Dan apa yang Bumi inginkan sudah ada didepannya, mata pria itu dengan cepat membaca apa yang dia dapat dari Detective suruhannya. Bumi menyeringai setelah membaca data- data itu. Baiklah ada banyak hal yang ditutup dari media mengenai kasus keluarga Aditama.
Tersangka yang mereka tangkap hanya dituntut dengan pasal ‘Peneroran’ terhadap salah satu anggota Aditama sedangkan yang Bumi dapat adalah fakta dibalik itu semua. Ya Bumi tahu, andai kata mereka menjerat tersangka dengan pasal “ Penculikan”, sepertinya itu sangatlah tidak mungkin sedangkan korban penculikan itu sendiri sudah meninggal 14 tahun yang lalu yang diperkuat dengan surat kematian yang bersangkutan atau mungkin ada pertimbangan lain.
Di lembar terakhir sebuah foto lain yang terlampir disana, bukan anggota Keluarga Aditama dari keterangannya, pria ini adalah orang kepercayaan untuk menjaga wanita satu ini. Dan Bumi tahu pria satu itu terus membuntuti mereka sampai sekarang.
“ Ugh!” lenguhan itu keluar dari bibir wanita yang terbaring diatas bangkar. Sungguh kasihan sekali Aditama satu ini. Bahkan dalam tidurnyapun, dia terlihat sangat tertekan.
Bumi mengelus alis yang sedang mengerut itu dengan perlahan.
“ Tidurlah.” Bumi bangkit dari duduknya dan meninggalkan rumah sakit. Ada beberapa hal yang harus dia pastikan sendiri. Tepat saat pintu itu ditutup, saat itu pula mata Eka terbuka, wanita satu itu mengerjapkan matanya, mengamati ruangan yang kini ditempatinya.
Siapapun yang membawanya ke rumah sakit, Eka sangat berterima kasih padanya.
“ Selamat pagi.” Pintu dibuka, seorang perawat masuk kedalam ruangannya untuk mengecek kondisi Eka saat ini. “ Baiklah suhu tubuh serta tanda fisik anda normal.” Perawat itu tersenyum lebar.
“ Saya bisa pulang sekarang?”
“ Tentu.” Setelah segala administrasi selesai diurus, wanita itu langsung bergegas pergi. Ingat tidak ada waktu santai untuknya, Dia harus berkeliling kota Bandung yang luas ini untuk mencari sang Mama. Hari berlalu dengan cepat dan Eka pulang tanpa membawa apapun yang berarti. Baiklah Eka jangan menyerah, ambil waktumu sebanyak yang kamu bisa untuk mencari mamamu.
Pagi datang, dan kini seperti sudah menjadi kebiasaan. Rere datang dengan membunyikan klaksonnya keras didepan pintu rumah mungil itu, Eka yang sudah siap langsung keluar dan mengunci pintu.
Suasana produksi tidak ada yang berubah, setelah dilakukan Briefing semua kembali ke tempat kerja masing- masing.
Bel istirahat berdentang, semuanya keluar menuju kantin, makan dengan cepat dan kembali ke ruang produksi karena cuaca yang amat panas membuat mereka masuk ke gedung 15 menit lebih cepat.
“ Rasa air ini kenapa sedikit pahit dan berbau sedikit aneh. Tapi rasanya sejuk sekali.” Rere bermonolog lalu kembali meneguk minumannya sekali lagi. Eka yang berdiri disamping gadis satu itu membuka botol minumnya, sisa minuman yang dia beli di kantin.
“ Bisa minta airmu. Lama- lama air minum ini aneh rasanya.” Rere meminta air minum sisa Eka dan meneguknya tanpa rasa jijik.
“ Ini benar- benar air mineral. Entah kenapa, rasanya air dalam dispenser dicampuri sesuatu. Rasanya benar-benar sejuk tapi aku rasa aneh. Coba rasakan sendiri!” gadis itu menyodorkan botol minum miliknya, meminta Eka untuk mencoba.
“ Tidak!” tolak Eka tapi Rere bersikeras.
“ Kemarikan!” Eka meraih botol air minum gadis itu lalu mencium air yang ada didalamnya. Mata abu- abunya itu menyipit,Sedikit aroma Thinner bisa dia cium dalam air tapi sangat sulit membuktikannya terlebih lagi aroma thinner yang berasal dari produksi sangat kuat. Tak ada cara lain, gadis itu mencoba air dalam botol, rasa sedikit pahit menyapa lidahnya disertai rasa dingin yang menusuk.
Dengan cepat Eka memuntahkan air itu ke lantai, tidak peduli beberapa pasang mata menatapnya jijik.
Apa mungkin dugaannya benar tapi Eka tidak mau asal bertindak dan membuat panik banyak orang.
“ Dimana kamu ambil air ini?”
“ Disana.” Arah telunjuk itu membuat Eka mendatangi galon tempat minum diikuti beberapa Rere yang penasaran apa yang Eka lakukan. Eka mengisi botol minum miliknya dan melakukan hal yang sama seperti tadi.
“ Dimana ada tempat minum lagi?” Satu persatu dari setiap gallon yang ditunjukkan, Eka melakukan hal yang sama. Ada total 5 dispenser dari 12 dispenser yang tersebar di produksi yang sengaja dicampur Thinner.
Dugaannya benar!
“ Siapa saja yang meminum gallon dekat Line Pilot, Line Inti dan QC ?!” mata abunya itu berkerut marah. Menatap deretan orang produksi yang terlihat ketakutan padanya. Bertepatan dengan itu wajah Rere memucat, gadis itu langsung terjatuh dan memegangi perutnya.
“ Rere!” Eka berteriak bersamaan dengan beberapa orang yang mengalami hal serupa.
“ Rere!” Eka mengangkat kepala gadis itu dan menempatkan diatas pahanya.
“ Sakit! Perutku sakit dan panas sekali!” gadis satu itu menangis. Matanya memerah dengan bibir mulai membiru.
“ Bawa yang lain ke Klinik!” teriakan demi teriakan mulai terdengar diruangan luas itu. Suasana produksi sangat kacau karena ada sekitar 30 orang yang tengah menegak air dispenser tanpa curiga sedikitpun.
“ Tolong aku, sakit!”
“ Iya!” air mata Eka merebak, Tidak ada yang boleh terluka sekarang, dia berteriak meminta pekerja pria untuk mengakat tubuh Rere. Dengan setianya wanita satu itu mengikuti langkah pria yang membawa tubuh tak berdaya Rere ke Klinik. Ruangan yang biasanya hanya diisi satu atau dua orang yang sedang cedera itu kini penuh sesak dan keributan tidak bisa dihindari dan berita itu sampai dengan cepat pada telinga Bumi lewat Bayu. Dengan sigap pria alpha satu itu menuju Klinik, suaranya yang keras membungkam suara gaduh yang ada diruangan steril itu.
“ Ada apa ini?!”
“ Maaf atas kekacauan ini Tuan Bumi, beberapa orang mengalami keracunan air minum dan para petugas klinik sedang mengatasinya.” Seorang karyawan yang tadi mengangkat Rere berbicara takut.
“ Apa kalian bodoh sampai tidak menyadari apa yang kalian minum sampai korban sebanyak ini! Harusnya kalian pakai otak!” suara kasar itu mengusik Eka yang sedari tadi menggenggam tangan Rere disalah satu bangkar. Wanita satu itu bangkit dan berdiri menuju pria arrogant tak punya hati itu.
Kedua manic mata itu bertubrukan, Bumi yang menyadari wanitanya berada didepannya itu mengerjap, sepersekian detik. Bukankah wanita ini harusnya masih di rumah sakit?
“ Bisa anda tarik kata- kata anda itu, tuan!” suara itu dingin meskipun ada sedikit hormat dalam nada bicaranya itu. “ Tidak ada yang mau dengan sengaja meracuni diri mereka sendiri, tuan yang terhormat. Kejadian ini adalah musibah dan anda sebagai atasan harusnya mencari tahu kenapa hal ini bisa terjadi di perusahaan anda.”
“ Saran yang sangat bagus. Lalu apakah kamu salah satu dari mereka yang juga bodoh itu?”
“ Menurut anda?”
Baiklah, wanitanya bermulut tajam dan tidak suka diintimindasi. Bumi suka itu.
Karena alat yang berada di klinik tidak memadai, Bumi memutuskan membawa para korban ke rumah sakit terdekat. Bunyi sirine yang saling bersahutan itu membelah langit siang yang begitu panas, dan kini setelah suasana kembali normal. Bumi membawa Eka masuk ke ruang kerjanya, mendudukkan wanita itu diatas sofanya yang nyaman.
“ Apa yang sebenarnya anda butuhkan dari saya?” cepat sekali wanita ini bicara, tidak suka basa- basi.
“ Tidak ada. Saya hanya ingin menyapa salah satu Aditama. Itu saja.” Bumi menyandarkan tubuhnya didepan meja kerja, menatap wanita itu dengan tajam. Menunggu ekspresi yang akan wanitanya tampilkan.
“ Terima kasih atas sambutan anda.”
“ Apakah tidak masalah saya tahu identitasmu?”
“ Apakah itu penting sekarang?”
“ Mungkin itu tidak penting buat saya tapi buat kamu, itu mungkin sangat penting terlebih lagi kamu telah melepas nama Aditama dengan mudahnya.”
“ Sepertinya detective sewaan anda bekerja dengan sangat baik sampai tahu masalah pribadi keluarga kami.”
“ Semuanya mudah apabila kamu punya kekuasaan dan uang yang banyak nona muda.”
“ Ya benar sekali. Rasanya tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Saya harus segera kembali ke produksi.” Eka langsung berdiri dari duduknya, meraih handle pintu besar itu saat suara Bumi terdengar ditelinganya.
“ Sebenarnya saya sedikit ada penawaran untukmu.”
“ Dan saya tidak butuh penawaran anda, apapun itu.”
“ Benarkah? Bagaimana kalau saya bisa membantu mencari mamamu.”
Mama?