Guru Taekwondo

1096 Kata
Terdengar ketukan heels masuk ke ruangan latihan Clara. Kemudian Clara mendongak untuk melihat siapa itu. Sepatu heels hitam 7cm, Dress ketat yang hanya sejengkal dari lutut. Belahan dadanya rendah dan juga lipstik merah menyala yang dipakainya. la kemudian 100% berdongak melihat wajah yang ada didepannya itu. "Cantik." Wanita didepannya ini sungguh cantik. Tapi hei siapa yang mengundang wanita cantik ini ke mansionnya atau jangan-jangan kakek ingin menikah. Berbagai spekulasi negatif berkumpul dikepala Clara. Sampai sebuah sentilah didahinya menghentikan pikiran negatif Clara tersebut. "Hai bocah apa yang kau pikirkan," ucapnya dengan santai setelah menyentil Clara kuat. Clara yang merasakan sakit didahinya itu segera mengusap-usap dahinya. Ia menatap sebal wanita didepannya itu. "Siapa kamu, apakah kamu pacar kakek," ucap Clara dengan memandang sinis. "Wah kamu itu tidak sopan sekali kepada mastermu," ucapnya dengan datar. Tunggu! Master? Apakah ini guru yang dikirim kakeknya. Kenapa ia lebih terlihat seperti seorang penggoda daripada guru taekwondo. Lihat saja penampilannya sekarang, terlalu seksi untuk seorang guru untuknya. "Heh bocah aku tau apa yang kau pikirkan. Berhenti memikirkan aneh-aneh dan segera mulai latihan ini," ucapnya tegas. Mendengar nada tegas itu mau tak mau Clara segera beranjak mengikuti kelas bela diri pertamanya. Ternyata sebelum latihan dimulai wanita itu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sama sepertinya. "Sebelum memulai latihan mari kita berkenalan terlebih dahulu." "Saya Kelly, kamu bisa panggil saya miss Kelly." Sebelum Clara menjawab itu sang guru sudah memotongnya. "Dan kamu Clara, saya sudah tahu itu." Mendengus sebal Clara memutarkan matanya dengan malas. "Jadi bisa kita mulai sekarang," Potong Clara malas berdebat dengan wanita didepannya itu. Latihan pun dimulai dengan pemanasan kecil. Ia hari ini hanya diajari dasar-dasar taekwondo oleh miss Kelly. Berkali-kali Clara salah posisi, sudah dibenarkan miss Kelly tapi tetap saja ia kembali ke posisinya yang salah. Entahlah rasanya tubuhnya begitu kaku. la pikir setelah rutin berolahraga ia akan mudah belajar taekwondo tapi apa ini. Tubuhnya benar-benar menyusahkan. Beruntung ternyata miss Kelly tidak semenyebalkan yang ia kira. Miss Kelly begitu humble dan ramah. Ia juga kadang kocak tetapi juga bisa serius jadi latihan kali ini Clara begitu menikmatinya. Latihan pertama ini menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk mengajari Clara teknik dasar saja. Setelah latihan selesai ia kemudian berbincang-bincang kecil dengan miss Kelly. "Hoaammmm...." Clara menguap lebar setelah akhirnya merebahkan diri di kasur. Rasanya tubuhnya seperti remuk. Ah ini pertama kalinya ia latihan taekwondo tapi kepada rasanya persendiannya seperti patah semua la baru saja selesai membersihkan diri dan memilih tidur. la sungguh sangat lelah, ternyata belajar bela diri sungguh menguras tenaga juga emosi. Tapi tak apa ia akan terus berjuang untuk hidupnya. la tak boleh menyerah. Ya ia harus semangat. Tak lama Clara pun tertidur karena kelelahan. Sedangkan di sisi lain seorang gadis tengah mencak-mencak sambil melihat isi handphonenya. Berkali-kali menelepon seseorang tapi hanya jawaban operator yang ia terima. "Sial kenapa si bodoh ini tidak bisa dihubungi," teriaknya marah. la kemudian dengan kesal membanting hpnya ke kasur. "Kalau dia tidak bisa liburan setidaknya bisa mengajaknya belanja ke mall." "Tapi kenapa ia tidak bisa dihubungi," teriaknya frustasi. Liburan ini hampir satu bulan tetapi ia tetap monoton di rumah Sial, liburan ini membosankan. la bahkan hampir tidak punya uang sama sekali. Ketika ia meminta kepada orangtuanya, mereka selalu saja beralasan tidak ada uang. la bahkan sudah marah-marah tetapi respon orangtuanya hanya diam. Bahkan mereka menyuruhnya membantu berjualan di pasar. "Tidakkk...." la benar-benar tidak mau. Pasar sangat kumuh dan juga ia harus berbaur dengan orang-orang miskin itu Memikirkannya saja Elena bergidik jijik. Dan kalau ada teman sekolahnya yang melihat dia berjualan apa kata mereka. Tidak, pokoknya Elena tidak mau tahu kalau sebenarnya orangtuanya berjualan di pasar. la selalu bilang bahwa orangtuanya adalah orang yang sibuk mengurus bisnis di luar negeri. Melihat anaknya yang marah, berteriak sambil melemparkan barang-barang di kamarnya itu sepasang suami istri hanya memandang sedih. Anaknya memang anak tunggal, tetapi mereka tidak mau anaknya menjadi anak yang manja apalagi pemarah seperti sekarang. Anaknya selalu saja meminta uang untuk berfoya-foya tanpa sadar bahwa mereka sudah mengusahakan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tetapi dimata anaknya semua masih kurang. Mereka pun bersepakat agar anaknya Elena lebih ditegasi lagi, seperti sekarang. "Biarkan dia menumpahkan kemarahannya, berdoa saja semoga anak kita mengerti keadaan kita," ucap sang suami berusaha menguatkan istrinya. "Tapi mas bagaimana kalau Elena membenci kita," ucapnya khawatir. "Tak apa ini tidak akan lama, ia harus belajar untuk menghemat uangnya, ingat sayang kita tidak kaya. Kita tidak bisa terus memanjakan Elena," ucapnya memberi pengertian. Kemudian sang suami menuntut istrinya untuk berangkat berkerja. Ya, mereka harus rajin berkerja agar masa depan putrinya itu cerah. Sedikit demi sedikit menabung untuk biaya kuliah sang putri. Beruntung mereka sekarang tidak membayar biaya sekolah Elena yang besar, sehingga bebannya sedikit berkurang. Sungguh mereka bersyukur anaknya bisa berteman dengan Clara yang sangat baik itu. Senin yang cerah.... Tetapi tidak bagi sebagian orang. Ya liburan mereka sudah berakhir, tandanya mereka harus kembali menjalani rutinitas sekolah yang padat. Jam sudah menunjukkan 06.50. Sebentar lagi gerbang akan ditutup, halaman sekolah sudah sangat ramai karena murid-murid yang sudah datang. Sebagian masih terjebak didalam kendaraan, memacu kendaraannya dengan cepat berharap gerbang sekolahnya belum ditutup. Salah satunya adalah Clara. Ia sengaja berangkat mepet karena malas berangkat pagi-pagi seperti dulu. Biarlah jikapun ia dihukum karena telat itu tidak akan mempengaruhi nilainya. Kakek juga tidak masalah jika dia berbuat masalah disekolah. Tetapi kenapa dulu ia begitu takut dihukum. Clara lebih memilih menyetir sambil bersenandung kecil. Ya ia sekarang sudah beda, bukan lagi Clara yang cupu dan bodoh. Biarlah itu dulu jadi pembelajaran, tidak usah dikenang ataupun diingat-ingat. Memang belajar yang paling ampuh adalah belajar dari pengalaman. Keadaaan sekolah saat ini sangat ramai. Ada yang berbisik-bisik di pojokan, ada yang duduk melingkar ada pula yang main kejar-kejaran sehingga sekolah kembali heboh. Kurang dari 1 menit gerbang ditutup. Sebuah mobil sport mewah memasuki sekolah dengan kecepatan tinggi. Kemudian dengan gaya ia membelokkan mobilnya sampai ada suara dencitan ban yang nyaring. Wah persis seperti pembalap -pikir mereka. Mereka mulai bertanya-tanya siapa gerangan murid yang ada didalam mobil mewah itu Apakah itu mobil terbaru anak sultan di sekolahnya. Atau bisa juga murid pindahan. Mereka ribut menerka-nerka siapa didalam mobil itu. Clara yang melihat mereka heboh saat kedatangannya hanya tersenyum sinis. la memang sengaja tidak langsung keluar dari mobilnya agar mereka semakin penasaran. Kemudian dengan gerakan slow motion ia membuka pintu mobilnya keatas. Dan keluar dari mobilnya dengan anggun. Tak lupa ia segera memakai kacamata hitam agar penampilannya semakin sempurna. Rambut sebahu yang diombre warna ungu. Baju seragam yang pas, tidak kebesaran dan juga kekecilan. Tas hanya disampirkan di bahu. Sepatu Converse putih terbaru. Mereka menatap Clara dengan kagum. Kemudian dengan tatapan angkuh ia berjalan tegas membelah kerumunan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN