“Assalammualaikum,” sapa Anya berdiri membalas tatapan Nayla. “Waalaikum salam, silakan duduk,” sahut Nayla mendekat, lalu duduk tepat di depan Anya. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya Nayla menatap Anya cemas. Entah mengapa ia tidak pernah merasa nyaman berhadapan dengan wanita itu. Anya diam, ditatapnya wajah Nayla sendu. “Sejujurnya, aku sangat membencimu! Belum ada satu wanita pun yang berhasil mencuri hati mas Widi sampai kamu menaklukkan hatinya. Tapi kebencianku ini tidak akan membuatku menyakitimu. Apa lagi di rahimmu sekarang sedang tumbuh bayi mas Widi, aku ingin kamu selamat bersama bayi itu. Aku kesini hanya ingin memberitahu kalau Wiro dan Maya bersekongkol untuk mengambil alih perusahaan dari kamu. berhati hatilah!” ujar Anya sembari beranjak pergi. Mata Nayla tak berkedi

