Melihat Nayla menangis, Arman menjadi gusar. Sungguh ia tidak sanggup melihat wajah sedih dan basah dengan air mata itu. Di dekatinya Bian, lalu menariknya ke sofa dan membisikkan sesuatu padanya. Seketika wajah Bian berubah tersenyum. “Papa janji …” tanya Bian sembari menekan suaranya menahan sisa tangis. “Janji!” ujar Arman mengangkat tangannya. Keduanya tersenyum menahan tawa, ada rahasia yang mereka simpan. Ada kesepakatan yang mereka buat. Ada rencana yang siap mereka lancarkan untuk wanita yang sama – sama mereka sayangi. “Bisik-bisik apa itu? oma, uti, dan kakung juga mau dengar,” celetuk oma menggoda Bian. “Nggak boleh! Oma, uti dan kakung nggak boleh tahu. Masih rahasia!” ujar Bian tersipu malu. Ia benar-benar berharap rencananya dan papanya berhasil. Karena itu, tidak ada ya

