Evelina geram dengan ucapan mantan kekasihnya yang terkesan sesuka hatinya, untuk mengekspresikan kemarahannya, dengan kencang menampar pipi Kennan lalu mengatakan, “Jaga ucapanmu! Jika bukan karena Axel, aku tidak akan mau melakukannya! Sekarang bawa Axel pulang!”
Kennan hanya tertawa kecil mendengar kemarahan mantan kekasihnya yang menurutnya terasa seksi dan semakin menggoda. Sedangkan Dave kini menatap Kennan penuh intimidasi apalagi ketika mengetahui kalau Axel dibawa oleh pria menyebalkan di depannya ini.
“Kembalikan Axel pada kami, dia tidak seharusnya ikut terlibat dalam masalah ini.” Pinta Dave berusaha berbicara baik-baik.
“Ada! Karena Evelina melahirkannya sehingga membuatku pusing harus mencarinya selama empat tahun ini!” Kennan tidak mau bernegosiasi apa pun setelah itu membawa paksa Evelina yang membuat Dave berusaha untuk menolong tetapi malah justru mendapat ancaman dengan menodongkan pistol yang tersimpan rapi di saku jaket mahalnya. “Berani melangkahkan kaki lagi, aku pastikan nyawamu berakhir hari ini!”
“Lebih baik aku meninggal di tanganmu asalkan Axel dan Evelina lepas dari cengkeramanmu!” tantang Dave maju satu langkah langsung mendapat tembakan di kaki kiri yang membuat Evelina berteriak histeris karena tidak bisa menyaksikan kejadian mengerikan seperti ini di depan matanya.
Setelah Dave terjatuh, kini Kennan langsung menggendong Evelina dan membawa ke parkiran lalu mengajaknya ke sebuah rumah yang letaknya sangat jauh dari apartemen miliknya, membutuhkan waktu empat jam lamanya, kini mereka sudah tiba.
Sebuah rumah besar dan sangat mewah apalagi dengan system penjagaan ketat selama dua puluh empat jam membuat Evelina sepertinya sulit untuk kabur dari sini bahkan setiap jendela memiliki lapisan besi yang semakin membuat gerak geriknya terbatas.
“Ini di mana, Kennan?” tanya Evelina sembari menatap sekeliling.
“Ini rumah kita, apakah kamu menyukainya?” jawab Kennan sembari menggenggam tangan mantan kekasihnya untuk ikut masuk ke dalam. Baru saja membuka pintu, sudah banyak pelayan yang menyambut mereka dengan hormat sembari membungkukkan badan. Hal tersebut membuat Evelina merasa tidak nyaman, rumah sebesar ini banyak sekali yang menepati meski semuanya pekerja.
Evelina hanya diam saja sembari menuruti ke mana langkah kaki Kennan membawanya pergi sampai akhirnya tiba di ruang keluarga yang sangat besar dan luas, terdapat tv berukuran sangat besar belum lagi ada kolam ikan di sana semakin menambah kesan estetik. Kennan memerintahkan mantan kekasihnya untuk duduk, rupanya, di belakang mereka masih ada pelayan yang tadi menyambutnya.
“Perkenalkan, dia yang menjadi nyonya di rumah ini, namanya Evelina Louisa Philip. Mulai sekarang dan seterusnya dia yang mengatur rumah ini, kalian wajib patuh terhadapnya dan jangan sampai membuatnya tidak nyaman apalagi marah. Apa kalian mengerti?” ucap Kennan memperkenalkan Evelina sembari genggaman tangan tidak dilepas.
“Kami mengerti, Tuan …. “ jawab pelayan dengan kompak setelah itu Kennan memerintahkan semuanya untuk pergi mengerjakan tugasnya masing-masing sehingga hanya tinggal dirinya dengan Evelina saja.
“Aku rasa kamu terlalu berlebihan, aku tidak bisa seperti ini.” Ucap Evelina terlihat tidak nyaman.
“Lalu, apa yang kamu inginkan? Di sini kamu tidak perlu bekerja, cukup menyuruh mereka saja bahkan sudah ada supir pribadi yang senantiasa mengantarkan ke mana saja kamu ingin pergi. Apa itu kurang?” tanya Kennan setelah menjelaskan semuanya.
“Itu sangat amat cukup dan aku berterima kasih untuk itu, tapi aku tidak pantas menerimanya. Aku hanya ingin Axel kembali bersamaku, jika harus meninggalkan semua ini asal kamu janji kalau Axel akan kamu kembalikan, aku akan melakukannya, Kennan. Aku mohon, jangan pisahkan aku dengan Axel!” pinta Evelina dengan wajah memohon membuat Kennan tidak kuasa melihatnya.
“Siapa yang mengatakan jika aku akan memisahkanmu dengan Axel? Justru kalian nantinya akan tinggal di sini dan aku akan menyekolahkan Axel sampai setinggi mungkin sesuai apa yang dia inginkan, asal kamu menyanggupi satu hal kepadaku.”
Evelina sangat penasaran dengan syarat yang akan diucapkan oleh mantan kekasihnya, “A-apa itu?”
“Berjanjilah untuk tetap di sisiku sampai kapan pun dan lupakan pria tidak berguna itu!” jawab Kennan dengan begitu serius lalu menelepon bodyguard nya untuk menanyakan bagaimana keadaan Axel ketika bersamanya, setelah dipastikan baik-baik saja, ia meminta supaya diantar ke sini. “Dengar sendiri bagaimana Axel bersama orang-orangku? Masih berat bagimu menyetujui keinginanku?”
“Dave sangat berjasa padaku selama empat tahun ini, dia banyak menolongku, tidak mungkin aku melupakannya begitu saja. Aku belum bisa membalas budi baiknya.”
“Itu persoalan mudah untukku, jika kamu setuju, akan aku berikan anak perusahaan padanya supaya tidak terus menerus menjadi manager di perusahaan orang. Aku sempat meminta seseorang memata-matainya dan kinerjanya terbilang bagus, tidak ada salahnya memberikan kepercayaan besar padanya.” Dengan mudahnya Kennan mengucapkan itu membuat Evelina tidak percaya, meski anak perusahaan tetapi itu sangat besar baginya karena semua usaha yang dipegang oleh Kennan selalu berhasil dan berkembang pesat.
“Asalkan kamu membuktikan semua janji, aku akan menurutinya.” Jawab Evelina akhirnya mengalah demi kebaikan banyak pihak, jika dia terus melawan dan membela Dave, yang ada akan dalam bahaya. Ia tahu bagaimana mantan kekasihnya jika sudah berbuat nekat apalagi tadi melihat langsung kaki Dave di tembak tanpa merasa bersalah padahal sampai menahan kesakitan untuk mengejarnya.
“Itu hal yang mudah, Evelina. Serahkan semuanya kepadaku, kebahagiaan dan hidup terjamin akan ada di depan matamu mulai sekarang sampai seterusnya,” Kennan mengatakan itu sambil membelai pipi Evelina lembut dan penuh kasih sayang.
“Baiklah, aku percaya padamu tetapi ada hal yang ingin aku tanyakan,”
“Katakan saja, baby.” Jawab Kennan kini menatap fokus mantan kekasihnya untuk mendengarkan.
“Bagaimana keadaan Dave setelah kamu tembak kakinya?” pertanyaan yang keluar dari mulut Evelina membuat raut wajah Kennan yang tadinya bahagia menjadi masam bahkan sempat membuang muka karena kesal.
“Sudah mendapat perawatan di rumah sakit, aku menyuruh orang membawanya ke sana. Tidak perlu kamu jenguk apalagi minta maaf, memberikan anak perusahaan sudah lebih dari itu semua. Aku harap kamu dan Axel tetap di sini.”
Ada perasaan sedikit lega ketika mengetahui Dave sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit, berharap semoga segera pulih dan menjalankan hidupnya dengan baik tanpa ada dirinya lagi yang menjadi penghalang kesuksesannya.
Tidak berselang lama, ada suara Axel tengah memanggil namanya yang langsung membuat Evelina berlari memastikan. Ketika keduanya saling bertatapan, pelukan erat menjadi reaksi pertama seolah tidak mau untuk dipisahkan bahkan Evelina sempat menangis karena takut tidak bisa bertemu dengan anaknya lagi. “Axel baik-baik saja ‘kan?” tanya Evelina memastikan.
Axel menganggukkan kepala cepat bahkan memberitahu jika hari ini membeli mainan banyak sekali di toko permainan dan sempat bermain di mall membuat Evelina kini menatap haru pada Kennan yang sedang melihat mereka. Tatapan rasa terima kasih dari Evelina membuat hati kecil Kennan yang empat tahun ini kosong sudah mulai hangat kembali bahkan berada di rumah bertiga dengan mereka seperti keluarga kecil yang sudah lama terpisahkan.
“Apakah Axel ini benar anakku?”
Tiba-tiba ponsel Kennan berdering, menandakan ada panggilan masuk dari dokter yang menangani tes DNA dan memberitahu jika hasil tes besok pagi sudah bisa diambil.