Ketika pergi, Maria tak mengatakan apa pun, bahkan Kate tak sempat bertanya lebih banyak. Wanita itu dengan raut wajah yang menyedihkan, pergi menyeret sebuah koper besar dengan perasaan hancur dan tak bisa dikatakan dengan kalimat apa pun.
Tubuhnya kurusnya terlihat sangat, sangat menyedihkan. Bahkan ketika dia pergi meninggalkan mansion, dia tak menoleh sedikit pun, seakan mantap dengan langkahnya untuk melupakan semua kenangan yang pernah ada di rumah besar itu.
Lalu apa yang bisa dilakukan Kate untuk menahannya?
Dia hanya seorang kepala pelayan yang tak memiliki kuasa apa pun.
“Maafkan saya,” ujar Kate lemah.
Sean hanya mengangguk, kemudian berjalan melewati Kate dengan wajahnya yang suram. Sean melepaskan jas miliknya, lalu menyerahkan pada Kate.
Dia tak pernah berpikir jika Maria berani untuk membuat keputusan seperti itu, pergi meninggalkannya di saat dia tak berada di rumah.
Sean berjalan ke arah kamar di mana Maria selalu tidur. Dibukanya pintu kamar dengan tenang, tak ada yang berubah pada isi di dalam kamar.
Seprei terlihat rapi seperti semula, bahkan seprei yang dipasang adalah seprei di mana Maria pertama kali datang ke rumah itu, sekarang kamar itu terlihat seperti tak pernah memiliki penghuni sebelumnya.
Sean bergerak mendekati lemari, diperhatikannya pakaian-pakaian yang pernah dibelikannya untuk Maria, terlipat rapi di dalam lemari, seperti sediakala. Kotak perhiasan yang pernah diberikannya untuk Maria sebagai hadiah pernikahan berada di dalam laci, semuanya utuh. Kartu black card yang diberikannya pada Maria, juga tergeletak rapi di dalam kotak perhiasan. Buku tabungan, segalanya tak ada yang dibawa oleh perempuan itu.
Maria hanya membawa semua rasa sakit yang mengendap di dalam hatinya selama tiga tahun ini, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menyudahi segalanya, daripada berlarut-larut dalam kekecewaan yang semakin mendalam.
“Kau kira, semudah itu pergi dariku, Mary?” gumam Sean dengan sesungging senyum licik di bibirnya.
Dia tak mencintainya.
Dia tak menginginkannya.
Tapi dia tak ingin melepaskannya?
Bukankah tadi dia begitu menginginkan perceraian?
Sean mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana.
Sean :
‘Jadi kau sudah pergi, Mary?’
Lama ditunggunya, Maria tak kunjung membalas pesan yang dikirimkan Sean padanya. Kali ini raut wajahnya berubah menjadi raut kekesalan.
Sean :
‘Jadi kau memutuskan untuk pergi dari hidupku, Mary? Kau kira, semudah itu untuk melepaskan diri dariku?’
Masih belum mendapatkan balasan apa pun. Tatapan Sean yang dingin seakan mampu masuk ke dalam layar ponsel. Sean menggertakkan giginya, dan mengumpat dengan pelan.
Sean :
‘Mary, kuberi kau waktu sampai tengah malam untuk kembali ke mansion. Jangan menguji kesabaranku, Mary. Akan kucari dan kubunuh kau, jika sampai tengah malam, kau belum juga kembali padaku!’
Maria mengacuhkan semua pesan masuk yang diterimanya dari Sean. Saat ini yang ada di pikirannya, dia ingin menyelesaikan segalanya. Dia tak ingin lagi perasaan cinta sepihak yang dirasakannya pada Sean, perlahan membunuhnya.
Maria telah sampai di Town Square. Bergegas dia menarik koper besar miliknya, dan melangkah dengan mantap masuk ke area elit tersebut. Banyak gedung-gedung besar perkantoran, mall-mall, dan bangunan lainnya. Maria tahu sebagian dari aset di Town Square setengahnya dikuasai oleh keluarga Sean.
Laki-laki itu adalah seseorang yang sangat pintar dan selalu diandalkan oleh keluarga besarnya.
Saat dia dan Sean menikah, dia ingat dengan jelas hanya Si Tua Darren—kakek dari Sean—yang menyetujui dan ikut berbahagia dengan pernikahan keduanya.
Bahkan keluarga angkatnya sendiri terlihat kurang menyukai saat Sean dan Maria menikah, mereka terpaksa menyetujui Maria menggantikan posisi Mya saat itu karena Mya menghilang di saat acara pertunangannya dengan Sean.
Sedangkan saat itu media massa dan seluruh kota telah mengetahui jika putera tunggal Keluarga Davis akan menikah setelah acara pertunangan, jika saja Maria tak menggantikan posisi adik angkatnya itu, maka seluruh keluarganya akan mengalami kesulitan di kota.
Sean dengan mudah meratakan kehidupan perekonomian Keluarga Wilson, dan Maria tak ingin hal itu terjadi!
Maria merasakan getaran di tas selempang miliknya, ponselya sudah berkali-kali bergetar, dan dia sengaja memasang mode getar, karena kali ini dia sedang tak ingin diganggu.
Tapi ponselnya tak kunjung berhenti, bahkan getara konstan itu terus dirasakannya.
Dengan enggan dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas ranselnya, dan seperti biasa nama Sean ada di layar.
“Ada apa Tuan Muda Davis?” tanya Maria dengan nada dingin pada suaranya.
“Kau sudah baca pesan yang aku kirimkan?” tanya Sean tak kalah diinginnya. Sean benar-benar berang begitu mengetahui Maria mengangkat teleponnya dengan nada sinis.
Perempuan itu sangat menyebalkan di mata Sean.
Dia tak habis pikir, kenapa dulu dia menyetujui keputusan gila dari Si Tua Bangka Davis untuk menikahi Maria. Lebih parahnya lagi Tuan Besar Tua Davis menyukai perempuan itu, bahkan berkata jika Maria jauh lebih baik dari Mya.
“Tentu saja aku sudah membacanya,” jawab Maria santai seakan tak ada beban. Meski dia tahu, jika saat ini Sean berdiri di hadapannya, Sean akan habis-habisan memakinya seperti sedang memaki seorang pelayan.
“Kau kembali sekarang juga!”
“Kalau aku tak mau, apa yang akan kau lakukan, Tuan Muda Davis?” tanya Maria dengan pertanyaan yang sangat menantang dan memancing emosi Sean.
“Aku akan menyuruh orang untuk menyeretmu kembali ke mansion. Kau pergi tak berpamitan denganku?”
“Apakah saya harus berpamitan, sedangkan selama tiga tahun ini Anda menganggap saya tak pernah ada. Saya ada atau pun tidak di dalam rumah itu, apakah membuat Anda kehilangan? Saya rasa tidak, Tuan Muda Davis!” seru Maria.
Jauh di hati kecilnya, Maria tak pernah bisa meninggalkan Sean. Rasa cinta yang ada selama tiga tahun ini, adalah sebuah yang cinta yang sebenarnya.
Sean memintanya kembali ke rumah?
Rasanya tak mungkin laki-laki itu merasa kehilangan dirinya yang selama ini tak pernah terasa istimewa di mata suaminya itu.
“Hmmm.” Sean bergumam.
“Ada lagi yang ingin Anda katakan?”
“Kau benar-benar tak patuh padaku?”
“Dengan ancaman Anda yang mengatakan Anda akan membunuh saya, jika saya tidak kembali ke rumah? Apa yang perlu saya takutkan? Saya tahu Anda memiliki kekuasaan tanpa batas, tapi saya bukan b***k Anda yang bisa Anda perlakukan semau Anda. Paham?”
“Kau—“
Sean semakin berang mendengar kata-kata Maria yang sangat tajam. Kedua tatapan Maria saat ini benar-benar tajam dan menakutkan seakan hanya dengan menatap, dia mampu membuat orang lain mengejang dan mati di tempat.
“Kalau begitu kuijinkan kau pergi setelah kau menemaniku jam delapan malam ini ke rumah Keluarga Wilson,” ujar Sean penuh percaya diri.
Setidaknya saat dia datang ke acara ulang tahun mendiang Mya, dan tentunya dia yakin keluarga besarnya pun akan datang, jadi tak ada salahnya dia menjaga image dengan berpura-pura rukun dengan Maria.
Jika dia tak bisa memperlihatkan kerukunan di depan Pak Tua Davis, mungkin lelaki tua berusia 75 tahun itu pasti akan merutuknya dengan segala sumpah serapah. Laki-laki itu tak pernah mau untuk dilawan, dan siapa pun yang berusaha melawannya, dipastikan akan angkat kaki dari Manor milik keluarga besar.
“He-eh? Kau memintaku menemanimu? Apa kau tak jijik berdekatan denganku?”
“Bisa kah kau menutup mulutmu dan mengikuti apa yang aku pinta, Maria Wilson Yang Terhormat?” sindir Sean.
“Tentu saja Tuan Muda Davis Yang Agung! Tapi sesuai kata-katamu, setelah acara selesai, biarkan aku pergi.”
“Kenapa kau begitu ingin pergi dari sisiku, Mary?”
‘Mary’ panggilan kecil Maria diucapkannya dengan sangat lembut, seakan dia begitu mencintai dan menyayangi Maria. Padahal Maria sadar, tak ada rasa apa pun di dalam hati laki-laki yang dingin itu.
Di dalam hatinya hanya ada satu nama.
Bahkan jika dia terpaksa harus mengambil hati itu dari tubuh Sean, tetap saja Sean akan memindahkan nama tersebut ke tempat lain di dalam dirinya.
“Karena kau menginginkannya,” jawab Maria.
“Aku memang ingin bercerai denganmu, tapi apa aku pernah mengatakan setelah itu kau bisa pergi dari sisiku, Mary?”
“Benarkah? Bukankah tadi pagi kau bilang, kau akan merelakan aku pergi dari sisimu?”
“Aku meralatnya. Kau tak akan bisa pergi dari sisiku tanpa seijinku!”
“Peduli setan, Sean! Setelah urusan malam ini selesai, aku akan meninggalkanmu!” maki Maria.
Terdengar desah frustasi Sean di seberang sana.
Maria tak mengerti, apakah Sean memiliki gangguan psikologis atau ada penyebab lain yang bisa mengubah suasana hati semaunya?
“Silakan, jika kau bersikeras pergi maka aku akan mematahkan kedua kakimu!”