Nat bukanlah tipikal wanita yang cengeng meskipun hidupnya tidak seberuntung wanita-wanita lainnya. Dia terbiasa mendapatk barang bekas, biasa mendapatkan kekurang kasih sayang, kekurangan makanan. Tapi dia tidak pernah menangis di depan siapa pun termasuk di depan ayahnya. Namun, malam itu dia benar-benar tidak bisa menahan air matanya agar tidak tumpah. Dan itu pertama kalinya dia menangis di depan seorang pria.
“Rasanya aneh.” Gumam Nat seraya menutup pintu rumahnya. Nat berjalan beberapa langkah dan dia menemukan Tristan duduk santai di ruang keluarga. Sendirian.
Kedua mata Nat membelalak dan kedua daub bibirnya terbuka. “Tristan...”
Tristan mengangkat gelas yang diisi wine sambil tersenyum licik. Sebelah alisnya terangkat. “Aku dengar kamu bilang rasanya aneh. Apa yang aneh, Nat?” tanya Tristan menghampiri Nat.
“Dimana ayah?” Nat celingukan.
“Ayahmu belum pulang. Dia masih berjudi di bar. Aku memberinya segepok uang agar dia tidak pulang.”
Dahi Nat mengernyit. “Kenapa?” tanya Nat tajam.
“Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu, Nat.” Nat menyingkirkan tangan Tristan yang hendak menyentuh rambutnya.
“Jangan kurang ajar atau aku akan menelpon—“ Nat berhenti sejenak. Berpikir siapa yang akan dihubunginya nanti kalau Tristan macam-macam. Alpha atau Ramon?
“Menelpon kekasihmu itu?” Tristan memiringkan kepalanya. Menatap Nat dengan tatapan memangsa.
Terkadang Nat berpikir bagaimana bisa dia pernah mencintai pria semacam Tristan? Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada pria licik sekaligus jahat ini? cinta memang aneh. Tapi Nat, tidak akan pernah kembali mencintai pria di depannya itu. Tidak akan pernah. Tristan sangat buruk apalagi pekerjaan Tristan termasuk pekerjaan kriminal.
“Tentu.” Kata Nat mantap. “Aku akan menelpon kekasihku kalau kamu kuranga ajar, Tristan.” Nat kadang heran kenapa setiap kali bertemu Tristan, dia selalu mengenakan jas. Sangat formal. Mirip pakaian pemain film bertema mata-mata.
“Hahaha,” Tristan terbahak. “Nat... Nat... jangan seperti itu. Aku nggak suka. Ayolah kita nikmati malam ini sebelum kamu menjadi milik pria Indonesia itu.”
“Berengsek!” umpat Nat kesal. “Pergi dari sini!” usirnya mengerikan.
“Aku nggak mau pergi, Nat. Aku mau di sini ditemani kamu. Kamu nggak ingat, kita pernah melakukannya di tempat tidurmu.”
“Melakukan apa, berengsek?!” bentaknya penuh amarah. “Ingat ya aku tidak pernah melakukan apa pun denganmu.”
“Kita pernah berciuman, Nat.” Tristan kembali menyeringai.
“Aku nggak sudih mengingat kenangan buruk denganmu, Tristan.”
“Kamu galak sekali sih.”
“Ayolah,” rayu Tristan. Tangannya mulai meraba pinggang Nat. Nat berontak. Namun, Tristan terlalu kuat untuk dikalahkan Nat.
Nat dijatuhkan di atas sofa.
“Tristan, kamu jangan kurang ajar!” pekik Nat sambil memberontak.
“Peduli apa?! Malam ini kamu milikku.” Tristan mulai melepas jasnya.
Nat memekik keras meminta tolong.
Tanpa disadari kedatangannya oleh Tristan dan Nat, seseorang menarik bahu Tristan dan menonjoknya dengan keras hingga Tristan terjatuh.
“Ramon.” Ketakutan Nat lenyap. Dia sedikit lega setelah melihat Ramon.
“Aw!” Tristan kesakitan. Darah mengalir dari sebelah sudut bibirnya. Dia menatap Ramon dengan tatapan angkuh. “Kamu rupanya.”
“Jangan ganggu Nat.” kata Ramon maskulin. Dia menatap Tristan tajam.
Nat bangkit dari sofa seraya membereskan bajunya yang terkoyak.
“Aku sudah melunasi hutang-hutangnya kan? Kamu sudah tidak punya urusan dengannya.” Nada suara Ramon tidak tinggi tapi terdengar mengerikan di telinga Nat.
Tristan berdiri. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas. Sebenarnya dia sedang menahan malu. Dia tidak mungkin balas memukul Ramon kalau tidak mau berurusan dengan polisi. Mengingat pekerjaannya adalah pekerjaan kriminal. Mencari masalah dengan Ramon sama saja mencari mati. Pria itu bukan pria sembarangan. Ramon mengenal orang-orang di pemerintahan Singapura.
Tristan melesat pergi tanpa permisi atau permintaan ma’af. Namun, dalam hati, Tristan tidak benar-benar melepas Nat. Dia akan kembali. Nat memang bukan miliknya lagi. Tapi, dia masih menginginkan Nat.
“Nat, kamu nggak papa?” tanya Ramon dengan pancaran kekhawatiran dari matanya.
Nat menggeleng. “Terima kasih.” Ucapnya.
Mata mereka bersitemu. Dan untuk kesekian kalinya, Ramon menolong Nat.
***
Hari yang ditunggu akhirnya datang. Nat mempersiapkan diri dengan baik. Bahkan dia sempat latihan sendiri di cermin demi menghadapi keluarga Ramon. Dia belajar cara tersenyum yang anggun, berjalan yang anggun dan bersikap yang baik. Jadi, meskipun namanya tercoreng karena foto vulgarnya bersama Ramon, setidaknya, di depan keluarga Ramon nanti dia bisa terlihat lebih baik dibandingkan image yang dibuatnya sendiri demi melunasi hutang pada Tristan. Cleo sempat mengomelinya karena Nat tersenyum lebar. Terlalu lebar—kata Cleo. Dan latihan terakhir bersama Cleo membuatnya lega. Cleo bilang Nat sudah tampak lebih baik daripada sebelum-sebelumnya.
Hari itu Nat dipeluk Cleo dengan erat. Sambil tersedu-sedu Cleo bilang dia berdo’a sepanjang malam agar keluarga Ramon menerima Nat dengan sepenuh hati. Nat cukup terharu dengan sikap Cleo akhir-akhir ini.
Sesampainya di Indonesia, Nat tinggal sementara di hotel milik salah satu teman Ramon. Ramon bilang Nat perlu beradaptasi dulu di Indonesia untuk beberapa hari sebelum dia mengenalkan Nat pada keluarganya.
Siang itu Jakarta mendung. Nat memandangi langit Jakarta yang menggelap lewat jendela hotel sambil ditemani lagu Adele yang berjudul Send My Love. Nat bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Dia pernah berteman baik dengan beberapa orang Indonesia dan sering mendengarkan musik Indonesia karena musik Indonesia memiliki pengaruh yang cukup besar di Singapura. Dia belum sempat cerita pada Ramon bahwa dia bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.
Ramon bilang Nat hanya akan tinggal di Jakarta sekitar seminggu lebih setelah mendapat persetujuan dari orang tua Ramon untuk menikahi Nat, Nat akan kembali lagi ke Singapura, mempersiapkan semuanya dan tinggal di Indonesia dalam waktu yang lama dan Nat tidak tahu sampai kapan karena Ramon bilang dia akan membuat dua proyek baru di Indonesia. Kalau proyeknya sudah selesai baru mereka akan kembali ke Singapura.
Ponsel Nat berdering. Tertera nama di layar Alpha.
“Halo,” sahut Nat ala kadarnya.
“Halo juga.” Balas suara riang di sana.
Nat tertawa kecil mendengar suara riang Alpha. “Tumben telepon, kangen ya?” ujarnya dengan canda.
“Hahaha, tentu. Nih, ada banyak mie instan di sini. Aku stok puluhan buat kamu, Nat. Tapi kamu lagi di Indonesia. Eh, Ramon mana?”
“Nggak tahu. Kenapa?”
“Oh enggak, katanya kamu di rumah Ramon.”
“Aku di hotel. Ramon bilang nanti setelah beberapa hari aku di Indonesia baru Ramon mau bawa aku ke rumahnya.”
“Oh begitu. Ini ada Cleo nih. Kamu mau bicara sama Cleo nggak?” terdengar cekikan Alpha di sana.
“Boleh.”
“Naaaattt! Kamu lagi apa? Udah makan belum?” pertanyaan penuh perhatian dari Cleo meluncur. Terdengar tawa Alpha membahana di sebrang telepon.
“Iya, udah kok. Lagi di hotel nih.”
“Kamu belum ketemu sama orang tua Ramon?” tanya Cleo penuh antusias.
“Belum.”
“Ayo dong cepetan ketemuan!” seru Cleo yang membuat Nat menjauhkan teleponnya dari gedang telinganya. Dia takut gendang telinganya pecah mendengar nada tinggi Cleo.
“Ya, nanti. Semua kan harus dipersiapkan.”
“Persiapan apa lagi. Kamu sudah latihan senyum, jalan, bersikap. Udah kaya orang jalanan yang dipungut keluarga kerajaan aja.” Cleo terbahak disusul tawa membahana Alpha.
Nat tersenyum kecil. Kalau dipikir-pikir rasanya dia sudah bersikap berlebihan dengan berlatih seperti itu. Memangnya di anjing perlu dilatih? Dia juga bukan tunawisma yang tiba-tiba diangkat keluarga kerajaan kan sampai melakukan latihan senyum, berjalan dan bersikap. Toh, keluarga Ramon juga bukan keturunan bangsawan.
“Nat, ingat ya, kamu nggak boleh bersikap berlebihan. Semua pakai porsi. Kamu nggak boleh nyerocos dan teriak-teriak...” Nat membiarkan Cleo berceloteh. Pikirannya melayang pada kejadian yang membuatnya semakin tidak bisa menolak Ramon dan tidak bisa untuk tidak menuruti perintahnya. Malam itu ketika Tristan berniat menyentuhnya. Tak disangka Ramon datang seperti seorang superhero yang menyelamatkannya. Entahlah kalau Ramon pulang saat dia masuk ke rumah. Ramon menunggu di mobil beberapa saat setelah Nat masuk ke rumah sampai Nat berteriak histeris dan Ramon masuk ke rumahnya.
***