SETELAH menyelesaikan tahap akhir pemeriksaan yaitu melakukan rontgen pada bagian tulang punggung Kyra yang cedera menggunakan X-Ray Portable yang dibawa para dokter. Dokter Rika mewakili semua dokter akhirnya berpamitan pulang.
“Jangan lupa minum obat pereda nyeri yang saya berikan. Hasil rontgen Nyonya Kyra akan kami bawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dan jika kami menemukan ada keretakan atau bagian yang menurut kami perlu dilakukan tindakan, saya akan menghubungi Anda kembali,” jelas dokter Rika.
Kyra mengangguk-angguk lalu menjawab, “Iya dokter, terima kasih.”
“Sama-sama Nyonya. Kalau begitu, kami pamit pergi. Semoga Anda lekas sembuh,” kata dokter Rika dengan ramahnya.
“Iya dokter, hati-hati di jalan,” ujar Kyra.
Lalu begitu dokter-dokter itu sudah pergi dari apartemennya. Kyra kembali masuk dan menyandarkan punggungnya ke badan sofa di ruang tamu. “Hahh…” Kyra menghela napas lega, lalu berujar seorang diri sambil menatap muram sekeliling ruang tamunya yang kembali kosong, “Akhirnya sepi.”
“Pria tidak waras itu memang selalu saja membuat kekacauan, bahkan di rumahku yang sering sepi ini,” ucap Kyra dengan sendu.
Entah dia sebenarnya sedang merasa senang atau sedih ketika menemukan fakta tidak ada Daniel di rumahnya yang sekarang kembali sepi hanya diisi oleh Kyra seorang. Di sisi lain ia benci sendiri, tapi di sisi lain juga ia benci kehadiran Daniel.
“Haish! Apa yang kau pikirkan sih Kyra!!” Kyra membentak dirinya sendiri, lalu mendesis sebal dan menolehkan kepalanya ke samping. Tepat ke arah boneka beruang raksasa yang tadi Daniel bawa saat berkunjung ke rumahnya.
Boneka itu… kenapa Kyra baru menyadari keberadaannya sekarang?
Mata besar hitam boneka beruang itu seolah membalas tatapan Kyra. Kyra tertegun saat imajinasinya mulai menggila karena melihat tangan boneka beruang itu melambai seolah menyapanya dengan senyumnya yang menggemaskan.
Sudut bibir Kyra tertarik membentuk sebuah senyum. Ia merasa kekanakan, tersenyum hanya karena melihat boneka beruang. Sepertinya, di masa lalu sebelum dia amnesia Kyra sangat menyukai boneka beruang.
Kyra mendekat ke depan boneka beruang jumbo tersebut, lalu memeluknya erat bak memeluk seorang manusia. Anehnya, kesedihan yang tadi sempat hinggap dalam hatinya seketika menghilang setelah memeluk boneka tersebut.
Kyra tidak merasa sendirian lagi di apartemennya, ia merasa telah menemukan teman meski itu hanya sekadar boneka beruang pemberian Daniel. Dengan cepat senyum di bibir Kyra memudar, ia juga tidak lagi memeluk atau menatap bahagia boneka beruang tersebut saat pikirannya kembali mengingat siapakah pemilik sesungguhnya boneka itu.
Haishh… Kyra tidak boleh menyukainya. Karena boneka itu pemberian Daniel. Kalau Kyra tetap menyimpannya di sini, Daniel bisa berpikir jika Kyra mudah menerima hadiah darinya. Oh tidak, Kyra tidak ingin Daniel merasa bangga dengan hal itu.
“Ya, aku tidak menyukainya.” Kyra berucap sambil menatap boneka beruang, lalu kembali menegaskan kata yang sama namun kali ini sambil menunjuk boneka tersebut. “Aku tidak menyukainya!”
“Kau pasti mengerti itu kan beruang? Jadi… jangan berharap bisa tinggal di rumahku!” ucap Kyra lagi pada bonekanya yang tentu saja hanya bisa diam menatapnya, dan yang membuat menyebalkan adalah boneka itu selalu tersenyum.
Kyra mendadak benci melihat ekspresi boneka itu yang terlihat bahagia. “Jangan tersenyum! Aku akan membuangmu!” Kyra berucap seolah-olah sedang mengancam benda mati.
Siapapun… tolong! Kyra merasa sudah gila karena berbicara dengan sebuah boneka.
Karena tidak tahan, Kyra akhirnya menggendong boneka beruang tersebut. Berinisiatif membuangnya di tong sampah depan apartemennya.
Dengan susah payah, sebab ukurannya sangat besar, Kyra akhirnya berhasil meletakkan boneka tersebut di dekat tong sampah. Wanita itu lalu melangkah hendak kembali masuk ke dalam kawasan apartemennya, tetapi setelah berjalan beberapa meter Kyra mendadak berhenti dan membalikkan badan melihat kondisi boneka tersebut.
Tiba-tiba saja Kyra tidak tega, sayang sekali boneka sebagus itu harus dibuang. Kyra mendadak merasa gundah untuk mengambilnya lagi. Dan keputusan akhirnya, wanita itu kembali membawa boneka beruang tersebut bersamanya ke dalam apartemen.
“Jangan salahkan bonekanya, tapi salahkan pemiliknya. Yah, aku membawa boneka ini kembali bukan karena mau menerima hadiah dari Daniel tapi sebagai bentuk menyayangi boneka ini karena mau bagaimana pun boneka ini tidak ada hubungannya dengan rasa benciku pada pria menyebalkan itu.”
Kyra menggerutu sendiri di sepanjang perjalanan kembali ke apartemennya. Karena berjalan bolak-balik itu juga, rasa nyeri di punggungnya kambuh hingga membuat Kyra buru-buru meminum obat yang tadi diberi oleh dokter Rika.
***
Keesokkan harinya, di pagi hari pukul tujuh dan Kyra baru bangun tidur, itupun karena bunyi bell apartemennya yang mengganggu. Masih dengan setelan piyama dan wajah khas bangun tidur, Kyra berjalan menuju pintu.
Rasanya akhir-akhir ini Kyra sering mendengar bell apartemennya berbunyi, padahal biasanya bell itu berbunyi hanya saat Ray datang bertamu ke rumahnya. Oh ya, bicara tentang Ray, sudah empat hari ini laki-laki itu tidak berkunjung ke rumahnya sama sekali sejak pertemuan terakhir mereka malam itu—saat Kyra menolak permintaan Ray untuk menjadi pacarnya.
Memikirkan Ray membuat Kyra tidak sadar telah sampai di depan pintu utama, dia tidak langsung membukanya melainkan mengintip terlebih dahulu siapa orang yang bertamu sepagi ini.
Lalu Kyra terheran-heran ketika tahu orang yang sedang berdiri di depan apartemennya adalah seorang pengantar makanan. Kyra berpikir sejenak, siapa yang memesan makanan online?
Kyra baru saja bangun tidur, sama sekali belum memegang handphone lalu kenapa seorang pengantar makanan bisa tiba-tiba berada di depan pintu apartemennya?
“Ah, mungkin dia salah alamat.” Kyra menarik kesimpulan berdasarkan keadaan.
Wanita itu kemudian membuka pintu dan bersiap-siap mengatakan kalau dia tidak memesan makanan lewat online, tetapi sapaan pertama yang pria pengantar makanan itu katakan membuat Kyra tak bisa berkata-kata.
“Dengan kak Kyra Anasya?”
Jika pria pengantar makanan ini salah alamat, dia tidak mungkin tahu siapa nama lengkapnya, batin Kyra. “I-iya saya sendiri,” Kyra menjawab dengan terbata.
“Ini paket sarapan pagi dikirimkan untuk kakak. Dan Tuan pemesan memberi saya catatan agar mengatakannya pada kakak.”
Tuan pemesan?
Belum selesai Kyra berpikir lebih jauh. Pria pengantar makanan itu mengeluarkan sebuah kertas dari dalam saku jaketnya kemudian membacakan isinya.
“Kyra, maaf sudah membuatmu sakit kemarin. Aku tidak sengaja melakukannya, dan sungguh menyesal telah mendorongmu. Dokter Rika menjelaskan padaku bahwa hasil rontgen tulang punggungmu tidak mengalami cedera fatal, aku harap kamu minum obat teratur dan jangan melakukan aktivitas yang berat dulu. Karena itu, mulai hari ini sebagai wujud penyesalanku, aku akan mengirimkanmu makanan tiga kali sehari supaya kamu tidak perlu memasak atau jauh-jauh membeli bahan makanan di supermarket untuk makan. Aku juga akan mengirimkan seorang pembantu yang akan mengurusmu dan rumahmu. Jadi, kau hanya perlu istirahat dan memulihkan keadaanmu. Salam sayang dari pria paling memesona sejagad maya, Daniel Shristauffer.”
Kyra tidak berhenti melongo mendengar pria pengantar makanan tadi membacakan isi catatan yang Daniel buat untuk dirinya. Kyra sangat-sangat malu sekarang, kenapa Daniel menyuruh orang lain membacakan surat memalukan itu di depannya?!
“Itu catatan dari Pak Daniel, semoga kakak suka makanannya. Terima kasih, saya permisi dulu.”
Setelah menyerahkan kantung plastik berisi kotak sarapan pagi pada Kyra, pria pengantar itu kemudian pergi meninggalkan apartemen. Sementara Kyra masih berdiri di depan pintu apartemennya, menatap nanar kotak makanan yang dibawa tangannya.
“Ssshhhh…” Kyra mendesis kesal seperti hendak mengumpat.
Tangannya juga gemetar menahan luapan emosi yang bersarang di dadanya. Lalu tak berhasil mengendalikan amarahnya, Kyra lantas menjerit, “…KENAPA DIA SELALU BERBUAT SEEENAKNYA!! DASAR PRIA BERENGSEK!!!”
Kyra yang malang, dia tidak sadar kalau masih berada di depan pintu apartemen sehingga teriakannya jelas saja terdengar oleh tetangga-tetangganya bahkan sampai ke lantai atas.
"Berisik!!"
“Woi! Masih pagi, jaga ucapanmu!”
“Siapa wanita yang berteriak itu? Apa dia sudah gila?”
“Haruskah kau berteriak sekencang itu pagi-pagi begini?"
Kyra terbelalak kaget, lalu masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintunya rapat-rapat untuk menghindari protesan para tetangganya yang terusik dengan teriakannya tadi.
Ya Tuhan, apa yang sudah dirinya lakukan?
Kyra berjalan ke dapur dan meletakkan kotak makanan itu di meja sementara dia memukuli kepalanya sambil tak berhenti merutuki perbuatannya.
Beruntung Kyra berhasil kabur sebelum para tetangganya keluar untuk melihat dan menceramahinya.
***
Kyra baru saja selesai mandi dan terpaksa sarapan makanan yang diberi Daniel karena bahan-bahan makanannya di kulkas sudah menipis, persediaan mie instannya juga sudah habis sementara Kyra masih takut keluar apartemen karena aksinya berteriak di seantero apartemen tadi pagi.
Ting… Tong…
Lama-kelamaan Kyra merasa risih mendengar bell apartemennya sendiri. Kali ini siapa lagi yang datang ke apartemennya?
Kyra mengintip dari balik jendela dan melihat seorang ibu-ibu paruh baya. Siapa dia? Kyra penasaran lalu akhirnya membuka pintu apartemennya untuk bertanya.
“Maaf, ibu siapa ya?”
Wanita paruh baya itu tersenyum semringah menatap Kyra. “Perkenalkan, nama saya Sulistyawati, pembantu baru Anda yang dikirimkan Pak Daniel,” jawab Sulis, wanita berusia 54 tahunan.
‘…aku juga akan mengirimkan seorang pembantu yang akan mengurusmu dan rumahmu. Jadi, kau hanya perlu istirahat dan memulihkan keadaanmu.’
Kyra mendadak teringat isi catatan Daniel yang tadi pagi di sampaikan pria pengantar makanan. Tapi bukankah ini berlebihan? Oh yeah Kyra lupa… Daniel memang selalu berlebihan. Seperti saat kemarin mendatangkan sepuluh dokter spesialis untuk memeriksanya.
“Maaf bu, tapi Anda tidak perlu melakukan ini. Saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga saya sendiri dan tidak membutuhkan pembantu. Tolong Anda katakan pada Pak Daniel kalau saya keberatan,” ujar Kyra dengan sopan karena orang yang diajaknya bicara berumur jauh lebih tua darinya.
Ibu Sulis berubah murung sambil bertanya, “Jadi Anda tidak butuh seorang pembantu ya?”
Kyra mengangguk mantap, “Iya.”
“Baiklah kalau memang begitu, saya akan konfirmasi ke Pak Daniel kalau Anda tidak membutuhkan seorang pembantu,” ujar Ibu Sulis dengan ekspresi menahan tangis.
Kyra yang melihat ekspresinya mendadak tidak tega. “Apa Anda baik-baik saja? Kenapa ibu Sulis kelihatan sedih?” tanya Kyra, ikut bersimpati.
“Karena saya membutuhkan pekerjaan, suami saya baru saja di PHK sementara saya masih punya tiga anak yang masih sekolah. Awalnya saya sangat senang karena Pak Daniel memberi saya pekerjaan dengan gaji dua kali lipat, tapi karena Anda tidak membutuhkan seorang pembantu jadi mungkin saya harus mencari pekerjaan yang lain untuk menafkahi keluarga saya.”
Cerita menyedihkan Ibu Sulis membuat perasaan Kyra tersentuh. Ia lalu berpikir mungkin tidak ada salahnya mempekerjakan Ibu Sulis sebagai pembantunya di sini, lagi pula Kyra tidak perlu membayarnya.
“Emm… kalau begitu, baiklah.”
Ibu Sulis menatap Kyra penuh harap, menanti kata-kata Kyra selanjutnya. “Ibu bisa bekerja di apartemenku, supaya Ibu Sulis bisa menafkahi keluarga. Jadi Ibu jangan sedih lagi yah…”
Sebuah senyum terbit di bibir Ibu Sulis, wanita paruh baya itu kemudian menggenggam tangan Kyra. “Terima kasih ya Nyonya Kyra! Saya janji akan bekerja dengan baik dan rajin!” ujar Ibu Sulis.
Kyra tertegun, lalu menggangguk kikuk dan membalas senyum Ibu Sulis yang terlihat sangat bahagia sekarang.
Tidak ada pilihan lain, Kyra juga punya hati nurani dan tidak mungkin bersikap egois pada Ibu Sulis hanya karena dia pembantu yang disewa Daniel. Huft… rasa-rasanya sejak kemarin, sulit sekali menolak pemberian atau bantuan yang ditawarkan Daniel untuknya.
Meski setengah mati dia berusaha menolak, tapi keadaan selalu memaksa Kyra untuk kembali menerimanya. Yah… semoga saja, dengan Kyra menerima ini semua tidak akan membuat pria itu kege’eran nantinya.
***
Tiga hari ini Kyra bak seorang anak putri raja, dia tidak bekerja, semua pekerjaan rumah tangga sudah ada yang menangani, bahkan untuk makan Kyra hanya tinggal duduk di meja makan dan menunggu makanannya siap tanpa repot-repot memasak.
Nyeri di punggungnya sudah membaik, dan Kyra merasa sudah saatnya ia mengakhiri waktu santainya sekarang. Kyra ingin mencari pekerjaan dan bekerja seperti dulu lagi, Kyra juga ingin memasak sendiri, dan yang pasti Kyra ingin menangani semua pekerjaan rumahnya sendiri tanpa bantuan Ibu Sulis lagi.
Oleh karena itu, Kyra bertekad akan menemui Daniel di kantor hari ini dan menyuruh pria itu menghentikan segala hal yang merubah hidupnya. Kyra ingin Daniel sendiri yang menyuruh Ibu Sulis berhenti bekerja di apartemennya, karena Kyra tidak tega untuk memecatnya.
Well, Kyra sudah pernah merasakan bagaimana rasanya saat dipecat dan Kyra tentu saja tidak ingin memperlakukan hal yang sama kepada orang lain. Biarlah Daniel sendiri yang bicara dengan Ibu Sulis supaya pria itu juga bisa segera menggajinya sesuai kesepakatan awal mereka.
“Maaf Nona, Mr.Stauffer tidak bisa sembarangan menemui orang tanpa membuat janji khusus sebelumnya,” kata pegawai resepsionist yang ditemui Kyra.
Kyra mendesah, padahal dia sudah jauh-jauh datang ke perusahaan Daniel. Akan sia-sia jika ia tidak bisa menemui Daniel hari ini. Kyra juga tidak memiliki nomor ponsel Daniel sehingga membuatnya tidak bisa menghubungi pria itu.
“Ayolah, coba Anda beritahukan dulu ke Mr.Stauffer bahwa saya menunggunya di lobi. Saya bisa pastikan Mr.Stauffer akan datang kalau Anda mengatakan nama saya padanya.”
Kyra masih berusaha, meski ucapannya terdengar memaksa dan sedikit angkuh hingga membuat wanita resepsionist bername-tag Erika Nadella menatap penampilannya dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai.
Bisa Kyra tebak, wanita itu pasti sedang menerka-nerka siapakah dirinya yang dengan pedenya mengatakan bahwa Daniel pasti akan menemuinya saat dia mengatakan nama lengkapnya.
Ouh yeah, memang siapakah dirinya? Wanita sial yang kebetulan suka dikerjai oleh Daniel?
“Baiklah, saya akan coba menghubungi sekretarisnya dahulu. Silahkan Anda tunggu.”
“Terima kasih.” Kyra tersenyum ketika mendapat respon positif dari Erika. Mungkin Erika melakukan itu juga untuk membuktikan apakah ucapan Kyra benar atau sekadar bualan belaka.
Meskipun sebenarnya Kyra juga tidak sepenuhnya yakin Daniel akan langsung menemuinya setelah tahu bahwa ia sedang menunggunya di lobi perusahaan. Secara kan… Kyra bukan siapa-siapa bagi pria tersebut.
“Halo Tania, ada seorang wanita bernama Kyra Anasya. Dia bilang ingin bertemu Mr.Stauffer.”
Tania yang menjawab telepon di seberang sana menyahut, “Siapa Kyra Anasya?”
Erika mengedikkan bahu, “Entahlah, tapi dia bilang Mr.Stauffer akan menemuinya jika aku mengatakan nama lengkapnya.”
“Mungkin dia salah satu fans Mr.Stauffer. Ayolah Erika… bukankah kita sudah biasa mendapat tamu asing yang memaksa ingin menemui Mr.Stauffer? Tidak perlu kau pedulikan, bilang saja Mr.Stauffer sibuk dan tidak bisa menemuinya. Lalu usir dia dari perusahaan, fans wanita biasanya bertingkah fanatik, aku takut dia akan melakukan hal yang tidak-tidak demi menemui Mr.Stauffer,” jawab Tania.
Erika kemudian menyahut lagi, “Iya sih. Tapi sayang sekali, padahal aku ingin membuktikan saja apakah Mr.Stauffer benar-benar akan langsung berlari ke sini setelah mendengar namanya. Karena dilihat dari tampang wanita tadi, dia kelihatannya sangat yakin dengan ucapannya.”
Tania tergelak di seberang sana, dan tanpa sadar sudah berbicara sangat keras. “Kau bercanda? Mana mungkin Mr.Stauffer akan langsung berlari menemuinya setelah tahu seorang wanita bernama Kyra Anasya sedang menunggunya di lobi sekarang.”
Tepat ketika Tania berkata demikian, Daniel keluar dari ruangannya dan mendengar ucapan terakhir Tania, apalagi saat menyebut nama Kyra Anasya.
“Kau bilang apa? Kyra Anasya sedang menungguku di lobi sekarang?” Daniel bertanya dengan nada tinggi, hampir mirip bentakan.
Tania yang awalnya asyik bertelepon dengan Erika sontak terkejut. Erika juga bisa mendengar ucapan Daniel lewat telepon yang masih tersambung dengan Tania.
“I-iya Pak, a-ada apa?” jawab Tania dengan gugup.
Daniel menatapnya tajam, lalu bertanya, “Cepat katakan padaku! Apa benar Kyra Anasya sedang menungguku di lobi sekarang?”
Bulu kuduk Tania merinding mendengar kesinisan dalam nada suara Daniel. Meski setiap hari kerap diperlakukan begitu oleh Daniel, tapi tetap saja Tania masih belum terbiasa dan selalu takut dibuatnya.
“Iya Pak, Erika pegawai resepsionit perusahaan mengatakan pada saya ada seorang wanita bernama Kyra Anasya sedang menunggu Anda di lobi.”
Sedetik usai Tania menjawab, Daniel lalu bergegas pergi dari sana. Membuat Tania melongo karena Daniel benar-benar pergi ke lobi untuk menemui wanita bernama Kyra Anasya tersebut.
“Halo Tania? Apa Mr.Stauffer masih bersamamu? Atau dia sudah berlari ke sini?” Erika yang masih tersambung dengan telepon Tania akhirnya membuka suara untuk bertanya.
Membuat Tania segera sadar dari sisa keterkejutannya lalu membalas dengan tidak percaya. “Iya. Tidak bisa dipercaya… Mr.Stauffer benar-benar berlari menemuinya…” katanya pada Erika yang ikut tertegun di tempatnya.
“Kira-kira, siapa wanita itu?” Tania bertanya, sementara Erika hanya terdiam dan melirik ke arah Kyra yang sedang duduk di sofa menunggu Daniel.
“Entahlah, kau bisa ke sini kalau ingin melihat pertunjukkannya,” jawab Erika beberapa detik kemudian.
Apalagi ketika bola matanya melihat sosok CEO perusahaannya sudah sampai di lobi dengan senyum cerah yang benar-benar membuat Erika syok karena pertama kali melihat Daniel mampu tersenyum menawan seperti itu saat biasanya kerap kali menunjukkan wajah garang di hadapan para pegawai perusahaan.
Erika jadi penasaran, siapakah Kyra Anasya yang mampu membuat Daniel Shristauffer tersenyum cerah seperti sekarang ini?
Bersambung...