Sedangkan di Indonesia sekarang waktu menunjukkan jam 4 sore, sebuah motor melaju membelah jalanan kota Jakarta yang sedang padat-padatnya. Terlihat seorang pengendara motor itu berhenti ditengah kemacetan, ia menghelah nafas untuk yang kesekian kalinya. Ia ada janji dengan teman-temannya dan sekarang macet, pasti teman-temannya itu tengah mengoceh dan mengumpati dirinya yang terlambat.
Drttt
Getaran di sakunya membuatnya mengalihkan fokusnya dari jalanan yang di penuhi pengendara itu.
"Hmm"
"BARA LO DIMANA ANJIRR!" Teriak orang di seberang sana, langsung saja cowok yang disebut Bara itu menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu menatap ponsel itu sebentar dan kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Jalan"
"Jalan? Dari tadi lo dijalan kok gak nyampe-nyampe, lo kesini naik motor apa ngesot Bar?''
"Macet"
"Ohh, yaudah hati-hati sobat".
Tutt
Sialan. Satu kata untuk sahabat Bara yang satu itu, dia dengan seenak jidatnya langsung memutus teleponnya dari seberang sana.
Tetapi kebetulan setelah telepon itu terputus, jalanan menjadi sedikit lenggang membuat cowok itu langsung melajukan motornya ke tempat teman-temannya berkumpul.
Di dalam sebuah cafe terlihat beberapa pemuda sedang duduk sambil mengobrol, ada juga yang sedang bermain ponsel.
"Eh eh Dit, liat deh cewek yang baju ijo itu dari tadi liatin gue mulu".
"Ini nih efek samping dari kelamaan jomblo, dia itu ngeliatin gue Arseli."
"JANGAN MANGGIL GUE ARSELI! NAMA GUE LIO". Teriak cowok yang dipanggil Arseli tadi.
"Iya iya Lio, tapi elu juga santai aja dong ngomongnya gak usah pake teriak di samping kuping gue". Ucap Adit, sebab Lio teriak tepat di samping telinganya.
"Lo berdua bisa diem gak sih, malu tau diliatin orang". Peringat Rey, dia memang yang paling dewasa diantara teman-temannya yang lain, sekaligus pengingat kalo teman-temannya ada yang berbuat kesalahan.
''Lagi baca apa Ar?". Tanya Budi sebab sedari tadi cowok di sebelahnya itu terus menatap ke layar ponselnya sesekali mengetikan sesuatu ke ponsel itu.
"Ngisi kuisioner" Jawab singkat Arion.
"Kuisioner online yang di kasi pak Amar tadi?" Tanya Budi lagi dan Arion mengangguk.
"Tapikan kata pak Amar itu gak wajib Ar".
"Lu kayak gak tau Arion aja, udahlah yang b**o mending diem".
"Wahh parah Lio, gak nyadar lo! Lo juga b**o".
"Sesama orang b**o diem deh, saling nyadar diri bisa gak sih!"
Itu Rey yang bersuara sebab diantara mereka semua, Rey salah satu yang memiliki otak pintar selain Bara dan Arion. Sedangkan Budi dan Lio yang tadi adu bacot seketika terdiam mendengar kata-kata Rey, karena selain berotak pintar Rey juga bermulut pedas.
Adit menoleh kearah pintu masuk café sebab mendengar suara bel berbunyi menandakan ada pelanggan yang masuk. Langsung saja ia mengangkat tangannya karena ternyata yang masuk itu adalah Bara.
"BARA SINI BAR!"
Bara menoleh mendengar ada suara yang memanggilnya, ternyata itu teman-temannya. Ia berjalan melewati beberapa pelanggan, banyak pasang mata yang secara terang-terangan menatapnya, terutama para gadis. Bara bukannya tidak sadar dengan keadaan sekitar ia sadar, tetapi ia tidak peduli, ia terus berjalan kearah teman-temannya.
"Lama banget Bar? Kemana dulu lo?’’ Tanya Rey penasaran.
"Nganter Lili ke perpustakaan".
Sebelum ke café Bara memang mengantar Lili dulu ke perpustakaan, ia tak akan membiarkan gadis itu ke sana sendirian.
"Widiiih pacaran dulu nih ceritanya?" goda Lio tetapi Bara hanya diam ia tetap pada ekspresi datarnya.
"Hahaha mampus lu dikacangin".
Plakk
Langsung saja Adit mendapat jitakan di kepalanya dari Lio. Kedua manusia ini memang bagaikan tom dan jerry, tidak pernah akur dan selalu adu bacot.
"Diem lu Babu!"
"Apetu Babu?" Tanya Budi sebab Lio memang sering memanggil Adit dengan sebutan Babu.
"BUAYA BUNTUNG HAHAHA".
Tawa pun pecah diantara mereka sedangkan Bara dan Arion hanya tersenyum tipis, berbeda Adit sudah seperti ingin menggigit Lio yang ada disampingnya.
"Kalo aja ini bukan tempat umum udah gue mutilasi lo Arseli".
"Yok Adit, Lio, bisa yok kayaknya di gang depan sepi tuh kalian saling mutilasi disana aja nanti gue yang nontonin". Seru Budi menggebu-gebu.
"Si b**o ngapain lu nonton doang, gabung lah biar kalian bertiga saling mutilasi, biar gak ada yang berisik dan bikin malu lagi".
Sungguh Rey dan mulut pedasnya itu sangat menyebalkan. Jika bukan karena dia sering memberi contekan kepada Lio, Adit, dan Budi mungkin ketiga orang itu sudah bekerja sama untuk membuangnya ke sungai sss.
"Perusahaan gimana Bar?"
Pertanyaan itu dari Arion cowok itu sudah menyelesaikan kuisionernya. Ia menatap Bara yang kini juga menatapnya.
"Gitu-gitu aja sih, lagian gue baru belajar sedikit, yang lainya masih bokap gue yang ngurus".
"Emang pengangkatan lo kapan Bar?"
Tanya Budi sebab ia mendengar sahabatnya itu akan memegang salah satu anak perusahaan ayahnya, sebelum nanti mewarisi seluruh kekayaan keluarganya.
"Minggu depan".
"Wahh selamat Broo".
"Hmm"
"Ehh ngomong-ngomong gimana ama pacar lo yang kemarin Dit?" Tanya Rey sebab kemarin ada cewek yang datang ambil nangis dan mengaku bahwa dia pacarnya Adit.
"Cewek gue yang kemarin? Yang mana dulu nih, kemarin kan gue ada bawa cewek ke kantin, terus yang di taman tru—"
"Yang dateng ke kelas sambil nangis".
"Ohh yang itu, dia cemburu karena gue lebih perhatian sama cewek gue yang lain". Jelas Adit dengan wajah tengilnya.
"Sok lu Dit, mentang-mentang pacarnya banyak. Awas kena karma lo mainin banyak cewek".
"Iri? Bilang Arseli, Udahlah lo jomblo jangan ngajarin gue".
"Ehh Babu, apa yang dibilang Ama Lio itu ada benarnya. Gak takut karma lo?". Tanya Rey, karena ia sebenarnya juga sudah jengah melihat sahabatnya itu tiap hari menggandeng cewek yang berbeda.
"Ada waktunya gue tobat, tapi nanti sekarang puas-puasin dulu punya cewek banyak. Nanti kalo udah nemu yang cocok langsung gue nikahin".
"Bicit lo, kerja dulu cari duit abis itu baru ngajak nikah anak orang. Lo pikir cinta dan kecocokan bisa bikin kenyang". Seru Budi yang dari tadi hanya mendengarkan.
"Yee, lu ngeremehin gue Bud? Lu gak tau kalo gue ini anaknya papa Bram si pengusaha batu bara? Nanti juga usahanya gue yang nerusin".
"Iya deh Lo anak tunggal kaya raya, apalah gue yang punya kakak 3 adik 4. Harta warisan harus dibagi-bagi" ucap Budi pasalnya dia memang anak ke 4 dari 8 bersaudara.
"Ehh Bud gak boleh gitu tau, berapa pun harta warisan yang Lo dapet Lo harus bersyukur!" Kata Rey bijak.
"Nah gue setuju tuh Ama Rey". Ucap Lio menimpali.
"Astaghfirullah halazim, ia juga guys makasih udah ngingetin gue". Ucap Budi, gak salah memang dia berteman dengan mereka meskipun sedikit gesrek tetapi mereka salalu mengingatkan jika temannya ada yang salah.
Tiba-tiba saja Bara berdiri dari kursinya, membuat teman-temannya melihat ke arahnya.
"Gue pulang duluan ya"
"Gue juga deh" Kata Rey.
"Yaudah kita semua balik aja"
"Hmm"
Mereka semua meninggalkan cafe itu menuju rumah masing-masing. Begitulah mereka menghabiskan hari, kalau bukan nongkrong di cafe mereka akan saling mengunjungi. Mereka bukan anak geng motor seperti kebanyakan anak muda lainnya, mereka bahkan saling mengenal lewat orang tua mereka yang merupakan rekan bisnis
Menjadi anak orang terpandang mengharuskan mereka menjaga pertemanan meski sebenarnya mereka mau berteman dengan siapa saja, namun begitulah tuntutan menjadi anak orang kaya.