"Apa kau ingin pulang sekarang? Tidak menunggu Mas Fatih datang menjemput?" tanya Zaya pada Nurul. Nurul terdiam sesaat. "Tidak. Aku bisa pulang sendiri." "Tapi...." "Tidak apa-apa, aku sudah biasa pulang-pergi sendiri, kau tidak perlu cemas," kata Nurul seraya menenangkan Zaya. "Bagaimana aku menjawab kalau mereka bertanya?" Zaya masih dengan kecemasannya. "Katakan saja aku merindukan kampung halamanku," seloroh Nurul sembari tersenyum, meskipun ia tahu bahwa senyumannya itu tidak disadari oleh Zaya. "Kau benar-benar keras kepala." Akhirnya Zaya menuruti keinginan Nurul. Semoga saja Daniel dan Fatih tidak menyalahkannya nanti. Setelah perbincangannya dengan Fatih menjelang siang tadi, Nurul tidak dapat lagi menahan gejolak hati untuk segera bertemu dengan sang suami. Diambil

