04. Siapakah Axel?

1119 Kata
Evelina terlihat sangat gugup, tidak berani menjawab, pikirannya tiba-tiba buntu padahal sejak tadi berani melawan mantan kekasihnya. “Jawab, Evelinna!” bentak Kennan mendobrak meja dengan keras yang membuat Evelina terkejut bukan main. “Jangan bilang kalau kamu memiliki anak dari pria itu, makanya tidak mau memiliki anak dariku, benar begitu?” tuduh Kennan murka. “Ya, kamu benar. Aku dan Dave sudah memiliki seorang putra dan sebentar lagi akan menikah, makanya jangan ganggu aku lagi karena aku sudah memiliki kehidupan sendiri. Lepaskan dan biarkan aku hidup dengan pilihanku sendiri,” jawab Evelina seadanya dan terlalu terburu-buru yang justru membuat suasana semakin rumit. “Kamu menggugurkan calon anak kita tetapi malah memiliki anak dari pria lain, apa maksud ini semua!” pekik Kennan tidak terima dan merasa sakit hati. “Karena aku sudah tidak mau denganmu, apa itu tidak cukup menjadi alasan?” Kennan sungguh marah lalu menemui assisten dengan posisi membawa ponsel Evelina. “Ada apa, Bos?” tanya assistennya terkejut karena tiba-tiba Kennan sudah ada di sebelahnya. “Selidiki siapa pria yang baru saja dihubungi Evelina sekaligus cari dengan sangat detail anak laki-laki yang tinggal di rumahnya,” jawab Kennan ketus sembari memberikan ponsel Evelina supaya assistennya mencatat nomer Dave. “Baik, segera laksanakan,” jawab assistennya sigap. “Saya mau besok pagi sudah ada hasilnya, jangan membuatku menunggu lebih lama!” ucap Kennan sebelum akhirnya kembali ke kamar. Assisten sebenarnya masih merasa capek malah ada pekerjaan lagi, jika tidak segera dikerjakan malah yang ada kena amukan. Dengan segera assisten menuju ruang kerjanya untuk mengerjakan tugas dari majikan. **** Pagi hari sudah menyapa dan cahaya mataharinya masuk ke celah gorden kamar yang sangat luas dan mewah ini. Evelina yang tertidur di sofa merasakan pegal di seluruh tubuhnya terutama tangan sebelah kiri karena tidak bisa bergerak leluasa. “Aw….” Keluhnya membangunkan Kennan yang baru tertidur beberapa jam. Tidak berselang lama, ada suara ketukan pintu dan itu dari assistennya, tanpa sungkan, Kennan meminta assistennya untuk masuk ke kamar yang membuat Evelina sangat kesal karena posisinya sedang diborgol, yang ada malah malu. Benar saja, ketika membuka pintu, assisten terkejut ketika mengetahui Evelina tangan sebelah kiri terborgol tetapi seketika langsung pura-pura tidak mengetahui karena tidak mau membuat majikannya marah, biarlah itu menjadi urusan antara mereka berdua saja. “Sudah ada hasilnya?” tanya Kennan dengan wajah bantalnya tidak mengurangi ketampanannya. Assisten menganggukkan kepala sembari memberikan hasil laporannya yang membuat Evelina penasaran, ingin melihat juga tidak bisa karena posisinya jauh dari kasur berukuran besar milik Kennan. Dengan teliti, Kennan membaca laporan assistennya setelah itu menatap Evelina dengan tajam. “Siapa Dave? Apa benar dia kekasihmu?” tanya Kennan memastikan. “Kenapa tiba-tiba menanyakan dia? Apa pentingnya untukmu?” jawab Evelina ketus. “Jawab!” bentak Kennan tidak bisa menahan kesabaran lagi. “Jangan urusi privasku, aku sudah menuruti untuk menemanimu malam tadi, sekarang biarkan aku pergi, tidak perlu diantar, aku bisa pulang sendiri!” tantang Evelina membuat Kennan berjalan mendekat ke arah mantan kekasihnya lalu mengangkat dagu Evelina supaya berhadapan dengannya. “Kamu ingin dua orang yang ada di rumahmu itu selamat atau dalam bahaya? Semua tergantung bagaimana jawaban yang keluar dari mulut manis ini!” ancam Kennan membuat Evelina murka. “Jangan sentuh mereka! Urusanmu denganku, mari selesaikan sekarang!” Evelina naik pitam membuat Kennan semakin menaruh curiga. “Bawa mereka berdua di hadapanku sekarang juga!” perintah Kennan kepada assistennya. Mendengar itu, Evelina terus membujuk serta memohon supaya mantan kekasihnya tidak mengusik Dave dan Axel. “Aku akan menuruti apapun yang kamu mau asalkan jangan usik mereka, aku mohon, Kennan! Mereka tidak tau apa-apa dalam hubungan kita dulu.” “Kenapa kamu sampai merendahkan diri seperti ini di depanku demi mereka? Apakah mereka lebih penting dariku?” tanya Kennan memastikan dan Evelina mengganggukkan kepala tanpa ragu. Hal tersebut menyinggung perasaannya sehingga tetap meminta assisten untuk mendatangkan mereka berdua. Setelah memberi perintah kepada assistennya, kini Kennan membiarkan Evelina sendirian di kamar dan menguncinya dari luar. Kepergian Kennan membuat Evelina menangis sejadi-jadinya dan ketakutannya kini semakin membesar, ia tidak menyangka kejadian malam tadi ingin memberitahu Dave malah berakibat seperti ini apalagi pengakuannya yang mengatakan sudah memiliki pasangan dan seorang putra, malah justru memasukkannya ke dalam masalah lebih dalam. **** Menjelang sore, assisten sudah berhasil membawa Dave dan Axel ke rumah Kennan. Samar-samar, Evelina mendengar suara anaknya dan langsung berusaha melepaskan diri tetapi gagal. Tidak berselang lama, mereka berempat sudah masuk dalam kamar untuk menemui Evelina. Dave posisi diborgol dan Axel hanya digendong oleh assisten Kennan. “Apa yang sudah kalian lakukan pada Evelina! Kalian kejam sekali, di mana hati kalian!” pekik Dave emosi melihat kondisi temannya terborgol seperti itu. “Mama, siapa yang sudah jahat pada mamah?” tanya Axel di sela tangisannya yang membuat perasaan Evelina teriris. Selama ini selalu menunjukkan hal-hal baik dan keadaannya yang baik-baik saja malah hari ini anaknya harus melihat kondisinya seperti ini. “Kennan, lepaskan borgolnya! Aku tidak mau anakku memiliki pemikiran buruk dan trauma! Jika sampai itu terjadi, aku tidak akan memaafkanmu!” pekik Evelina membuat Kennan mengalah. Tangan sebelah kirinya sudah terlepas dari borgol dan langsung mengambil Axel dari assisten Kennan. “Mama,” ucap Axel sembari menangis sesenggukkan. “Sekarang mereka sudah ada di sini, apa yang akan kamu lakukan? Ha!” pekik Evelina sangat marah. “Kalian bertiga ada hubungan apa?” tanya Kennan menatap Dave dan Evelina bergantian. “Dia istriku dan anak yang ada dalam gendongannya adalah anak kandung kami, namanya Axel, mengapa anda begitu mengurusi urusan kami, Tuan?” jawab Dave santai namun menyinggung perasaan Kennan. Kennan berjalan mendekati Axel yang tengah ketakutan, ketika jarak mereka dekat sekali, ada perasaan berdesir di dalam hatinya apalagi wajah anak itu mirip dengannya sewaktu kecil. “Kenapa wajahmu-“ belum selesai mengatakan sudah langsung dipotong oleh Evelina. “Jangan berasumsi berlebihan! Dia anakku dan Dave, mustahil wajahnya mirip denganmu, lagian empat tahun lalu di depan matamu sendiri aku meminum obat terlarang itu!” “Kata-katamu mengingatkanmu pada kejadian empat tahun lalu yang setiap harinya sulit untuk dilupakan! Jika benar itu anak kalian, kenapa memanggil dengan sebutan Om dan bukan Papah atau ayah?” tanya Kennan membuat Dave sempat bingung harus menjawab apa. “Karena sedari kecil aku jarang ada waktu untuk Axel, baru-baru ini aku banyak memberikan waktu untuknya dan antara aku dengan Evelina belum menikah, jadinya aku tidak mau mengajarkan hal buruk kepada anakku sendiri. Nantinya aku akan memintanya memanggilku dengan sebutan Papah setelah resmi menikahi Evelina,” jawab Dave begitu tenang. “Sudah puas? Sekarang lepaskan kami, jangan pernah berpikir jika Axel adalah darah dagingmu karena itu sangat mustahil!” tegur keras Evelina sembari meredakan ketakutan anaknya. “Tidak semudah itu!” tolak Kennan mentah-mentah membuat Evelina kembali murka. “Apalagi yang kamu inginkan?” tanya Evelina geram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN