Ryan menyeringai tipis saat mendengar penuturan Krystal yang bertanya perihal kedatangannya ke ruangan Airin. Hatinya semakin terasa sakit ketika merasa kedatangannya tidak disambut baik oleh wanita pujaannya tersebut. “Apa aku tidak boleh datang ke tempat ini lagi?” gumam Ryan. Siapa pun yang mendengarnya pasti dapat merasakan kepedihan yang tengah dirasakan pria itu. Krystal buru-buru bangkit dari sisi ranjang Airin. Langkah Ryan pun semakin mendekat ke arahnya. Sorot mata pria itu terlihat dipenuhi dengan keraguan dan juga kekecewaan. “Ryan, bukan seperti itu maksudku. Tapi—” Sebelum Krystal menjelaskan perkataannya tadi, Ryan telah lebih dulu menyelanya, “Apa benar kamu sudah menikah dengannya?” Ryan memalingkan wajahnya dari sosok wanita pujaannya itu. Pandangannya beralih pada

