07 |KENCAN UNIK

2262 Kata
“KYRA!” Kyra yang duduk di sofa menunggu kedatangan Daniel spontan menoleh ketika mendengar suara Daniel memanggilnya. Kyra seketika terpesona begitu melihat senyum di bibir Daniel yang membuat pria itu terlihat semakin tampan di matanya. Jantung Kyra mendadak berdegub kencang, Kyra meraba dadanya dengan kaget. Mana mungkin dia berdetak sekeras ini hanya karena melihat senyum Daniel? Apa… tanpa disadari, dia sebenarnya menyimpan perasaan pada pria itu? Kyra menggelengkan kepala berusaha mengusir pemikiran itu. Tidak mungkin Kyra menyukai pria berengsek tidak waras seperti Daniel. Yah… tidak mungkin, Kyra menegaskan hal tersebut berulang kali dalam hatinya. “Kamu sudah sehat?” Hal pertama yang ditanyakan Daniel adalah kondisinya, dan itu sedikit membuat Kyra terkesan. “Yah, aku sudah sehat,” jawab Kyra, sambil berusaha mengendalikan ekspresinya supaya terlihat normal. Intinya jangan sampai Daniel tahu kalau sebenarnya dia sangat gugup bertemu laki-laki itu sekarang. “Oke, karena kamu sudah sehat berarti kita bisa pergi berkencan,” kata Daniel, masih sama menyebalkannya seperti sebelum-sebelumnya. Membuat kegugupan Kyra seketika hilang tergantikan rasa kesal. “Tidak. Aku kemari bukan untuk berkencan denganmu, tapi aku ingin kamu berhenti membelikanku makanan dan suruh Ibu Sulis berhenti dari pekerjaannya. Aku sudah sehat dan tidak membutuhkan pembantu lagi. Aku ingin kehidupanku kembali semula seperti saat aku belum sakit.” Daniel mengernyitkan dahi. “Kenapa? Bukankah akan jauh lebih baik kau tinggal bersama Ibu Sulis? Karena selain kau tidak perlu melakukan pekerjaan rumah, Ibu Sulis juga bisa menemanimu sehingga kamu tidak kesepian,” jawab Daniel. Baiklah, Kyra sangat berterima kasih pada Daniel yang mau mengerti kesendiriannya. Tapi Kyra yang paling mengerti apa yang terbaik dalam hidupnya dan dia sudah memutuskan untuk tidak menggunakan pembantu. Kyra sudah terbiasa hidup seperti itu, baginya sangat tidak nyaman saat ada orang lain yang mengerjakan pekerjaan rumahnya, bahkan ikut mencuci pakaiannya. “Baiklah-baiklah, aku berhenti mengirimmu makanan dan akan menyuruh Ibu Sulis berhenti dari pekerjaannya. Sekarang kau puas?” ujar Daniel, yang seolah-olah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Kyra saat ini. Kyra tersenyum antusias, “Kau serius?” Daniel mengangguk dengan senyum genit menggoda yang bagi Kyra menjengkelkan. “Yes sweetheart, whatever for you,” jawab Daniel. Kyra memutar bola mata jengah. “Jangan bicara seolah-olah kau kekasihku. Lagi pula, kita ini tinggal di Indonesia jangan memanggilku sweetheart atau bicara bahasa inggris meskipun kau seorang blasteran. Kita tidak sedang berada di novel terjemahan!” protesnya. Daniel menarik kesimpulan tanpa diminta. “Ahh… jadi kau lebih suka diperlakukan seperti seorang kekasih asal Indonesia ya? Baiklah, aku jadi punya gambaran kencan yang menarik untuk kita malam nanti,” katanya dengan maksud terselubung yang membuat Kyra penasaran. “Kau tidak berpikir kita benar-benar akan kencan kan malam ini? Karena jawabanku tetap sama seperti empat hari yang lalu yaitu jelas-jelas akan me—Aaaaa… Daniel! Turunkan aku!” Kyra berteriak histeris ketika tiba-tiba Daniel memanggul tubuhnya. “Tidak sayang, kau tetap akan ikut denganku,” kata Daniel, tanpa memedulikan tatapan semua pegawai kini terpusat ke mereka berdua. Alih-alih memedulikan semua orang, Daniel berjalan dengan santainya keluar dari dalam perusahaan sambil memanggul Kyra bak karung beras kemudian menurunkannya di dalam mobil yang sudah siap sedia menunggu mereka di depan halaman kantor. *** Pasca kejadian menghebohkan yang terjadi antara Daniel dan Kyra di lobi setengah jam yang lalu, sekarang waktu istirahat perusahaan sebagian besar digunakan para pegawai untuk menggosip tentang hubungan misterius bos mereka dengan wanita asing yang tadi dibawa pergi oleh Mr.Stauffer. Begitu juga dengan Erika dan Tania yang saat ini sedang menikmati makan siang mereka di kantin. Disela acara makan mereka, Tania tiba-tiba mengumpat seseorang, “Dasar genit!” Erika terkejut, “Siapa yang genit?” “Siapa lagi? Tentu saja Mr.Stauffer!” jawab Tania dengan heboh. Erika mendengus, lalu berkomentar, “Dia atasan kita Tania, ingat itu! Walau sebenarnya aku setuju dengan perkataanmu yang mengatakan pak Daniel genit.” Tania tertawa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Erika. Kemudian tiba-tiba mencondongkan wajahnya ke Erika sambil berbisik, “Asal kau tahu saja, aku punya cerita menarik tentang Mr.Stauffer?” Erika yang penasaran akhirnya ikut menanggapi dengan cara yang sama. “Apaan?” bisiknya. “Sebenarnya, pak Daniel itu sudah menikah.” Mata Erika terbelalak, hampir copot dari tempatnya. “Kau bercanda?!” Erika menyahut terlalu keras hingga menimbulkan beberapa perhatian pegawai lainnya yang juga sedang makan di kantin. “Sssttt!” Tania menempatkan jari tangannya di depan bibir menyuruh Erika diam. Erika meringis lalu menyahut dengan bisik-bisik. “Sorry-sorry, aku hanya sangat kaget. Tapi bagaimana kau bisa tahu tentang hal itu? Apa wanita yang dinikahinya adalah wanita yang tadi datang ke perusahaan?” Tania mengedikkan bahu sambil memasang ekspresi berpikir. “Entahlah, tapi kurasa bukan. Karena yang aku tahu nama istrinya berakhiran kata -ona.” “Ona?” Erika menimpal dengan kernyitan di dahi. Kepala Tania mengangguk kemudian bercerita, “Waktu itu saat aku mengantar laporan ke ruangan Pak Daniel, dan Pak Daniel tidak ada di sana. Aku tidak sengaja melihat sebuah kalung berbandul cincin seperti cincin pernikahan dengan ukiran nama. Karena dari jauh aku hanya bisa melihat bagian terakhirnya saja yaitu –ona, lalu setelah itu Pak Daniel sudah kembali dari toilet dan terlihat buru-buru menyembunyikan kalung itu dariku.” “Mangkannya aku curiga, kalau Pak Daniel sebenarnya sudah menikah. Tapi apa yang dia lakukan sekarang? Dia malah mengajak kencan wanita lain, bukankah itu yang disebut genit?” Tania menyambung dengan jengkel. Dan Erika setuju dengan ucapan Tania. “Ya, kalau dia memang sudah menikah seharusnya tidak dekat-dekat dengan wanita lain. Tapi menurutmu, kenapa berita sebesar ini harus ditutupi oleh Mr.Stauffer?” Erika meminta pendapat Tania. Tania sejenak berpikir kemudian menduga, “Apa mungkin ada kesalahan dalam pernikahannya?” Erika manggut-manggut lalu ikut menimpali, “Bisa jadi. Mr.Stauffer pasti menyembunyikan sesuatu hingga tak memberitahu siapapun soal pernikahannya.” “Tapi jangan sampai kamu beritahukan hal ini kepada siapapun. Karena mau bagaimana pun, Pak Daniel pasti mencurigaiku sebagai orang yang menyebarkan rumor tentangnya karena hanya aku satu-satunya orang yang paling sering menemuinya di kantor ini.” Tania meminta Erika merahasiakan soal obrolan mereka siang ini dan Erika mengangguk menyetujuinya. Mereka berdua adalah sahabat, Erika tidak mungkin ingkar janji pada Tania karena wanita itu memercayai ucapannya. *** Kyra tidak tahu ke mana Daniel akan membawanya setelah tadi berhasil menculiknya dan menyekapnya di dalam mobil mewah milik pria tersebut. Kyra yang marah tidak berbicara selama dalam perjalanan, begitu juga Daniel yang sejak tadi ikut mendiamkannya. Mereka tidak berdua di dalam mobil. Ada Pak Yono, supir pribadi Daniel di bagian kemudi sementara di bangku belakang Kyra dan Daniel duduk bersisihan. Meskipun terbentang jarak di antara keduanya. Kyra memilih merapatkan tubuhnya ke sisi kanan jendela mobil, sedang Daniel juga duduk di bagian paling ujung sisi kiri mobil. Beruntunglah, setidaknya posisi ini aman bagi Kyra yang sudah ketar-ketir akan diperlakukan tidak senonoh olehnya. Wanita itu bahkan berpikir terlalu jauh bahwa sekarang Daniel hendak membawanya ke sebuah hotel dan memaksanya melakukan hal yang tidak ia inginkan. Tapi dugaan itu seketika dienyahkan begitu mobil mereka melewati pintu masuk salah satu tempat wisata di daerah khusus ibukota Jakarta yaitu Taman Mini Indonesia Indah. Untuk ukuran destinasi wisata terbesar di Jakarta Timur, tempat ini kelewat sepi menurut Kyra. Oh tidak-tidak, bukan sepi saja, tapi kosong. “Kenapa sepi begini? Apa tidak ada pengunjung yang datang? Atau tempat ini sedang libur?” Kyra bertanya setelah turun dari dalam mobil. “Aku menyewa tempat ini sehari untuk kencan unik kita,” Daniel menjawab enteng lalu berjalan lebih dulu menyapa seorang pria penanggung jawab tur kencan mereka hari ini yang bernama Pak Suwadi. Sedangkan Kyra melongo sambil menatap punggung Daniel yang kini sedang bersalaman dengan Pak Suwadi. Apa barusan Kyra salah dengar? Menyewa Taman Mini Indonesia Indah hanya untuk kencan mereka? Mereka bukan pasangan. Dan juga, mana mungkin ini bisa disebut kencan jika Kyra bisa sampai di sini atas dasar paksaan Daniel yang menculiknya. Tapi karena sudah terlanjur sampai di sini, tidak ada salahnya juga jika Kyra menikmatinya. Toh dia juga belum pernah jalan-jalan sejak keluar dari rumah sakit. Kesempatan ini mungkin bisa menguntungkan dirinya. “Kenalkan, ini pasanganku namanya Kyra.” Daniel menoleh mengenalkan Kyra. “Kyra kenalkan, dia pak Suwadi. Penanggung jawab kencan kita hari ini,” lanjut Daniel, mengenalkan Pak Suwadi pada Kyra. Kyra tersenyum lalu bersalaman dengan Pak Suwadi sambil menyebutkan namanya. “Kyra.” Pak Suwadi balas tersenyum ramah padanya sambil ikut menyebutkan namanya. “Panggil saja Pak Adi.” “Jadi, apa kamu sudah siap melakukan kencan unik kita hari ini?” Daniel bertanya sambil mengerlingkan mata ke arah Kyra. Kyra menatap ke sekeliling dengan bingung lalu bertanya, “Di tempat ini?” “Tentu saja,” Daniel menjawab singkat. Kemudian karena tidak ingin membuang waktu lebih lama, Daniel segera membawa Kyra ke ruangan khusus untuk didandani sesuai tema kencan mereka hari ini. Yang tentunya akan sangat berbeda dengan kencan-kencan pasangan pada umumnya, karena kencan mereka hari ini mengusung tema cinta budaya Indonesia. *** Ekspresi pertama yang Kyra tunjukkan saat melihat penampilan Daniel adalah terpesona. Belum pernah ia membayangkan seorang pria bermata biru dengan wajah blasteran seperti Daniel akan terlihat begitu menawan saat mengenakan pakaian adat khas jawa dengan memakai blangkon sebagai penutup kepala. Ekspresi yang sama juga ditunjukkan Daniel saat melihat penampilan Kyra yang memakai balutan pakaian adat jawa dengan warna cokelat muda senada dengan pakaiannya. Mereka jadi mirip seperti pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan jika memakai pakaian seperti ini. Dan itu memang salah satu tujuan Daniel, membuat dirinya dan Kyra terlihat cocok bersanding bersama saat kencan pertama mereka hari ini. “Kita… akan kencan menggunakan pakaian ini?” Kyra bertanya setelah Daniel sampai di depannya. Dengan senyum lembut dan sorot mata bahagia, Daniel mengangguk lalu mengulurkan tangan bak seorang pangeran yang menjemput putrinya. “Ayo kita melakukan kencan ala Indonesia. Supaya kisah kita tidak terkesan seperti novel terjemahan seperti katamu saat di kantor tadi.” Kyra tertawa singkat mendengar perkataan Daniel, lalu seolah sudah terhipnotis dengan rayu bujuknya, Kyra menerima uluran tangan pria itu kemudian mereka bersama-sama berjalan mendekati kereta kuda yang sudah disiapkan. “Kita akan berkeliling menggunakan kereta kuda,” kata Daniel. “Kau yang akan mengendarai kudanya?” tanya Kyra seraya menatap Daniel tidak yakin. “Tentu saja. Aku sudah tampil gagah seperti ini, mana mungkin tidak bisa mengendarai seekor kuda saja,” jawab Daniel dengan sombongnya. “Kau tetap sama sombongnya. Dasar!” cibir Kyra, lalu naik ke atas kereta kuda dibantu oleh Daniel di belakangnya. Beberapa saat kemudian, kereta kuda yang mereka tumpangi melewati area anjungan daerah yang terdapat bangunan rumah adat dari ke 33 provinsi di Indonesia. Anjungan daerah yang dibangun berderet mengelilingi danau Miniatur Arsipel Indonesia melambangkan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tiga provinsi menampilan sekurangnya tiga bentuk rumah adat arsitektur tradisional khas daerah berada di satu kawasan yang disediakan untuk provinsi bersangkutan. Bentuk rumah adat dibuat sesuai dengan bangunan asli disesuaikan menurut ukuran, bentuk atap, ragam hias, susunan ruangan, bentuk jendela, tangga dan detail ukiran lainnya. Bahkan katanya, ada rumah adat yang langsung dipindahkan dari daerah aslinya yaitu rumoh Aceh Cut Meutia yang langsung dibawa dari Nangroe Aceh Darussalam. Anjungan daerah ditujukan untuk memberi informasi mengenai rumah adat berbagai suku bangsa di Indonesia kepada masyarakat luas. Terutama para generasi muda yang sudah tidak sempat lagi melihat rumah adat karena perkembangan jaman yang semakin modern. “Kau senang?” Daniel bertanya setelah menghentikan laju kereta kudanya ketika sampai di area wahana wisata. Kyra berpaling menatap Daniel yang duduk di sebelahnya dengan senyum mengembang. “Ya, meskipun kita bukan pasangan. Tapi aku benar-benar menyukai kencan unik pilihanmu ini,” jawab Kyra. Daniel mengernyit, keberatan dengan perkataan Kyra. “Siapa bilang kita bukan pasangan? Kamu adalah milikku,” timpal pria tersebut. Sedangkan Kyra mendengus, sisi menyebalkan Daniel kembali muncul ke permukaan. “Jangan mulai lagi Daniel.” Kyra memperingatkan. Daniel terkekeh, lalu mengajak Kyra turun dari kereta kuda. Pria itu membawa Kyra naik skylift atau kereta gantung. “Wah, lebih indah jika melihatnya dari atas sini. Ya kan Daniel?” Kyra bertanya, pandangannya tak lepas menatap keindahan TMII yang terhampar luas di bawahnya. Sementara Daniel bukannya menikmati keindahan pemandangan di bawahnya, pria itu lebih memilih menikmati keindahan senyum di bibir Kyra yang jarang sekali ia lihat. “Ya, sangattt cantik,” jawab Daniel, meski cantik yang ia maksud adalah sosok wanita yang duduk didekatnya sekarang. Kyra menoleh ketika sadar sedang diperhatikan oleh Daniel. Awalnya dia ingin memprotes supaya Daniel berhenti menatapnya, tapi yang terjadi berikutnya Kyra malah ikut hanyut dalam tatapan mata Daniel yang memesona. “Kyra.” Mendengar suara lembut Daniel yang memanggil namanya memicu gelenyar aneh dalam tubuh Kyra yang bergetar di bawah tatapannya. Menghipnotis Kyra untuk mengikuti permainan pria tersebut. “Kau sangat cantik memakai pakaian adat ini.” Daniel memuji sambil mengusap rambut Kyra yang digelung. Memerangkap wanita itu dalam tatapan mata biru miliknya. “Kau juga… lumayan.” Kyra balik memuji, meski masih setengah gengsi untuk mengakui bahwa Daniel sangat tampan. Daniel tertawa mendengar pujian Kyra yang menurutnya kurang jujur. Karena gemas pada wanita itu, Daniel tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekatkan wajahnya. Alarm bawah sadar Kyra berbunyi ketika jarak di antara wajah mereka tersisa hanya beberapa senti. Kyra tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, pikirannya seakan menolak namun tubuhnya tak bergeser sedikitpun seolah memang mengharapkan momen ini terjadi. “Ingat baik-baik Kyra…” Daniel bergumam sambil mengusap bibir bawah Kyra menggunakan jempolnya. “Kau hanyalah milikku, dan tetap akan seperti itu sampai seterusnya…” Sedetik usai berkata demikian, Daniel langsung memanggut bibir Kyra yang seketika menegang merasakan kelembutan bibir Daniel di bibirnya. Kencan unik yang direncanakan Daniel untuk mereka berdua hari ini benar-benar sukses. Pria itu mendapatkan semua yang ia mau, termasuk mencium bibir wanita yang ia klaim sebagai miliknya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN