09 |INSIDEN TAK TERDUGA

2371 Kata
HARI ini pas seminggu Kyra bekerja di tempat barunya yakni menjadi pengantar minuman di kelab. Yeah… sehari pasca bertemu Jenny di halte bus tempo hari, Kyra akhirnya membulatkan tekad untuk menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Jenny. Dan sekarang Kyra sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya setelah tujuh hari bekerja di salah satu kelab di Jakarta bernama Dragonfly. Bekerja di kelab tidak buruk juga, setidaknya dengan bekerja di sini Kyra bisa sedikit melupakan semua tentang Daniel yang sudah seminggu ini tidak terlihat batang hidungnya. Oh ayolah Kyra… apa kamu berharap melihatnya lagi? Tidak! Kyra selalu membantah ejekan dari alam bawah pikirannya sendiri yang kerap menuduhnya merindukan Daniel. Padahal kenyataannya? Memang iya. Kyra menghela napas, mencoba tenang dan tak berdebat dengan pikirannya sendiri karena dia bisa gila nanti. Mungkin wajar bagi Kyra merindukan Daniel karena kenangan saat mereka berdua berciuman di kereta gantung di TMII saat kencan satu minggu yang lalu masih melekat kuat dalam bayang-bayang pikirannya. Tapi naas, mereka memang tidak memiliki status apa-apa sehingga Kyra pun tidak punya hak untuk marah pada Daniel karena seminggu ini tidak menemuinya. Dan Kyra sangat penasaran, kira-kira kemana pria itu pergi setelah sebelumnya terus-menerus mengusik kehidupan Kyra? Apakah setelah puas mengganggu Kyra dan mendapatkan ciumannya Daniel lantas bosan dan sekarang tengah mencari wanita lain untuk dikencaninya? Baiklah, itu bukan urusan Kyra. Mau Daniel mencari pengganti wanita lain, mencium wanita lain, berkencan dengan wanita lain bahkan menikahi wanita lain—itu semua bukan urusan Kyra! “Kyra.” Lamunan Kyra buyar ketika mendengar seseorang memanggilnya. Dan ternyata itu manager Kyra di kelab, seorang bapak-bapak berumur sekitar empat puluh tahunan. “Apa kau akan memecahkan gelas itu?” Pak Bima menunjuk gelas yang digenggam erat oleh Kyra. “Ha?” Kyra melongo lalu berpaling menatap gelas yang tanpa sadar sudah ia cengkeram terlalu kuat. “Ah tidak, tadi aku hanya akan memindahkannya,” jawab Kyra disertai ringisan pelan. “Apa yang sedang kamu pikirkan? Bukankah seharusnya kamu sudah mengantarkan minuman itu ke pembeli VIP kita? Jangan sampai karena kau terlambat, kelab ini jadi rugi.” Pak Bima mengomeli Kyra yang tidak bekerja maksimal seperti biasanya. Kyra membungkuk meminta maaf. “Maafkan aku Pak. Aku sedang tidak memikirkan apapun, aku akan segera antarkan minumannya!” ujarnya lalu tanpa menunggu balasan dari atasannya tersebut, Kyra berjalan melewati Pak Bima untuk mengantar minuman ke ruang VIP. Sementara itu, di sisi lain. Kyra yang berhasil kabur dari manajernya akhirnya bisa bernapas lega. Beruntung Pak Bima tidak memecatnya karena ketahuan sedang melamun saat bekerja. Huft… semua ini gara-gara dirinya memikirkan Daniel. Kyra jadi lupa kalau dia masih punya satu tanggungan mengantar minuman ke ruang VIP sebelum kemudian ia bisa pulang hari ini. Tapi astaga, sial sekali dirinya malam ini! Mata Kyra melotot melihat pemandangan di dalam ruang VIP ketika dirinya baru sampai di sana. Dadanya bergemuruh, air mata bergerumul memburamkan penglihatannya sedangkan kedua tangannya yang memegang nampan berisi botol bir serta gelas kaca bergetar hebat hingga membuat semua benda yang berada di atasnya tumpah dan pecah berserakan ke lantai. Pyaaarrr… Kegaduhan yang ditimbulkan Kyra mengalihkan perhatian Daniel beserta kedua wanita di samping kiri dan kanan tubuhnya untuk menoleh. Lalu begitu sepasang mata Daniel menangkap sosok Kyra tengah berdiri di sana, wajah pria itu seketika memucat. Ekspresi Daniel menunjukkan seolah-olah ia sedang ketahuan selingkuh dari istrinya, sementara Kyra yang notabenya bukan siapa-siapa juga merasakan hal serupa dengan Daniel yakni merasa terkhianati setelah menangkap basah Daniel sedang bermesraan dengan dua wanita di kelab tempatnya bekerja. “Kyra tunggu!” Daniel mengejar ketika Kyra berlari meninggalkan ruangan VIP. Adegan kejar-mengejar mereka yang penuh dramatis itupun mengundang perhatian seluruh warga kelab yang terheran melihatnya. “Kyra! Ada apa?” Bahkan Pak Bima yang melihat Kyra berlari sambil menangis juga ikut berteriak menanyakan keadaan wanita itu karena khawatir. Tapi Kyra tak menggubrisnya dan terus berlari keluar kelab menghindari Daniel. “Taxi!” Kyra berteriak memanggil Taxi yang kebetulan lewat ke arahnya. Sementara di belakang, Daniel baru saja keluar dari kelab dan terkejut melihat Kyra menghentikan sebuah Taxi. Karena tidak ingin kehilangan wanita itu, Daniel secepatnya menyusul ke tempat wanita itu berdiri. Walau akhirnya Daniel terlambat, dia sampai di sana ketika Kyra sudah masuk ke dalam Taxi. Daniel menggedor jendela Taxi berusaha berbicara dengan Kyra yang sedang duduk di dalamnya. “Kyra buka pintunya! Ada yang perlu aku jelaskan!” teriak Daniel dari luar Taxi. Namun Kyra sengaja mengabaikan dan menyuruh supir Taxi untuk menjalankan mobilnya. "Jalan pak!" Supir Taxi itupun menurut kemudian meluncur meninggalkan Daniel yang frustasi dibuatnya. Tetapi Daniel tak cepat berputus asa. Pria itu pergi ke parkiran mencari mobilnya untuk mengikuti Taxi yang membawa Kyra. Dan rupanya, Taxi itu pergi ke arah apartemen tempat Kyra tinggal. Kyra sangat panik ketika Taxi yang mengantarnya sudah sampai di gerbang apartemen sementara mobil Daniel terlihat hampir sampai menyusul kemari. Kyra meringis karena lupa dompetnya masih berada di tas yang ia tinggalkan di kelab. Namun Tuhan seolah menolong Kyra yang tidak sengaja menemukan selembar uang lima puluh ribu rupiah di kantong celana kerjanya. “Ini Pak!” Kyra buru-buru menyerahkan uang tersebut untuk membayar kemudian turun dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam apartemennya. “Kyra kumohon berhenti dan dengarkan aku!” Suara Daniel terdengar sudah dekat di belakangnya ketika Kyra menunggu pintu lift terbuka untuk naik ke lantai tempat apartemennya tinggal. Tapi karena sadar jarak di antara mereka semakin menipis, Kyra lantas memutuskan untuk naik melewati tangga. Sesampainya di lantai tiga tempat apartemennya berada, Kyra baru ingat kalau kunci apartemennya juga masih berada di tas yang ia tinggalkan di kelab. Kyra mendadak bingung harus bersembunyi di mana untuk menghindari Daniel. Lalu pikirannya teringat tentang Ray. “Ray! Buka pintunya! Ini aku, Kyra!!” Kyra menggedor pintu apartemen Ray dengan panik karena takut Daniel akan lebih dulu menangkapnya sebelum Ray membukakan pintu. “Ray!!!!” Kyra terus berteriak, lalu dalam hitungan ke sepuluh kekhawatiran Kyra akhirnya terjadi. Daniel berhasil menangkap tangannya. “Kyra,” panggil Daniel setelah pria itu menarik tangan Kyra supaya menghadap ke arahnya. Kyra tak menjawab apapun selain menunduk menyembunyikan wajah sembabnya. Hal itupun membuat Daniel semakin merasa bersalah padanya. “Kyra maafkan aku,” ujar Daniel dengan lembut. Mendengar kelembutan dalam nada suaranya yang seolah menyesal, Kyra lantas mendongak menatap sepasang mata Daniel. Untuk apa dia meminta maaf? Kyra bertanya-tanya dalam hati. Oh tentu saja, Kyra tahu penyebabnya. Itu pasti karena Daniel kasihan padanya. Daniel pasti berpikir bahwa dirinya adalah wanita bodoh yang malang. Wanita yang berhasil ia buat jatuh cinta lalu dengan mudahnya ia tinggalkan begitu saja dengan ganti bermesraan bersama wanita lain. Memang semenyedihkan itu. “Satu minggu ini aku—” “Daniel,” Kyra menyela dengan menggumamkan namanya. Membuat ucapan Daniel terpotong dan memilih diam mendengarkan ucapan wanita di depannya. “Kau tidak perlu menjelaskan apapun. Aku… bukan siapa-siapamu, dan aku…” Kyra mengambil jeda untuk menepis air matanya yang keluar, kemudian lanjut berkata dengan lemah, “Aku bukan milikmu Daniel. Jadi kau bebas melakukan apapun.” Daniel menggeleng, ekspresinya terlihat sedih dan ini pertama kali bagi Kyra melihat ekspresi pria itu begini. “Tidak Kyra, kau adalah milikku dan akan tetap seperti itu sampai seterusnya,” bantah Daniel, tetap keras kepala. Tidak lama usai Daniel berbicara, pintu apartemen Ray terbuka. Dan Ray yang muncul dari sana sontak terkejut melihat dua orang yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya. “Kyra. Ada apa ini?” tanya Ray sambil melayangkan tatapan waspada ke arah Daniel. Sementara Kyra langsung beringsut mendekati Ray seolah meminta perlindungan. “Ray, bawa aku masuk,” ujar Kyra sambil tak lepas mencengkeram ujung kaos tidur yang dipakai Ray. Ray yang merasa bahwa Kyra sedang ketakutan dan jelas-jelas sedang menghindari pria di depan mereka ini lantas mengangguk mengiyakan. “Baiklah.” Tetapi Daniel melarangnya, “Tidak boleh.” Ray dan Kyra kembali terpaku di posisinya begitu mendengar suara Daniel yang terkesan marah. “Siapa kau?” Daniel bertanya sambil menatap tajam Ray. Sedangkan Ray menyahut tak kalah dinginnya, “Justru aku yang seharusnya bertanya, siapa kau? Dan kenapa kau mengganggu tem—” “Pacar!” Kyra mengoreksi ucapan Ray yang hendak menyebutnya sebagai teman. “Pacar?” Daniel terkejut, begitu juga dengan Ray yang tiba-tiba diklaim sebagai pacar oleh Kyra. “Ya Daniel, dia pacarku. Karena itu sudah kubilang aku bukan milikmu! Lagi pula sejak awal kita memang tidak saling memiliki,” jelas Kyra pada Daniel yang kecewa menatapnya. “Apa kau bilang? Pria ini mengklaimmu sebagai miliknya?” Ray ikut angkat bicara dengan ekspresi terkejut. Lalu seolah paham dengan situasi yang tengah terjadi, Ray akhirnya ikut memainkan perannya dengan pura-pura menjadi kekasih Kyra. “Dia kekasihku! Seharusnya kau tidak mengklaim milik orang sembarangan! Sekarang pergilah, atau aku akan menangkapmu karena aku adalah seorang polisi,” ancam Ray, sengaja memberitahu dirinya seorang polisi untuk jaga-jaga jika Daniel berbuat nekad. Dan sepertinya usaha Ray berhasil. Tanpa banyak kata-kata lagi, Daniel kemudian pergi begitu saja dari sana. Sekilas, Kyra sempat melihat raut kecewa Daniel sebelum pria itu memilih meninggalkan apartemen Ray. Apa tadi ia salah lihat? Atau Daniel benar-benar sedang kecewa. Entahlah… yang terpenting adalah sekarang Kyra sudah berhasil menghindarinya. *** “Minumlah.” Ray menyodorkan segelas s**u cokelat pada Kyra. Kyra yang duduk di sofa ruang tamu apartemen Ray menerima gelas tersebut lalu menyeruputnya pelan-pelan. Sedangkan Ray duduk di seberang sofa menghadap Kyra sambil memerhatikan wanita itu minum. “Bukankah yang tadi itu Mr.Stauffer?” Ray bertanya ketika Kyra meletakkan gelasnya di atas meja. Kyra tak menjawab langsung, wanita itu nampak terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya buka suara. “Ya. Dia Daniel Shristauffer, pemilik Stauffer Group. Perusahaan yang pernah kamu bangga-banggakan padaku.” Ray mengernyitkan dahi, lalu menanggapi ucapan Kyra, “Tapi bagaimana bisa dia mengenalmu? Dan apa yang sudah terjadi di antara kalian?” Suara helaan napas keluar dari bibir Kyra yang terlihat lelah. Ray jadi sadar bahwa Kyra sedang memakai seragam pelayan yang menandakan dirinya sehabis bekerja. “Kamu sudah dapat pekerjaan?” Pertanyaan Ray menyadarkan Kyra yang belum berganti pakaian saat berlari pulang dari kelab tadi. “Apa pekerjaanmu? Kenapa kamu masih mengenakan seragam pelayan tengah malam seperti ini?” Ray kembali bertanya, mendesak Kyra untuk menjawab. Sedangkan Kyra mendadak gusar, takut untuk mengaku pada Ray tentang pekerjaannya. “A-aku hanya lupa belum berganti pakaian. Aku sudah pulang sejak sore tadi,” ujar Kyra, mencari alasan. Tetapi tidak mudah membohongi seorang polisi detektif seperti Ray. Pria itu terlihat tidak percaya dan menaruh curiga padanya. “Kalau tidak salah, dua hari yang lalu saat aku terbangun larut malam karena lapar dan pergi keluar mencari makanan. Aku tidak sengaja melihatmu baru pulang ke apartemen. Jadi apa ini kebetulan yang kedua kali kau pulang lebih larut dari jadwal pulangmu yang seharusnya?” Sudah Kyra duga, Ray pasti mencurigainya. “Iya, dua hari yang lalu—” Ray memotong pembicaraan, “Kyra jangan berbohong padaku, katakan di mana kau bekerja?” Kyra menunduk, menyembunyikan air mata yang hampir meluruh. Ray pasti sangat kecewa padanya dan berpikir hal yang tidak-tidak tentang dirinya karena bekerja di sebuah kelab. Namun Kyra tidak punya pilihan lain selain berkata jujur pada laki-laki di depannya. “Aku bekerja menjadi pelayan di sebuah kelab,” jawab Kyra. Yang pada akhirnya mau mengaku. Ray terdiam, ekspresinya datar namun ia jelas sedang berpikir keras mendengar pengakuan Kyra. Beberapa menit terjebak suasana hening, Ray lantas angkat suara lagi. “Apa ini ada hubungannya dengan Mr.Stauffer?” Kyra menggeleng lalu menyahut cepat, “Tidak. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Daniel.” Ray menyipitkan mata, nampak curiga ketika mendengar Kyra hanya menyebutkan nama panggilan Daniel seolah-olah mereka sudah akrab. “Mak-maksudku Mr.Stauffer.” Kyra mengoreksi kembali penyebutannya meski hal itu malah semakin menambah kecurigaan Ray padanya. Kyra yang ditatap tidak percaya oleh laki-laki di depannya lantas memprotes. “Aku berkata jujur Ray! Hari ini pun pertama kalinya aku bertemu Mr.Stauffer di kelab tempatku bekerja. Aku bekerja di sana atas kemauanku sendiri, tidak ada kaitannya dengan pria itu,” jelasnya. Ray mengangguk percaya. Kemudian bertanya lagi, “Lalu kenapa Mr.Stauffer sampai mengejarmu kemari?” Kyra tertegun mendengar pertanyaan Ray. Sebenarnya itu juga yang menjadi pertanyaan Kyra sejak tadi, kenapa Daniel repot-repot sampai mengejarnya kemari? Jika memang dia hanya kasihan padanya, tidak mungkin pria itu rela menyusulnya sampai sedemikian gelisahnya. Atau jangan-jangan… Kyra mendadak mengingat ekspresi kecewa Daniel saat pergi dari depan apartemen Ray satu jam yang lalu. Tidak mungkin pria sekelas Daniel menyukainya. Semua gombalan dan tindakan Daniel untuk Kyra tidak pernah ada yang sungguh-sungguh jadi mana mungkin Daniel melakukan itu karena mencintainya. “Kyra.” Panggilan Ray menyentak Kyra dari angan-angannya tentang Daniel. “Ya Ray?” Kyra menyahut kikuk. Sedangkan Ray mendengus melihat respon lambat Kyra. “Sudahlah, sebaiknya kau pulang ke apartemenmu dan tidur. Sepertinya kamu sangat lelah hari ini,” nasihat Ray dengan begitu perhatiannya memikirkan kondisi Kyra. Kyra tersenyum, ia senang Ray tidak mendesak jawaban darinya dan lebih mencemaskan keadaannya. Ray memang pengertian. Karena itu dahulu Kyra pernah menyukainya, walau sayangnya sekarang tidak lagi semenjak perasaannya dikacaukan oleh Daniel. “Terima kasih ya Ray, eh tapi…” Ray menatap heran Kyra yang kelihatan bingung. “Kenapa Kyra?” Kyra memberenggut, lalu mengadu pada Ray bak anak kecil yang kehilangan permen. “Kunci apartemenku tertinggal di kelab.” Ray menepuk dahi, tidak habis pikir dengan kecerobohan Kyra yang bisa-bisanya meninggalkan barang penting sembarangan. “Sudah terlalu malam untuk mengantarmu kembali ke sana. Malam ini kamu menginap saja di apartemenku, kamu bisa pakai ranjangku dan aku akan tidur di sofa,” ujar Ray, menawarkan Kyra tidur di tempatnya. “Terima kasih Ray!” sahut Kyra dengan senyum terukir di bibirnya. Kyra tak keberatan sama sekali karena ini bukan pertama kali baginya tidur di apartemen Ray. Dahulu saat awal-awal pindah ke apartemen, Kyra sering sekali diganggu makhluk gaib yang Ray bilang wujud perkenalan mereka kepada penghuni baru bangunan. Tetapi saking takutnya, Kyra jadi tidak berani tidur sendiri dan kabur ke apartemen Ray berkali-kali untuk sekadar numpang tidur. Berawal karena kejadian itulah sekarang Kyra dan Ray sudah terbiasa saling berbagi ruangan bersama. Beruntungnya, Ray bukan laki-laki berengsek seperti Daniel yang suka mengambil kesempatan menggodanya saat mereka berduaan. Sebagai seorang polisi yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat Indonesia, Ray benar-benar menjaga Kyra dengan baik dan tak pernah berbuat macam-macam pada dirinya. Oleh karena itu Kyra tidak cemas saat berduaan dalam satu ruangan bersama Ray karena ia sudah memercayai laki-laki tersebut. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN