Wajah Runi semakin murung ketika melihat sang suami hendak keluar. Entah, rasanya sangat aneh tiba-tiba tidak ingin ditinggalkan oleh Sandi sendirian. Biasanya santai saja dan tak masalah, terlebih sang ibu mertua baru saja berpulang. Runi memberikan kesempatan pada Sandi agar menemui sanak saudara yang datang melayat ataupun ikut tahlilan. "Mas, sebelum makan siang datang lagi ke sini, ya?" pinta Runi dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata indahnya itu. Sandi mendekat ke arah sang istri. Tangannya mengelus rambut Runi dengan lembut. Sedikit memberikan ketenangan untuk wanita yang sedang mengandung itu. Mungkin saja, hormonnya kehamilannya sedang ingin dimanja oleh suaminya. "Tumben gini? Biasanya cuek aja saat Mas pulang, kenapa, hmm ...?" Sandi mencolek dagu sang istri. San

