Affa memekik saat tubuhnya setengah dibanting ke atas ranjang. Punggungnya terasa sedikit sakit, walaupun kasur milik Senu memang sangat empuk, tapi itu tetap terasa sakit bagi Affa. Ia mengedipkan matanya berulang kali, saat lampu kamar Senu yang biasanya remang-remang, kini terang benderang. Affa bisa melihat ranjang yang ia tempati, ternyata bergaya seperti ranjang zaman dahulu. Dengan empat tiang kayu disetiap ujungnya. Biasanya akan ada kelambu yang tergantung disetiap sisinya. Namun, Affa tidak bisa melihat kelambu tersebut. Jika ada kelambu yang tergantung di sana, pasti akan sangat indah. Mata Affa bergulir pada sekeliling ruangan, dindingnya terlapisi cat yang mulai mengelupas. Lalu ada satu lemari kayu, dan dua nakas yang berada di samping kiri kanan ranjang. Kesel

