Jakun Kaizer bergerak naik turun. Ia menatap wajah istrinya yang terlihat sangat menawan di sepasang bola matanya yang telah diselimuti dahaga dan gairah yang menggelitiknya untuk segera menuntaskan semuanya. Namun, Kaizer masih bisa berpikir jernih meskipun dalam kondisi yang hampir kehilangan akalnya. Ia tidak ingin memaksa Krystal hanya demi memenuhi keegoisannya. “Gadis bodoh, apa kamu sadar apa yang sudah kamu katakan tadi?” sahut Kaizer seraya memalingkan wajahnya kembali. Degup jantungnya mulai berpacu dengan cepat. Ia berpikir ia akan sulit mengendalikan dirinya jika terus berlama-lama di dalam ruangan itu. Perlahan Krystal bangkit dari pembaringannya dan duduk di sisi ranjang, lalu kembali meraih tangan Kaizer dan menggenggamnya dengan lembut. “Tentu saja aku sangat sadar. Aku t

