Sekitar dua puluh menit kemudian, Ruby dan Dylan pun tiba di apartemen Maria. Beberapa kali Ruby menekan tombol bel, tapi belum juga ada jawaban.
“Coba saja kau hubungi nomornya,” ucap Dylan.
Ruby memberikan sekotak kue pada Dylan yang dibelinya sebelum dia tiba di apartemen Maria. Sama saja, Maria mengabaikan panggilan telepon dari Ruby.
Apa dia sedang pergi?
Atau tertidur di dalam?
“Menurutmu, ke mana dia?” tanya Dylan.
Merasa jengkel, Ruby tak lagi menekan bel pintu tapi menggedornya dengan kasar. Sedangkan di dalam ruangan, Maria memang tertidur. Begitu mendengar suara gedoran pintu yang sangat kasar dan kencang, kedua matanya langsung terbuka dalam sekejap.
Maria meraih ponsel yang tergeletak di ujung kakinya, lalu mengecek beberapa panggilan masuk dari Ruby, dan sebuah pesan yang mengatakan, jika Maria tak membukakan pintu, maka Ruby akan membobol pintu dengan paksa.
Maria melompat dari tempat tidur, lalu berlari cepat ke arah pintu.
“Hei!” seru Maria ketika membuka pintu. Dilihatnya dua sosok yang selama ini sangat dirindukannya.
“Hm, apa aku sudah membuatmu terbangun?” tanya Ruby setengah mengejek Maria.
Ruby ingin tertawa begitu melihat wajah Maria yang terlihat kusut, jiplakan bantal terlihat di pipi mulusnya.
“Sepertinya kau mendekap bantal dengan sangat erat, seolah bantal itu adalah Sean. Coba kau lihat pipimu,” ucap Ruby seraya mengusap pipi Maria dengan gemas.
Mendengar nama Sean disebut, rasa jengkel kembali hinggap di dalam diri Maria. Belum lagi, nanti malam dia harus pergi bersama Sean ke rumah keluarga angkatnya. Kenapa rasanya, takdir senang sekali mempermainkan dirinya. Maria tak pernah mengerti, apa mungkin dia memiliki karma karena di kehidupan sebelumnya dia memiliki dosa yang tak bisa diampuni saat itu?
“Masuklah, tapi ingat di dalam rumahku jangan pernah kalian sebut-sebut nama pria dingin itu di depanku. Aku—“
“Dia memang dingin dan kasar, tapi kau mencintainya, kan?” goda Ruby. Godaan Ruby mengena pada Maria, kedua pipi gadis itu langsung merah merona, seperti seorang gadis yang baru saja mengenal kata cinta.
Ruby tahu betul jika Maria sangat mencintai Sean, meski pria itu tak pernah memperlakukannya dengan baik, tetap saja di dalam hati Maria hanya ada satu nama. Bahkan Dylan yang berkali-kali mencoba untuk masuk dalam kehidupannya, selalu mendapat penolakan, meski secara halus.
Maria mempersilakan kedua sahabatnya masuk ke dalam.
Ruangan apartemen Maria memang tak terlalu besar, tapi lengkap dengan perabotan baru yang memang sudah disediakan oleh pihak apartemen. Di dapur pun terdapat peralatan elektronik cukup lengkap untuk memasak. Ruangan yang didominasi oleh warna krem, dengan desain minimalis, terlihat menarik.
“Berapa lama kau akan tinggal di sini?” tanya Dylan dengan sorot matanya yang selalu jernih dan tenang. Sejak dulu Dylan selalu berusaha menarik perhatian Maria, tapi rasanya sangat sulit untuk menjangkau hati gadis yang telah memiliki suami itu.
“Dylan, apartemen akan menjadi tempat tinggalku selamanya. Kalian bebas datang kapanpun kalian mau. Aku sebentar lagi akan mengurus semuanya. Dia selalu mengancam untuk menceraikanku, dia pikir aku tak bisa melakukannya?” ucap Maria dengan wajah geram ketika harus menyebut nama Sean.
Padahal sebelumnya dia sendiri yang memberitahukan pada kedua orang itu untuk tidak menyebut nama Sean di dalam rumahnya. Tapi Dylan memancingnya dengan sebuah pertanyaan, sehingga tanpa sadar keluarlah nama Sean dari bibir mungil Maria.
Ruby tertawa begitu melihat wajah Maria yang mendadak seperti orang yang menahan sakit perut begitu dia menyadari baru saja menyebut nama Sean di hadapan kedua sahabatnya.
Mengapa Sean tak pernah bisa mencintainya?
Mengapa Sean selalu menganggapnya tak ada?
Sean tertutup dengan rasa cinta yang tak masuk akal terhadap Myra. Sean selalu mengatakan dia mencintai Myra sejak pandangan pertama, dia menganggap gadis itu adalah gadis yang sangat suci seperti seorang malaikat. Sayangnya, sifat asli Myra hanya akan ditunjukkan di depan Maria.
Berkali-kali Myra berusaha menyakitinya sewaktu mereka masih tinggal bersama di keluarga Wilson. Maria tahu, dia hanya anak pungut dari sebuah keluarga miskin. Kedua orangtuanya sendiri tak tahu berada di mana.
“Hei, kenapa kau melamun seperti itu?” tanya Ruby. Bahkan Maria tak menyadari cukup lama Ruby melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Maria.
“Eh, apa kau baru saja bertanya sesuatu?”
“Kau melamun, apa yang sedang kau pikirkan?”
“Sepertinya kita langsung pergi saja ke pusat perbelanjaan. Sean memintaku menemaninya untuk menghadiri acara ulang tahun mendiang adik angkatku!”
Dylan sendiri tak terlalu mencermati percakapan kedua orang gadis tersebut, dia sibuk membuat kopi dari mesin espresso yang sudah tersedia di dapur. Dia sempat berpikir, meski apartemen Maria tak terlalu besar, tapi tampaknya cukup mengasyikkan, mengingat perabotan yang ada di dalamnya cukup lengkap.
“Dylan!” panggil Ruby. Telinganya tak menggubris panggilan Ruby, dia sedikit heran, sejak kapan Maria menyukai kopi, karena dia baru saja menemukan satu kantong penuh biji kopi yang masih dalam keadaan utuh di dalam rak penyimpang bahan-bahan makanan.
“Aku sedang membuat kopi. Jujur saja, apartemenmu sangat nyaman, Maria. Peralatannya pun cukup lengkap, kau tak perlu pergi ke kafe yang ada di seberang jalan untuk menikmati secangkir kopi,” ucap Dylan seraya tertawa memamerkan lesung pipi di pipi kanannya.
Sewaktu masih di sekolah menengah atas, tak ada pria yang tertarik pada Maria. Hanya Dylan yang menyadari di balik kacamata tebal juga wajahnya yang selalu tertutup oleh rambut, Maria ternyata memiliki wajah yang sangat cantik.
Kulitnya putih seperti s**u, tubuhnya yang tinggi dan ramping, d**a yang membusung dan penuh, sebenarnya tak ada yang kurang dari Maria. Tapi Dylan sendiri heran, apa yang membuat Sean tak bisa juga mencintai gadis itu.
Siapa pun yang melihat Maria sekarang pasti berlomba-lomba untuk mendapatkan gadis itu, apa ada yang rusak dengan komponen di dalam otak Sean?
“Aku sendiri tak menyangka, biaya sewa apartemen tergolong murah, tapi aku bisa mendapatkan fasilitas yang cukup lengkap,” ujar Maria membenarkan kalimat Dylan barusan.
Tiba-tiba saja, Maria kembali mendapatkan pesan dari Sean.
[ Sean ]
‘Apa kamu sudah melakukan apa yang aku perintahkan, Mary?’
Ya, dia tampak geli mendengar Sean memanggilnya dengan sebutan ‘Mary’ bukankah selama ini dia tak pernah mau bersikap baik, tak perlu memanggilnya dengan nama kecil, hanya untuk berbaik-baik karena menginginkan sesuatu.
Lalu dengan enggan, Maria membalas pesan Sean.
[ Maria ]
‘Sebentar lagi aku jalan, kalau kau masih tidak sabar, kenapa tak kau saja yang pergi sendiri ke pesta tersebut. Kurasa tak ada untungnya juga aku ikut, karena begitu aku berada di sana, kalian pasti akan menggungjingkan aku!’
Sean terperangah, wanita itu berani membalasnya, bahkan memarahinya?
Sean merasa kesal, lalu membanting ponsel miliknya ke atas sofa. Dia tak pernah menyangka, setelah melangkahkan kakinya keluar dari mansion, Maria sama sekali tak memiliki rasa takut padanya?
Apa yang bisa membuatnya berubah begitu cepat?