08 |PEKERJAAN BARU

2022 Kata
MALAM hari di apartemen Kyra. Sudah sejak tiga jam lalu wanita itu tak berhenti menjambak rambutnya sambil mengerang frustasi akibat menyesali perbuatannya tadi siang yang dengan mudahnya rela dicium oleh Daniel si pria berengsek tidak waras. “Arrghhh! Aku harusnya menolak ciuman itu!” Kyra merutuk dirinya sendiri sambil menatap wajahnya di pantulan cermin. Kyra menghela napas untuk yang ke sekian kali. Lalu tanpa diperintah pikirannya kembali membayangkan adegan antara dirinya bersama Daniel saat berciuman di atas kereta gantung di TMII tadi siang. “Tidak-tidak! Kau tidak boleh terus-menerus memikirkannya Kyra!!” Kyra berteriak memperingatkan dirinya sendiri. Ia jadi terlihat seperti orang gila sekarang karena berbicara sendirian. “Ciuman itu sama sekali tidak ada artinya. Ya kan Kyra?” Kyra kembali menatap dirinya di cermin untuk bertanya. Wanita itu meyakinkan dirinya sendiri agar tidak merasa dispesialkan oleh seorang Daniel Shristauffer hanya karena sudah melakukan satu kali ciuman bersamanya. Karena bagi Daniel ciuman mereka jelas-jelas tidak ada artinya sama sekali. Ekspresi wajah Kyra berubah sendu begitu teringat perkataan Daniel tempo hari saat pertama kali datang ke apartemennya. Pria itu tidak pernah keberatan diajak kencan oleh wanita yang menurutnya sangat cantik. Artinya, kencan bersama Kyra merupakan kencan yang entah sudah ke berapa puluh kalinya telah Daniel lakukan bersama banyak wanita yang berbeda-beda. Dan kemungkinan juga, ciuman yang ke sekian kalinya Daniel dapat dari wanita yang dikencaninya. “Sial!” Kyra mengumpat, hatinya bergejolak sementara matanya basah oleh air mata. “Bo-bodohnya hiks… aku… karena bahagia hiks… saat bersamanya hiks… ta-tadi siang hiks…” Kyra bicara sesenggukkan disela isak tangisnya. Harusnya Kyra juga tidak perlu membuang-buang air mata hanya karena pria berengsek itu. Sudah cukup ia merasa bodoh karena merasa bahagia saat pergi kencan bersama Daniel tadi siang, sekarang ia tidak boleh menambah kebodohannya lagi dengan menangisi pria itu. Tangan Kyra memukul-mukul dadanya yang masih sesak, sementara di sisi lain ia berusaha untuk menghentikan tangisannya. “Jangan menangis Kyra, jangan menangis… laki-laki seperti dia tidak pantas untuk kau tangisi.” Kyra berujar menenangkan dirinya sendiri. Dan berkat usahanya tersebut, lima menit kemudian Kyra sudah merasa lebih baik meski anehnya rasa kecewa masih tak bisa hilang dari perasaannya. *** Kyra menyisir rambut panjangnya yang tergerai kemudian mengikatnya ke atas membentuk sanggul. Dia baru selesai mandi dan berganti pakaian mengenakan kemeja bercorak bunga dengan bawahan celana kulot berwarna hitam. Pagi ini dia sengaja berpakaian formal karena akan pergi mencari pekerjaan. Hanya bermodalkan surat lamaran dan CV yang tidak lengkap—sebab apa yang akan ia tulis dalam data riwayat hidupnya jika nama saja dia meminjam orang yang sudah mati. Pasti sulit mencari pekerjaan dalam keadaannya yang seperti sekarang, tapi Kyra tidak mudah menyerah dan tetap akan mencobanya. Karena siapa tahu, Tuhan sedang bermurah hati padanya hari ini dengan memberinya keuntungan bisa diterima bekerja di suatu tempat. Tiga puluh menit kemudian, sesudah Kyra sarapan dan membawa semua barang yang ia butuhkan, wanita itu lantas keluar apartemen untuk melakukan misi pencarian kerja hari ini. Tetapi baru beberapa saat Kyra mengunci pintu apartemennya, wanita itu dikejutkan oleh sosok Ray yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang punggungnya. “Hai,” sapa Ray, dengan senyum canggung yang tak seperti biasanya. Kyra yang masih terkejut cepat-cepat menetralkan dirinya untuk segera membalas sapaan Ray. “Hai Ray,” jawab Kyra, dengan senyum ringis yang sedikit dipaksakan. Hari ini pas seminggu mereka baru bertemu lagi setelah terakhir kali terjebak momen tidak menyenangkan karena Kyra menolak menjadi pacar Ray. Dan momen terakhir itu tentu saja masih menyisakan kecanggungan di antara mereka. Lihat saja, Kyra belum pernah sediam ini saat bertemu Ray, begitu juga dengan laki-laki itu. Ray jarang sekali ragu-ragu hanya untuk berbicara kepada Kyra. “Kamu tidak bekerja?” Kyra menjadi orang pertama yang memberanikan diri bertanya. Ray menggelengkan kepala lalu menjawab, “Aku dapat cuti dua hari karena empat hari berturut-turut kemarin aku menangani kasus yang cukup berat.” “Jadi sekarang kasus yang kau tangani sudah selesai?” Kyra bertanya hanya untuk berbasa-basi. “Belum, kasusnya masih dalam proses persidangan,” Ray menjawab lagi, sedangkan Kyra menanggapi dengan singkat karena sudah kehabisan kata-kata, “Oh, begitu.” “Bagaimana denganmu? Apa selama seminggu terakhir ini semuanya baik-baik saja? Dan…” Ray menatap penampilan Kyra sebelum lanjut bertanya, “kamu akan pergi ke mana dengan pakaian formal seperti ini?” Kyra menunduk menyembunyikan wajah murungnya. Banyak hal tak terduga yang sudah terjadi selama seminggu terakhir ini, tapi sepertinya ini bukan waktu yang pas untuk menceritakan semuanya pada Ray. “Banyak yang sudah terjadi dan sekarang aku belum bisa menceritakannya padamu. Tapi yang perlu kau ketahui satu hal adalah aku sudah tidak bekerja di restoran bibi Desi lagi, karena itu hari ini aku akan mencari pekerjaan baru,” jelas Kyra pada Ray yang terkejut mendengar ceritanya. “Kau sudah tidak bekerja di restoran lagi? Tapi kenapa? Kamu tidak mungkin dipecat karena aku tahu kamu bukan orang yang suka menimbulkan masalah, apa kamu mengundurkan diri?” Ray bertanya dengan cemas. Kyra tersenyum miris mendengar ucapan Ray. Kenyataannya, dia memang telah dipecat. “Sudahlah Ray, akan panjang jika aku menjawabnya. Aku harus pergi sekarang,” kata Kyra, tidak ingin berlama-lama terjebak obrolan dengan Ray karena itu bisa menyita waktunya mencari pekerjaan hari ini. Ray mengangguk, mencoba mengerti keadaan Kyra. “Baiklah jika kamu belum mau menceritakannya. Tapi jika kamu mau, aku bisa carikan kamu pekerjaan lewat teman-temanku supaya kamu tidak perlu susah payah mencari pekerjaan di luar sana.” Ray memberi solusi, tetapi Kyra merasa enggan menerima bantuannya. Dia sudah memutuskan menolak menjadi kekasih Ray, mulai sekarang Kyra tidak boleh terlalu mengandalkannya karena itu bisa membuat hubungan mereka kembali salah paham. “Tidak usah Ray, aku akan berusaha mencari pekerjaan sendiri. Terima kasih sudah menawarkan, kalau begitu… aku pergi dulu yah. Dadah!” Setelah Kyra berpamitan, ia kemudian berjalan melewati Ray dan pergi meninggalkan laki-laki itu. Sementara Ray masih terdiam di posisinya sambil menatap nanar punggung Kyra yang sudah menjauh pergi darinya. Melihat wanita itu semakin jauh bahkan sudah hilang ditelan persimpangan membuat daadda Ray sedikit sesak dipenuhi rasa kecewa. Entah kenapa, dia merasa bahwa Kyra sengaja menghindarinya. *** Sudah lima jam Kyra berjalan menyusuri perkotaan tapi tak kunjung menemukan pekerjaan yang mau menerimanya. Karena lapar dan lelah sedari tadi terus berjalan, Kyra akhirnya istirahat di bangku halte bus. Kyra berusaha menahan lapar di perutnya, lalu menghela napas mencoba tabah. Dirinya kesulitan karena CV miliknya tidak lengkap, Kyra tidak punya KTP maupun KK sehingga membuat beberapa orang yang dia temui meragukan keaslian identitasnya. Lalu di mana ia bisa terima kerja nanti? Jika identitasnya saja diragukan. Mungkin Kyra bisa bekerja di tempat yang tidak mengutamakan identitas atau riwayat hidupnya, tapi di mana Kyra bisa mendapatkan pekerjaan seperti itu? “Hei.” Kyra mendongak ketika seorang wanita berpakaian seksi menyapanya. Kyra melotot melihat penampilannya yang terlalu terbuka di siang bolong begini. Jakarta memang cukup panas saat siang, tapi itu bukan berarti para wanita seenaknya bisa berpakaian minim seperti itu. “Maaf, kamu siapa?” tanya Kyra. “Namaku Jenny.” Wanita itu mengulurkan tangan memperkenalkan namanya. Kyra tanpa ragu membalas uluran tangannya sambil ikut menyebut namanya, “Namaku Kyra.” Setelah berkenalan, Jenny kemudian duduk di bangku samping Kyra. “Dari jauh aku melihat wajahmu sangat murung, apa kamu sedih karena lama menunggu bus?” Jenny bertanya, rupanya wanita itu bisa menangkap kesedihan lewat raut wajah Kyra. Kyra tersenyum miris, lalu menunduk dan berkata dengan muram, “Aku sedang tidak menunggu bus.” Jenny menaikkan salah satu alisnya. “Lalu?” Mata Jenny jatuh ke bawah tangan Kyra yang memegang map. “Kamu sedang mencari pekerjaan?” Jenny menebak. Kyra menoleh menatap Jenny karena tebakannya benar. “Dari mana kamu tahu?” Jenny menunjuk map yang dibawa Kyra. “Kamu membawa map, kamu memakai pakaian formal, tapi wajahmu sedih. Pasti jawabannya kamu belum mendapatkan pekerjaan hari ini.” Jenny berkata tepat, Kyra sampai heran dan mengira jika Jenny adalah seorang peramal. “Kau benar,” sahut Kyra dengan senyum tipis di bibirnya. “Well, memang sulit mencari pekerjaan di Jakarta. Terlalu banyak saingan yang lebih baik hingga membahayakan posisi kita. Aku pernah berada di posisimu, tapi itu sudah dua tahun yang lalu.” Jenny bercerita. Entah kenapa Kyra merasa Jenny orang baik, meski penampilannya kurang sopan tapi wanita itu cukup ramah. “Jadi sekarang kamu sudah bekerja?” Kyra bertanya. Jenny menatap Kyra dengan ekspresi sulit digambarkan. “Ya, aku menghasilkan banyak uang setiap hari,” jawab Jenny disertai senyum yang anehnya terkesan sedih di mata Kyra. “Wah, kau hebat sekali,” puji Kyra, yang seketika memudarkan senyum di bibir Jenny yang kini menggelengkan kepala putus asa. “Maaf, tapi kenapa? Apa aku salah?” Kyra bertanya resah, karena perkataannya memicu kesedihan wanita itu. “Tidak, kamu tidak salah apa-apa. Hanya saja aku tidak hebat sama sekali. Karena pekerjaanku tidak halal,” terang Jenny, berkata jujur di hadapan Kyra yang membeku mendengar kalimat terakhirnya. Maksud pekerjaan tidak halal Jenny apa itu ada kaitannya dengan pakaian seksi yang dia gunakan sekarang? Kyra berpikir keras tentang hal itu, tetapi ia tidak ingin menanyakan jenis pekerjaannya karena takut akan menyakiti hatinya. Sebaliknya, Kyra berujar memotivasinya. “Tidak mudah hidup di dunia yang kejam ini. Banyak orang terpaksa melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak mereka inginkan hanya demi bertahan hidup. Meski kata orang lain pasti ada jalan jika kita terus berusaha, tapi kenyataannya kita hanya manusia biasa. Yang bisa putus asa jika berulang kali merasa gagal.” Kyra menjeda ucapannya sambil tersenyum semringah menatap Jenny yang diam tertegun. “Dan saat manusia sudah putus asa, mungkin hanya tersisa tiga pilihan untuk mereka. Bunuh diri, mengemis pada orang-orang, atau… terpaksa melakukan pekerjaan haram demi makan dan bertahan hidup,” lanjut Kyra. Jenny tersenyum mendengar kalimat menyentuh yang keluar dari mulut Kyra. Ia senang karena setidaknya masih ada orang yang mengerti keadaannya. Tapi itu bukan berarti mereka berdua membenarkan pekerjaannya, Jenny tahu Kyra mengatakan itu semata-mata karena tidak ingin membuatnya merasa terpuruk. “Terima kasih Kyra. Terima kasih karena tidak mengolokku seperti orang lain, dan terima kasih juga karena telah mengerti keadaanku,” ucap Jenny dengan mata berkaca-kaca. Kyra mengangguk lalu memeluk Jenny erat. “Mungkin aku bisa membantumu mencari pekerjaan,” kata Jenny setelah pelukan mereka terlepas. Kyra menggeleng lalu menolak, “Maaf Jenny tapi aku sedang tidak putus asa jadi—” Jenny menyela, “Tenang saja, pekerjaan yang kuanjurkan bukan pekerjaan haram seperti yang kulakukan. Aku tahu dari penampilanmu bahwa kau adalah wanita baik-baik. Mana mungkin aku tega menyuruhmu bekerja sebagai kupu-kupu malam sepertiku,” jelas wanita tersebut. Kyra meringis karena sudah salah paham. “Oh gitu, hehe maaf.” “Tapi pekerjaan ini memang sedikit rentan sih, dan juga beresiko. Aku tidak akan memaksamu, aku hanya mencoba membantu,” sahut Jenny, semakin membuat Kyra penasaran pekerjaan semacam apa yang dimaksud Jenny. “Jika pekerjaan itu tidak mengharuskanku menjual diri, aku mungkin akan mempertimbangkannya,” jawab Kyra. Sementara Jenny kemudian menjelaskan, “Tentu saja tidak. Pekerjaan yang kutawarkan yaitu menjadi pelayan di kelab, tugasmu hanya mengantarkan minum ke para pengunjung kelab.” Bekerja di kelab ya? Kyra seketika berpikir keras. Mungkin itu salah satu jawaban dari pertanyaan Kyra sebelum ini. Karena menjadi pengantar minuman di kelab tidak memerlukan keaslian identitasnya. Tapi seperti kata Jenny, pekerjaan ini juga beresiko, apalagi Kyra adalah seorang wanita dewasa yang mudah dijadikan mangsa para pengunjung kelab yang suka mabuk-mabukan. Belum lagi jika dokter Nasya sampai mengetahui jika Kyra bekerja di sebuah kelab, ibu angkatnya itu pasti marah besar. Tetapi di sisi lain, jika Kyra tidak bekerja ia hanya akan semakin membebani dokter Nasya dan suaminya. Haduh… Kyra bingung harus menerima pekerjaan itu atau tidak. “Kamu masih bingung ya? Jangan terburu-buru, pikirkan saja dulu. Ini kuberi nomer teleponku, kamu bisa meneleponku kapan saja jika sudah mengambil keputusan.” Jenny menyerahkan selembar kertas berisi nomor telepon yang sudah ia tulis menggunakan spidol hitam. Wanita itu kemudian beranjak dari kursinya ketika bus umum sudah sampai di halte. “Busku sudah datang, aku pergi dulu ya. Senang bisa mengenalmu Kyra, dadah!” Jenny berpamitan lalu melambaikan tangan sebagai lambang perpisahan. Sedangkan Kyra tersenyum menatap Jenny kemudian membalas lambaian tangannya sembari berseru, “Aku juga senang bisa mengenalmu Jenny! Hati-hati di jalan! Dadah…” Dan pertemuan kedua wanita itupun berakhir. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN