Bab 6. Keributan Di Toko

1085 Kata
Dylan dan Ruby menemani Maria ke sebuah pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota. Maria yang terlihat sederhana pada penampilannya, membuat beberapa pasang mata melirik ke arahnya dan menatap dengan tatapan menghina. Maria tak ambil pusing, dia memiliki cukup uang untuk membeli apa pun yang ada di dalam mall tersebut. “Aku dengar, mall ini merupakan milik salah satu orang terkaya nomor tiga di Kota Greenford, apa itu benar?” tanya Maria pada Dylan yang tak begitu menanggapi pertanyaannya, karena sibuk membalas pesan di ponsel miliknya. “Iya, kalau tidak salah namanya Christine Jones. Dia tak lama lagi akan mengadakan acara ulang tahun besar-besaran di sebuah hotel mewah. Aku yakin, Sean—suamimu—pasti turut diundang olehnya. Aku dengar, dulu sekali Christine menaruh hati pada Sean,” goda Ruby seraya melirik Maria, ingin melihat reaksi gadis itu. Tapi sayangnya, Maria seakan tak peduli apa yang mau diperbuat oleh Sean. Meski dia mencintai Sean setengah mati, tapi Sean sepertinya tak akan pernah peduli dengan apa yang telah diberikan Maria selama ini padanya. “Kau pikir, aku peduli?” ucap Maria kesal. Dia mempercepat langkahnya, mendahului Ruby dan Dylan. Terlalu banyak kenangan selama tiga tahun ini, tapi kalau diingat kembali, tak ada kenangan yang manis baginya. “Ruby, kita ke butik itu.” Tunjuk Maria pada sebuah butik yang menjual gaun-gaun pesta. Ketika ketiganya masuk ke dalam, terlihat seorang wanita bertubuh gemuk dengan anak gadisnya turut memilih-milih gaun di sebuah rak. Gaun yang berada di salah satu rak, merupakan gaun-gaun terbaru dengan harga di atas $10,000. Wanita bertubuh gemuk itu adalah salah satu sosialita yang cukup terkenal di kota, Maria mengenalinya, karena wanita itu sering sekali memamerkan setiap kegiatannya di akun media sosial miliknya. Anak gadisnya seorang artis baru yang belum lama menginjakkan kakiknya di dunia hiburan. Maria memanggil seorang pelayan toko, gadis kurus, dengan wajah penuh bintik itu menghampiri Maria. Dia melihat, Maria menyodorkan padanya sebuah gaun dengan harga yang sangat mahal. Menilik dari penampilan Maria, pelayan toko itu memandangan dengan tatapan mengejek. Dia berpikir, memangnya Maria mampu untuk membeli gaun semahal itu? Sedangkan saat itu Maria sendiri terlihat begitu sederhana, tak ada yang memberikan kesan apa pun pada dirinya, jika Maria adalah orang yang memiliki cukup uang untuk membeli gaun tersebut. “Nona, apa Anda yakin ingin membeli gaun itu?” tanyanya pada Maria dengan tatapan yang sangat merendahkan Maria. Tentu saja, hal itu membuat Maria merasa tersinggung. Memangnya dia pikir, Maria tak bisa membeli gaun tersebut? Di dalam kartu ATM miliknya, bahkan dia bisa membeli tiga buah gaun dengan harga yang sama. “Apa menurutmu, aku benar-benar terlihat seperti orang miskin yang tak mampu membeli barang yang ada di sini?” Maria bertanya, kini tatapannya benar-benar menjadi kelam, raut wajahnya berubah menjadi sangat dingin, membuat gadis pelayan dengan wajah penuh bintik, menundukkan kepalanya. Wanita bertubuh gemuk beserta anak gadisnya menutup mulut menahan tawa. Tak henti-hentinya mereka menatap Maria dengan pandangan mencemooh. “Nona, apa kamu yakin, uang di dalam kartu ATM kamu akan cukup untuk membayar gaun mahal itu?” Elise—puteri dari Maggie—bertanya dengan nada mengejek. Dia pun mengambil gaun berwarna abu-abu itu dari tangan Maria. Maria menarik nafas panjang, dadanya terlihat naik turun berusaha untuk tetap bersikap sabar pada anak beranak di hadapannya saat ini, yang terus saja menghinanya. “Nona, kebetulan anakku juga sedang mencari gaun. Tadi, aku tak melihat gaun itu, apakah kamu bersedia memberikannya pada anakku, dan mencari gaun yang lebih murah?” ejek Maggie pada Maria. Ruby bisa melihat perubahan raut wajah pada Maria. Bagaimana bisa semua orang di dalam butik itu mengolok-olok sahabatnya? “Dylan, kamu lihat? Mereka benar-benar ingin ditampar!” Dylan hanya memperhatikan wanita bertubuh gempal beserta anak perempuannya yang terus saja memaksa Maria untuk menyerahkan gaun yang dipegangnya untuk diserahkan pada puterinya. Maria terlihat dongkol dengan kelakuan kedua orang itu, tapi tak bisa melakukan apa pun ketika gaun itu direbut dari tangannya. Dengan bangganya, Maggie mengayun-ayunkan gaun itu di hadapan Maria. “Dylan, lakukan sesuatu. Apa kamu mau jika Maria terus menerus dipermalukan seperti itu?” Dylan mungkin di mata Maggie tampak seperti pria yang sederhana dan tak mampu membeli barang-barang bermerk. Seandainya dia tahu jika Dylan adalah pemilik perusahaan rumah produksi terkenal tempat Elise sedang mencari nafkah di film perdana yang belum lama ini syutingnya masih berjalan, mungkin wanita gemuk itu bisa mati di tempat karena terkena serangan jantung. Hanya saja gaya hidup Dylan yang selama ini jauh dari kemewahan membuat orang lain menganggapnya remeh seakan dia tak perlu diperhitungkan. Maria semakin jengkel ketika Elise terus menatapnya dengan tatapan yang semakin lama semakin membuat Maria muak “Hei, apa kamu pikir, aku tidak mampu membayar gaun itu, sampai-sampai aku harus menyerahkannya pada puterimu?” tanya Maria dengan nada marah, lalu berkacak pinggang di hadapan Maggie. “Astaga Nona, jangan mempermalukan dirimu sendiri. Aku tahu, kamu sangat mengagumi gaun ini, tapi aku yakin kamu tidak akan sanggup membelinya. Jadi biarkan gaun ini dimiliki oleh puteriku, aku akan membelikanmu gaun lain yang lebih murah dan cocok untuk dipakai olehmu,” jawab Maggie terkesan sangat merendahkan Maria. Oh, rasanya dia ingin sekali merobek mulut wanita bertubuh gempal, dengan rambut yang sudah dipenuhi uban itu, dan membuatnya malu! “Pelayan, aku akan membayar gaun itu, sekarang ini kartuku,” ucap Maria lalu memberikan kartu ATM biasa miliknya. Siapa pun pasti tak akan menyangka jika Maria memiliki banyak uang di dalam kartu ATM yang terlihat sangat biasa. Kartu yang digunakannya memang bukan kartu Black Card seperti yang dikembalikannya pada Sean tadi pagi, tapi isinya sangat cukup untuk membuat wanita gempal itu menutup mulutnya. Saat pelayan toko akan menggesek kartu tersebut, Dylan dengan cepat menarik kartu ATM milik Maria, lalu menyerahkan Amex Black Card miliknya. Kedua mata Maggie bahkan tak sempat berkedip begitu melihat kartu berpindah tangan dari Dylan ke penjaga toko. “Maria, ambil saja tiga gaun atau berapa pun gaun yang kamu inginkan. Kamu tak perlu takut, uangku tak akan habis, bahkan jika harus membeli sekaligus beserta tokonya,” ucap Dylan dengan nada sombong, ingin membuat wanita bertubuh gempal itu kesal padanya. Elise yang merasa kesal, karena tak bisa mendapatkan gaun yang diinginkannya, mengangkat sebuah pot kecil hiasan meja dan hendak melemparkan ke arah Maria namun terhenti ketika sebuah tangan kekar mencengkram pergelangan tangannya dari belakang. “Kalau kamu sempat melemparkan pot itu padanya, aku tak segan memotong-motong tanganmu sekarang,” ucap suara seorang pria di belakang Elise itu. Pria itu menyeringai lebar, dan memuntir pergelangan tangan Elise sampai pot bunga terbuat dari kristal terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN