Pukul setengah tujuh malam Tasya baru tiba di rumahnya diantar Erik dengan Taksi. Wajahnya tak semuram tadi. Perjalanan dengan Erik rupanya menjadi obat mujarab untuk melupakan Rangga. Tasya tidak tahu entah berapa jumlah uang yang telah dikeluarkan sahabatnya yang super dermawan itu. Peduli amat, lagian Erik sendiri yang menawari bukan Tasya yang minta. Jadi, kalau kebobolan itu resikonya. "Assalamualaikum" Mereka mengucap salam begitu masuk ke dalam rumah. " Waalaikumsalam." Heni menyambut kedatangan mereka dengan senyuman manisnya. " Kakak darimana aja jam segini kok baru pulang?" Heni menatap Tasya dan Erik bergantian. Wanita hamil itu juga memandangi barang-barang bawaan mereka. " Maafin aku ya Tante, aku tadi yang ngajakin Tasya buat nyari alat-alat olahraga." Erik berbohong. "

