleh, ayo sini." Affa menarik Stella untuk duduk di sampingnya. Ia kemudian membuka kotak bekalnya, Affa segera menarik gulungan kertas yang ia yakini adalah pesan dari Senu dan menyimpannya di saku roknya. Stella yang melihatnya hanya tersenyum, dan mengalihkan perhatian dengan memuji isi kotak bekal Affa. "Wah, aku mau sosis gorengnya boleh?"     "Boleh kok."     Keduanya akhirnya menikmati makan siang dan menghabiskan waktu istirahat mereka bersama. Affa sendiri melupakan masalah Ghuan. Hingga saat pulang, Affa hampir menangis karena Ghuan ternyata mengikuti seperti biasanya. Mengantarkan versi Ghuan, alias Affa berjalan kaki dan Ghuan mengayuh sepeda onthel pinjamannya.     Affa mencoba mengabaikan semua celotehan dan keberadaan Ghuan. Namun Ghuan tetap mengikuti Affa dengan setia. Hingga Affa sampai di depan rumahnya dan akan membuka gerbang rumahnya. Ghuan segera turun dari sepedanya dan menahan tangan Affa dan menarik gadis itu agar tak masuk ke dalam halaman rumahnya yang terlihat suram. Wajah Ghuan yang memang biasanya tampak datar, terlihat begitu serius. Kedua matanya mencoba menatap wajah Affa yang senantiasa menunduk. Sibuk dengan usahanya, Ghuan dikejutkan dengan reaksi kasar dari Affa. Gadis itu menepis tangannya dan mendorong Ghuan.     "Pergi!! Gue gak mau ngomong sama lo." Ghuan mengernyit, karena Affa lagi-lagi menggunakan kata 'lo-gue'. "Tapi aku mau. Banyak hal yang harus aku tanyain sama kamu." Suara Ghuan terdengar dingin, terkesan menekan kata aku serta kamu dalam kalimatnya.     Affa menelan salivanya sulit. Merasa terintimidasi oleh suara Ghuan tersebut. "Gue--"     "Aku, Affa!!"     "Aku gak mau denger apa pun. Lebih baik kamu pergi sekarang!"     Affa berbalik dan membuka gerbang rumahnya. Saat ia akan masuk ke dalam halaman, suara Ghuan lagi-lagi menghentikan langkahnya. "Gimana kabar kamu?"     Langkah kaki Affa terhenti. Beban yang berada di pundaknya terasa terangkat perlahan. Pertanyaan dari Ghuan memang terdengar seperti seseorang yang tengah berbasa-basi. Tapi, bagi Affa pertanyaan semacam itu sangat penting. Affa merasa jika dirinya tengah diperhatikan.  Perlahan Affa berbalik. Suaranya terasa tercekat, matanya juga memanas saat dirinya menjawab dengan lirih, "Buruk. Hari-hariku terasa buruk."     Hati Ghuan terasa tersayat saat melihat setetes air mata mengalir di sudut mata Affa. Ia mengulurkan tangannya dan menarik Affa ke dalam pelukan hangatnya. Menyalurkan dukungan tanpa kata. Ghuan memang tak tahu masalah apa yang tengah dihadapi oleh Affa, tapi yang ia tahu, kini dirinya harus bisa mendukung Affa. Dan membantu gadis itu bangkit dari keterpurukan.Tanpa sadar Affa larut dalam tangisnya. Apalagi, Ghuan membelai kepalanya dengan lembut. Persis seperti Guntur, yang tengah menenangkan dirinya ketika menangis.     "Affa, jika terlalu berat, kamu bisa berbagi. Kamu tau? Aku selalu siap untuk membantumu. Aku siap mendengarkan. Sekarang coba jelaskan, apa Kakakmu terkena masalah? Atau malah dirimu sendiri yang terkena masalah? Dengan siapa?"     Affa menegang. Ia memang tengah terlibat masalah. Tapi bukan hanya dirinya, setiap orang disekitar dirinya pun berpotensi besar untuk mendapatkan masalah yang sama dengan dirinya. Gadis itu merenggangkan pelukannya dan mundur beberapa langkah. Tidak. Ia tidak boleh melibatkan Ghuan. Atau teman barunya ini akan  terkena masalah. Ia masih mengingat bagaimana ancaman Senu.     "Ti-tidak. Aku tidak perlu bantuan apa pun."     "Affa, tolong jujur. Kita berteman bukan? Bahkan lebih. Jadi tolong jujurlah."     "Kubilang tidak!!! Menjauh dan jangan pernah ikut campur dalam hidupku!! Jangan bertindak seperti kita memiliki hubungan yang spesial. Kamu hanya orang asing!!"Affa berbalik, masuk serta mengunci rapat gerbang tua rumahnya. Ghuan mematung. Reaksi Affa benar-benar di luar perkiraannya. Jika boleh jujur, hati Ghuan merasa kecewa.     Affa menutup pintu rumah. Ia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak disamping pintu. "Affa pu--kyaaaa!!!" Affa menjerit saat dirinya mendapat pelukan tak terduga saat melangkah.     "Bagaimana harimu sayang? Ah sepertinya menyenangkan. Bagaimana tidak menyenangkan, kau melupakan semua peringatan yang aku berikan. Sepertinya aku harus memberikan hukuman yang manis lagi untukmu."     Affa menjerit kaget saat tas sekolahnya dilempar oleh Senu, lalu Affa diangkat menuju sofa dan dibuat duduk di atas pangkuannya dengan posisi memunggungi Senu.     Setelah itu, Senu segera membuka kemeja Affa dan menyisakan tanktop dan rok sekolahnya. Ia membuat Affa kembali merasakan gejolak panas dingin. Affa tidak bisa menahan erangan serta keringatnya yang ke luar. Senu menyeringai ditengah aksinya. Ia meraih ponsel Affa di saku celananya saat merasakan benda tersebut bergetar pelan. "Lihatlah, Kakak tersayangmu ternyata menelepon. Sudah beberapa hari kau tidak bertukar sapa dengannya bukan? Maka, kini saatnya." Affa menggeleng, saat Senu mengangkat telepon tersebut dan memberikannya pada Affa.     "Halo Dek? Kamu makan teraturkan? Jangan mentang-mentang bi Inem gak ada, kamu makan sembarangan ya!!"     Affa membekap mulutnya saat merasakan Senu makin menjadi mempermainkan setiap inci tubuhnya. Dimulai dari kulit leher dan pundaknya yang digigit dan dijilat dengan seksual. Hingga buah d**a Affa yang dipermainkan dengan lembut.     "Jawab kakakmu sayang, atau dia akan khawatir."     Affa menggigit bibirnya pelan, sebelum menjawab pertanyaan kakaknya. Siksaan kenikmatan dari Senu terus berlanjut walaupun Affa tengah berbicara dengan Guntur.  “I-iya Kak.”     "Dek kenapa suara kamu kedengeran aneh?"     "Af-Affa la-laghi--umm. Arghh!!" Affa menjerit saat jari Senu yang bermain didaerah sensitif miliknya, mengantar Affa mencapai puncak kenikmatan yang membuat dirinya lemas. Ponsel di tangan Affa sudah terlepas. Affa terkulai lemas bersandar di d**a Senu.     Senu sendiri menyeringai senang dan menciumi pelipis berkeringat Affa dengan sayang. Lagi-lagi, dirinya bisa membuat Affa mencapai puncak, tanpa memasukinya. Hanya sebatas sentuhan. Dan kini, Senu hanya menunggu waktu hingga saatnya di mana Senu menyentuh Affa dalam artian lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN