05 |TAK TERTAHANKAN

2053 Kata
DI ruang kerja Daniel yang didominasi warna hitam abu-abu, pria itu nampak sibuk membaca resume hasil penyelidikan latar belakang kehidupan Kyra yang sejak dua hari lalu Daniel perintahkan ke Detektif andalannya untuk mencari tahu. Berkat laporan itu juga, sekarang Daniel sudah tahu segala-galanya tentang wanita yang ia anggap menarik tersebut. Bahkan alamat apartemen tempat Kyra tinggal. Berbekal apa yang telah ia ketahui kini Daniel semakin terobsesi untuk segera memiliki wanita itu. Ia sudah sangat merindukan kehangatan dari wanitanya. Selama tiga tahun penuh menjalani hari-harinya yang terkesan hampa, sekarang Daniel telah kembali mendapatkan sinarnya. Entah mau bagaimana dan dengan cara apa, Daniel pastikan akan membuat Kyra jatuh cinta dan bersedia menjadi miliknya. Dengan pesona dan kekayaan yang Daniel punya, dia yakin seratus persen jika Kyra akan mudah ditakhlukkannya. Lihat saja nanti… Daniel tersenyum menatap wajah wanita di dalam kertas foto yang ia pegang. Setelah sekian kali mematahkan hati para wanita demi menunggu yang sesuai dengan yang dicarinya, akhirnya sekarang Daniel bisa menemukan seseorang yang mirip—tidak, sama persis baginya dengan yang selama ini ia cari. *** Hari pertama tidak pergi bekerja setelah kemarin dipecat berjalan dengan sangat membosankan bagi Kyra yang terbiasa menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Sekarang dia seorang pengangguran, dan tidak ada satupun ide yang muncul di otaknya untuk melakukan hal menarik saat mendekam di rumah. Alhasil yang Kyra lakukan seharian hanya berputar pada tiga hal yakni makan, nonton tv, dan melamun. Mau cari pekerjaan baru pun rasanya malas, mungkin besok saja ia mencari saat semangatnya sudah terkumpul banyak. Hari ini Kyra hanya ingin memanjakan diri dengan melakukan hal-hal tidak berguna yang membosankan. Fyuhhh… dalam keadaan seperti ini Kyra benar-benar tengah merasakan betapa kejamnya hidup di dunia. Sendirian, pengangguran, dan tak punya tempat pelarian. Ingin curhat ke dokter Nasya juga rasanya canggung, meski sudah dianggap sebagai ibunya sendiri tapi entah kenapa Kyra masih merasa sungkan bila harus berbagi masalah dengannya. Mungkin karena selama ini Kyra masih merasa terbebani karena telah memakai identitas putrinya untuk hidup. Kyra menghela napas untuk yang ke sekian kali. Melamun saja bisa membuatnya lelah begini. Andai dirinya bisa cepat mengingat masa lalunya dan sembuh dari amnesia, mungkin Kyra tidak perlu lagi memakai nama orang lain untuk bertahan hidup. Kira-kira, bagaimana ya kehidupannya di masa lalu? Apa dahulu ia hidup bahagia? Kyra sangat penasaran dengan hidupnya sebelum diinformasikan hilang dan mengalami amnesia. Kenapa tidak ada satupun anggota keluarga yang mencari kehilangannya? Apa di masa lalu ia memang tidak memiliki keluarga? Atau apa karena alasan tertentu, keluarganya memang sengaja tidak mencarinya? Air mata menetes keluar dari sepasang matanya yang basah. Kyra menangis, wanita itu sangat sedih. Berpikir andai saja ada satu keluarganya yang menemuinya saat terbaring koma di rumah sakit dulu, mungkin Kyra tidak perlu memakai nama orang lain untuk hidup sekarang. Ting… Tong… Kyra mengusap air matanya ketika mendengar suara bell apartemen. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore. Tidak mungkin Ray sudah pulang di jam segini, sedangkan selama ini Kyra tidak punya tamu lain selain laki-laki itu. Jadi siapa yang berkunjung ke apartemennya sore-sore begini? Mungkin itu Dr.Nasya, tebak Kyra lalu melangkah menuju pintu. Pemandangan pertama yang Kyra lihat setelah membuka pintu apartemennya adalah boneka beruang raksasa yang hampir sama tingginya dengan manusia. Sudut bibir Kyra tertarik membentuk senyum, rasa sedih yang sempat ia rasakan sebelumnya seolah terlupakan begitu saja ketika melihat boneka beruang itu muncul di depan pintu apartemennya. Tetapi senyum di bibir Kyra tidak bertahan lama ketika dirinya melihat wajah seseorang dibaliknya. “Daniel?” Kyra terkejut ketika mengetahui pemilik boneka tersebut adalah Daniel Shristauffer. “Hai sweetheart.” Daniel menyapa sambil mengerling genit. “Bagaimana bisa kamu tahu alamat apartemenku?” Kyra memicingkan mata menatap Daniel sinis. Tapi Daniel yang seolah kebal dengan kesinisannya mengabaikan hal tersebut dan menjawab enteng, “Mudah bagiku untuk mencari alamat tempat tinggalmu.” “So, kedatanganku kemari khusus untuk memberimu boneka beruang ini sekaligus ingin mengajakmu kencan malam ini.” Tanpa dipersilahkan, Daniel masuk menerobos apartemen Kyra lalu meletakkan boneka beruangnya di dekat sofa. “Hei! Siapa yang menyuruhmu masuk?” Kyra memaki. Wanita itu berdecak pinggang sembari menatap garang Daniel yang lagi-lagi mengabaikannya. Pria itu malah asyik melihat-lihat isi apartemen Kyra tak peduli walau pemiliknya melarang. “Apartemen ini sangat kecil,” komentar Daniel. Kyra memprotes, “Apa kau bilang? Kecil?!” Wanita itu kemudian tertawa meledek, “Hahaha, maaf Tuan Shristauffer yang terhormat! Untuk ukuran konglomerat sepertimu tentu saja apartemen yang bagiku sudah besar ini pasti akan terlihat kecil di matamu. Karena tempat tinggalku pasti tidak ada apa-apanya ketimbang mansion megah yang kau tinggali selama ini.” Daniel terkekeh pelan, “Kau benar. Mansionku memang jauh lebih megah dan mewah,” sombongnya. Gezz… ingin sekali Kyra mencakar wajah tampannya sekarang juga. “Apa kau mau tinggal bersamaku di mansion?” Daniel menawarkan dengan alis mata naik-turun menggoda Kyra. Kyra membuang wajah dari Daniel lalu bersedekap tangan. “Aku akan jauh lebih memilih tinggal di kandang sapi daripada harus tinggal di mansion megah dan mewah bersamamu.” Kyra menjawab ketus tanpa repot-repot memandang Daniel yang seketika tertawa mendengar ucapannya. “Hahaha.” Pria itu tidak terlihat kesal sedikitpun atau bahkan merasa sakit hati karena ucapan pedas Kyra. Membuat wanita itu tertegun menatap ekspresi tertawanya yang seolah-olah tanpa beban sama sekali. Dan harus Kyra akui, Daniel terlihat jauh lebih menawan ketika sedang tertawa. “Baiklah, lupakan dulu soal tinggal bersama. Sekarang kita pikirkan tentang acara kita malam nanti,” ujar Daniel setelah berhenti tertawa. Kyra kembali menoleh melihat Daniel dengan satu alis terangkat. “Acara kita nanti malam?” Daniel mengangguk bersamaan dengan senyum tipis yang menggantung di bibirnya. “Ya sweetheart, kamu tidak mendengarkanku saat bicara tadi ya? Tujuanku kemari adalah memberimu boneka dan mengajakmu kencan nanti malam.” “Sayang sekali Tuan, tapi jelas-jelas aku pasti menolaknya!” sahut Kyra. “Jangan sok-sok’an menolak begitu. Jarang sekali aku mengajak wanita pergi kencan. Biasanya mereka yang lebih dulu mengajakku,” tutur Daniel, nampak santai.Berbeda dengan Kyra yang selalu menanggapi ucapannyanya dengan berapi-api. “Dan kau menerima ajakan mereka?!” “Tentu saja, apalagi jika wanita yang mengajakku sangat cantik,” jawab Daniel, sengaja menekan kata ‘cantik’ untuk membuat Kyra cemburu. “Dasar playboy,” ledek wanita itu kemudian. “Kenapa? Kamu cemburu aku pergi dengan wanita lain?” Daniel selalu berhasil memancing kekesalannya. Yang benar saja! Untuk apa dia merasa cemburu? Daniel bahkan bukan siapa-siapanya. Dia hanya orang asing yang kerap membuat Kyra sial. “Jangan bercanda, lebih baik sekarang kau segera pergi dari apartemenku atau aku—” Kyra berhenti bicara saat Daniel tiba-tiba mendekat dan hanya menyisakan jarak sejengkal saja dari tubuhnya. Kyra melangkah mundur tapi tangan Daniel dengan sigap menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel sempurna. Pipi Kyra bersemu ketika merasakan tonjolan dibagian bawah Daniel yang membuktikan pria itu sedang menginginkannya sekarang. Kurang ajar! Berani-beraninya Daniel merasakan itu saat berdekatan dengan dirinya! Kyra berteriak frustasi dalam hati. Kyra marah? tentu saja. Karena setelah tahu apa yang pria itu tengah rasakan saat ini akibatnya membuat isi kepala Kyra jadi dipenuhi hal-hal kotor. Apalagi tanpa diminta tubuhnya tiba-tiba bereaksi hal lain, yang sepertinya ikut terangsang dengan Daniel. Sialan! “Kamu mau kita seperti ini terus atau kau akan menerima ajakan kencanku?” Daniel menunduk menatap wajah Kyra yang sudah seperti cacing kepanasan. “Berengsek! Lepaskan aku!” Bukannya menjawab, Kyra justru mengumpat lalu memberontak minta dilepaskan. Tapi gerakan perlawanannya malah semakin membuat milik Daniel bertambah besar karena gesekan kulitnya. Oh god! Kyra memutar bola mata kemudian mendongak menatap protes Daniel. “Hey! Kondisikan milikmu itu!” Daniel tersenyum geli mendengar ucapan Kyra yang mengetahui betapa terangsangnya dia sekarang. Meski Kyra begitu tak tertahankan, tetapi Daniel masih cukup sadar bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk menginginkan perempuan itu. “Cepat katakan saja kalau kamu mau ikut denganku,” desak Daniel, tanpa sedikitpun mengubah posisi tubuh mereka. Kyra mulai tidak nyaman dengan keadaannya. Dia juga bisa tiba-tiba hilang kendali dan balik menginginkan Daniel kalau seperti ini terus. Kyra memejamkan mata, mencari cara supaya bisa keluar dalam posisi ini sekaligus menolak ajakan kencan pria tersebut. Dan sayangnya, hanya itu satu-satunya cara yang bisa Kyra lakukan sekarang. Meski sebenarnya ia ragu, tapi Kyra tidak punya pilihan lain selain menyerang titik paling sensitif milik Daniel. Satu… Kyra menghitung dalam hati. Dua… Tiga! “Arrghhhh!!!!” Daniel mengerang keras ketika Kyra meremas miliknya sangat kuat. Bukan hanya meremas, Kyra sepertinya berniat mematahkan senjata pusakanya tersebut. “Hei lepaskan bodoh! Sakit!” Daniel meneriaki Kyra supaya berhenti meremas miliknya. Tetapi Kyra tak menggubrisnya dan malah semakin erat mencengkeram batang tersebut sampai-sampai Daniel merasa bahwa ia sudah mati rasa. Ya Tuhan, masa depannya sedang dipertaruhkan sekarang! Daniel akhirnya mau tidak mau mendorong pundak Kyra hingga wanita itu terhempas mundur menabrak dinding. “Aduh!” Kyra meringis ketika ia merasa punggungnya encok. Daniel terlalu kuat mendorongnya hingga membuat tubuhnya berasa remuk. Sedangkan Daniel melotot, terkejut karena perbuatan yang sudah ia lakukan ternyata menyakiti Kyra. “Kyra! Kamu baik-baik saja?” Daniel membungkuk di hadapan Kyra yang bersimpuh sambil meringis kesakitan. “Semua ini gara-gara kau!” Kyra berteriak frustasi sambil menahan nyeri di punggungnya. Daniel diam saja, dia tidak bermaksud mencelakai Kyra. Apa yang dilakukan Kyra pada Daniel sebelumnya-lah yang seharusnya disalahkan. Tapi Daniel tahu betul Kyra tidak akan mau disalahkan, karena dia seorang wanita. Dan peraturan hidup seorang wanita salah satunya adalah tidak mau salah. “Baiklah semua ini memang gara-gara aku. Aku minta maaf. Ayo kubantu kamu berdiri.” Daniel menyesali perbuatannya lalu mengulurkan tangan berniat membantu Kyra. Tapi karena terlanjur marah, Kyra tidak sudi di tolong Daniel dan menepis tangan pria tersebut. “Pergi saja dari rumahku, itu sudah sangat membantuku,” ujar Kyra dengan dingin. “Tapi kau sakit! Aku akan tanggung jawab dan membawamu ke rumah sakit,” sahut Daniel, tidak mau meninggalkan Kyra sendiri dalam kondisi kesakitan seperti sekarang. Kyra yang akhirnya berhasil berdiri dengan susah payah tanpa bantuan Daniel, lalu melirik tajam laki-laki di depannya. “Kau tidak perlu tanggung jawab, aku baik-baik saja. Jadi kumohon cepat keluar dari rumahku, sekarang!!!!” Kyra sangat keras kepala. Daniel tidak bisa memaksa wanita itu kali ini, ia akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan Kyra dengan pergi dari apartemen. Melihat Daniel pergi tanpa sepatah-kata pun membuat Kyra sedikit kasihan padanya. Tapi biarlah, toh keberadaan laki-laki itu di sini hanya akan semakin membuatnya mengalami kesialan. Daniel itu sangat berbahaya, terutama bagi hidup Kyra. Baru saja beberapa hari mengenalnya, Kyra sudah kena sial berturut-turut. Ya Tuhan… kemarin dia dipecat, hari ini dia sakit, lalu apa lagi yang akan terjadi besok? Semoga saja kesialan Daniel tidak akan membawanya sampai ke kematian. *** Ting… Tong… Lima menit berselang kepergian Daniel, Kyra kembali dibuat kesal akibat mendengar bell apartemennya berbunyi. “Jangan bilang kalau pria berengsek itu kembali lagi?” Kyra menggerutu. Awalnya ia memilih mengabaikan, tetapi karena sang tamu terus menekan bell, Kyra jadi merasa terganggu dan dengan sangat terpaksa akhirnya membukakan pintu. “Berengsek! Aku kan sudah bilang per—haaa?” Kyra berhenti mengumpat ketika sadar bahwa orang yang memencet bell apartemennya bukanlah Daniel. “Maaf, say-saya kira tadi tamu yang lain. Tapi, siapa kalian?” Kyra meminta maaf dan menatap ke sepuluh wanita berjas putih dengan logo bertuliskan rumah sakit Stauffer Jkt. Dari penampilan mereka saja sudah jelas-jelas terlihat jika mereka semua adalah seorang dokter. “Selamat sore Nyonya Kyra. Kami dokter dari rumah sakit Stauffer Jkt. Pak Daniel mengatakan Anda sakit tapi beliau tidak tahu persis rasa sakit yang Anda alami sehingga Pak Daniel menyuruh sepuluh dokter spesialis untuk memeriksa Anda,” jelas salah satu dokter bernama Rika. Menyuruh sepuluh dokter spesialis hanya untuk memeriksanya? Kyra sangat syok, ia berpikir jika Daniel memang sudah tidak waras! “Ma-maaf sebelumnya, tapi aku baik-baik saja. Punggungku hanya encok sedikit bukan cedera berat—” Rika menyela, “Anda bisa jelaskan itu nanti, sekarang kami akan melakukan pemeriksaan lebih dulu.” Rika kemudian berbalik ke arah teman-temannya di belakang dan tanpa persetujuan Kyra, wanita itu menyuruh ke sembilan dokter lainnya masuk. “Para dokter, silahkan masuk dan kita segera lakukan pemeriksaan.” Kyra tidak bisa menghalangi ke sepuluh dokter itu masuk ke dalam apartemennya. Apalagi ketika mereka semua sudah bersekongkol membawa tubuhnya berbaring di ranjang kamar. Huft… Kyra menyerah ketika para dokter spesialis satu persatu mulai memeriksa seluruh bagian tubuhnya. Beruntung Daniel menyuruh dokter wanita, jadi Kyra tidak akan khawatir mereka melakukan hal yang tidak-tidak terhadap tubuhnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN