Mike duduk terpekur di depan pintu. Matanya menatap langit-langit malam yang bertabur bintang. Pikirannya berkelana, mengingat permintaan Murni tadi. "Kau pecundang, Mike!" Ia memaki dirinya sendiri. "Hanya karena balas dendammu dan ingin memilikinya, kau tega memperkosanya. Dan sekarang kau takut ketika dia ingin mengenalkan dirimu pada keluarganya? Cuih!" "Ingat Mike, setiap yang berlaku ada ganjarannya. Kau harus berani mempertanggungjawabkan setiap apa yang kau lakukan. Ingat, Tuhan itu Maha Tahu." "Astaghfirullah...," ucapnya seraya meraup wajahnya berulang kali. Sudah lama kalimat itu tidak terucap di bibirnya. Embusan napas ia keluarkan secara kasar, seakan ada batu besar yang menghimpit dadanya. Mike berharap ia tidak salah pilihan. Dengan langkah mantap, Mike masuk ke da

