6. Jumat Berkah

1416 Kata
6. Jum’at berkah Aku menghela napas panjang. Kupandangi langit-langit kamar berwarna putih. Air mataku sudah kering dari beberapa menit yang lalu. Sekelebat wajah Mas Udin kembali terbayang. Ah, malu rasanya harus menangis di depan orang asing. Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya lagi? Bagaimana ini? Bagaimana iniii ...? Aaarrgh! Aku berdecak kesal. Boneka beruang kesayangan bahkan aku lempar asal. “Nin, Nina ... ibu beliin bakso, nih.” Ibu sudah pulang. Aku mematut diri di cermin, dan sedikit mengusapkan bedak di area mata. Takut kalau Ibu sampai bertanya. Aku harus bilang apa? Tak ingin juga aku membuat Ibu kepikiran. Aku membuka pintu kamar pelan, suara gesekan mangkuk terdengar di indera pendengaran. Kulangkahkan kaki ke arah dapur. Benar saja, Ibu sedang menuangkan bakso ke dalam mangkuk bergambar ayam jago. “Kok, lama banget, Bu?” tanyaku protes. Tanganku menarik kursi plastik dan duduk di depan meja. “Iya nih, tadi musyawarah tentang study tour-nya Tyo.” “Loh, bukannya study tour untuk kelas 6, Bu? Tyo ‘kan baru kelas 5.” “Sekarang study tour-nya emang kelas 5. Biar kelas 6 fokus buat belajar dan ujian.” Bibirku membulat membentuk huruf O. Tangan kanan memegang sendok, sebuah bakso berukuran kecil masuk ke mulut. “Enak, Bu.” Aku mengacungkan jempol ke arah Ibu yang juga duduk bersama di meja. “Tadi habis, Nin?” tanya Ibu. “Alhamdulillah habis, Bu.” Aku memasukkan potongan bakso besar ke dalam mulut dan mengunyahnya pelan. “Jadinya Tyo piknik ke mana, Bu?” tanyaku. “Ke Candi Prambanan sama Malioboro.” “Kenapa ga sekalian ke Candi Borobudur aja, Bu?” “Ga tahu. Katanya percuma ke sana ga bisa naik sampai atas. Cuma bisa di pelataran aja. Tapi ‘kan salah pengunjungnya juga, Nin. Maraknya aksi vandalisme di area Candi Borobudur itu yang menjadi salah satu penyebab larangan wisatawan untuk naik. Apalagi Candi Borobudur ‘kan masuk dalam 7 keajaiban dunia. Makanya harus benar-benar dijaga.” “Iya, yah, Bu. Untung waktu Nina piknik jaman SD dulu masih bisa naik ke atas.” “Buruan habisin, habis ini nemenin ibu belanja di warungnya Bi Nah.” Ibu beranjak menaruh mangkuk dalam wastafel. Aku memandang lurus Ibu. Tumben-tumbenan minta ditemenin belanja. Warung Bi Inah ‘kan deket. “Nina pengin rebahan, ah, Bu,” tolakku halus. Sebenarnya bukannya ga mau nemenin Ibu. Tapi males aja kalau harus ketemu Bu Leni apa lagi Bu Darti. “Ibu dapet pesenan nasi bungkus 100 buah soalnya, pake telur balado juga. Nina nemenin ibu sekalian bawain belanjaannya.” Ibu tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya. “Banyak banget, Bu. Buat kapan pesenannya?” “Besok. Acara jum’at berkah. Sudah dua kali ini ibu dapet pesenan.” “Alhamdulillah, yaudah nanti Nina temenin belanja.” “Emang siapa yang pesan, Bu?” tanyaku penasaran. “Nanti Nina juga tahu orangnya.” Ibu mengerlingkan mata. ** Dari subuh aku sudah bangun untuk bantuin Ibu bergulat dengan bau asap masakan. Ibu tetap berjualan seperti biasa dengan jumlah yang sedikit dikurangi. Sayang, begitu kata Ibu saat kusuruh libur saja jualannya fokus ke pesanan. Sementara Ibu jualan di depan, aku fokus pada acara pembungkusan nasi beserta teman-temannya. Nasi putih, oreg kentang, oreg kering, bihun, dan telor balado. Begitu request si pemesan. “Akhirnya selesai juga.” Aku berdiri, kedua tangan mendorong pinggang ke depan lalu miring ke kanan dan ke kiri. Kemudian tangan saling bertautan aku dorong ke kanan dan ke kiri, khas orang yang sedang melakukan pemanasan. Netraku berbinar, pesanan nasi bungkus 100 buah sudah selesai tepat jam 08:25 pagi. Karena jam 9 pagi akan di ambil si empunya. Begitu kata Ibu. “Sudah selesai, Nin?” Ibu datang dari arah luar dengan membawa termos nasi. Pertanda dagangan Ibu juga sudah habis. “Sudah, Bu.” “Yaudah kamu cepetan mandi terus anterin ini ke tetangga depan kita,” ujar Ibu sambil berjalan meletakan termos nasi. Otakku langsung mengarah ke satu nama. Mas Rangga. “Ini pesanan tetangga depan, Bu? Ya ampun ... udah baik, ganteng, dermawan pula.” Senyumku merekah membayangkan wajah tampan Mas Rangga. Ibu hendak mengatakan sesuatu, namun aku memilih meraih handuk dan langsung ke kamar mandi. . . Aku mematut diri di cermin. Celana jeans dan blouse warna cream lengan panjang, tak lupa sedikit riasan tipis di wajah. Aku mencoba tersenyum pada cermin. Perfect. Ternyata senyumku tak kalah dari Han So Hee. Seorang aktris yang terkenal berkat akting sebagai pelakor. Tapi aku bukan pelakor. Catet. Bukan artis pula. Huwaaa!! . . Ibu menyorotku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mungkin takjub dengan kecantikan putrinya. Eeaa. “Anak ibu cantik banget,” sanjung Ibu. Kuusap rambut sebahuku dengan satu tangan, aku tersenyum malu. “Ya sudah buruan, gih, anterin ke Mas Udin.” What? Kok Mas Udin? Mendadak senyum manisku berubah kecut. Aku masih malu. Haruskah aku bertemu dengannya sekarang? Kalian pernah menangis di depan cowo asing? Tahu ‘kan seperti apa rasanya? Hah... aku menghela napas pelan. “Ini yang pesan Mas Udin, Bu? Bukan Mas Rangga?” tanyaku memastikan. “Uhm.” Ibu mengangguk. “Nina ga jadi nganterin, ah, Bu ... Ibu aja, yah?” “Loh, kenapa? Udah cantik gini, kok. Emangnya Nina mau kalau ibu nyuruh buat cuciin perabotan bekas masak?” Dengan isyarat mata Ibu menunjuk tumpukan gerabah yang lumayan banyak. Aku nyengir kuda. Lalu menghela napas. Dengan sedikit berat kulangkahkan kaki menyebrang menuju rumah tetangga kami. Di kedua tanganku bergantungan kantong plastik. Aku berdiri di depan pintu gerbang. Netraku terpusat pada sosok yang tengah bersantai di atas bangku persegi sambil membaca buku. Dia terlihat sangat serius hingga beberapa detik lamanya tak menoleh ke arahku. “Assalamualaikum.” Aku berseru. Dengan susah payah aku mendorong pintu pagar yang tidak terkunci. Lalu berjalan ke arah Mas Udin. Dia menoleh, menatapku agak lama. Lalu, segera membuang pandang pada buku di tangan. Mungkin terpesona. Duh, targetku bukan kamu, Mas. “Waalaikumsalam.” Dia menjawab pelan. Aku meletakan kresek-kresek di atas bangku. “100 buah. Apa mau dihitung dulu?” tawarku. Mas udin berdehem. “Ga usah.” Kepalaku celingukan, melihat kedalam. “Mas Rangga mana?” “Udah pergi sama temennya. Kemarin kamu ga papa?” tanya Mas Udin. Aku nyengir kuda. “Tolong jangan bahas kemarin,” pintaku. “Kenapa?” Aku merunduk. “Aku malu.” Mas Udin menghela napas panjang. Aku menempelkan p****t pada sisi bangku. Netraku kemudian terpaku pada tumpukan buku komik. Ada Shinichi Kudo. Mataku berbinar. “Shinichi,” pekikku tertahan. “Boleh pinjem, ga, Mas? Ini edisi ke berapa? Aku cuma nonton yang ada di televisi, doang.” Aku sedikit mengerucutkan bibir. Mas Udin menatapku sekilas. Lalu kedua tangan membereskan buku komik, dia membawanya. “Aku belum selesai baca,” jawabnya singkat sambil berlalu masuk ke dalam. “Ck.” Aku berdecak, kedua tangan melipat di d**a. Pokoknya aku harus dapetin komik itu gimana pun caranya. Tak putus asa, aku sengaja menunggunya keluar. Toh, nasi bungkus pesanannya juga masih di bangku. Tak lama Mas Udin keluar, dia mengenakan kaos putih bergaris dengan jaket warna navy. Sebagian rambutnya mengenai gagang kacamata yang dia kenakan. Lumayan. “Kamu ga pulang?” Nih orang mau ngusir gue rupanya. Aku tersenyum manis. “Aku mau ikut Mas Udin berbagi. Siapa tahu nanti kalau uangku banyak aku bisa berbagi lewat jum’at berkah kaya Mas Udin.” “Berbagi itu ga harus nunggu uang kita banyak dulu. Seadanya aja dulu, ntah itu seribu, dua ribu, kamu masukin ke kotak amal atau kamu kasih ke pengemis. Itu sudah bisa dikatakan berbagi.” Aku menggut-manggut mendengar ucapannya. Aku segera mengambil dua buah kantong kresek, sementara sisanya Mas Udin yang bawa. Kami berjalan bersisian, kadang-kadang aku berjalan di belakangnya. Sampai di jalan raya, kami naik angkutan. Di perempatan lampu merah kami mulai membagikan nasi bungkus kepada orang yang membutuhkan. Seperti tukang becak, pemulung, pengemis dan anak jalanan. Melihat senyum merekah mereka, hati ini mendadak jadi adem. Ternyata, seperti ini rasanya menjadi malaikat bagi orang lain. Jam setengah 11 kurang kami sudah kembali. Setelah turun dari angkot, Mas Udin berjalan perlahan, sepertinya sengaja menyamakan langkah denganku. “Mau beli minum dulu?” tawarnya. “Ga usah.” “Makasih sudah ikut membantu.” “Sama-sama. Sebagai tetangga memang kita harus saling tolong menolong.” Mas Udin menoleh ke arahku. Mungkin dia tahu, ada udang dibalik bakwan. Oops. “Mas Udin, pinjemin aku komik Detektif Conan, yah ....” Dia memutar bola matanya malas, lalu berjalan mendahuluiku. “Mas Udin!” Aku sedikit berseru karena tertinggal di belakang. Plis, plis, pliiisss .... . . Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN