Bab 1. Tiga Tahun Tanpa Cinta
“Maria, jangan pernah berharap lebih dari pernikahan ini. Aku tak akan pernah mencintaimu, tidak akan pernah! Secepatnya, aku akan mengurus perceraian ini di catatan sipil!”
Sean, pria yang selama tiga tahun ini telah menjadi suaminya, berkata dengan kasar pada Maria, seakan gadis itu tak ada arti bagi dirinya selama ini.
Gadis itu tak bisa mengerti lagi bagaimana caranya agar dia bisa dicintai oleh laki-laki yang telah hidup bersamanya selama tiga tahun belakangan. Segalanya telah dikorbankan; hati, perasaan, waktu, dan tenaga.
Apakah semuanya masih kurang bagi seorang Sean Davis?
Seandainya saja tiga tahun lalu dia tak perlu menerima tawaran keluarga angkatnya untuk menggantikan saudara angkatnya untuk menikah dengan Sean, mungkin saat ini Maria masih menghabiskan waktunya dengan mengejar karir, dan pergi bersama teman-teman semasa kuliahnya dulu.
Semenjak memutuskan untuk menerima pernikahan dengan Sean, semuanya berubah drastis!
Dia harus meninggalkan semua kesenangannya dan menjadi istri penurut yang tak pernah dianggap.
Tak jarang saat Sean pulang larut malam, dia akan mendapatkan aroma parfum lain melekat di pakaian suami yang sangat dicintainya itu. Tapi apa yang bisa dikatakannya?
Sean adalah tuannya di dalam rumah besar itu, Maria sendiri hanyalah istri pengganti yang tak berhak menyampaikan keberatan atas perbuatan Sean di luar sana. Maria sendiri tak tahu, berapa banyak dia bertemu dengan wanita di luar sana, karena setiap malam parfum dibauinya selalu berbeda.
Dilihatnya laki-laki yang sudah tiga tahun ini mengisi kehidupannya, sedang berdiri di depan cermin besar untuk mengenakan dasi. Maria mendekati Sean, mengulurkan tangan untuk membantu laki-laki itu membetulkan letak dasi yang agak miring.
“Kau tak perlu bersikap manis, Mary. Tinggal menunggu waktu, aku akan merelakanmu pergi dari sisiku. Selamanya!” ketus Sean dengan tatapan dingin dan gelap, membuat wajah tampan yang selalu didambakan Maria terlihat menakutkan.
“Tak perlu kau ulangi, Sean. Aku masih memiliki telinga dan ingatan yang kuat untuk setiap perkataanmu. Tapi, tak bisakah—“
“Bersikap baik?” Sean memotong kalimat Maria dengan cepat.
Sean bergegas meninggalkan kamar setelah merapikan dasi, Maria mengekor dari belakang seperti seekor anjing yang meminta perhatian tuannya.
Maria sedikit terkejut, Sean seakan mampu membaca apa yang ada di pikirannya. Apa mungkin Sean memiliki kekuatan tersendiri yang Maria tak pernah tahu?
Maria berusaha menguatkan diri, sementara bibirnya bergetar untuk terus melawan Sean, tapi dia tak bisa terus menahan perasaan yang lambat laun akan membunuhnya secara perlahan.
“Benar, tidak bisakah kau bersikap baik padaku?”
Sean mencebik, lalu menjepit dagu dagu Maria, membuat Maria meringis.
“Kau pikir siapa kau sampai aku, Sean Davis, harus bersikap baik pada perempuan sepertimu?”
“Aku istrimu,” jawab Maria cepat.
Tangan Sean yang menjepit dagunya semakin lama semakin mengencang, pelan ditepisnya tangan Sean.
“Istri? Kau hanya barang pengganti, Wahai Wanita! Apa kau berpikir, kenapa aku tak pernah mau menyentuhmu?”
Tiga tahun Sean tak pernah menyentuhnya.
Tiga tahun mereka tidur di ruangan yang berbeda.
Telanjang bulat pun pernah dilakukan Maria, sekadar memancing hasrat laki-laki tampan di hadapannya sekarang. Tapi alih-alih menyentuhnya, justru Sean mendorong tubuh Maria dengan kasar dan melemparnya dengan selimut.
Dia bilang dia jijik.
Tubuh Maria serupa pakaian usang yang tak layak dipakai.
Membuat Maria merasakan malu teramat sangat, dan tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat ini. Jika saja mati adalah pilihan yang tepat, maka dia lebih memilih untuk tak pernah dilahirkan di dunia.
“Karena aku serupa pakaian usang yang sudah tak layak,” jawab Maria pelan dengan suara yang hampir tak terdengar.
Sean mendengarnya, pendengarannya cukup tajam untuk menangkap kalimat Maria barusan.
“Kau benar, itulah dirimu!” jawab Sean, lalu melirik Maria sesaat sebelum dia benar-benar melangkah pergi keluar dari mansion.
Sesak.
Sakit.
Rasanya benar-benar menyedihkan tak pernah dihargai sebagai seorang istri. Mungkin ada yang salah dengan doa yang setiap malam dipanjatkannya?
“Semua memang salahku, karena aku mencintai laki-laki berhati dingin sepertimu,” ucap Maria sekali lagi, membuat Sean kembali menghentikan langkahnya.
“Aku tidak memintamu untuk dicintai. Sampai kapan pun, meski Mya sudah tiada, cinta yang kurasakan hanya untuk Mya. Kau paham? Jadi, jangan menyalahkan aku dengan sikapku. Aku lebih baik bersama wanita lain di luar sana, daripada aku harus bertemu denganmu. Wanita yang sama sekali tak pernah aku inginkan!”
Dengan susah payah Maria menelan ludah, kerongkongannya tercekat, lidahnya kelu, tak bisa lagi membalas kalimat Sean padanya.
Saat semua orang mengira Mya telah meninggal dan jasadnya tak pernah ditemukan, orang satu-satunya yang tak percaya adalah dirinya.
Dia tahu betul seperti apa Mya—adik angkat perempuannya—semasa mereka masih hidup bersama di dalam satu atap Keluarga Wilson.
Mya tak pernah memperlakukan dengan baik, hanya di depan orang lain dia akan berpura-pura mencintai Maria layaknya saudara terkasih.
Maria tertawa pelan, mengejek dirinya yang begitu naif.
Tubuhnya meluruh, kemudian duduk di atas lantai dingin mansion, merutuki nasib yang benar-benar sial.
Apa karena alasan itu keluarga sebenarnya sampai membuangnya?
Apa mungkin dia pembawa sial?
Bintang keberuntungan sepertinya tak mau menyentuhnya.
“Sean, aku akan pergi ke catatan sipil, aku yang akan mengurus perceraian ini, seperti maumu,” ucap Maria pelan, menatap ke arah lantai marmer yang memantulkan sosok dirinya.
Apa yang kurang darinya? Pikir Maria saat itu.
Kepala pelayan yang kebetulan melihat Maria yang sedang memandangi dirinya di atas lantai marmer, terdiam sesaat.
Wanita bertubuh gempal, dengan ubah memenuhi seluruh rambutnya, merasakan simpatik sejak pertama Sean membawa wanita itu masuk ke dalam kediaman Davis.
Dia masih ingat, tiga tahun lalu rumah itu seperti tak ada tanda kehidupan, begitu sunyi, terasa dingin, dan wanita cantik bertubuh kurus itu yang membuatnya hidup dengan kehangatan yang dimilikinya.
Wajahnya cantik, tubuhnya tinggi dan kurus, dengan kulit seputih boneka porselen yang berada di dalam etalase pajangan toko. Ketika dia berbicara, seketika semua terdiam merasa tenang, seperti sedang mendengar alunan petikan harpa yang mampu menghinoptis siapa pun untuk tidak mencintainya.
Tapi kenapa Sean, bisa mampu membenci wanita itu begitu dalam?
“Nyonya Muda Wilson,” panggil Kate, kepala pelayan yang selalu baik padanya.
Pelan, Maria mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangannya ke arah Kate. Kedua matanya sudah merah, tapi dia masih berusaha memberikan senyum dari bibir mungilnya.
“Ada apa, Bibi Kate?”
“Apakah Nyonya Muda masih sanggup bertahan?”
Kate terdiam, langsung menyadari tak seharusnya dia berbicara seperti itu. Bagaimana jika dia sampai menyinggung perasaan nyonya mudanya?
“Kurasa ... mungkin aku sudah tak tahan, Bibi Kate. Bagaimana menurutmu?”
“Maaf, aku mencuri dengar tadi. Apa Nyonya Muda akan menerima permintaan dari Tuan Muda Wilson?”
Maria menarik napas dalam-dalam sebelum dia mengatakan kalimat berikutnya, “Aku yang akan mengurus perceraian jika dia merasa aku adalah duri di dalam daging.”