Setelah kepergian Salim, Eka masih disana berdiri dengan nyalang, menatap dua orang terdekatnya yang saling menggenggam lewat kaca pintu. Seulas senyum pahit disertai air mata kembali jatuh. Karena dirinya semua ini terjadi dan dia tidak punya muka untuk masuk kedalam ruangan itu. “ Bisakah salah satu dari kalian mengantarku pulang?” Eka berbicara pada salah satu anak buah Salim yang dibalas anggukan. “ Kalian berdua jagalah mereka, pastikan mereka baik- baik saja!” “ Tentu nona.” Jawab kedua pria berpakaian santai itu. Dengan berat hati Eka berjalan, meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan, gadis itu terpekur, dengan air mata terus menetes. Desahan panjangnnya semakin berat tatkala memikirkan seberat inikah perjuangannya dalam mencari sang Mama. “

