1. Pewaris
“Kamu nggak pulang, Vyora?” tanya wanita bernama Desi.
Dentuman suara musik DJ begitu nyaring, wanita itu pun hanya melihat jam tangannya lalu beranjak dari sofa. “Aku ingin memanjakan tubuhku,” jawab Vyora melihat ke sekeliling. Hingga akhirnya matanya terpaku pada sosok pria yang sedang duduk di lantai bawah.
“Aku ingin pria itu,” ucap Vyora menunjuk pria yang dia inginkan.
Desi memperhatikan pria yang ditunjuk Vyora. Cahaya lampu yang temaram sedikit memudarkan pandangannya.
“Kamu yakin pria itu?”
“Hm, bungkus ke kamar 201.”
Ada sedikit keraguan di sana saat Desi melihat lagi pria yang diinginkan Vyora. “Argh, sial. Bagaimana aku bisa membujuknya, sepertinya dia bukan pria yang mudah di imingi uang,” gerutunya.
Desi menoleh lagi ke arah Vyora, dia sudah menghilang di keramaian.
Sementara itu, Vyora merendamkan tubuhnya di bathtub sambil sesekali memeriksa ponselnya.
Sudut bibirnya terangkat saat melihat sebuah foto pria tua terbaring lemah diatas ranjang.
“Hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan,” gumamnya.
Tak lama dia mendengar seseorang masuk ke dalam kamar. Vyora lalu beranjak dari bathtub—menutupi tubuhnya dengan kimono yang sudah disiapkan.
Dengan percaya diri Vyora berjalan mendekati pria yang sedang duduk di tepi ranjang. Dari postur tubuhnya Vyora bisa melihat jika pria itu sering berolahraga, hingga akhirnya dia bisa melihat wajahnya.
Perlahan Vyora menuangkan minuman ke gelas yang kosong lalu duduk di sofa.
“Apa temanku sudah mengatakan sesuatu padamu?” tanya Vyora memulai percakapan.
Pria itu tak bicara, dia hanya berdiri lalu berjalan ke arah Vyora. Tanpa aba-aba, dia mencium Vyora dengan lembut.
Ciuman itu datang begitu tiba-tiba, membuat Vyora sedikit tertegun. Namun, alih-alih menolak, dia justru membalas dengan tenang seolah sudah mengantisipasi semuanya.
Pria itu mengangkat Vyora dengan hati-hati, membawanya ke atas ranjang. Lampu temaram menciptakan bayangan lembut di dinding, menyelimuti mereka dalam suasana yang intim namun tetap tenang.
Vyora memejamkan mata sejenak saat pria itu menyingkirkan helai rambut di wajahnya. Kali ini dia membiarkan pria itu melakukan semuanya tak seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda, bukan hanya sekedar keinginan, tapi juga ada rasa ketertarikan yang sulit dijelaskan.
“Siapa namamu?” tanya Vyora di sela kegiatan.
Pria itu menyeringai lalu menjawab, “Aiden Elvano Pratama, panggil aku Aiden.”
“Sepertinya namamu nggak asing,” gumam Vyora.
Mereka tenggelam dalam kedekatan yang hangat, tanpa tergesa, tanpa suara berlebihan, hanya detak jantung yang saling berpacu dalam diam.
Di luar, dentuman musik masih terdengar samar. Namun, di dalam kamar itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua.
Suara alarm menyadarkan Vyora. Dia bergegas memakai semua pakaiannya tanpa mempedulikan tatapan pria yang sedang memperhatikannya.
“Berapa nomor ponselmu?” tanya Aiden.
“Ini hanya hubungan sesaat, aku nggak mau terikat,” jawab Vyora lalu mengambil tasnya. “Terima kasih, kamu bekerja dengan baik.”
Entah berapa uang yang Vyora simpan di atas ranjang lalu pergi begitu saja.
Sementara pria itu menyeringai lalu menyibak selimut hingga uang itu terhempas dan berserakan.
***
Dengan nafas terengah-engah Vyora duduk di tepi ranjang sambil memeriksa keadaan pria tua yang sedang terbaring lemah di atasnya.
“Syukurlah detak nadinya masih ada,” batin Vyora.
Saat dia akan beranjak pria itu refleks memegang tangan Vyora. “Sayang, panggil Doni sekarang.”
“Ini masih jam empat pagi, Doni pasti masih tidur,” ucap Vyora menenangkan. “Sebaiknya Mas tidur, nanti jam tujuh aku akan menghubungi Doni.”
Perlahan pria tua itu pun menutup mata saat Vyora menepuk-nepuk pelan tangannya.
Meski awalnya menikah tanpa cinta, tapi Vyora merasa bersyukur karena pria itulah yang sudah menariknya dari kemiskinan.
Setelah menikah dengan Gunawan, hidupnya berubah. Suami yang terpaut usia 35 tahun itu selalu memanjakan Vyora dengan uang, bahkan apapun yang dia inginkan akan dia dapatkan dalam sekali ucap.
Meskipun selama pernikahannya banyak orang yang mencibirnya, tetapi Vyora tak pernah memperdulikan ucapan mereka karena hidup bergelimang harta lebih asik dari pada hidup miskin.
Tepat pukul tujuh pagi, Doni sudah datang dan menemui Gunawan.
“Sayang kemarilah,” tutur Gunawan, lembut.
Vyora pun duduk di tepi ranjang memperhatikan Doni yang mengeluarkan selembar kertas.
“Saya disini ingin menyampaikan wasiat dari Pak Gunawan. Karena Pak Gunawan tidak memiliki siapa-siapa lagi dan di pernikahan kalian belum punya anak, jadi semua harta kekayaan Pak Gunawan sepenuhnya diserahkan kepada Ibu Vyora Vellisha Axelyn,” ucap Doni.
Vyora tertegun sesaat tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Perlahan dia merasakan genggaman erat di tangannya yang membuatnya menoleh.
Pria tua yang sedang terbaring lemah itu tersenyum, sambil menepuk pelan tangannya.
“Maafin aku, Sayang. Sepertinya aku nggak bisa menemani kamu lebih lama lagi,” tuturnya dengan suara yang tersengal.
Vyora meneteskan air mata lalu berkata, “Mas, kamu akan baik-baik saja. Kamu nggak boleh ninggalin aku.”
Gunawan menggeleng pelan, lalu mengangkat tangannya agar Doni mendekat.
Secarik kertas yang sebelumnya sudah dibacakan kemudian ditandatangani oleh Gunawan, sebagai tanda jika dia mewariskan semua kekayaannya untuk Vyora.
Dengan wajah yang bersedih Vyora memeluk tubuh suaminya itu. “Mas, aku nggak bisa menerima semua ini.”
“Kamu sudah merawatku selama ini dan memberiku kebahagiaan.”
Perlahan Gunawan menyeka air mata yang menetes di pipi Vyora.
“Bu Vyora, silahkan tanda tangan di sini,” tutur Doni mengarahkan.
“Aku nggak bisa menandatangani surat itu.”
Pelan, tapi Vyora bisa merasakan tangannya di tepuk oleh Gunawan. “Sayang, ini hadiah terakhirku untukmu.”
Pengacara itu pun memberikan dokumen untuk Vyora. “Anda sudah sah menjadi CEO sekaligus pemilik perusahaan Jaya Grup, hotel Milia, resort serta pusat perbelanjaan yang sebelumnya milik Pak Gunawan.”
“Ta-tapi, aku ….”
“Aku yakin kamu pasti bisa mengurus perusahaan kita. Aku percaya padamu, Sayang.”
Vyora menatap nanar Gunawan lalu sedetik kemudian mengambil kertas yang disuguhkan. Tanpa drama lagi, Vyora pun menandatangani surat wasiat itu sebagai ahli waris dari suaminya.
“Terima kasih Bu, setelah ini saya akan mempersiapkan pertemuan para pemegang saham dan relasi. Mereka harus tahu jika pemimpin perusahaan diganti oleh Bu Vyora.”
“Terima kasih Pak, tapi sepertinya nggak perlu terburu-buru,” ujar Vyora mencoba menghalangi.
“Lakukan secepatnya dan carikan sekretaris sekaligus bodyguard untuk istriku,” sela Gunawan.
“Baik, Pak.”
Pengacara sekaligus tangan kanan Gunawan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Sudut bibir Vyora terangkat, tetapi sedetik kemudian dia menunjukkan ekspresi wajah yang begitu memilukan.
“Mas, aku nggak mau kehilangan kamu.”
Vyora memeluk tubuh Gunawan sembari membaringkan tubuhnya di samping suaminya itu. Kesedihan yang sebelumnya dia tunjukan kini berubah menjadi senyuman yang sulit diartikan.