Maria tertawa sinis ketika mendengar Sean mengucapkan kalimat barusan.
Mematahkan kedua kakinya?
Apa semudah itu!
“Sean Davis, apa kau mau mengotori kedua tanganmu dengan mematahkan kedua kakiku menggunakan tanganmu sendiri? Untuk berdekatan denganku saja, kau merasa malu dan jiik seperti melihat kotoran. Lalu sekarang kau bilang—“
“Diam! Kau turuti perintahku, atau jangan salahkan aku jika berbuat kasar padamu, Mary!”
Maria tahu jika Sean serius pada setiap ucapannya. Tapi kali ini tak ada rasa takut sedikit pun di dalam dirinya. Justru dia menganggap kelakuan Sean sangat lucu dan konyol.
Maria mendengus, lalu sekali lagi dia tertawa cukup keras.
“Kau mau berbuat kasar? Apa selama ini, kau tak cukup berbuat kasar padaku? Kau selalu berbuat kasar, Tuan Muda Davis. Sudah cukup, aku sudah memutuskan hari ini adalah hari terakhir aku mau bersamamu. Setelahnya, aku akan memintamu untuk menjauh dari kehidupanku!”
Sean benar-benar dibuat jengkel dengan perkataan Maria di telepon. Dia tak bisa habis pikir, Maria yang selama ini dikenalnya selalu patuh pada setiap perkataannya, tiba-tiba dengan sangat tegas dan kurang ajar mampu melawannya?
“Jam delapan malam aku akan menjemputmu, jika kau tak mau kembali ke rumah. Katakan saja di mana lokasimu, aku akan ke sana nanti malam. Oh ya, aku mau kau berdandan yang cantik, kenakan gaun yang bagus, agar kau tak membuatku malu!”
“Aku tak mau membuang-buang uang yang kumiliki hanya untuk menyenangkan hatimu, aku sudah mengembalikan semua milikmu yang pernah kau berikan padaku. Jadi, malam ini sepertinya kau harus menerima penampilanku yang apa adanya, atau aku tak akan pernah pergi bersamamu!” balas Maria tak kalah sengitnya dari Sean.
Seandainya Maria bisa melihat seperti apa raut wajah Sean saat ini, pasti dia akan tertawa terbahak-bahak. Wajah Sean benar-benar merah seperti sebuah tomat busuk!
Baru kali ini dia mendengar dengan sangat jelas, kalimat-kalimat penolakan terlontar dari mulut Maria.
Selama tiga tahun tinggal di satu atap, tak pernah satu kali pun Maria berani menentang, atau bahkan berbicara dengan nada membentak padanya.
Tapi hari ini?
Darimana semua keberanian yang dimiliki Maria?
‘Apa ada seseorang yang membuat Maria berani melawanku?’
‘Dia tak pernah berkata kasar, apalagi memakiku!’
Sean membiarkan pikiran-pikiran itu berlari-lari di dalam otaknya. Sean benar-benar dibuat jengkel oleh Maria. Dia tak pernah membayangkan jika Maria mampu melawannya hari ini, bahkan mengejeknya!
“Hei! Kau masih di sana, Tuan Muda Davis?” tanya Maria yang mulai tak sabar untuk menutup telepon.
“Uhm, apa kau ada salah makan tadi pagi sebelum pergi meninggalkan mansion?”
“Hah? Salah makan? Aku saja belum makan sejak tadi!” maki Maria kali ini dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya, membuat Sean menjauhkan ponselnya dari telinga.
“Aku tak mau panjang lebar, jam delapan kau harus sudah siap. Aku tak ingin kau membuatku malu datang ke keluargamu dengan penampilanmu yang seperti biasa, terlihat sangat norak dan memalukan!”
Sean menutup telpon tanpa mengatakan apa pun setelahnya. Sean benar-benar dibuat keheranan dengan perilaku Maria yang benar-benar berbeda 180 derajat dari sebelumnya.
Apa benar Maria sudah tak mencintainya lagi?
Jika benar, berarti ucapannya tadi untuk mengabulkan masalah perceraian, dia benar-benar akan melakukannya?
Banyak pertanyaan di dalam benak Sean tapi tak ada yang bisa menjawabnya, kecuali jika dia masih memiliki nyali untuk kembali menghubungi Maria, dan membiarkan Maria membentaknya seperti tadi.
Maria sendiri mendapatkan sebuah apartemen berukuran studio dengan furniture yang lengkap di dalamnya. Maria membayar uang sewa untuk enam bulan ke depan dengan sisa uang yang dimilkinya di dalam tabungan.
Maria melempar koper besar miliknya ke atas tempat tidur, kemudian mengempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Rasa berat karena harus berpisah dari Sean terasa jelas di dalam dadanya. Tapi, laki-laki itu tak pernah menginginkannya, bahkan dia selalu merasa jika Maria adalah kuman yang harus dimusnahkan secepatnya.
“Sean, melepasmu adalah yang terbaik bagiku. Aku tahu, selamanya Mya akan selalu membayang-bayangi pikiranmu. Kurasa sebentar lagi kau akan menjadi laki-laki yang tak waras!” maki Maria pada sebuah bantal kepala, seakan bantal itu adalah wajah Sean yang sangat menyebalkan!
Dia tak pernah bisa mengerti, dulu ketika Sean masih bersama Mya, wajahnya tak pernah dingin seperti saat bersamanya. Sean mampu memberikan senyuman yang terlihat begitu hangt dan penuh kasih sayang pada Mya.
Lalu ketika dia bersama Maria?
Laki-laki itu hanya bisa bersikap kasar, bahkan kata-kata yang diucapkannya pada Maria seakan tak pernah disaring terlebih dahulu. Entah berapa kali Sean memakinya dengan kata-kata kasar, lalu menamparnya berkali-kali, dia tak pernan mengeluh dan tak pernah berhenti untuk mencintai laki-laki itu.
“Oh ya, aku harus menelepon Ruby dan Dylan, mereka pasti akan menunggu kabar dariku,” ujar Maria.
Dia sudah berjanji pada Ruby untuk memberikan lokasi tempat tinggal barunya. Semenjak Maria menikah dengan Sean, intensitas pertemuannya dengan kedua sahabat karibnya tak sesering dulu sebelum dia menikah.
Sean terlalu banyak memberlakukan peraturan yang begitu kaku di dalam rumah tangganya. Sekali lagi dia tak bisa berkutik di depan pria yang sangat dicintainya itu.
“Ruby?”
“Mary, kau di mana sekarang?”
“Aku sudah di apartemen baru. Apa kau masih bersama Dylan saat ini, Ruby?” tanya Maria. Suaranya terdengar begitu gembira dan lepas, seakan tak pernah ada beban sebelumnya.
“Ya, aku masih bersama Dylan. Berikan aku lokasinya, kami akan datang membawakan makanan untukmu!”
“Ok.”
“Ngomong-ngomong, kenapa kau mencari tempat tinggal baru?”
“Kenapa? Aku akan menceraikan laki-laki setengah waras itu!”
Ruby tertawa mendengar yang baru dikatakan Maria padanya.
“Kau bisa menceritakan segalanya padaku nanti, Mary. Aku akan segera ke sana bersama Dylan. Dia merindukanmu,” goda Ruby.
Maria tahu, Dylan pernah memiliki perasaan lebih padanya sebelum dia menikah dengan Sean tiga tahun lalu.
Selama mereka bertiga masih sekolah, saat Maria menjadi korban ejekan kawan-kawan di sekolah, Dylan selalu membelanya. Saat itu tak ada yang menarik pada diri Maria. Tubuhnya kurus, tinggi, kulitnya terlihat pucat lebih pucat dari sebuah porselen, menggunakan gigi kawat, dan mereka mengganggap Maria adalah gadis yang membosankan.
Di mata Dylan, Maria adalah gadis yang sebaliknya. Meski saat itu Maria adalah seorang penyendiri dan jarang berbicara, dia selalu berusaha mendekati gadis itu dan berbicara dengan di perpustakaan maupun di taman sekolah.
Satu-satunya sahabat yang dimiliki Maria saat itu hanya Ruby, lalu Dylan menawarkan kebaikan dan selalu bersama Maria dan Ruby.
Sebenarnya Dylan cukup populer, tapi saat itu dia sadar, hatinya terperangkap pada sosok Maria.
Sekalipun Dylan tak mengungkapkan perasaannya pada Maria, gadis itu merasa perhatian yang diberikan Dylan padanya terlalu berlebihan, dia percaya diri jika Dylan menyukainya, dan kebenaran mengenai perasaan Dylan pun terlontar dari mulut Ruby.
Ponsel Maria berbunyi, menghentikan senyuman yang ada di bibirnya ketika dia sedang melamunkan masa lalunya saat dia masih sekolah dulu.
Sean :
‘Jangan lupa usahakan berdandan yang cantik, aku tak mau kau memperlihatkan wajah jelekmu pada keluargaku nanti di acara ulangtahun Mya. Kalau kau sampai mempermalukanku, aku tak segan menyakitimu!’
“Laki-laki itu hanya bisa mengancamku. Kurasa aku sudah gila mencintai laki-laki sepertimu!” maki Maria tepat di depan layar ponsel miliknya.
Maria :
‘Ok. Aku akan berdandan dengan sangat cantik. Karena ini permintaanmu, maka kirimkan aku sejumlah uang untuk membeli gaun yang mahal, dan biaya ke salon!’
Sean :
‘Salah siapa meninggalkan black card yang kuberikan padamu? Sekarang kau membutuhkannya, kan? Sudah miskin, banyak tingkah!’
Maria benar-benar ingin melempar ponselnya begitu membaca balasan yang diterimanya dari Sean. Bagaimana bisa laki-laki yang dicintainya ternyata adalah laki-laki yang tak memiliki hati, bahkan senang menghina dirinya.
Lalu ketika Maria mengatakan dia akan menceraikannya, lagi-lagi laki-laki itu membuat keputusannya sendiri, meski bercerai dia tetap harus berada di sampin Sean?
Peraturan itu sepertinya tak pernah ada di hukum manapun!
Maria :
‘Kalau begitu jangan salahkan aku, jika aku mempermalukanmu’ [Emoticon senyum]
Maria mengirim balasan disertai emoticon senyum.
Sean yang sedang berada di kamar dan duduk di sofa, sontak dibuatnya geram dengan balasan yang dikirimkan Maria padanya. Dia tak menyangka setelah keluar dari rumahnya, Maria mampu membalas dengan ketus setiap kalimatnya?
Apa gadis itu sudah bosan hidup?
Sean menggertakkan giginya, rahangnya mengeras, ingin rasanya dia menggigit Maria jika saja gadis itu ada di hadapannya.
Maria :
‘Kau tak punya uang? Sudah jatuh miskin sampai begitu perhitungan padaku. Cepat kirimkan uangnya atau aku akan pergi ke acara itu dengan baju seadanya!’
Gertakan yang baru saja dikirimkan Maria melalui chat, membuat Sean membuka m-banking miliknya dan segera mengirimkan sejumlah uang ke rekening pribadi milik Maria.
Sebuah pesan baru masuk ke ponsel milik Maria. Laki-laki itu tak membalas pesan terakhir Maria. Tapi ketika Maria membuka pesan yang baru saja masuk, kedua matanya terbelalak kaget. Tak percaya jika Sean mengirimkan sejumlah uang yang lebih dari cukup hanya untuk membeli sebuah gaun dan perawatan ke salon.
'Transfer Dana : $1,500,000'
Sean :
‘Wanita gila, sudah kukirimkan sejumlah uang. Kurasa lebih dari cukup. Sampai kulihat penampilanmu biasa saja, kupastikan kau harus mengganti uang itu 10x lipat!’
“Sinting! Aku ini masih istrinya, dan dia begitu perhitungan? Seharusnya tadi kubawa saja buku tabungan dan kartu yang diberikan Sean padaku di awal pernikahan!”
Sean :
‘Jam delapan aku akan menjemputmu ke apartemen!’
Maria mendengus kesal. Baru saja dia menemukan tempat baru, setidaknya dia berpikir dia bisa melepaskan diri dari masalah rumah tangganya dengan Sean. Lalu, laki-laki yang tak pernah mencintainya itu terus memaksanya untuk membeli gaun, bersolek, ke salon, semua itu tak terlalu penting, dia hanya akan menjadi pajangan dan belum setelah itu Sean bisa mencintainya, kan?
Maria melemparkan ponsel miliknya ke sudut ranjang, dia malas membalas pesan dari Sean. Baru saja dia mau beristirahat, ponsel miliknya kembali berbunyi, dengan malas dia merayap ke sudut tempat tidur dan menatap ke layar ponsel.
Ruby meneleponnya!
“Ya?”
“Aku dan Dylan akan ke sana sekarang!” seru Ruby. Nada suara gadis itu terdengar sangat gembira.
Terakhir mereka bertemu sepertinya sudah sangat lama, Maria lupa, mungkin sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Sean tak terlalu menyukai gadis itu, setiap kali Ruby datang ke rumah mereka, Sean akan merengut, wajahnya terlihat seperti orang yang menahan buang air besar selama berhari-hari.
“Aku tunggu!” jawab Maria tak kalah riangnya.
Benar-benar seperti seorang napi yang baru saja lepas dari tahanan dan menghirup kebebasan di luar.
Selama tiga tahun bersama Sean, entah sudah berapa ratus malam dilewatinya sendiri, dengan perasaan sakit, dan menangis dalam kesendirian yang sering dilakukannya. Selama ini dia hanya berharap setidaknya Sean memberikannya sedikit tempat di dalam hatinya, tak perlu banyak, dia hanya meminta seperempat ruang untuk ditempati dirinya.
“Jangan khawatir, Sean. Setelah ini, kau bebas mencintai Mya, atau mungkin kau bisa mati bersamanya!”