Saran Bang Aji

2106 Kata
    Affa mengubur wajahnya di dalam lipatan tangannya di atas meja. Kepalanya pusing karena kurang tidur. Semalaman Affa terpaksa terjaga karena takut jika Senu bertindak lebih. Apalagi setelah kejadian sore hari, dimana Affa dipaksa berbicara dengan Guntur saat Senu mempermainkan tubuhnya, Senu segera membuat Affa makan malam. Setelah itu, Senu segera menelanjangi Affa dan memandikannya seperti bayi. Affa sudah paham betul dengan arti percuma. Percuma jika Affa berontak dan menolak itu semua. Jadi Affa hanya diam. Ia tak mau membuat Senu marah lagi dan bertindak lebih dari sebelumnya.         Akhirnya, Affa tidur dalam keadaan telanjang bulat. Sedangkan Senu hanya memakai celana hitam panjangnya. Selimut dan pelukan hangat dari Senu tak terasa nyaman baginya, melainkan terasa seperti tengah mengikatnya dengan sangat erat. Apalagi Senu, pria itu bagai serigala yang menunggu waktu menyergap seekor domba telanjang dalam pelukannya. Ah terserahlah, Affa lelah dan mengantuk. Tidur beberapa menit sebelum bel berbunyi tampaknya tak masalah. Tapi baru saja Affa akan terlelap, Affa harus mengerang kesakitan karena sehelai rambutnya terasa dicabut.     Affa mengangkat wajahnya dan melihat Ing yang duduk di depannya, ia memeluk sandaran kursi yang ia duduki.     "Pagi."     Affa tak menjawab, ia terlalu mengantuk dan lemas untuk melayani salah satu makhluk absurd di sekolah ini. "Eh mata lo kenapa? Lo begadang ya tadi malem? Nih ya dengerin nasehat bang Aji. Kata bang Aji, begadang jangan begadang, kalau tiada artinya~"     Affa hanya melirik, dan tak berniat menjawab. Sedangkan teman-teman wanita Affa sudah memekik histeris karena Ing sang most wanted tengah berada di kelas mereka. Apalagi mereka mendapatkan kesempatan untuk mendengar Ing menyanyi.     Ing yang mendengar pekikan tersebut segera menoleh dan memberikan kerlingan khas miliknya. Seketika semua siswi itu semakin menggila. Hanya Anggi yang masih tampak tenang, itu sukses membuat Ing mengernyit. Tapi tak lama, Ing hanya mengendikkan bahunya. "Hehe, gue numpang bentar ya di sini. Gue ada perlu sama Affa soalnya."     Semua orang segera bungkam dan kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing, setelah mendengar perkataan Ing. Mereka tidak bisa menyinggung Ing, atau masa SMA mereka tak akan lebih baik dari sebuah neraka.     "Oke, sekarang waktunya gue ngomong serius. Dan gue harap, lo dengerin dan pahami." Affa menegakkan tubuhnya saat melihat raut serius dari Ing.     "Kemarin, Ghuan berubah aneh. Untuk pertama kalinya, Ghuan ngajakin gue ajep-ajep. Biasanya mentok, dia joged di bawah panggung hajatan dangdut. Kalian ada masalah?" Affa meremas roknya dengan cemas. Ing memang tak bisa melihatnya, tapi ia bisa membaca dari raut wajah Affa jika memang terjadi sesuatu.     "Gue gak mau nanya masalah kalian apa. Atau kalian ribut kenapa. Yang gue mau omongin sama lo adalah, kalo lo sebenernya beneran gak suka sama Ghuan, mending dari sekarang lo kasih jarak dengan Ghuan."     Sontak, Affa mengangkat pandangannya. "Kenapa? Karena gue takut Ghuan terluka karena berjuang sendiri. Gue juga tau, kalo lo lagi merasa tertekan karena rumah nomor 23 yang lo tempatin itu. Tapi, bukannya gue gak simpati sama lo. Gue gak mau aja kalo Ghuan tau masalah lo dan akhirnya terluka."     Affa hampir menangis saat mendengar penuturan Ing. Semua yang dikatakan Ing ada benarnya. Affa memang baru-baru ini sadar, jika Ghuan sebenarnya telah mulai masuk ke dalam hatinya melalui celah kecil yang tak ia sadari. Tapi, tampaknya Affa harus melepaskan harapan bisa merasakan masa putih abu yang menyenangkan karena kisah cinta yang manis dengan pemuda seumuran dengannya.     "Sekali lagi, gue bilang kalo gue sebenernya gak mau ikut campur. Tapi, balik lagi. Ghuan sahabat gue. Dan gue juga tau kalo lo terlibat sama sesuatu yang berbahaya. Lo tau apa yang gue maksud kan?"     Ya, Affa tahu. Tapi Affa sama sekali tak bersuara. Ia hanya menatap Ing dengan kedua matanya yang memerah.     "Sekarang semuanya ada di tangan lo. Keputusan kembali ada di lo. Mau menjauh ata tetap bertahan dengan Ghuan di sisi lo. Tapi, saat lo mutusin buat tetap bertahan, gue harap lo bakalan tetap berdiri di samping Ghuan hingga akhir." Ing mengakhiri perbincangan dan berdiri dari duduknya.     Tapi sebelum pergi Ing kembali berkata, "Oh iya, seharian ini lo bisa pikirin keputusan apa yang bakal lo ambil. Karena Ghuan gak bisa ngeganggu lo untuk seharian ini. Dia lagi ada pertandingan. Tapi gue yakin, sepulangnya dia dari sana, dia pasti nemuin lo. Dan saat itulah, lo harus ngambil keputusan. Gue cuma bisa ngomong gitu doang. Udeh ye, gue harus ke kantin. Cacing-cacing gue udah pada erobik nih. Bay!!"     Dan kini Affa tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Guru yang masuk dan mengajar sama sekali tak diperhatikan oleh Affa. Hingga jam istirahat tiba, kehadiran Stella tampaknya bisa mengalihkan sedikit perhatian Affa. Ia sempat bercakap-cakap sebentar sebelum Stella harus pergi kembali karena tugas OSIS menunggunya.     Dan pada akhirnya, Affa kembali sendirian di kelas. Semua temannya tampak pergi ke kantin dan makan siang di sana. Sedangkan Affa memilih menghabiskan bekal buatan Senu di kelas. Ia tak memiliki semangat untuk pergi ke taman dan makan di bawah rindangnya pohon. Affa membuka kotak bekalnya, dan mencoba memakan makan siangnya yang tampak sangat komplit. Tapi, nafsu makan Affa hilang entah kemana. Ia bahkan kesulitan untuk menelan nasi yang telah ia kunyah.     Hingga, sebuah pesawat kertas tiba-tiba terbang dan jatuh di atas meja Affa. Gadis itu segera melihat ke arah pintu dan jendela kelas. Tapi, yang ia lihat hanya beberapa siswa-siswi yang berlalu-lalang. Affa meraih pesawat kertas tersebut dan membukanya, Affa yakin jika pesawat kertas tersebut membawa sebuah pesan. Dan benar saja, setelah membuka pesawat kertas tersebut, Affa bisa menelan makanannya dengan cepat.         "Sayang, habiskan makananmu. Aku mengawasimu.     23❤"     Tangan Affa bergetar pelan, ia menunduk dan mencoba menghabiskan makanannya walaupun pikirannya kini bercabang. Yang satu memikirkan Ghuan, dan yang satu memikirkan bagaimana Senu bisa mengirimkan pesan seperti ini di sekolah? ***     "Hei Affa, ini seragam club kita." Stella menyerahkan sebuah pakaian renang dengan warna biru gelap kepada Affa. Affa mengernyit. Ia memang suka berenang, tapi Affa tak suka pakaian renang. Kenapa? Karena pakaian renang sangat ketat, dan sukses memamerkan setiap lekuk tubuh kita.     Masalahnya, Affa tidak memiliki lekuk tubuh yang patut dipamerkan. Ia melirik Stella yang telah berganti kostum menjadi pakaian renangnya. Kulit putih Stella tampak cocok dengan pakaian renang tersebut. Apalagi lekuk dan bagian-bagian tubuhnya tumbuh dengan sempurna. Affa menatap buah d**a Stella, lalu menunduk melihat miliknya. Hemm perbandingannya, bagai apel dan dukuh. Yah tak perlu dijelaskan lebih jauh kan?     "Ayo Fa, cepet ganti. Pak Dhan bentar lagi dateng."     "Hah? Pak Dhan?"     "Iya Pak Dhan, beliau pembina club kita. Ayo cepet, sana ganti baju dulu!!"     Affa mau tak mau masuk ke dalam ruang ganti dan mengganti pakaiannya. Tak lama ia keluar dengan handuk lebar yang menutupi tubuhnya. Stella yang menunggu di luar segera menarik Affa untuk menuju barisan anggota club yang tengah mendengarkan arahan dari Dhan.     "Affa mari ke depan dulu, Bapak akan mengenalkan kamu pada anggota club."     Affa dengan ragu melangkah ke depan. Ia dengan jelas bisa mendengar bisik-bisik teman satu clubnya. Jelas, Affa tampaknya akan mendapatkan penolakan lagi.     "Semuanya diam!! Ingat, moto kita!!"     "Satu keluarga, saling mindungi dan saling menyayangi!! Berbagi suka, serta duka!" Serentak semua anggota club kecuali Affa berteriak meneriakkan slogan club mereka.     "Nah, maka kalian harus menyambut Affa dengan kasih sayang. Karena Affa adalah anggota baru keluarga kita. Ayo tepuk tangan!!" Dhan tersenyum dengan ramahnya, semua orang tampak tak bisa menolak perintah Dhan. Mereka semua bertepuk tangan dengan setengah hati, kecuali Stella yang menyambut dengan suka cita. Senyumnya tampak mengembang cantik. Stella tampaknya sangat senang.     Affa hanya tersenyum canggung dan mengedarkan pandangannya pada anggota club yang berbaris. Mencoba meneliti, siapa tahu ada anggota lain yang ia kenali selain Stella. Dan benar saja, Affa bertemu tatap dengan Valany. Teman sekelasnya itu menatap dirinya dengan datar. Namun Affa dapat merasakan aura permusuhan yang jelas.     "Oke semua, Bapak harap untuk kali ini kalian bisa berlatih mandiri dengan kelompok berlatih yang biasanya. Dan untuk Affa, sepertinya Bapak butuh relawan untuk membantunya berlatih sebelum Bapak tentukan kemana Affa bisa bergabung. Nah sekarang, siapa yang mau menjadi relawannya?"     Dhan tersenyum saat melihat Stella mengangkat tangannya dengan semangat. "Kecuali kamu Stella. Karena kamu harus berlatih dengan Bapak. Ingat, kompetisi renang akan berlangsung sebentar lagi. Yang lainnya?"     Tapi setelah menunggu beberapa lama, tak ada yang mau mengangkat tangan. Dhan menghela napas, ia akan menunjuk seseorang sebelum Valany mengangkat tangan dan tersenyum pada Dhan. Bukan rahasia lagi jika Valany memang menyukai guru satu itu. "Saya bersedia jadi rekan berlatih Affa Pak!!" seru Valany riang.     Dhan mengangguk dan tersenyum, walaupun matanya berkilat aneh. Sayangnya, tak ada yang bisa melihat kilatan tersebut karena mata Dhan yang menyipit kecil.     "Baik, sekarang lebih baik kita mulai latihannya. Angga, dan Haruka pimpin stretching terlebih dahulu. Affa letakkan handuk kamu dan ikut stretching!"     Affa mau tak mau melepas handuknya dan menunduk saat tubuhnya yang mengenakan pakaian renang terekspos. Ia dengan jelas bisa mendengar cemoohan mengenai tubuhnya yang mirip dengan seorang anak SD. Tak memiliki lekuk yang berarti. Depan, belakang flat. Affa merasakan tepukan di bahunya, ia menoleh dan melihat Stella yang tersenyum menyemangati dirinya. "Badan kamu bagus kok. Mungil dan manis. Jadi, gak usah minder. Ayo sini!!" Suasana hati Affa cukup membaik dan ia larut dalam setiap gerakan stretching.     Affa pikir, sepertinya kegiatan club pertamanya akan berakhir dengan tak terlalu buruk. Itu sebelum dirinya berlatih dengan Valany. Teman sekelasnya itu, berkali-kali membuat Affa menelan cukup banyak air kolam renang karena tiba-tiba membuat Affa menyelam. Valany juga memukul pundak dan pinggang Affa jika kedua anggota tubuhnya itu salah posisi. Affa hanya meringis kesakitan dan tak bisa berkomentar ataupun mengeluh. Hingga Affa bisa menghela napas lega karena waktu berlatih telah usai. Affa akan naik dari kolam renang, namun lagi-lagi Valany tampak usil dan membuat Affa sekali lagi terjatuh serta menelan air kolam.     Affa hanya tersenyum saat Stella melambaikan tangan dan pulang terlebih dahulu. Affa tampak kedinginan, wajahnya pucat pasi dan bibirnya menggigil pelan. Ia hanya merangkap baju renangnya dengan seragam sekolah, karena ia ingin cepat-cepat pulang dan mandi air hangat. Dengan tas sekolah di punggungnya, Affa melangkah ke luar dari gedung akuatik yang memang menjadi tempat latihan club renang. Tapi langkah Affa terhenti saat pandangannya berubah gelap. Bukan karena dirinya tiba-tiba kehilangan fungsi indra penglihatannya lagi, melainkan ada sesuatu yang menghalangi pandangannya.     Meskipun Affa tahu, ia tetap tak bisa menghindari serangan panik yang mendera dirinya. Dadanya sesak. Lehernya terasa tercekik, serta tubuhnya mulai bergetar. Hingga kakinya tak lagi kuat menopang tubuhnya.     Affa jatuh terduduk, dan itu membuat seseorang yang berniat menjaili Affa panik. Seseorang itu segera melepas handuk yang menutupi kepala serta wajah Affa dan mencengkram kedua bahu Affa dengan lembut.     "Affa, Affa!! Kamu kenapa? Hei tenang!!" Suara Ghuan menarik Affa secara perlahan dari serangan paniknya.     Wajah Affa yang pucat pasi, membuat Ghuan semakin panik. Ia berniat untuk menggendong Affa dan membawa Affa menuju ruang kesehatan. Tapi Affa terlebih dahulu menepis kedua tangannya.     "Ghuan, kamu selalu seperti ini. Bertindak sesuka hati dan sembrono. Apa kamu tau, bukan cuma kamu yang bisa tersandung masalah karena sikap kamu yang sembarangan, tapi orang lain juga!!" Affa berteriak dengan meneteskan air matanya. Inilah keputusan Affa. Ia harus mendorong Ghuan menjauh, menjauh sejauh-jauhnya. Ini demi Ghuan.     Menjauh, berarti Ghuan akan aman. Ghuan terdiam. Kekecewaan terasa menancap di ulu hatinya. Tapi Ghuan tak menunjukkannya ia dengan lembut mencoba membantu Affa untuk berdiri, namun lagi-lagi Affa menepis tangannya dengan kasar.     "Bukannya udah aku bilang, jangan bersikap seperti kita memiliki hubungan yang spesial!! Kita hanya orang asing!!" Affa melangkah dan melewati Ghuan. Pemuda jangkung tersebut mematung. Ia yang mengenakan kaos polos dan celana putih khas seragam taekwondo miliknya hanya bisa berdiri diam serta melihat punggung Affa yang menjauh. Entah mengapa, Ghuan merasa Affa makin aneh setiap harinya. Sikap kasar Affa seakan-akan dibuat-buat.     Tak lama Ghuan melangkah dan mengikuti Affa. Lagi-lagi, ia meminjam sepeda onthel satpam sekolah untuk mengikuti Affa. Sepeda ini lebih baik untuk mengikuti Affa. Karena jika dirinya menggunakan motor gedenya, Affa pasti akan langsung menyadari bahwa dirinya tengah mengikuti Affa.     Butuh waktu sekitar dua puluh menit, hingga Affa tiba di rumahnya. Langit telah berubah gelap. Ghuan berhenti sekitar 500 meter dari rumah Affa. Ia hanya memastikan bahwa Affa telah masuk ke dalam rumah dengan selamat dan segera berbalik untuk kembali ke sekolah. Ia harus mengembalikan sepeda ini dan membawa motor gede miliknya yang masih terparkir di sana. ***     Tubuh Affa terasa sangat pegal dan juga lelah. Ia melangkah perlahan menuju tangga. Namun tiba-tiba lampu rumah kembali mati. Dan sebuah pelukan dari balik punggung Affa membuat gadis itu sedikit tenang. "Kenapa terlambat?"     "Ta-tadi, Affa ada ekskul."     "Ah tapi setahuku, ekskul berakhir satu jam yang lalu. Lalu mengapa kau baru tiba sekarang? Apa perjalanan dari sekolah menuju rumah sepanjang itu?"     Affa bungkam. Ia memang menghabiskan waktu cukup banyak saat bertemu dengan Ghuan. Tidak mungkin bukan, jika dirinya harus menjawab seperti itu? Ghuan bisa-bisa berada dalam bahaya.     "Melindungi bocah sialan itu? Hm baiklah, sepertinya aku tidak bisa lagi bersabar menyikapi tingkahmu yang selalu membangkang. Bersiaplah, malam ini akan menjadi malam panjang bagi kita."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN