“Dia sudah memeras tenaga Kakak. Bukankah dia sama seperti vampir yang suka mengisap darah?” Krystal melongo mendengar penuturan polos dari Airin mengenai panggilan yang diberikannya kepada Kaizer. Sebelum Krystal sempat menanggapi, Airin kembali berkata, “Pasti dia yang sudah menyuruh Kakak untuk bekerja terus tanpa henti sampai tidak memiliki waktu untuk menemuiku. Kenapa Kakak masih mau bekerja dengan atasan seperti dia? Aku tidak suka melihatnya di sini.” “Ah, ternyata begitu,” gumam Krystal yang mulai memahami ucapan sang adik. Hampir saja Krystal lupa kalau adik perempuannya itu masih mengira Kaizer adalah atasannya seperti yang pernah diperkenalkannya beberapa hari sebelumnya. Namun, ia masih tidak tahu dari mana Airin belajar mengekspresikan rasa kesalnya dan memberikan sebut

