Part 71

1586 Kata

Ibu ikut tersenyum milihat tingkah Widi dan Nayla. Walau keduanya tak lagi muda, tapi ibu bisa melihat ada cinta yang bermekaran di hati keduanya. Belum satu minggu tinggal bersama mereka, Ibu bisa merasakan kebahagiaan keduanya. Walau sedih karena Widi belum di karuniai anak, ia senang melihat bahagia di wajah anak kesayangannya itu. “Ayo, bu, kita sarapan,” ujar Nayla menuangkan nasi ke piring mertuanya setelah terlebih dulu menuangkan nasi Widi. “Terima kasih, Nay.” Ujar ibu tersenyum. Usai sarapan, Widi meraih ponselnya dan menghubungi Arman. Nayla menunggu dengan was-was, ia takut Arman juga tidak menjawab panggilan Widi. Benar saja, hingga nada dering berakhir, Arman tak juga menjawab panggilan Widi. “Bagaimana, Mas?” tanya Nayla cemas. “Arman tidak menjawab,” sahur Widi menat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN