Dengan semangat 45 Clara segera bergegas ke kamar mandi, ya ia akan memulai hidupnya kembali dan membuat akhir yang bahagia untuk dirinya sendiri.
Ia tidak akan naif seperti dulu dan terlalu mudah dibohongi, bahkan rasa sakit akibat penghianatan kedua b*****h itu masih teringat di otaknya.
Selesai dengan urusannya ia kemudian berjalan kearah walk in closet yang ada di di kamarnya, "bodoh, kenapa aku dulu mau-mau saja pakai baju kedondoran seperti ini."
Ya dari semua seragam Clara rata-rata terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil itu, ia dulu terlalu bodoh menuruti Elena yang katanya, "pakaian seragam besar bisa menjaga kita dari pandangan laki-laki brengsek."
Cih... bahkan dulu Elena juga sering pakai seragam ketat dengan alasan penjahitnya yang salah membuat ukuran, dan kenapa ia dulu percaya-caya saja.
Huftt...
Setelah mengubek-ubek lemarinya akhirnya ia menemukan seragam kelas 10 nya dulu, yah ini tidak kekecilan tapi lebih ke pas karena sedari dulu ia selalu membeli ukuran dua kali lebih besar dari tubuhnya, tentu saja itu atas saran Elena.
Setelah memakai seragam lengkapnya ia kemudian berkaca, "tidak buruk, ini lebih baik daripada seragam kedondoran itu," matanya melirik malas tumpakan seragam besar.
Tetapi sayangnya wajahnya sudah ada beberapa jerawat, ya itu wajar sebagai seorang remaja jerawat memang normal muncul, tetapi salahnya disini adalah ia yang tidak pernah sama sekali merawat wajahnya.
Alasan sebenarnya ia dulu malas kemudian kembali atas saran Elena yang katanya jerawat akan sembuh sendirinya Clara jadi makin malas merawat wajah, bersyukur kulitnya putih alami jadi walupun ia berjerawat tidak akan mempengaruhi warna kulitnya, tetapi karena jerawat yang sangat banyak menjadi meninggalkan bekas yang hitam-hitam kemudian jadi bopeng, itulah sebab utama wajahnya hancur dulu.
Clara kembali ia berdecak, "kok bisa sih aku dulu cuek-cuek saja dengan wajah yang penuh jerawat."
Clara kemudian mengambil sebuah bedak tabur untuk dipakainya di wajah, memang tidak sepenuhnya menutupi jerawat tapi setidaknya wajahnya terlihat lebih enak dipandang sekarang dan dengan sentuhan terakhir ia memakai liptint tipis agar tidak terlihat pucat.
Kemudian ia menguncir rambutnya dengan gaya ekor kuda, ah tidak ada lagi rambut kepang dua khas dia, Clara sudah bertekad untuk berhenti berpenampilan cupu.
"Perfect...," Clara kembali mengaca dengan bangga ketika melihat tubuhnya yang dibalut oleh seragam tersebut, ya ia akui tubuhnya sebenarnya sudah bagus sedari SMA dengan tinggi 165 cm, Clara termasuk cewek tinggi dikelasnya tetapi entah kenapa saat selesai kuliah tubuhnya menggemuk, mungin karena efek tidak pernah olahraga dan tidak menjaga pola makan, pikirnya kemudian ia segera turun dan sarapan, dan bergegas berangkat ke SMA Pelita.
Clara hari ini memilih untuk diantar sopir menggunakan mobil keluaran terbaru berwarna putih terbarunya, ya ini adalah hadiah ulang tahunnya tahun lalu tetapi baru sekarang ia memakainya ke sekolah.
Biasanya Clara lebih suka diantar dengan mobil yang sederhana, alasannya agar tidak jadi pusat perhatian, tapi sekarang ia berfikir. Buat apa punya mobil banyak dan bagus jika tidak dipamerkan.
Sampai disekolah banyak pasang mata yang memperhatikannya, tetapi Clara tetap menatap lurus dengan tatapan datar berjalan ke kelas mengabaikan celotehan orang-orang di sana.
"lihat tuh si Clara cupu diantar mobil terbaru gaes."
"Halah palingan juga ngemis-ngemis minta sama Kakeknya."
"Eh... tapi lihat deh si cupu berubah tampilannya, bajunya kok ga kebesaran sekarang?"
"Iya mana tuh kuncir kepang duanya biasanya kan gitu rambutnya."
"Halah mau tampil semodis apapun dia tetap b***k wajahnya penuh dengan jerawat." Ujar gerombolan gadis itupun menatap jijik Clara karena teringat jerawat-jerawat yang bersarang dimuka Clara.
Tanpa menoleh kebelakang Clara mengepalkan kedua tangan disisinya. Lihat saja ia akan perawatan kulit mahal mulai sekarang, ia bertekad membungkam semua mulut sampah itu.
Sampai dikelas Clara langsung menelusupkan kepalanya dimeja tanpa perduli keadaan kelas yang mulai ramai
Brakk...
Ketika sudah nyaman tertidur Clara harus terganggu dengan suara gebrakan meja yang keras membuatnya terlonjak kaget.
"Heh cupu bisa-bisanya ya kau tidur jam segini," ucap siswi berbando merah itu.
Clara dengan malas membuka matanya dan melihat gerombolan geng norak itu. Mereka adalah Bianca dan para antek-anteknya, entah kenapa mereka selalu mencari gara-gara dengannya
Padahal tidak pernah sekalipun Clara menyenggol Bianca ataupun bermasalah dengannya tetapi Bianca tidak pernah puas mengganggu Clara.
"Bangun kau cupu."
"Nih kerjain PR ku, cepat," ucap Bianca dengan entengnya. Clara menatap malas buku yang disodorkan untuknya dan kenapa ia yang harus mengerjakan PR Bianca.
Jawabannya adalah karena Clara termasuk murid-murid pintar di sekolah ini, tetapi ia dulu terlalu mudah disuruh-suruh dan berakhir dibully karena tidak bisa melawan.
Yah Clara pikir ia dulunya terlalu baik membiarkan dirinya diinjak-injak oleh mereka tapi tidak dengan sekarang.
"PR... PR kamu, kenapa aku harus yang mengerjakan?" ucap Clara dengan berani.
Seluruh murid di kelas terkesiap mendengar jawaban berani dari seorang Clara yang selalu diam bahkan saat ia dibully.
"Oh atau kamu nggak bisa mengerjakan ya, sayang sekali meskipun punya wajah cantik itu tetapi ternyata otaknya kosong," nada mengejek keluar dari Clara.
Mendengar itu Bianca menggeram marah, ia merasa sangat marah, bagaimana bisa seorang cupu yang biasa diam saja ketika ia ditindas tetapi sekarang malah dengan berani membalikkan kata-katanya.
"Udah berani ya kamu cupu," katanya sambil menjambak rambut Clara.
Clara yang merasa kesakitan tentu ia tidak diam saja, segera ia menepis tangan nenek lampir itu.
Plakkk...
Dengan sangat kuat Clara menampar tangan Bianca sampai jambakannya pun terlepas.
Seluruh murid yang menyaksikan itupun kaget dengan keberanian Clara. Kedua antek- antek Bianca pun tak tinggal diam, mereka akan bergerak untuk memegangi Clara agar ia tidak melawan.
Tapi sebelum antek-antek Bianca itu menyentuhnya, Clara lebih dulu menjambak rambut Bianca.
"Sialan, lepasin aku," Bianca berteriak marah merasakan sakit di kepalanya, rasanya kulit kepalanya terasa akan copot.
"Heh kalian bantu aku melepaskan sicupu ini," Bianca membentak antek-anteknya yang malah diam kaget karena baru melihat sifat Clara yang ini.
Clara kemudian melotot kearah dua siswi itu kemudian ia mengancam.
"Kalian mau juga seperti ini," ucapnya sambil kembali menjambak kencang rambut Bianca
Antek-antek Bianca yang takut pun hanya bisa diam, entah aura yang dikeluarkan Clara sekarang sangat berbeda, ia terlihat berkali-kali menyeramkan ketika marah.
Kembali ke Bianca kemudian Clara menjambak Bianca dia bisa melihat kearahnya, "Ingat baik-baik ini Bianca, aku tidak punya masalah denganmu, tetapi kalau kamu tetap mengganggu ku maka akan kubalas dengan hal yang lebih parah," ancam Clara serius.
Bianca dengan tanpa sadar menganggukkan kepalanya, ia terlihat begitu ketakutan melihat Clara yang sekarang.
Begitu cekalan di rambut Bianca terlepas, ia seketika melihat kelas yang sudah ramai, "Sial, aku jadi tontonan."
"Awas aja Clara akan kubalas kau nanti," ucap Bianca dalam hati.